Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 14 Mulai Ada Konflik


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Sudah seminggu Rima tinggal di rumah mertuanya. Ada rasa tidak nyaman di hatinya karena ia merasa hanya menumpang hidup di sana, suaminya Rama masih saja menganggur jadi tidak bisa memberinya nafkah.


"Rama, aku merasa tidak enak dengan orang tua mu. Sebaiknya kamu cepat mencari pekerjaan, tidak mungkin kita makan ikut orang tua mu terus kan," ucap Rima.


"Berisik sekali sih kamu, mereka saja tidak keberatan kok. Mereka itu kan orang tua ku jadi tidak masalah, kecuali kita tinggal di rumah mu dan aku tidak bekerja, baru kamu permasalahkan," balas Rama ketus.


"Tetap saja tidak nyaman, untuk satu dua hari memang tidak masalah. Tapi mau sampai kapan, Rama? Apa kamu tidak malu sudah menikah tapi masih makan ikut orang tua?"


Rima mencoba memberi pengertian, tapi bukannya sadar suaminya justru marah dan mendiamkannya. Bahkan ketika Rima berpamitan berangkat kerja, ia tidak menjawabnya.


Hati Rima terasa tersayat, beginikah kelakuan asli suaminya yang ternyata mirip dengan ayahnya? Biasanya ia selalu mengantar dan menjemputnya jika bekerja, namun hari ini jangankan mengantar menjawab salamnya saja tidak.


"Ternyata menikah itu bukan perkara mudah, bahkan ketika menikah dengan orang yang kita cintai, pasti ada saja masalah yang timbul ya," ucap Rima.


Ia melajukan motornya sendiri menuju tempat kerja. Hari ini sudah waktunya ia gajian, ia berencana untuk belanja keperluan rumah sepulang kerja nanti.


☆☆☆


Kembali ke kediaman Rama.


Sepeninggal istrinya bekerja, Rama hanya bermalas-malasan saja. Ia berbaring di kamarnya sembari sibuk main game di ponselnya. Ia hanya akan keluar jika lapar atau mau ke kamar mandi.


"Rama..." panggil ayahnya.


"Iya Yah, sebentar,"


Rama masih menyelesaikan permainannya, ia mengumpat ketika kalah. Baru ia mengacuhkan panggilan ayahnya.


"Ada apa, Yah?" tanya Rama.


"Duduk dulu di sini, ayah dan ibu mau bicara," titah ayahnya.


Rama menurut, ia duduk di depan ayah dan ibunya. Entah apa yang akan mereka bicarakan, tidak biasanya mereka memanggilnya seperti ini.


"Apa kamu tahu kenapa kami memanggil mu?" tanya ibunya.


Rama hanya menggeleng, ia memang tidak bisa menduga apa yang ingin mereka bicarakan.


"Rama, kamu itu sudah menikah. Kamu punya tanggung jawab besar sekarang, menghidupi istri dan calon bayi mu, menjaga mereka dan bertanggung jawab sepenuhnya atas mereka. Bukankah ayah sudah bilang waktu itu, kamu harus bekerja setelah menikah. Bukan kita tidak mampu menghidupi kalian, tapi sebagai seorang pria kamu harus bisa bertanggung jawab," jelas ayahnya.

__ADS_1


"Iya Yah, aku tahu. Aku akan segera mencari kerja," ucap Rama.


"Baguslah jika seperti itu, kasihan istri mu harus bekerja padahal sedang hamil. Harusnya kamu malu dengan Rima, dia gadis baik yang tidak terlalu menuntut," balas Rima.


'Semua ini gara-gara Rima, dasar gadis sok baik,' batin Rama.


"Iya, setelah ini aku akan membuat lamaran,"


"Kalau kamu mau, ada lowongan di proyek untuk menjadi satpam. Ada juga di pabrik di bagian produksi. Kalau kamu sanggup bekerja kasar ada juga di pabrik khusus untuk mengangkat barang. Nanti ayah beri tahu nama PT dan alamatnya,"


'Hah? Apa ayah tidak salah, aku di beri pekerjaan seperti itu?' batin Rama.


Ayahnya memang bukan orang yang suka KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Walaupun ia banyak sekali kolega, namun ia juga harus menyesuaikan dengan kemampuan putranya. Ia tidak akan memanfaatkan rekan-rekannya hanya untuk menyenangkan hati putranya itu.


"Iya Yah, sebentar aku ambil perlengkapan untuk melamar kerja di kamar,"


Rama menuruti keinginan ayahnya, ia memang tidak pernah membantah perintah ayahnya karena takut. Ayahnya terkenal keras walaupun juga sangat perhatian kepada semua anaknya.


☆☆☆


Beberapa saat kemudian.


"Halo Angga, kamu sedang apa?" tanya Rama.


"Antar aku naruh lamaran kerja dong, aku malas jalan sendiri," pinta Rama.


"Duh panas-panas begini, jauh tidak?"


"Tidak kok, dekat-dekat sini saja. Ayolah nanti aku traktir makan dan minum," rayu Rama.


"Ya baiklah, aku akan ke rumah mu,"


Angga adalah sepupu Rama yang masih tinggal bertetangga dengannya. Dia jarang keluar dan lebih sering mendekam di dalam rumah.


"Tumben mau melamar kerja? Sudah sadar kamu?" ledek Angga yang telah berada di kamar Rama.


"Sialan, kamu pikir selama ini aku kenapa? Di suruh bokap, katanya karena sudah nikah jadi harus tanggung jawab. Semua ini karena Rima," jawab Rama kesal.


"Kok justru nyalahin Rima, ya memang benar kata ayah mu. Berani nikah ya harus berani tanggung jawab," sindir Angga.


"Kok kamu belain Rima sih, yang saudara kamu itu aku bukan wanita itu," ucap Rama.

__ADS_1


"Ah sudahlah, ayo cepat kalau mau pergi keburu semakin panas cuacanya,"


Mereka pun berangkat mengantarkan lamaran kerja Rama ke beberapa tempat. Angga sempat mengeluh karena ternyata tempat yang mereka tuju ada yang cukup jauh. Namun karena sudah terlanjur terpaksa ia jalani.


☆☆☆


Malam harinya.


"Alhamdulillah, gajinya ternyata lumayan juga,"


Rima bersyukur sekali bisa mendapat uang dari hasil jerih payahnya selama ini. Uang 2,5 juta sangat banyak untuknya yang baru pertama kali bekerja. Hatinya begitu gembira, ia berencana untuk mampir ke kos orang tuanya.


"Assalamualaikum," ucap Rima.


"Waalaikum salam, Bu... itu anak mu datang, kirain sudah lupa karena sudah menikah dengan orang kaya,"


Sindiran ayahnya membuat hatinya sungguh terluka. Ia memang belum sempat menjenguk mereka selama seminggu ini karena sibuk sekali. Kendati begitu Rima tetap masuk dan menyalami ayah dan ibunya.


"Sayang, kamu datang ternyata. Ayo masuk, bagaimana kabar mu?"


Ibunya menyambutnya dengan hangat, ia memeluknya penuh kerinduan. Sementara ayahnya sibuk memperbaiki motor di depan rumah, ia dan ibunya asyik mengobrol.


"Bu, alhamdulilah aku sudah gajian hari ini. Aku ingin memberi ini kepada ibu,"


Rima berkata dengan lirih agar ayahnya tidak mendengar. Ia memberikan uang 500 ribu kepada ibunya.


"Tidak perlu Nak, kamu pegang saja toh ibu masih punya pegangan. Sekarang kamu harus mulai menabung untuk calon bayi mu, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti,"


"Aku masih ada Bu, tolong di terima. Aku ingin memberi ibu sebagian gaji pertama ku, itu sudah cita-cita ku,"


Rima memaksa ibunya untuk menerima, namun ibunya tetap menolak. Akhirnya ia memasukkan uang itu ke dalam saku ibunya.


"Aku tidak akan datang kesini lagi jika ibu menolaknya," ancam Rima.


"Oh iya, Reza kemana Bu?" tanya Rima.


"Mungkin main di sekitar sini, maklum anak laki-laki,"


"Ya sudah aku titip buat Reza ya, Bu,"


Rima memberikan adiknya uang 100 ribu.

__ADS_1


"Wah ada yang bagi-bagi uang nih, buat ayah mana Rima?"


Tiba-tiba ayahnya muncul dari balik pintu, sepertinya ia mendengar pembicaraan mereka.


__ADS_2