
Keesokan harinya.
Dengan berat hati Rima harus merelakan suaminya bekerja di luar kota. Kebutuhan mereka sangat banyak, tidak mungkin mereka harus menumpang hidup terus kepada orang tua. Mereka harus merencanakan masa depan anak mereka.
"Ya sudah hati-hati di sana ya, jangan lupa selalu berkirim kabar pada ku," ucap Rima dengan sedih.
"Iya, tenang saja aku pasti mengabari mu. Ini semua demi keluarga kita, doakan aku ya,"
Rama memeluk istrinya dengan erat membuat Rima tidak dapat menahan perasaannya lagi. Tangisnya tumpah di dalam dekapan suaminya. Rama mengusap lembut kepala istrinya dan mencium keningnya.
"Sabar ya, kita harus kuat demi Rendra,"
Setelah menghibur istrinya dia beralih menciumi putranya yang sedang terlelap tidur. Meninggalkannya membuat hati Rama sedih, titik-titik cairan bening mulai memenuhi sudut matanya. Namun ia menyekanya sebelum benar-benar terjatuh.
"Jangan nakal ya Sayang, ayah pasti akan segera kembali,"
Rima mengantar suaminya hingga di depan rumah. Tampak sepupunya Ghani telah menunggunya di dalam mobil. Setelah mobil melaju Rima kembali ke dalam rumah.
"Sayang, kini kita hanya berdua. Ayah sedang bekerja jauh untuk membahagiakan kita, kamu jangan nakal ya,"
Rima menemani putranya yang terbangun. Ia memberinya asi sembari menyanyikan lagu pengantar tidur untuk Rendra. Setelah Rendra tertidur pulas, ia juga ikut berbaring di sampingnya.
☆☆☆
Sore harinya, di luar kota.
Rama baru saja membuka mata dari tidurnya. Ia meminum segelas air lalu melihat ke luar dari jendela hotel. Pemandangan di luar yang begitu indah membuatnya justru mengingat tentang keluarga kecilnya.
"Kamu sudah bangun, cepat mandi setelah ini kita harus mulai rencana kita," ucap Ghani yang baru kembali dari luar.
"Ok, aku mandi dulu ya,"
Rama segera mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi ia merenung kembali. Sebenarnya dia tidak ingin mengambil tawaran kerja dari sepupunya itu, namun keadaan memaksanya untuk menerima. Pekerjaan ini memang menghasilkan banyak uang, namun resikonya juga sangat besar bahkan nyawa menjadi taruhannya.
"Kamu ambil barang ini, kamu harus mengirimnya kepada Mr. X,"
__ADS_1
Ghani mulai menjelaskan pekerjaan Rama secara terperinci. Tentang resiko yang bisa di dapat, hambatan yang akan di lalui serta bayaran yang akan di terima nantinya. Walaupun Rama bukan pemain baru dalam bisnis haram ini, namun mengingat tentang keluarganya sedikit membuatnya takut.
☆☆☆
Pyarrr...
Foto pernikahan Rama dan Rima tiba-tiba terjatuh, membuat Rima yang sedang menyusui Rendra tersentak karena terkejut.
"Astagfirullah, pertanda apa ini? Mengapa foto pernikahan itu tiba-tiba jatuh ya?" tanya Rima.
Hatinya mulai tidak nyaman, perasaannya menjadi gelisah. Tidak berapa lama kemudian Rendra menangis sangat keras, bayinya tidak mau menyusu. Rima segera mengecek popoknya namun ternyata tidak penuh. Ia menjadi kuatir karena Rendra tidak juga mau berhenti menangis.
"Rima, Rendra kenapa menangis terus?" tanya bu Yani.
"Tidak tahu juga Bu, dia tidak mau minum asi. Popoknya juga baru aku ganti, masih kosong dia belum pipis," jawab Rima bingung.
"Loh itu kenapa foto pernikahan kalian pecah?"
Bu Yani melihat pecahan kaca di lantai. Foto pernikahan putranya sudah ada di bawah.
"Justru itu Bu, aku juga bingung fotonya tadi tiba-tiba saja terjatuh. Setelah itu Rendra rewel dan tidak berhenti menangis," jawab Rima.
Bu Yani mengambil alih Rendra dari Rima. Ia mulai bershalawat untuk menenangkan bayi mungil itu. Benar saja beberapa menit kemudian bayi itu berhenti menangis dan kembali tertidur dengan nyenyak.
"Alhamdulillah Bu, Rendra sudah tidur lagi," ucap Rima.
"Iya, sebentar lagi ibu akan menaruhnya. Dia masih belum begitu nyenyak. Kamu makan saja dulu, asi mu harus banyak supaya ia kenyang,"
Rima menuruti perintah bu Yani. Ia makan dengan lahap. Menyusui membuatnya mudah lapar. Porsi makannya kini juga sangat banyak seperti kuli bangunan. Sebenarnya dia malu tapi demi Rendra ia harus mengacuhkan perasaan itu.
Karena Rendra masih tertidur, setelah makan ia mencoba menghubungi suaminya namun tidak di angkat. Ia memutuskan untuk mengiriminya pesan.
[Sudah sampaikah kah Rama? Kenapa belum mengirimi ku kabar?]
Pesannya terkirim namun belum di baca. Rima menunggunya dengan sabar. Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi. Rama membalas pesannya.
[Maaf tadi ketiduran. Ketika bangun sudah di tunggu pekerjaan. Bagaimana Rendra, apa dia rewel?]
__ADS_1
Rima menjelaskan apa yang terjadi tadi. Tentang foto pernikahan mereka yang jatuh, Rendra yang rewel dan bagaimana bu Yani berhasil menidurkannya kembali. Rama tidak bisa membalas pesannya lagi karena suaminya itu harus segera bekerja kembali. Pria itu melarangnya menelepon dan menyuruh mengirim pesan saja jika ingin berbicara dengannya.
☆☆☆
"Bagaimana, semuanya aman kan?" tanya Ghani.
"Aman, tapi tadi sempat ada yang curiga. Beruntung aku bisa menghindar," jawab Rama.
"Good. Sekarang kita pergi merayakannya dulu, ayo ikut aku,"
Ghani segera menarik tangan Rama. Mereka berdua mengendarai mobil ke sebuah tempat hiburan malam.
"Ayo kita minum sepuasnya,"
Ghani menuangkan minuman untuk Rama.
"Maaf, tapi aku sudah tidak mau minum lagi," tolak Rama.
Ia masih ingat terakhir kali minum ia membuat istrinya kesakitan, karena dia menggaulinya dengan paksa. Ia tidak ingin hal buruk menimpa hidupnya lagi. Cukup sudah dengan bekerja seperti ini membuatnya merasa bersalah.
"Ayolah, sedikit saja. Masa iya kita tidak merayakan keberhasilan tugas pertama mu,"
Karena Ghani terus memaksa akhirnya ia minum juga. Awalnya hanya sedikit, namun suara hingar bingar musik yang dj mainkan membuatnya semakin semangat untuk minum. Kini ia telah lupa dengan janjinya sendiri.
Beberapa orang wanita malam mulai merayu mereka. Tampaknya Ghani sudah sering kemari, semua wanita itu mengenalnya.
"Rama aku cabut dulu ya, kamu boleh pilih siapa saja yang kamu suka. Nanti aku yang akan membayar semuanya,"
Ghani pergi dengan merangkul dua orang wanita bersamanya, ia meninggalkan Rama yang sudah setengah sadar bersama wanita-wanita itu.
"Wah kamu tampan sekali, sama aku saja ya," ucap salah seorang dari mereka.
"Jangan mau Mas ganteng, sama aku saja ya. Di jamin puas lahir batin," sahut yang lainnya.
Rama hanya tertawa menanggapi mereka, tiba-tiba ia melihat istrinya dalam bayangannya.
"Rima? Kok kamu di sini, Sayang," tanya Rama sembari tertawa.
__ADS_1
Entah kebetulan atau bagaimana, salah seorang dari mereka ada yang bernama Rima juga. Sehingga mereka menganggap Rama menginginkan wanita bernama Rima itu.
Gadis itu segera membawa Rama yang sedang mabuk ke dalam sebuah kamar. Karena menyangka wanita itu adalah istrinya maka Rama yang sudah berada di puncak birahi segera mengajaknya bermain kuda-kudaan hingga wanita itu mendesah karena kenikmatan yang Rama berikan.