
"Kamu kok sendirian, mana Rima dan Rendra?"
Bu Yani menoleh kesana-kemari namun yang di harapkannya tidak terlihat.
"Dia tidak mau pulang," jawab Rama tenang.
"Tidak mungkin, Rima tidak ingin pulang. Sebenarnya apa yang kamu lakukan sehingga dia enggan tinggal di sini lagi? Jawab Rama?"
Ibunya berkata dengan tegas, tidak pernah sebelumnya ia berteriak seperti ini kepadanya.
"Aku tadi sudah ke sana, Bu. Tapi dia memang tidak mau pulang katanya,"
Rama tetap tidak mau di tuduh bersalah.
"Aku tidak peduli itu, aku akan menjemputnya sendiri. Yang aku tanya, apa yang telah kamu lakukan sehingga dia tidak mau pulang kemari lagi?"
Tenggorokan Rama tercekat, tak mungkin rasanya ia menceritakan kelakuan kasarnya. Ia bingung harus beralasan apa, akhirnya ia hanya diam tanpa kata.
"Baiklah kalau kamu tidak mau cerita, biar aku tanya langsung kepada Rima nanti,"
Bu Yani menyambar kunci motor, lalu pergi meninggalkan Rama. Rama menjadi gelisah, tamatlah riwayatnya jika sampai ibunya tahu tentang perbuatannya.
☆☆☆
"Kalian di tanya bukannya menjawab malah bisu. Apa kalian tidak punya bakat lain selain seperti ini ya? Dasar aneh,"
Pak Tono meninggalkan istri dan anaknya yang masih saja diam. Ia kembali ke kamarnya untuk bermesraan dengan kekasihnya yang wajahnya tidak lebih cantik dari istrinya itu. Entah apa yang pak Tono lihat dari wanita itu, dari segi fisik masih jauh lebih cantik istrinya kemana-mana.
"Lain kali hati-hati kalau bicara, Nak. Ayah mu itu sangat kasar, aku takut dia berbuat nekad kepada mu," ucap Bu Santi.
"Iya Bu, maaf ya membuat ibu hampir jantungan,"
Rima berusaha mencairkan suasana yang tegang.
"Assalamualaikum,"
Bu Yani datang di antar tetangga Rima di tempat yang lama. Rima dan ibunya sangat terkejut dengan kedatangannya. Mereka segera mempersilahkannya untuk masuk.
__ADS_1
"Bu, maaf ya aku menginap di sini tanpa pamit. Baru saja aku ingin menghubungi ibu, tapi ibu sudah keburu datang," ucap Rima.
"Tidak apa-apa kok Sayang, ibu bisa mengerti. Hanya saja aku ingin tahu kenapa sampai kamu tidak mau pulang ke rumah, aku yakin kalian pasti bertengkar kan?"
Bu Yani menatap menantunya dengan lekat. Sementara Rima menoleh ke arah ibunya untuk meminta pendapat. Setelah ibunya mengangguk barulah ia mulai bercerita.
Bu Yani terlihat menyimak apa yang Rima katakan. Ia tidak menceritakan hingga mendetail. Ia hanya berkata jika Rama kerap kasar terhadapnya, ia juga menceritakan tentang suaminya yang tidak pernah memberi nafkah semenjak membuka konter hp. Sampai masalah dugaan perselingkuhan juga ia katakan.
"Astaga Rima, kenapa kamu baru cerita sekarang? Apa Rama mengancam mu? Kenapa kamu justru diam, harusnya kamu jujur agar kami selaku orang tua bisa bertindak tegas kepadanya,"
Bu Yani mengelus punggungnya, wanita itu sangat prihatin dengan keadaannya. Ia sama sekali tidak menduga jika putranya punya tabiat seperti itu. Selama ini ia jarang mendengar mereka bertengkar apalagi sampai ada kekerasan.
"Maaf Bu, aku takut darah tinggi Ibu kambuh jika tahu hal ini. Aku takut menambah beban pikiran Ibu," jawab Rima.
"Maafkan Rama ya Rima, Bu Yani. Saya sangat malu dengan kelakuannya,"
Bu Yani terlihat mengeluarkan cairan bening dari pelupuk matanya. Semakin lama tangisannya semakin tak terbendung. Rima memeluknya untuk menguatkannya.
"Sudahlah Bu, yang penting sekarang Ibu sudah tahu mengapa putri saya tidak mau kembali. Saya juga tidak rela jika anak saya di jadikan sasaran kemarahan oleh suaminya terus-menerus," sahut bu Santi.
"Iya Bu, orang tua mana yang rela anaknya menderita. Sekarang sementara kamu tinggal di sini saja dulu, kita harus membuat rencana agar Rama sadar akan kesalahannya. Ibu juga akan berembuk dengan ayahnya untuk mencari solusi yang terbaik. Kamu sabar dulu ya,"
"Ya sudah, ibu pamit dulu ya. Bu Santi tolong jaga Rima untuk sementara ya, saya pastikan Rama pasti menjemputnya dengan kemauannya sendiri,"
Sebelum berpamitan, Bu Yani memberikan uang 1 juta rupiah kepada Rima untuk memenuhi keperluannya sementara. Awalnya Rima dan ibunya menolak, namun karena bu Yani memaksa jadi mereka terima.
☆☆☆
Beberapa saat kemudian.
"Rama..." teriak bu Yani saat baru tiba di rumah.
Perasaan Rama tidak nyaman, ibunya pasti sudah tahu dari Rima. Ia yakin ibunya sangat marah kepadanya. Ia keluar dari kamar dengan perasaan takut.
"Iya, Bu,"
Rama duduk di depan ibunya yang menatap nyalang ke arahnya.
__ADS_1
Plakkk... plakkk...
Dua buah tamparan mendarat di pipi kanan dan kirinya. Sakit, karena ibunya menamparnya dengan sangat keras.
"Keterlaluan kamu ya, berani melakukan KDRT kepada istri sendiri. Kurang apa Rima menurut mu sehingga pantas kamu perlakukan seperti itu. Kamu sudah membuat malu keluarga kita, Rama. Ibu sangat kecewa pada mu,"
Bu Yani terlihat menahan amarah yang datangnya bersamaan dengan tangisannya yang tertahan. Ia merasa gagal menjadi orang tua. Sementara Rama hanya bisa diam dan tertunduk lesu.
"Maafkan aku Bu, aku khilaf," ucap Rama pada akhirnya.
"Bukan khilaf namanya jika kamu ulang terus-menerus. Kamu juga tega selingkuh, apa kurangnya Rima? Dia cantik, baik, penurut, tidak pernah berbuat macam-macam. Mau mencari wanita seperti apa lagi kamu, Rama?"
Rama terkesiap. Ia tidak menyangka istrinya juga akan bercerita tentang hal itu kepada ibunya.
"Jangan-jangan uang dari usaha konter kamu berikan kepada selingkuhan mu itu ya? Kamu gunakan foya-foya dengan wanita lain sementara istri dan anak mu tidak kamu nafkahi, iya?"
Kesabaran bu Yani sudah habis, kesalahan Rama terlampau banyak. Entah apakah Rima masih bisa memaafkannya atau tidak.
"Aku di tipu, Bu. Wanita itu sudah kabur," jawab Rama.
"Itulah karma jika sampai membuat hati istri mu terluka. Itu hanya balasan di dunia, belum balasan di akhirat yang jauh lebih pedih,"
Rama tahu jika perbuatannya salah. Namun entah mengapa masih belum ada rasa sesal di hatinya.
"Maaf, Bu..."
"Jangan minta maaf pada ku, minta maaf lah kepada istri mu. Kalau perlu bersujudlah di kakinya agar dia memaafkan mu,"
Tentu saja Rama tidak akan merendahkan dirinya seperti itu.
"Rima sangat kecewa, dia serius ingin meninggalkan mu. Jika kamu memang masih mencintai istri dan juga anak mu, kamu harus bisa melunakkan hatinya. Jika tidak, kamu akan benar-benar kehilangan mereka untuk selamanya,"
Bu Yani meninggalkan Rama dengan rasa kesal yang masih menumpuk di dadanya.
Rama terdiam, ia memikirkan kata-kata ibunya.
"Benarkah Rima ingin bercerai dengan ku?"
__ADS_1
Ada rasa kecewa di hatinya, ia masih belum bisa kehilangan mereka.