Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 7 Kata Dokter


__ADS_3

"Itu Yah, Mas Anton menyuruh datang lebih awal untuk membantunya mengerjakan laporan omset bulan lalu," kata Rima beralasan.


"Oh ya sudah, hati-hati di jalan," balas ayahnya.


Setelah pamit dan menyalami ayahnya, Rima segera berangkat. Ia menuju tempat yang sudah di sepakati. Benar saja Rama belum datang, ia menunggu sambil berselancar di dunia maya. Ia juga mencari artikel tentang kehamilan.


Sekitar 15 menit kemudian terdengar deru motor kekasihnya itu mendekat. Pria itu datang sembari tersenyum, seolah masalah yang mereka hadapi bukan hal yang besar baginya.


"Maaf ya, apa sudah lama menunggu?" tanya Rama.


"Lumayan, kita mau periksa di mana?"


"Di klinik saja biar tidak lama, ayo,"


Mereka naik motor beriringan, Rama yang menjadi penunjuk jalan. Tampaknya ia sudah tahu di mana letak klinik itu. Hanya 10 menit mereka sudah sampai.


"Sakit apa Mbak?" tanya karyawan klinik itu.


"Istri saya tidak sakit Mbak, dia mau periksa hamil," sahut Rama dari ruang tunggu.


"Wah pasangan muda ternyata, selamat ya,"


"Terima kasih,"


Rima merasa sedikit malu karena usia mereka masih terlalu muda, namun ada rasa senang dalam sanubarinya mendengar ucapan kekasihnya tadi.


"Bu Rima, langsung masuk saja," perintah karyawan itu.


Rima segera masuk di temani kekasihnya. Ia di tanyai berbagai pertanyaan yang sedikit privasi membuatnya sedikit risih. Namun ia bekerjasama dengan baik. Ia juga di suruh tes urine kembali. Mereka di suruh menunggu di ruang tunggu.


"Bu Rima,"


Setelah beberapa saat mereka di panggil kembali.

__ADS_1


"Selamat ya, bu Rima sedang mengandung. Perkiraan sudah jalan 5 minggu terhitung dari saat menstruasi terakhir. Satu bulan lagi silahkan kontrol lagi, saat itu pasti detak jantungnya sudah bisa di deteksi,"


Dokter memberi penjelasan, ia juga memberi saran untuk jangan terlalu sering melakukan hubungan suami istri di tri semester pertama. Mereka mengiyakan saja apa yang di anjurkan dokter.


"Sekarang bagaimana Rama? Kamu sudah dengar kan apa kata dokter, apa yang harus kita lakukan?" tanya Rima.


Gadis itu mulai terisak, ia tidak tahu bagaimana mengatakan semua ini kepada kedua orang tuanya. Ia tahu orang tuanya pasti sangat marah terhadapnya. Nasi sudah jadi bubur, ia harus menanggung resikonya sekarang.


"Kalau kamu belum siap, kamu bisa gugurkan bayi itu," ucap Rama.


"Apa kamu sudah gila? Kita yang salah, bayi ini tidak berdosa. Kita sudah cukup berdosa dengan melewati batas, apa kamu mau menambah dosa dengan membunuhnya?" tanya Rima.


"Tapi kita masih muda, Rima. Apa kamu sanggup menjaga seorang bayi?"


Rima merasa kesal sekali dengan sikap pria itu. Saat menggagahinya dia dengan entengnya berbicara tentang tanggung jawab, sekarang setelah semua jadi kenyataan ia seperti ogah-ogahan.


"Dulu saat kamu menginginkan aku, kamu berjanji akan menikahi aku jika sampai hamil. Tapi kenapa sekarang kamu berbicara seperti ini?"


Rima berteriak di sela tangisnya. Ia takut mimpinya tempo hari menjadi nyata, hidupnya akan benar-benar hancur jika sampai Rama meninggalkannya.


"Kita bisa bekerja sama-sama, aku tidak keberatan membantu mu. Tapi kamu juga harus membantu ku, kita bekerja sama membesarkan anak ini,"


Rama memandang jauh ke depan, sebenarnya ia masih ingin bebas. Menikah pasti akan membuat geraknya menjadi terbatas. Belum lagi dia akan di tuntut tanggung jawab, itu berarti dia harus bekerja. Namun ia tidak mungkin mengingkari janji kepada kekasihnya itu.


"Baiklah, kita akan memberi tahu kepada orang tua kita masing-masing. Kita akan tanggung bersama, apapun resikonya nanti. Nanti kita akan saling memberi kabar lewat pesan, bagaimana?"


Rima mengangguk, namun ia sendiri belum siap untuk mengatakan kepada kedua orang tuanya.


Setelah mendapat kesepakatan bersama, mereka berpisah dan melanjutkan kegiatan masing-masing.


☆☆☆


Malam harinya.

__ADS_1


Rima pulang dari bekerja dengan wajah yang lelah. Hari ini dia masih mengalami mual dan muntah, namun tidak terlalu sering karena sudah mengkonsumsi obat dari dokter tadi. Mungkin ini bawaan dari si jabang bayi, ia ingin selalu beristirahat dan lebih malas dari sebelumnya untuk mengerjakan apapun.


"Sayang, kok kamu terlihat lelah sekali? Wajah kamu juga agak pucat, apa masih sakit?" tanya ibunya.


"Entahlah Bu, badan terasa lemas dan ingin tiduran saja rasanya," jawab Rima.


"Kok seperti ibu saat mengandung kamu dulu sih, bawaannya malas mau melakukan apapun. Inginnya tiduran saja, sampai pekerjaan rumah terbengkalai. Tapi kamu kan tidak hamil, mungkin hanya kelelahan saja itu," ucap ibunya.


Rima diam tidak menjawab, ia tidak menyalahkan namun juga tidak membenarkan ucapan ibunya. Hatinya dilema antara berkata yang sebenarnya atau diam saja. Namun kerongkongannya terasa tercekat, tak satupun kata yang keluar dari mulutnya.


"Kalau kamu lelah, izin libur saja daripada nanti sakit. Aku yakin bos mu pasti bisa mengerti," imbuh ibunya.


"Aku masih kuat kok Bu," balas Rima.


Tentu saja ia tidak ingin di rumah dengan ayahnya, pria itu pasti curiga jika tahu putrinya sering muntah.


"Rima, ibu masih kuat untuk menghidupi keluarga kita. Harusnya kamu bisa kuliah, namun karena keadaan kamu justru harus bekerja. Maafkan ayah mu ya Nak, ini semua salahnya yang tidak bertanggung jawab. Sabar ya,"


Di peluknya putrinya dengan rasa bersalah. Seorang ibu yang hanya bisa pasrah dengan keadaan. Hidup bersama suami yang sama sekali tidak bertanggung jawab. Bukannya memberi nafkah namun justru tega meminta uang dan memanfaatkan istrinya.


"Aku tidak masalah jika tidak lanjut kuliah, Bu. Yang penting kita semua sehat dan bahagia. Jika Ibu memang tersiksa bersama ayah, aku rela jika kalian berpisah,"


Kata-kata yang selama ini hanya ada di dalam hatinya, akhirnya mampu ia katakan juga. Rima tahu ibunya bertahan hanya karena dirinya dan adiknya. Mungkin ia tidak sanggup melihat kedua anaknya hidup tanpa sosok ayah. Namun apa gunanya semua jika justru membuat hati ibunya tersiksa.


"Tidak semudah itu Nak, aku takut ayah mu akan menyakiti kalian. Tidak masalah ibu hidup seperti ini, yang penting kalian baik-baik saja,"


"Tapi, Bu..."


"Sudahlah, jangan pikirkan ibu. Aku masih kuat menghadapi semua, sebaiknya kamu istirahat. Jika masih lemah, besok libur saja,"


Ada rasa pedih di hati Rima melihat pengorbanan ibunya. Tegakah dirinya memberi beban lagi kepada wanita itu setelah apa yang ibunya alami selama ini?


'Ibu, maafkan anak mu ini yang telah jatuh ke dalam lumpur dosa. Haruskah aku pergi dari rumah ini agar tidak mempermalukan diri mu?' batin Rima.

__ADS_1


Sepanjang malam yang dingin, gadis itu bertarung dengan perasaannya. Ia tidak tega menyakiti hati ibunya lebih dalam dengan keadaannya kini.


__ADS_2