
Keesokan harinya.
"Bu, aku mau ke pasar sebentar. Aku titip Rendra dulu ya," ucap Rima.
"Kamu ingin beli apa, biar ibu yang beli saja. Kamu itu masih masa nifas, belum boleh keluar jika tidak terlalu penting," balas bu Yani.
"Aku ingin beli kebutuhan ku dan Rendra, Bu," jawab Rima.
"Kamu tulis saja yang kamu inginkan, nanti ibu akan membelikannya untuk mu,"
"Baiklah, Bu,"
Rima mengambil selembar kertas dan mulai menulis apa yang sudah habis dan ingin di belinya kembali untuk stok. Ia lalu memberikannya kertas dan beberapa lembar uang kepada bu Yani.
Tok... tok... tok...
"Rima... Rima, keluarlah," seseorang berteriak di depan pintu.
"Rima, siapa itu? Ayo kita lihat,"
Mereka berdua segera melangkah ke depan. Ternyata pak Tono yang datang. Ia sangat tidak sopan, datang-datang bukannya mengucapkan salam malah berteriak.
"Ayah, ada apa? Kenapa Ayah berteriak?"
Rima terkejut dengan kedatangan ayahnya, pria itu melirik bu Yani mungkin sedikit merasa sungkan.
"Kemana ibu mu? Dia pasti lari kesini kan?"
Rima bingung dengan pertanyaan ayahnya, ia sama sekali tidak tahu kemana ibunya karena dia tidak mengabarinya.
"Maksud Ayah apa? Aku tidak tahu ibu kemana, memangnya kenapa ibu lari?" tanya Rima.
"Kamu tidak usah berpura-pura, sebaiknya suruh ibu mu keluar agar aku tidak berbuat nekad," ancam pria itu.
"Sebaiknya duduk dulu, Pak. Dari tadi Rima selalu bersama saya. Bu Santi juga tidak ada datang kesini sama sekali,"
Bu Yani mencoba menengahi, ia tahu pak Tono adalah orang yang temperamen. Ia tidak ingin dia sampai menyakiti menantunya. Pria itu tampak menatapnya.
"Tidak perlu, untuk apa masuk jika orang yang di cari tidak ada," jawab pak Tono.
"Ibu dan adik mu sudah kabur dengan barang-barang mereka, aku tidak akan memaafkan mereka jika sampai ketemu," imbuhnya.
Pria itu lalu berlalu dari sana, meninggalkan putrinya dengan perasaan yang tidak menentu.
"Sebenarnya ibu kemana? Kenapa sampai nekad pergi? Bagaimana jika ayah melakukan hal buruk kepada mereka?"
__ADS_1
Rima mulai terisak, perasaannya jadi tak karuan. Pikirannya berkecamuk. Bu Yani berusaha menenangkannya.
"Sebaiknya coba kamu hubungi saja ibu mu, aku yakin dia tidak mungkin bertindak tanpa alasan yang tepat,"
Rima merasa yang di katakan ibu mertuanya memang benar adanya, ia segera masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya.
Tut... tut... tut...
Dengan tak sabar Rima menunggu, ia mencoba menghubungi lagi.
"Assalamualaikum Sayang, ada apa Nak menelepon pagi-pagi?" tanya ibunya.
"Syukurlah ibu mengangkat. Ayah barusan datang kesini, dia marah-marah mencari ibu dan Reza. Memangnya ibu pergi kemana? Apa yang sebenarnya terjadi bu?" tanya Rima kuatir.
Bu Santi pun menceritakan semua dari awal dengan air mata berlinang. Hati Rima ikut berdenyut mendengarnya, rasanya sakit melihat ibunya di perlakukan seperti itu.
"Aku tidak menyangka sekarang ayah berani terang-terangan selingkuh, bahkan membawa wanita itu ke rumah. Lebih baik ibu segera menggugat cerai. Aku tidak ingin sampai ancaman ayah benar-benar terjadi," ucap Rima.
Sebenarnya ia ingin sekali membantu ibu dan adiknya, namun ia juga tidak punya pekerjaan untuk menjamin kehidupan mereka. Rama juga masih belum bisa di andalkan karena belum punya pekerjaan tetap. Rima hanya bisa berdoa di dalam hatinya untuk keselamatan ibu dan adiknya itu.
☆☆☆
Seminggu kemudian.
Tadi pagi suaminya meneleponnya, Rima sedang bukan kepalang karena biasanya mereka hanya berbalas pesan saja. Itu juga sangat jarang, sepertinya suaminya sangat sibuk sekali. Hari ini Rama berkata akan mengiriminya uang.
Rima memelototi pesan mbangking yang masuk ke ponselnya. Nominal uang masuk 10 juta rupiah, bukan jumlah yang sedikit. Bahkan ia belum pernah memegang sebelumnya seumur hidupnya.
"Coba aku kirim pesan saja, takutnya memang salah kirim,"
Rima segera mengirim pesan kepada suaminya.
[Rama, uangnya sudah masuk. Tapi kamu apa tidak salah kirim ya? nominalnya sangat besar 10 juta.]
Ternyata suaminya langsung membalasnya dengan cepat.
[Tidak, itu benar untuk mu dan Rendra. Tolong beri ibu ku sedikit ya.]
Rima merasa bersyukur sekali. Ternyata suaminya benar-benar bekerja. Tapi baru juga sekitar 2 mingguan ia pergi, kenapa uangnya sebanyak ini? Ia juga pasti memegang uang, lalu berapa sebenarnya gajinya? Apa pekerjaannya sampai uangnya sebanyak ini?
Kepala Rima di penuhi dengan segala macam pertanyaan. Pikirannya jadi kemana-mana. Ia sangat takut suaminya menempuh jalan yang salah untuk mendapatkan uang demi bisa memberinya nafkah.
"Ya Allah, semoga kecurigaan ku tidak benar. Tolong lindungi dia ya Allah,"
Rima segera meminta izin untuk keluar rumah, awalnya bu Yani tidak mengizinkan. Tapi karena dirinya mendesak akhirnya di perbolehkan, dengan syarat langsung pulang dan tidak boleh mampir kemana-mana.
__ADS_1
☆☆☆
"Sudah kamu kirimkan pada istri mu uangnya?" tanya Ghani.
"Ya sudahlah," jawab Rama.
"Kamu kirim berapa?"
Rama menatap sepupunya dengan tidak senang, menurutnya ia terlalu ingin tahu urusan pribadinya.
"10 juta," jawab Rama.
Ghani tertawa dengan keras, sepertinya ia merasa lucu sekali.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Rama heran.
"Kamu hanya memberinya setengahnya, ternyata kamu licik juga ya," jawab Ghani sembari masih tertawa.
"Itu sudah sangat besar untuknya. Tadi saja dia masih ragu aku mengiriminya sebesar itu sampai kirim pesan menanyakannya,"
"Istri mu memang sangat polos. Tapi sepertinya ia tidak tahu apa yang kamu kerjakan di sini,"
"Ya, aku memang tidak memberi tahunya. Ia pasti tidak setuju jika aku kerja begini,"
"Ya sudah, kamu segera bersiap-siap. Hari ini kita ada tugas penting,"
Tanpa bertanya lagi, Rama segera menurutinya.
☆☆☆
"Ghani, kenapa hari ini perasaan ku tidak enak ya. Apa tidak sebaiknya kita tunda transaksi ini?"
"Kamu gila ya? Bos bisa marah kalau ditunda. Aku akan melindungi mu, cepat sana,"
Rama terpaksa mengikuti perintahnya. Ia datang di tempat yang telah di sepakati. Setelah memastikan pria itu memang pemesannya, mereka segera melakukan transaksi. Uang sudah ia terima, namun saat akan membawa uang tersebut ternyata polisi sudah menggerebek mereka.
"Jangan bergerak, angkat tangan,"
Orang-orang sekitar berlarian mendengar suara tembakan dari pistol polisi. Ini di manfaatkan Rama untuk menyelamatkan diri. Ia berlari sekencang-kencangnya dan tidak menengok ke belakang lagi. Ia menyusuri gang-gang kecil agar lepas dari kejaran polisi.
Huft... huft... huft...
Napasnya tersengal, lututnya terasa pegal karena sudah berlari sejak tadi.
"Sial, sudah aku katakan jika perasaan ku tidak enak. Untung masih bisa bebas, ahh..." umpat Rama.
__ADS_1
Ia beristirahat sebentar untuk menstabilkan napasnya di pemukiman penduduk. Saat tengah melamun seseorang mencengkeram bahunya dengan kuat.
"Ampun, ampun, saya tidak salah. Saya bukan penjahat..." teriak Rama sembari mengangkat kedua tangannya ke atas.