
Bu Santi menatap putrinya begitu dalam, ia menumpahkan segala rasa sakit hatinya. Wanita itu menangis meraung-raung. Untung di kamar itu hanya dirinya sehingga pasien lain tidak merasa terganggu.
"Ibu yang sabar ya, aku akan menjaga ibu di sini," ucap Rima.
"Iya Bu, Ibu yang sabar jangan memikirkan hal lain dulu. Yang penting saat ini beristirahat saja agar cepat sembuh," sahut tetangga kosnya.
"Terima kasih Bu Siti. Maaf ya saya baru kos di sana sudah membuat keributan,"
"Itu bukan salah Ibu, memang pak Tononya yang kurang ajar. Sudah punya istri malah selingkuh di depan mata istrinya. Dia benar-benar keterlaluan,"
Bu Santi hanya tersenyum sedih, sekujur tubuhnya terasa sakit apalagi jika dirinya banyak bergerak.
"Ayah tidak bisa di biarkan Bu, kita harus melaporkannya kepada polisi. Ini sudah sangat keterlaluan, aku tidak rela Ibu di perlakukan seperti ini," ucap Rima di sela tangisnya.
"Ibu tidak kuat berjalan Rima,"
"Biar aku yang membantu Ibu melapor, buktinya sudah sangat jelas. Saksi juga banyak, ayah pasti akan di penjara,"
Rima sangat emosi, ingin rasanya ia balik memukuli ayahnya itu.
"Oh iya Bu, tadi aku ke kos tidak ada siapa-siapa. Reza kemana? Apa ayah membawanya kabur sebagai sandera?"
"Tidak, ibu menyuruhnya lari ke rumah tante mu. Dia pasti ada di sana,"
"Kenapa ibu tidak menyuruhnya mencari ku? Jika aku tidak datang ke kos hari ini, aku pasti tidak tahu peristiwa ini,"
Bu Santi mengalihkan pandangannya. Sejujurnya ia memang tidak ingin Rima tahu. Ia tidak mau menambah beban putrinya yang juga sedang tidak baik-baik saja. Ia bisa merasakan penderitaan Rima walau pun gadis itu tidak bercerita. Ikatan batinnya kuat sebagai seorang ibu.
"Rumah mu terlalu jauh Nak, jadi aku menyuruhnya pergi ke rumah Tante mu. Aku tidak ingin membuat mu repot," ucap bu Santi.
"Astaga, aku ini putri mu Bu. Walaupun aku sudah menikah, aku tetap Rima mu Bu,"
Rima memeluk dan mencium ibunya, betapa tidak mengertinya dia yang terlalu mementingkan keluarganya hingga tidak memperhatikan ibu kandungannya sendiri.
☆☆☆
"Rama, ayo antar ibu ke puskesmas X,"
Bu Yani telah siap dengan pakaiannya untuk pergi.
"Untuk apa ke sana? Siapa yang sakit?" tanya Rama bingung.
__ADS_1
"Apa istri mu tidak mengabari? Ibunya di rawat di sana. Ayo cepat,"
"Tidak, dia tidak memberi tahu ku. Sebentar aku ganti baju dulu,"
"Ya sudah, aku tunggu di depan,"
Rama segera berganti pakaian. Ia heran mengapa Rima tidak mengirim pesan kepadanya dan justru memberi tahu ibunya. Apa karena dia menolak mengantarnya tadi?
Mereka pun berangkat berboncengan. Sesampainya di sana mereka segera bertanya kamar bu Santi kepada petugas.
"Ibu?"
Rima melihat mereka dari belakang. Bu Yani segera menoleh.
"Rima, bagaimana keadaan ibu mu?" tanya bu Yani.
"Ibu lihatlah sendiri, dia ada di dalam," jawab Rima sedih.
Mereka mengekor langkah Rima.
"Astagfirullah, kenapa ibu mu sampai begitu Rima?"
"Kata orang-orang ayah yang memukuli, Bu. Ibu belum mau bercerita, jadi aku belum tahu apa penyebabnya," jawab Rima sembari memandangi wajah ibunya yang sedang tertidur.
"Astaga, jahat sekali ayah mu membuat ibu mu sampai babak belur begitu. Kamu yang sabar ya Rima, ujian mu banyak sekali,"
Bu Yani memeluk menantunya. Ia merasa prihatin dengan hidupnya yang sarat dengan cobaan.
"Rendra kamu serahkan kepada Rama saja, biar dia yang mengurusnya. Kamu menginap saja di sini, ibu mu pasti membutuhkan mu,"
Betapa pengertiannya ibu mertuanya, baru saja ia ingin meminta izin untuk menginap. Ia beralih menatap suaminya yang dari tadi diam, ekspresinya tampak biasa saja.
"Rendra biar ikut di sini saja, Bu," ucap Rima.
"Jangan sayang, tidak baik untuk anak sekecil dia berada di sini. Lagi pula kamu tidak bisa bebas merawat ibu mu. Biarkan saja ibu dan Rama membawanya, toh kita tidak ada kesibukan berarti,"
"Terima kasih ya, Bu,"
Mereka terus berbincang sampai bu Santi terbangun. Bu Yani mengucapkan rasa prihatinnya terhadap peristiwa yang menimpa besannya itu.
"Yang sabar ya Bu, insyaallah ujian ini akan menaikkan derajat ibu di hadapan sang pencipta," ucap Bu Yani.
__ADS_1
"Terima kasih atas kedatangan dan doanya ya, Bu," balas bu Santi.
Mereka pun berpamitan karena hari sudah siang, Rendra sudah waktunya tidur lagi.
☆☆☆
"Maaf ya Rima, karena aku sakit kamu jadi repot. Untung mertua mu sangat pengertian sekali," ucap Bu Santi saat besannya telah pergi.
"Tidak repot Bu, kebetulan juga aku libur hari ini. Ibu jangan terlalu banyak berpikir, yang penting ibu cepat sembuh,"
"Aku sedang proses cerai dengan ayah mu Rima, tapi dia tidak mau datang sidang,"
"Apa karena itu ayah marah?" tebak Rima.
Bu Santi mengangguk lemah. Rima menghela napas dengan kasar.
"Tindakan ibu menggugat cerai ayah sudah benar. Bukti foto dan visum kekerasan ini bisa di jadikan bukti agar kasus perceraian ibu cepat di putuskan,"
Rima memang sudah mengambil beberapa foto ibunya saat tertidur. Tadinya mau ia jadikan bukti laporan ke polisi. Karena ia sudah begitu kesal dengan tindakan ayahnya yang di luar batas wajar.
"Tidak perlu lapor polisi, Rima. Ibu hanya ingin segera lepas dari ayah mu," cegah bu Santi.
"Kenapa ibu masih melindungi pria itu? Apa ibu masih mencintainya?" tanya Rima.
"Tentu tidak, rasa itu sudah mati sejak bertahun-tahun lalu. Tapi dia ayah kalian, jika sesuatu yang buruk menimpanya maka itu juga akan berpengaruh terhadap kalian,"
Rima kesal, ibunya selalu mementingkan anak-anaknya bahkan di saat begini.
"Ibu jangan memikirkan aku dan Reza, kami sudah besar. Kita bisa jaga diri, sekarang Ibu juga harus bisa meraih kebahagian ibu sendiri," ucap Rima.
"Kamu pasti nanti juga akan mengerti, Rima. Bagi orang tua, sebesar apapun seorang anak pasti akan selalu di anggap kecil dan wajib di lindungi,"
Rima menatap ibunya dengan serius. Jadi itu alasan ibunya selama ini terus bertahan dengan ayahnya.
"Mulai saat ini ibu tidak boleh bersedih lagi, Rima akan menjaga ibu dan juga Reza,"
"Tidak perlu Sayang. Lebih baik kamu fokus dengan keluarga mu. Aku tahu pernikahan mu juga mengalami masalah. Ibu dan Reza pasti baik-baik saja,"
Rima tertunduk, ia heran bagaimana ibunya tahu tentang kehidupan rumah tangganya, padahal sudah dua bulan lebih mereka tidak bertemu. Karena ia sibuk bekerja.
"Tidak perlu menutupi apa pun dari ibu, karena batin seorang ibu itu sangat kuat Rima," imbuh bu Santi.
__ADS_1