Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 55 Bahagia


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak bilang kalau mau ke sini, takutnya ibu kerja," ucap Rima.


"Ibu ada kok, aku sudah meneleponnya tadi," balas Rama.


Sekali lagi Rima merasa terharu dengan apa yang suaminya lakukan. Entah kapan pria itu menelepon ibunya, karena setahunya Rama tidak punya nomor ibunya.


"Eh kalian sudah datang, ayo masuk," Bu Santi membukakan pintu.


Mereka segera menyalami wanita itu, lalu duduk di lantai beralaskan karpet.


"Kenapa kalian repot-repot membawa begitu banyak barang, kalian datang ke sini saja ibu sudah senang," ucap Bu Santi.


"Tidak apa-apa, Bu. Kita juga jarang sekali ke sini. Aku juga ingin minta maaf jika selama ini kurang peduli terhadap Ibu," balas Rama.


"Tidak apa-apa, Nak. Aku senang sekarang kamu dan Rima hubungannya membaik, semoga kalian seperti ini terus,"


Mereka terus berbicara dan bercerita. Terkadang ketiganya terlihat tertawa bahagia.


"Jadi kasus perceraian dengan ayah sudah selesai sidang pertama, Bu?" tanya Rima.


"Iya, tapi ayah mu tidak datang. Jika ayah mu tidak datang di sidang-sidang berikutnya akan mempercepat proses perceraian ini,"


"Syukurlah, ibu memang harus segera mengakhiri hubungan yang sangat tidak sehat ini,"


Setelah mengobrol, Bu Santi menyuruh mereka makan dulu sebelum pulang.


☆☆☆


"Mereka kemana ya? Katanya sebentar, tapi sudah 1,5 jam belum pulang juga,"


Bu Yani mondar-mandir sembari menjaga konter. Dari tadi konter lumayan ramai sehingga ia kadang keteteran melayani pelanggan yang datang.


"Assalamualaikum,"


Rima dan Rama baru saja datang.


"Waalaikum salam, duh kalian kok lama sekali sih. Dari tadi konter ramai, sampai ibu bingung melayani pembeli," ucap Bu Yani.


"Maaf ya, Bu. Sebenarnya tadi habis mengunjungi ibunya Rima, makanya agak lama," balas Rama.


"Ibunya Rima kenapa? Apa ayahnya Rima memukulnya lagi?" bu Yani mulai cemas.


"Tidak Bu, Rama hanya ingin berkunjung saja. Dia juga membelikan ibu ku sembako tadi," jawab Rima bersemangat.


"Oh ya? Syukurlah kalau begitu. Sedekah itu yang paling utama memang kepada keluarga atau saudara sendiri, baru orang lain,"


Bu Yani senang sekali dengan perubahan putranya, ternyata masalah yang ia terima justru membuat dirinya menjadi lebih baik lagi.


☆☆☆


6 bulan kemudian.


"Ma, atu mau itu,"

__ADS_1


Rendra menunjuk gulali yang di jual abang-abang di pasar malam. Rima segera membelikannya untuk putranya.


"Ini untuk anak kesayangan mama,"


Rendra bersorak gembira menerima gulali yang sedari tadi menarik minatnya.


"Maacie, Ma,"


Rendra mencium pipi ibunya.


"Kok mama saja yang di sayang, ayah yang dari tadi sudah gendong Rendra tidak di cium,"


Rama berpura-pura menunjukkan wajah sedikit kesal.


"Emmuahh... sudah ayah," ucap Rendra dengan suara cadelnya.


Mereka tertawa melihat tingkah Rendra yang menggemaskan. Anak itu tidak memperdulikan kedua orang tuanya, dia justru asyik memakan gulalinya.


"Rima, tidak menyangka ya kita akan berada di titik ini. Konter yang kita rintis dengan modal ala kadarnya sekarang maju pesat," ucap Rama.


"Iya, aku juga sama sekali tidak menduga hanya dalam setengah tahun omset kita naik drastis. Ini semua karena keuletan kamu, aku bangga pada mu,"


Rima memeluk suami dan putranya. Ia merasa sangat bahagia sekali. Konter mereka yang tadinya hanya memakai etalase kini sudah berubah drastis. Mereka telah membuat bangunan baru di samping garasi untuk di jadikan tempat usaha.


Konter mereka tidak lagi hanya menjual pulsa, paket data, token, dan asesoris handphone tapi juga beberapa item yang lebih mahal seperti power bank dan juga beberapa hand phone baik second ataupun baru. Mereka juga sudah memiliki satu orang karyawan untuk menjaga konter tersebut.


☆☆☆


"Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam, ibu dengan Reza ayo masuk," ajak Rama.


"Maaf ya kita datang pagi-pagi, habisnya rindu sekali dengan kalian terutama Rendra," ucap Bu Santi.


"Iya Bu, kita sebenarnya juga mau ke sana cuma masih ada sedikit urusan. Silahkan duduk, Bu,"


"Ibu, Reza, kok tidak mengabari jika akan datang,"


Rima menyalami ibunya.


"Ini barusan dari rumah tante mu, menjemput Reza. Semalam dia kan menginap di sana, jadi sekalian mampir," ucap Bu Santi.


"Eh ada tamu, buatkan minum dulu untuk ibu mu Rima,"


Bu Yani datang dan ikut bergabung dengan mereka.


"Tidak perlu repot Bu, barusan sudah minum di tempat adik saya. Ini mampir karena rindu dengan cucu,"


Bu Santi memeluk dan mencium Rendra. Ia sangat rindu dengan bocah menggemaskan itu.


"Memang Bu, kalau sudah punya cucu jadinya yang di kangenin cucunya bukan anak kita lagi," keduanya tertawa dan setuju dengan pernyataan bu Yani tersebut.


"Benar itu Bu, sekarang yang sering saya pikirkan bukan Rima lagi tapi Rendra. Setiap punya uang atau beli sesuatu pasti yang di ingat Rendra, hahaha..."

__ADS_1


Kedua nenek itu sangat kompak sekali.


"Yani..." seseorang berteriak memanggil bu Yani.


"Mbak Rusmi, ada apa kok menangis begitu?"


Wanita itu memeluk bu Yani dan menangis sesenggukan. Bu Yani berusaha menenangkan dan mengusap punggungnya.


"Tenang dulu Mbak, kita duduk ya,"


Bu Yani mengajaknya duduk. Suasana berubah sedih melihat wanita itu menangis.


"Ada apa, Tante? Coba ceritakan pelan-pelan,"


Rama penasaran sekali kenapa tantenya tiba-tiba datang dalam keadaan menangis.


"Ghani... hiks, hiks,"


"Ghani kenapa, Mbak?"


Bu Yani masih belum paham.


"Ghani di tangkap polisi, ia di penjara karena tertangkap mengedarkan obat terlarang," bu Rusmi kembali menangis.


"Innalillahillahi, sabar ya Mbak. Kita doakan saja dia bisa segera bebas," ucap Bu Yani.


Namun bukannya mereda, tangis bu Rusmi justru semakin keras.


"Dia terancam hukuman seumur hidup atau bahkan hukuman mati, Yani. Aku tidak kuasa menerima cobaan ini, ini sangat berat untuk ku,"


Semua yang berada di sana terlihat ikut sedih. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa, hanya doa yang bisa mereka berikan untuk membantu Ghani.


☆☆☆


Sore harinya.


"Hari ini ada dua kabar yang mengejutkan yang kita terima ya, satunya menggembirakan satunya menyedihkan," ucap Rima.


"Iya, kamu benar. Aku lega ibu mu sudah resmi bercerai dengan ayah mu yang temperamental itu. Tapi sayang kabar dari orang tua Ghani membuat kita sedih. Walaupun aku sadar jika dia memang salah, tapi sama sekali tidak aku sangka hukumannya akan seberat itu," sahut Rama.


Rima bersyukur suaminya segera sadar dan berhenti bekerja ikut Ghani, kalau tidak mungkin ia akan bernasib sama sepertinya.


"Mungkin waktu itu bisnis konter gulung tikar juga karena modalnya menggunakan uang yang tidak berkah. Berbeda dengan yang kita bangun saat ini, modalnya adalah hasil kerja keras kita makanya bisa berkah,"


"Iya, sepertinya kamu benar. Jangan pernah bekerja seperti itu lagi ya. Aku bahagia walaupun hidup sederhana, yang penting hidup kita selalu lurus,"


Rima memandang suaminya serius, ia tidak ingin imam dalam hidupnya itu sampai terjerumus lagi.


"Iya Istri ku Sayang, aku tidak akan mendapatkan uang dengan cara tidak halal lagi,"


Rama mengecup kening istrinya, lalu memeluknya dengan erat.


Tidak ada pernikahan tanpa ujian. Semua tergantung kita dalam menyikapinya. Semua akan terasa ringan jika kita hadapi bersama. Hidup tanpa masalah bagaikan sayur tanpa garam, kurang sedap rasanya. Karena masalah membuat kita menjadi lebih dewasa dan kuat menghadapi dunia yang semakin kejam.

__ADS_1


__ADS_2