
Keesokan harinya.
Karena desakan orang tuanya, Rama terpaksa setuju bekerja menjadi kuli bangunan di sebuah proyek yang kemarin istrinya tawarkan. Wajahnya cemberut karena tidak suka. Ia berangkat tanpa berpamitan kepada siapa pun.
"Semoga Rama betah ya, Bu," ucap Rima.
"Mau tidak mau dia harus kerasan. Kita harus sedikit keras padanya, agar dia sadar kalau mencari uang itu tidak gampang," balas bu Yani.
Ya, memang semua ini adalah ide orang tua Rama untuk menjadikan Rama sebagai kuli. Mereka ingin mendidik putranya agar sadar akan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Supaya tahu bahwa mencari uang tidak semudah yang ia bayangkan. Selama ini Rama memang tidak pernah bekerja kasar. Ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan hanya dengan menengadahkan tangan kepada orang tuanya. Hal itu terbawa sampai ia menikah.
☆☆☆
Keringat mulai membasahi sekujur tubuh Rama yang memang tidak berotot. Pekerjaan ini terasa sangat berat untuknya. Baru satu jam bekerja rasanya pinggangnya sudah mau patah.
"Kamu belum pernah bekerja jadi kuli ya?" tanya Sabar, teman seprofesinya.
Rama menggelengkan kepalanya.
"Aku belum pernah bekerja, apalagi kerja kasar seperti ini. Jika bukan karena desakan orang tua ku, tidak mungkin aku mau," jawab Rama.
Sabar tersenyum, ia tahu betul dari penampilan Rama jika dia bukan orang miskin seperti dirinya. Baginya bekerja kasar seperti ini merupakan makanan sehari-hari, makanya badannya terlihat sangat berotot. Bahkan ia sudah mulai bekerja membantu ibunya berjualan di pasar sejak usianya 9 tahun.
"Di syukuri saja, Rama. Beruntung kita masih mendapat pekerjaan, banyak orang yang terpaksa makan dari mengais sampah hanya karena mereka tidak mampu bekerja atau sulit mendapat pekerjaan," ucap Sabar.
"Apa iya ada orang yang mau makan dari sampah?"
Rama tidak percaya jika di dunia ini ada orang semakin itu, hingga untuk makan saja mereka mengambil di tumpukan sampah yang bau. Ia jijik sendiri membayangkannya.
Mereka terus bekerja sembari sesekali mengobrol. Banyak hal positif yang di ceritakan Sabar kepada Rangga. Tanpa terasa pekerjaan yang tadinya terasa berat, karena ada Sabar yang terus memotivasi akhirnya selesai juga. Mereka istirahat sejenak untuk makan siang dan merebahkan punggung yang kaku.
"Astaga, apa kamu makan ini setiap hari?"
Rama melihat Sabar hanya memilih menu nasi, tempe goreng dan sayur lodeh. Sangat sederhana sekali menurutnya.
"Aku harus hemat Rangga, aku masih punya istri dan orang tua di rumah. Aku bertanggung jawab terhadap mereka, jika aku makan yang enak, bagaimana dengan mereka nanti. Biarlah aku makan sederhana, yang penting keluarga ku bisa makan semua,"
Rama merasa tersentil dengan ucapannya. Selama ini ia bahkan tidak pernah memikirkan keluarganya, ia hanya perduli kepada dirinya sendiri. Bahkan ia tega memperalat istrinya agar mau bekerja membanting tulang. Sedangkan hasilnya ia gunakan mentraktir teman-temannya.
Hatinya mulai bergetar. Ada rasa bersalah dan penyesalan di dadanya. Ia merasa kagum dengan Sabar yang pekerja keras dan tanggung jawab. Di berikannya ayam goreng yang ada di piring nya.
"Loh kok kamu berikan pada ku?"
__ADS_1
Sabar menatap Rama, bingung.
"Aku lupa kalau tidak boleh makan ayam, aku pakai perkedel saja,"
Ia tidak ingin menyinggung perasaan temannya itu, jadi berusaha mencari alasan yang tepat.
"Wah terima kasih sekali ya, ini rejeki nomplok namanya. Aku jarang sekali makan ayam, biasanya hari-hari besar saja seperti lebaran idul fitri, hari raya korban, ya seperti itulah,"
Sabar tampak sangat menikmati ayam tersebut.
Rama tidak jadi memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Ternyata masih banyak orang yang hidupnya menderita namun tidak pernah mengeluh. Sabar adalah salah satunya. Ia sangat periang dan selalu memberi semangat, padahal hidupnya sendiri tidak mudah.
"Kamu tinggal dengan siapa saja di rumah?" tanya Rama.
"Banyak, ada ibu, istri ku, nenek dan dua orang adik ku. Aku adalah tulang punggung keluarga,"
Begitu banyak orang yang harus ia nafkahi, tidak heran jika ia hidup sangat hemat.
"Sebenarnya aku ingin mentraktir mu karena hari ini aku ulang tahun, tapi kamu sudah makan,"
Rama mengeluarkan selembar uang 100 ribu dan memberikannya kepada Sabar.
Sabar berhenti mengunyah, ia tidak percaya dengan yang terjadi.
"Kamu serius, Rama?"
"Iya, masa aku main-main,"
"Wah terima kasih ya, keluarga ku pasti senang. Eh tapi kamu kan punya uang, buat apa masih kerja jadi kuli?"
Rama bingung menjelaskannya.
"Ini sangu dari istri ku. Sebelumnya dia bekerja, tapi kemarin sudah berhenti. Dia selalu memberi ku uang tiap gajian,"
Akhirnya Rama berkata dengan jujur.
"Subhanallah, baik sekali istri mu. Beruntung kamu mendapat istri seperti itu,"
Mereka tidak bisa berlama-lama karena harus segera bekerja kembali. Namun Rama yang tadinya merasa pekerjaan ini berat sekarang jadi bersemangat dan mulai terbiasa.
☆☆☆
__ADS_1
"Sudah magrib kok Rama belum pulang juga ya Bu, aku jadi kuatir," ucap Rima.
"Iya juga, padahal kan tempatnya dekat. Harusnya 10 menit saja sudah sampai,"
Bu Yani ikut melirik jam di dinding. Ia juga mulai kuatir putranya tidak juga pulang. Rima mencoba menghubungi suaminya namun tidak di angkat.
"Apa di perjalanan ya Bu, aku telepon tidak di angkat," ucap Rima.
"Mungkin saja. Kita tunggu sampai jam 6, kalau belum datang juga aku akan memberi tahu ayahnya,"
Mereka menunggu dengan tidak sabar. Sampai mereka selesai shalat, Rama juga tidak kunjung datang.
"Bagaimana ini, kok Rama belum datang juga. Sebaiknya aku beri tahu ayahnya saja,"
Bu Yani mengambil ponselnya, ia akan menghubungi suaminya. Namun ia mengurungkan niatnya tatkala mendengar suara motor putranya yang baru saja datang.
"Assalamualaikum,"
Rama memberikan punggung tangannya kepada istrinya, lalu menyalami ibunya. Kedua wanita itu saling beradu pandang karena heran dengan sikap Rama yang tidak seperti biasanya.
"Kamu kemana saja sih, kita kuatir kamu tidak pulang-pulang,"
Rama justru tersenyum melihat istrinya yang kesal.
"Maaf ya, tadi aku mengantar teman kerja ku ke rumahnya karena motornya mogok. Sampai di sana keluarganya sangat baik, mereka melarang ku untuk pulang tanpa makan dulu. Ya sudah aku makan untuk menghargai mereka," jelas Rama.
Mulut Rima dan bu Yani ternganga lebar, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Sejak kapan Rama bisa menghargai orang lain?
"Rama, kepala mu tidak terbentur saat bekerja tadi bukan?"
Rima memeriksa kepala suaminya dengan teliti. Sikap Rama sangat aneh hari ini sehingga membuatnya bingung.
"Aku baik-baik saja kok, tadi kerjanya lancar tidak ada kendala apapun," jawab Rama.
"Coba cubit aku," pinta Rima.
Rama menuruti permintaan istrinya.
"Akh... sakit. Alhamdulillah ini bukan mimpi,"
Rima melonjak kegirangan.
__ADS_1