
Dua hari kemudian.
Konter Rama sudah benar-benar tidak beroperasi lagi. Tidak ada lagi pelanggan yang datang. Karena sering yang mereka cari kosong, konternya juga sering buka tutup membuat pelanggan berpindah ke lapak orang lain. Sisa saldo dan lain-lain terpaksa di pakai sendiri.
Rama merasa frustasi. Uangnya sudah habis, sisa 200 ribu di dompetnya. Ia bingung untuk menjelaskannya kepada ayahnya nanti.
"Rima, uang yang dulu pernah aku berikan pada mu mana? Aku butuh uang sekarang?"
Rama meminta sesuatu yang sudah ia berikan, mencerminkan sikapnya yang tidak bertanggung jawab.
"Bukannya kamu tahu sendiri, uangnya sudah dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Keperluan rumah dan Rendra, kok masih kamu minta?"
"Aku yakin pasti masih ada, tidak mungkin habis semua,"
"Uangnya kan sebagian aku berikan kepada ibu mu dan ibu ku, waktu itu aku sudah bercerita pada mu,"
Rama malas berbasa basi lagi, ia mulai membuka lemari pakaian Rima. Mengambil tas dan membuka dompetnya. Karena tidak ada dia mengobrak abrik isi lemari istrinya itu.
"Rama, apa yang kamu lakukan? Sudah berhenti, aku capek menatanya tahu,"
Plakkk...
"Kamu membuat kesabaran ku habis, Rima,"
Tampaparannya sangat keras hingga menimbulkan rasa nyeri yang sangat di pipi dan bibirnya. Telinganya pun mendengung, tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga nyaris terjatuh.
"Ini apa, mau belajar berbohong kamu?"
Rama pergi membawa uang sisa pemberiannya waktu itu. Masih ada 2 juta rupiah di dalam amplop itu. Rima kecewa dengan sikap Rama. Namun ia hanya bisa menangis dan pasrah. Ia mulai membereskan kamar yang berantakan itu.
☆☆☆
Sesuatu yang di peroleh dari cara yang tidak halal biasanya akan cepat habis dan tidak barokah. Mungkin itu juga yang menjadi penyebab usaha Rama gulung tikar hanya dalam beberapa bulan saja. Jika kita makan dengan uang haram itu juga berpengaruh buruk terhadap hidup kita, tubuh kita dan cara berpikir kita. Oleh karena itu sebaiknya kita membiasakan untuk mencari uang dengan cara yang halal.
Bukannya bertaubat karena telah di tipu oleh Maya justru Rama seolah tidak pernah jera. Kali ini ia mulai ikut taruhan atau judi bola. Ia memakai uang yang tadi ia rampas dari istrinya sebagai modal. Iming-iming pendapatan yang besar membuatnya tergiur untuk ikut serta.
"Wah hebat, baru juga ikut sudah menang saja. Selamat ya, ayo kita lanjut," ucap temannya.
Karena menang di awal, Rama menjadi semakin bersemangat. Ia mulai mencoba permainan yang lain. Sepertinya dewi fortuna sedang berpihak kepadanya. Ia menang 3x berturut-turut. Hal itu membuatnya besar kepala. Ia lanjut bermain hingga tak ingat waktu.
Malam semakin larut, keberuntungannya mulai memudar. Ia sering kalah, uangnya makin menipis. Bukannya berhenti ia justru makin penasaran. Ia kalah sampai modalnya habis. Ia meminjam 1 juta untuk bermain lagi, namun lagi-lagi ia harus kalah. Ia pulang dengan tangan kosong, justru sekarang dirinya punya hutang kepada temannya.
"Ah sial, kenapa jadi begini sih. Uang lenyap malah sekarang punya hutang. Bagaimana aku membayarnya nanti," gerutu Rama saat perjalanan pulang.
__ADS_1
☆☆☆
Tiba di rumah waktu sudah menunjukkan pukul 00.30, semua penghuni di rumah sudah tertidur nyenyak. Rasa kesal di hatinya ia lampiaskan kepada istrinya.
Brukkk...
Dengan kasar ia mendorong istrinya hingga terjatuh ke lantai.
"Aduh... Rama kamu apa-apaan sih? Kenapa kamu dorong aku?"
Rima segera bangkit dan kembali ke kasur. Rama tidak menanggapinya, ia memilih tidur membelakangi Rendra dan Rima. Sepertinya Rama mempunyai masalah dengan jiwanya, ia sangat senang menyiksa istrinya baik secara batin atau fisik. Rasanya ia tidak senang jika melihat Rima hidup tenang dan bahagia.
Karena hari sudah sangat malam dan Rima masih mengantuk, ia pun kembali tidur di samping Rendra dan memilih mengalah.
☆☆☆
Keesokan harinya.
Rangga sepupu Rama, bertamu pagi-pagi sekali. Ia ingin mengajak Rama bekerja, ada lowongan di sekitar sana sebagai security. Karena ia tahu usaha Rama sudah gulung tikar makanya ia ingin mengajaknya karena di butuhkan 2 orang pria untuk mengisi lowongan tersebut.
"Sepertinya dia masih tidur, kamu masuk saja ke kamarnya. Suruh bangun. Istrinya sudah bangun dari tadi dia masih molor saja," ucap Bu Yani.
Rangga menurutinya, ia masuk ke kamar dan membangunkan Rama.
Rangga mengguncang tubuh sepupunya itu sampai dia membuka mata.
"Apaan sih? Ngapain kamu pagi-pagi kesini?"
Rama memelototi Rangga yang sudah mengganggu kenyamanan tidurnya.
"Aku mau mengajak kamu bekerja, jadi security di kampus dekat sini. Lumayan dari pada kamu nganggur kan," jawab Rangga.
"Jadi security? Aku tidak mau,"
Rama justru kembali tidur.
"Hei, ini kesempatan langka. Cari pekerjaan sekarang susah loh, apalagi dengan ijazah SMA," bujuk Rangga.
"Aku tidak mau, masak jadi satpam. Sudah pergi sana, tawarkan pada yang lain," usir Rama.
Rangga menghela napas dengan kasar, ia tidak menyangka Rama akan menolak tawaran ini. Dengan rasa kecewa ia meninggalkan Rama yang tertidur kembali.
"Kok sudah mau pulang? Tidak jadi mengajak Rama bekerja?" tanya Rima.
__ADS_1
"Dia tidak mau, malah di tinggal tidur lagi," jawab Rangga.
"Keterlaluan sekali dia, cari kerja sekarang susah malah pilih-pilih. Sudah enak punya usaha malah di buat bangkrut. Aku tidak tahu kemana jalan pikiran Rama itu," ucap bu Yani.
"Tolong katakan kepada Rama, aku akan menunggunya sampai besok. Jika ia tidak berubah pikiran, aku akan memberikan kepada orang lain ya,"
Rima mengangguk, ia menatap kepergian Rangga dengan sedikit kecewa.
"Biar nanti aku katakan kepada ayahnya, kalau hanya aku yang marah anak itu tidak akan mendengarkan," ucap Bu Yani.
"Sabar Bu, ingat tensinya harus di jaga,"
Rima mengusap punggung ibu mertuanya.
"Maaf ya Rima, aku gagal mendidiknya menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab," bu Yani mulai sedih.
"Ibu tidak salah, ibu sudah melakukan yang terbaik. Tapi memang Rama sifatnya sulit di atur, kita doakan saja ya Bu,"
☆☆☆
Malam harinya.
"Rama, sini kamu," panggil ayahnya.
"Ada apa, Yah?"
Rama sudah ketakutan, ia takut ayahnya akan bertanya tentang uang yang telah ia habiskan.
"Katanya Rangga tadi kesini mengajak mu bekerja, tapi kamu tolak. Apa itu benar?" tanya ayahnya.
'Astaga, dari mana ayah tahu. Aku pasti akan kena marah,' batin Rama.
"Sebenarnya bukan menolak, Yah. Tapi tadi aku ngantuk sekali jadi menyuruhnya segera pergi," jawab Rama beralasan.
"Jadi kamu mau bekerja jadi security?"
"I-iya, Yah," jawab Rama gugup.
"Ya sudah kalau begitu mulai besok kamu bekerja, nanti aku yang akan mengatakan kepada Rangga,"
"Apa? Mulai besok, Yah?"
"Ya iya, semakin cepat semakin baik. Seorang pria jangan terlalu lama menganggur. Malu,"
__ADS_1
Rama hanya bisa tertunduk dan pasrah, ia tidak mungkin membantah perintah ayahnya.