Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 54 Memulai Kembali


__ADS_3

"Apa, suami saya kecelakaan? Baik, saya akan ke sana,"


Rima mendapat telepon dari mandor tempat suaminya bekerja. Ia sangat cemas di beri kabar jika kaki Rama tertimpa barang berat. Ia segera bergegas memberi tahu ibu mertuanya.


"Bu, Rama kecelakaan. Kakinya tertimpa barang berat. Sekarang dia di rumah sakit, ayo kita ke sana," ajak Rima.


"Apa kecelakaan? Bagaimana keadaannya?"


Rima menggelengkan kepalanya.


"Aku belum tahu Bu, katanya masih menunggu hasil rontgen,"


"Ya sudah, ayo kita ke sana,"


Mereka berangkat menuju rumah sakit yang di beri tahu mandor tadi. Badan Rima gemetar namun ia mencoba tetap fokus menyetir motornya.


"Rama di rawat di sini, Rima?"


"Iya Bu, katanya begitu,"


Rima segera mengajak bu Yani ke ruangan Rama di rawat.


"Ini istri dan ibunya Rama ya?" tanya Sabar.


"Iya, saya ibunya. Bagaimana keadaan anak saya?" tanya bu Yani.


"Kata dokter Rama mengalami cidera otot yang cukup parah, dan barusan dari hasil rontgen menunjukkan jika tulang kakinya ada yang patah. Ibu yang sabar ya,"


Bu Yani dan Rima rasanya ingin menangis mendengar penjelasan mandor proyek itu. Ia tidak bisa membayangkan jika sampai kaki Rama patah. Ia pasti tidak akan bisa bekerja lagi. Dan yang lebih parah, Rama pasti tidak akan percaya diri lagi.


"Apa kita boleh menjenguknya?"


"Silahkan. Saya harus kembali ke proyek dulu untuk mengurus laporan ke kantor,"


Bu Yani dan Rima masuk ke dalam ruangan Rama. Ia tampak tertidur, kakinya di perban. Mereka tidak dapat menahan tangisnya lagi. Keduanya saling menguatkan dan berpelukan.


"Ibu, Rima... kalian datang,"


Rama membuka matanya, ia terbangun ketika mendengar suara tangisan mereka.


"Kenapa ini semua bisa menimpa mu, Nak? Kamu masih muda tapi sudah harus bernasib seperti ini,"


Bu Yani memeluk putranya dengan erat.


"Ibu jangan menangis, aku tidak apa-apa kok,"


Rama menyeka air mata ibunya dengan tangannya.

__ADS_1


Sebenarnya ia sedih mengetahui jika tulang kakinya ada yang patah, itu berarti dia tidak akan sempurna lagi. Jika pun bisa berjalan pasti kakinya akan pincang. Namun ia tidak ingin terlihat lemah di depan ibu dan istrinya.


"Kenapa bisa sampai seperti ini, Rama?" tanya Rima.


"Mungkin ini hukuman untuk ku, karena selama ini telah banyak menyakiti mu Rima," jawab Rama.


"Aku sudah memaafkan kamu sejak lama, apalagi kamu sudah banyak berubah. Aku tidak menaruh dendam pada mu,"


Rima mengusap wajah suaminya, lalu mencium pipinya dengan lembut. Rama terharu hingga menitikkan air mata.


"Kalian jangan bersedih, aku pasti segera sembuh," ucap Rama.


Rima tahu suaminya hanya berpura-pura kuat. Ia sangat yakin jika dia juga pasti sedih dan sulit menerima kenyataan. Hanya saja ia tidak ingin membuat dirinya serta ibunya semakin rapuh.


☆☆☆


Tiga hari kemudian.


Hari ini Rama sudah boleh pulang. Ia harus menggunakan kursi roda untuk sementara waktu. Rima mendorongnya dengan sabar. Hari ini ia menjemput suaminya sendiri karena ibu mertuanya menjaga Rendra di rumah.


"Rima, maaf ya aku belum bisa bekerja lagi. Aku janji setelah kaki ku membaik, aku akan segera bekerja kembali," ucap Rama saat di dalam mobil.


"Iya, nanti kita buka usaha saja. Jadi kamu tidak perlu bekerja kepada orang lagi," jawab Rima.


"Usaha apa? Aku takut tidak bisa mengelolanya dengan baik, seperti waktu itu,"


"Nanti kita pikirkan lagi yang penting kaki mu membaik dulu,"


☆☆☆


Lima hari kemudian.


Rama resmi berhenti menjadi kuli karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Dia mendapatkan santunan dari perusahaan sekadarnya karena dia bekerja masih belum lama. Teman seprofesinya juga patungan untuk memberinya bantuan. Ia sangat menghargai itu semua. Walaupun nominalnya tidak banyak, tapi itu merupakan bentuk kepedulian dari mereka.


Rama dan istrinya mengumpulkan seluruh uang yang mereka punya untuk merintis kembali usaha konter yang sempat gulung tikar. Mereka memutuskan untuk memulai dari awal lagi. Walaupun kakinya sekarang pincang, Rama tidak patah semangat. Ia bertekad untuk membesarkan kembali bisnis yang dulu sempat sukses.


"Alhamdulillah, baru sehari buka pendapatannya sudah lumayan ya," ucap Rima.


"Iya benar, aku tidak menyangka akan sebanyak ini. Semoga besok dan seterusnya akan semakin baik lagi,"


"Amin," Mereka berdua mengamini doa baik itu.


"Rima... terima kasih ya, kamu masih setia menemani ku setelah apa yang aku lakukan. Terima kasih juga sudah mau menerima aku apa adanya,"


Rama menggenggam tangan istrinya dan menciumnya dengan lembut.


"Aku hanya percaya, jika suatu saat kamu pasti akan berubah. Aku mencintai mu tulus, aku tidak akan pernah meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini. Apalagi itu terjadi karena kamu berjuang untuk ku dan Rendra,"

__ADS_1


Keduanya saling berpelukan. Rasa cinta yang sempat memudar karena waktu dan keadaan kini kembali tumbuh semakin besar. Rima sangat bersyukur, nasibnya tidak seburuk ibunya. Walaupun masa mudanya ia habiskan untuk tanggung jawab dalam sebuah pernikahan, ia tidak menyesal. Ini konsekuensi yang memang harus mereka terima karena kesalahan yang pernah mereka lakukan.


"Ibu senang melihat kalian rukun seperti ini. Tadinya ibu sedih karena kaki Rama tidak bisa kembali pulih, namun melihat hubungan kalian membaik dapat mengobati rasa sedih di hati ibu,"


Bu Yani memeluk keduanya. Ternyata Rendra juga merangkak sembari mengoceh ke arah mereka.


"Rendra Sayang,"


Mereka menciumnya dengan gemas.


"Bu, aku titip konter sebentar ya. Aku ingin mengajak Rima dan Rendra mengunjungi teman," ucap Rama.


"Boleh, yang penting kalian hati-hati di jalan,"


Mereka masuk ke kamar untuk berganti pakaian.


"Memangnya kita mau kemana?" tanya Rima.


"Bukannya tadi aku sudah bilang. Ayo kita berangkat,"


Rima menurut saja. Setelah berpamitan kepada bu Yani mereka segera berangkat. Sekitar 500 meter dari rumah, Rama menghentikan motornya.


"Kok berhenti? Apa sudah sampai?" tanya Rima bingung.


"Belum, mau beli sembako dulu. Masa iya mau bertamu tidak bawa apa-apa sih,"


Rama segera menemui pemilik toko kelontong itu. Rima menunggunya di dekat motor. Setelah beberapa saat suaminya kembali dengan membawa beras 5 kilo, minyak 2 liter, gula, mie instan, dan telur.


"Kok banyak sekali belanjanya?" tanya Rima.


"Iya, hitung-hitung sedekah. Biar rejeki kita semakin di limpahkan oleh Allah SWT,"


"Amin," walaupun belum tahu semua itu akan suaminya berikan kepada siapa, Rima ikut mengamini doanya.


"Rama, rumah teman mu di mana? Kok ini seperti arah ke..."


"Istri ku cerewet sekali sih," sela Rama sembari tersenyum.


Beberapa saat kemudian, Rama menghentikan motornya.


"Rama, inikan kosan ibu ku?"


Rima melebarkan matanya, takut salah lihat.


"Iya, kita memang akan mengunjungi ibu,"


"Rama..." mata gadis itu mulai berkaca-kaca karena terharu. Selama pernikahan ia tidak pernah mengajak dirinya ke rumah ibunya.

__ADS_1


__ADS_2