
Keesokan harinya.
"Rima bangun," teriak Rama.
Rima memaksa matanya untuk terbuka, tubuhnya terasa nyeri semuanya namun tetap berusaha bangkit.
"Ada apa Rama?" tanya Rima lirih.
"Ini sudah pagi, harusnya kamu bangun membantu pekerjaan ibu. Kita itu numpang di sini, jadi harus tahu diri," jawab Rama sinis.
Tumben sekali suaminya punya rasa malu, biasanya sampai harus di ingatkan. Rima juga mengerti posisi mereka selama ini, makanya dia selalu membantu pekerjaan di rumah ini. Tapi hari ini badannya terasa tidak nyaman, terutama di bagian perut bagian bawah. Pergulatan semalam masih menyisakan nyeri di sekujur tubuhnya.
"Aku tahu Rama, setiap hari aku juga selalu membantu ibu. Tapi hari ini badan ku sakit semua karena ulah mu semalam, biarkan aku istirahat sebentar lagi,"
Rima bermaksud untuk meletakkan tubuhnya lagi di kasur, namun dengan kasar Rama menarik tangannya hingga terjerembab ke lantai.
"Akh..."
Rima meringis kesakitan memegangi perut bawahnya.
"Tidak boleh tidur lagi, cepat sana keluar," usir Rama.
"Rama sakit... kenapa kamu sekarang menjadi kasar?"
Rima mulai terisak, tubuh dan hatinya terasa remuk redam di perlakukan seperti binatang oleh suaminya.
"Kamu pantas mendapatkannya, karena kamu hidup ku jadi berantakan,"
Rama meninju lemari dan pergi meninggalkan istrinya yang masih kesakitan. Dengan menahan rasa sakit yang teramat Rima mencoba bangkit dan duduk di atas kasur. Sepertinya ia harus kontrol lebih cepat dari jadwal, karena perutnya terasa sakit sekali.
"Adakah yang bisa aku bantu, Bu?" tanya Rima.
"Tidak perlu Nak, semua sudah selesai. Wajah mu pucat sekali, apa kamu sakit Rima?"
Bu Yani memegang kening Rima.
"Tidak panas, tapi sebaiknya kamu segera ke dokter,"
"Iya Bu, rencananya nanti akan kesana. Perut bagian bawah ku sakit sekali,"
Rima duduk di kursi meja makan, karena tidak tahan dengan rasa sakitnya.
"Iya Nak, ibu antar saja ya nanti. Sekarang masih pagi, sebaiknya kamu mandi lalu istirahat saja dulu di dalam kamar,"
Rima menuruti saran ibu mertuanya, ia segera mandi lalu istirahat di kamarnya. Sekitar 20 menit kemudian Rama pulang ke rumah.
"Heh kamu masih tidur, pemalas sekali kamu,"
Rama berkacak pinggang melihat istrinya masih berbaring di kamar.
"Rama, perut ku sakit sekali. Bisakah kamu mengantarkan aku ke dokter?"
"Jangan manja, memangnya kamu punya uang?"
"Aku ada untuk kontrol,"
__ADS_1
"Oh jadi kamu membohongi aku, kemarin aku minta kamu bilang tidak ada. Dasar istri pembohong,"
Rama menepis kaki Rima yang selonjoran di kasur. Hal itu membuat perutnya semakin sakit karena tertarik terlalu keras.
"Ouw... sakit Rama,"
Rima menangis karena sakit yang ia rasakan semakin parah. Dia semakin shock ketika melihat darah di kasur yang berasal dari miliknya.
"Rama... aku keluar darah,"
Rima berteriak dalam kesakitannya hingga mengundang kedatangan ibu dan ayah mertuanya.
"Ada apa ini?" tanya bu Yani.
Rama hanya diam menatap Rima yang menangis kesakitan.
"Ibu, aku keluar darah," jawab Rima di sela tangisnya.
"Kamu kenapa, Rima?" tanya ayah mertuanya.
"Rima pendarahan, ayo kita bawa ke rumah sakit," ajak bu Yani.
"Rama, ayo kita angkat Rima ke dalam mobil,"
Mereka segera membawa Rima ke rumah sakit terdekat. Karena tidak bisa menahan rasa sakit yang teramat sangat, Rima pingsan. Mereka semakin panik dan kuatir.
"Apa yang kamu lakukan, Rama? Kenapa Rima bisa seperti itu?" tanya ayahnya menatap putranya tajam.
Rama tampak tertunduk, ia tidak berani menatap mata ayahnya.
"Aku tidak melakukan apa-apa Yah," jawab Rama gemetar.
Mereka menunggu Rima yang sedang di tangani di ugd, perasaan mereka tidak dapat di lukiskan dengan kata-kata.
"Permisi, siapa keluarga bu Rima?" tanya dokter.
"Kami semua keluarganya Dok, dia suaminya,"
Bu Yani menunjuk Rama dengan ekor matanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi sehingga pasien mengalami pendarahan seperti ini?"
Mereka saling pandang karena bingung menjawabnya.
"Sejujurnya saya tidak tahu Dok, hanya saja tadi pagi bangun tidur menantu saya mengeluh sakit di perut bagian bawah. Karena masih pagi saya suruh mandi dan istirahat dulu, tiba-tiba dia sudah seperti itu," jelas bu Yani.
"Jadi tidak ada yang tahu mengapa bisa seperti itu?"
"Terakhir dia bersama Rama, coba kamu jelaskan Nak,"
Bu Yani dan semuanya menunggu penjelasan pria yang dari tadi tampak diam.
"Aku hanya tidak sengaja menendang kakinya, lalu dia seperti itu,"
Kedua orang tuanya menatapnya tajam.
__ADS_1
"Pantas saja begitu. Kondisi pasien sangat lemah saat ini, dia begitu kesakitan. Untung bayinya masih bisa di selamatkan. Tolong di jaga ya, pasien harus istirahat total dan jangan sampai stres,"
Mereka menyimak apa yang di sampaikan oleh dokter itu.
"Bu Rima harus di rawat di sini sementara, tolong segera di urus administrasinya. Saya permisi dulu,"
"Baik Dok, terima kasih,"
Mereka menghela napas dengan kasar.
"Aku urus administrasinya dulu ya,"
Pak Ahmad segera menuju loket pembayaran.
"Rama, sebenarnya apa yang kamu lakukan terhadap Rima? Kamu tidak menganiayanya bukan?" tanya bu Yani menyelidik.
"Tentu saja tidak Bu,"
Rama tidak merasa bersalah, menurutnya apa yang di lakukannya tidak termasuk ke dalam penganiayaan. Menurutnya itu masih dalam batas wajar.
☆☆☆
"Bu, ibu..."
Bu Yani mendekati Rima, matanya masih terpejam sepertinya gadis itu sedang mengigau.
"Rima, apa masih sakit Nak?"
Bu Yani mengusap rambut gadis itu dengan lembut, matanya yang semula terpejam kini mulai terbuka.
"Ibu..."
Rima memeluk bu Yani sangat erat, ingin rasanya ia mengadukan perlakuan Rama kepadanya. Namun tenggorokannya terasa tercekat, hatinya juga mencegahnya. Ia hanya bisa menangis di pelukan ibu mertuanya.
"Rama, istri mu sudah sadar," panggil bu Yani.
Rama masuk ke dalam ruangan, namun wajah Rima berubah ketakutan. Tubuhnya menjauh hingga meringkuk di pojok ranjang rumah sakit.
"Kamu kenapa Rima? Apa Rama sudah menyakiti mu?" tanya bu Yani.
Rima menatap keduanya bergantian. Ia takut suaminya akan menyakitinya lagi jika membuka mulut. Keringat dingin mulai mengucur deras di wajahnya, namun tidak sepatah kata pun terucap dari bibir gadis itu.
"Sayang kamu kenapa?" ulang bu Yani.
"Apa kamu masih sakit?"
Rama akhirnya bertanya juga, namun Rima masih membisu. Tak berapa lama emosi gadis itu pun berangsur stabil.
"Aku tidak apa-apa Bu, aku mau tidur lagi,"
Rima menyelimuti tubuhnya sendiri hingga dada. Bu Yani menatap menantunya dengan bingung.
"Ya sudah kamu istirahat saja, ibu akan menemui ayah mu dulu,"
Kini hanya tinggal mereka berdua, Rima pura-pura memejamkan mata supaya di sangka tidur.
__ADS_1
"Tidak usah pura-pura tidur. Awas saja jika kamu sampai mengadu yang aneh-aneh,"
Bisikan Rama di telinganya membuatnya takut setengah mati hingga tidak berani membuka mata.