
Keesokan harinya.
Hari ini Rama sudah tidak bekerja lagi. Ia masih terlelap saat istrinya sudah menyelesaikan pekerjaan rumah dan mengurus anak mereka. Rima merasa kesal dengan suaminya, sudah tahu mereka tidak punya uang dan harus mengganti laptop yang hilang, bukannya bangun dan berusaha mencari pekerjaan baru justru masih molor saja.
"Rima, apa Rama belum bangun juga?" tanya bu Yani.
"Belum, Bu," jawab Rima.
"Ini sudah jam setengah 9 dia masih betah tidur. Harusnya dia mencari pekerjaan baru, ibu sudah lelah terus membantunya. Bukannya tidak rela, tapi kapan dia akan belajar bertanggung jawab jika terus di bantu,"
Bu Yani serba salah. Tidak di bantu kasihan dengan anak, tapi di bantu terus akan membuatnya merasa menggampangkan setiap masalah yang ada.
"Biarkan dia berusaha sendiri Bu, Rama harus belajar bertanggung jawab. Sebenarnya aku juga tidak nyaman hidup begini terus, ingin rasanya bekerja kembali. Aku tidak ingin merepotkan ibu,"
Rima tertunduk sedih, ia malu karena tidak berdaya oleh keadaan.
"Sayang, aku tidak menyalahkan diri mu. Semua ini murni karena putra ibu yang tidak bisa bertanggung jawab atas kalian. Kalau saja aku dan ayahnya dulu tidak berpisah, mungkin aku bisa mendidiknya dengan tegas sehingga dia tidak menjadi seperti sekarang,"
Keduanya terlihat sedih, mereka saling merasa bersalah. Sedangkan Rama seolah tidak masalah dengan semua yang telah ia lakukan.
Beberapa saat kemudian.
"Rama..." bu Yani berteriak memanggil putranya.
Rama yang masih ngorok tentu saja tidak mendengarnya, ia masih tenggelam di dalam mimpi indahnya.
"Rama, bangun. Itu ibu memanggil mu, Rama bangun,"
Terpaksa Rima menghampiri suaminya yang tidak mengindahkan panggilan ibunya.
"Apa sih, berisik sekali kamu. Aku masih ngantuk," hardik Rama.
"Itu Ibu memanggil mu sejak tadi," ucap Rima.
"Biarin saja,"
"Kamu itu keterlaluan sekali ya, orang tua memanggil bukannya langsung datang malah acuh. Anak macam apa kamu itu," sungut Rima.
Bukkkk...
Rama melemparinya dengan bantal.
"Tidak waras kamu itu, harusnya kamu datang ke psikiater untuk periksa,"
Rima memungut bantal yang jatuh dan menaruhnya lagi di kasur.
Ciaatt... ciaatt..
__ADS_1
"Aduh Rama, sakit... auw,"
Rima memegang kepalanya, ia mengaduh kesakitan. Rama menjambak rambutnya dan memukul kepalanya beberapa kali.
"Huaa... huaa..." Rima menangis.
"Rasakan itu, makanya jangan berisik,"
Rama tidur lagi, tidak memperdulikan istrinya yang sedang kesakitan. Beruntung Rendra sedang di gendong bu Yani di dapur.
Rima memegangi kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Rama sudah kehilangan akal sehatnya. Rima menangis tertahan, ia tidak ingin ibu mertuanya tahu dan menambah beban pikirannya lagi. Ia menangis di dekat kasur.
"Rama..."
Bu Yani memanggil kembali. Terpaksa ia bangun dan memenuhi panggilannya.
"Kamu itu di panggil dari tadi, apa tidak mendengar? Jam segini kamu masih tidur, apa tidak ingin mencari pekerjaan lagi? Bagaimana kamu akan mengganti laptop yang hilang jika kamu tidak bekerja?"
Bu Yani sudah tidak dapat menahan rasa kesalnya lagi.
"Iya Bu, aku akan mencari kerja lagi,"
Ia berlalu meninggalkan ibunya dan kembali ke kamar, ia mengambil handuk lalu pergi mandi.
"Rima, ini Rendra sudah tidur,"
Rima menyeka air matanya, ia bangkit dan menahan rasa sakit di kepalanya.
"Rima, kamu kenapa? Apa kamu sakit?" tanya bu Yani.
"Hanya sedikit pusing, aku istirahat dulu ya Bu,"
Rima menggendong Rendra yang tertidur. Ia membaringkan putranya di kasur dan ikut tidur di sebelahnya.
Krekkk...
Rama membuka pintu, ia membuang handuknya ke tubuh Rima. Sepertinya ia senang mengganggu dan membuat istrinya menderita. Rima diam saja, ia tak melawan dan tidak memindahkan handuk itu.
"Enak jadi wanita, kerjaannya cuma tidur saja," sindir Rama.
Rima tidak bergeming, kepalanya masih sakit. Ingin rasanya ia pergi meninggalkan rumah ini. Rasanya sia-sia bertahan di sini karena suaminya tidak pernah berubah, tapi kemana? Itu yang selalu terpikir di kepalanya.
"Heh, kamu tuli ya. Tidak sadar kalau lagi di sindir? Cepat bangun, jemur handuk itu,"
Rama menendang kaki istrinya dengan kasar.
"Belum puas kamu sudah menyakiti ku? Bunuh saja aku sekalian, mungkin dengan melihat mayat ku kamu akan berhenti membuat ku menderita,"
__ADS_1
Air mata menggenangi kedua manik Rima yang indah. Tubuh dan dan hatinya terasa sakit. Bukan hanya kata-kata, suaminya kerap main tangan selama pernikahan.
Rama menatap tajam ke arah Rima, ia marah karena Rima seolah menantangnya. Ia menghela napas untuk meredam emosinya. Ia pergi dan mengacuhkan istrinya.
☆☆☆
"Bu, aku mau ke tempat ibu ku. Aku rindu kepadanya," pamit Rima.
"Iya Nak, hati-hati di jalan,"
Sepanjang jalan ia tidak berhenti menangis. Rasanya ia tidak sanggup jika harus hidup seperti ini terus.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam, Rima... masuk Nak,"
Rima masuk ke dalam, ia membaringkan Rendra di atas kasur.
"Kamu kok tidak mengabari dulu kalau mau kesini, untung ibu masuk malam,"
"Huaa... huaa..."
Rima tidak dapat menahan rasa sedihnya lagi, ia segera memeluk ibunya dan menangis sekeras-kerasnya. Ia tidak peduli lagi jika ada yang mendengarnya.
"Kamu kenapa, Nak? Apa Rama menyakiti mu lagi?" tanya bu Santi.
Rima menunjukkan luka di kepalanya yang tersamarkan oleh bedak.
"Aku rasanya sudah tidak kuat, dia memukul dan menjambak rambut ku. Uang yang pernah dia beri juga di ambil semua. Aku sama sekali tidak memegang uang, padahal kebutuhan Rendra sudah banyak yang mau habis," keluh Rima.
"Ya ampun, sabar ya Nak. Ibu tidak bisa memberi saran karena ibu juga mengalami hal serupa dan terjebak juga. Ibu terserah kamu saja, apapun keputusan mu akan aku dukung,"
Bu Santi takut salah berpendapat, karena hidupnya juga tidak lebih baik dari putrinya. Selama puluhan tahun ia mengalami serangan lahir dan batin. Ia sangat takut kepada suaminya karena anak-anak yang menjadi ancamannya sehingga membuatnya tidak berdaya.
"Yang aku pikirkan hanya satu, kemana aku akan pergi jika memilih bercerai. Belum lagi aku juga harus mencari kerja demi kelangsungan hidup kami,"
Rima tertunduk, beberapa kali ia menyeka air matanya yang terus saja keluar.
"Ibu tidak masalah jika kamu tinggal di sini. Aku hanya kasihan dengan nasib Rendra, ia masih sangat kecil dan membutuhkan keluarga yang utuh. Coba mantapkan diri mu dulu,"
Mereka terus saling berbagi cerita, Rima sampai tertidur di sana. Ia malas untuk pulang, ia tidak ingin bertemu dengan suaminya yang kasar itu.
"Nak, ibu mau bekerja dulu. Apa kamu yakin tidak mau pulang ke rumah suami mu?" tanya bu Santi.
Rima mengangguk.
"Aku ingin menginap di sini saja, Bu. Biarlah dia senang tidak ada aku di rumah, mungkin memang ini yang dia inginkan,"
__ADS_1