Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 18 Uang Hilang


__ADS_3

Tubuh Rima bergetar, keringat dingin mulai mengucur membasahi wajahnya.


"Kenapa kamu diam saja, aku lihat motor mu masih hangat tadi. Kamu pasti habis dari luar," ucap Rama.


Seketika rasa lega menyelimuti hati gadis itu, pikirannya sudah terlalu jauh. Ia mengira suaminya telah mengetahui kebohonganannya. Tubuhnya yang tadinya tegang perlahan mulai mengendur.


"Oh itu, tadi ke minimarket sebentar. Aku sangka kamu mengira aku macam-macam," ucap Rima.


"Memangnya kamu berbuat macam-macam?" tanya Rama penuh selidik.


Rima menjadi gugup kembali.


"Bu-bukan maksud ku begitu, ayo kita tidur saja,"


Rima mengalihkan pembicaraan dan menggandeng suaminya ke dalam kamar. Karena hari ini mereka sedang dalam suasana hati yang baik, maka mereka mulai saling memberi kenikmatan masing-masing. Gairah yang beberapa hari terpendam akhirnya hari ini dapat mereka salurkan.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Seperti biasa rutinitas Rima setiap pagi adalah membantu pekerjaan ibu mertuanya. Hari ini semua pekerjaan sudah beres ia lakukan. Waktu di dinding sudah menunjukkan pukul 08.00 tapi suaminya belum juga berangkat kerja.


'Apa dia libur hari ini ya?' batin Rima.


Rima makin gelisah, jam 09.00 dia sudah harus bekerja namun Rama belum berangkat juga. Ia memberanikan untuk bertanya kepada suaminya itu.


"Rama, apa hari ini kamu libur?" tanya Rima.


"Memangnya kenapa? Apa ingin yang seperti semalam ya?"


Bukannya menjawab pria itu justru malah menggodanya dengan senyuman nakalnya membuat Rima salah tingkah.


"Apaan sih, aku hanya tanya karena tidak biasanya jam segini kamu masih Di rumah," jelas Rima.


"Hari ini aku mau menghabiskan waktu dengan mu, kita akan melakukan seperti semalam sampai besok pagi,"


"Apa?"


Rima bergidik, bulu romanya merinding mendengar suaminya akan membuat tubuhnya lemas seperti semalam. Semalam saja dirinya sudah di buat tidak berdaya dengan berbagai gaya yang suaminya mainkan. Bagaimana jika waktunya lebih lama.


"Oh tidak," pekik Rima.


Membayangkannya membuat lututnya lemas. Belum lagi memikirkan bosnya yang pasti marah karena dirinya tidak masuk kerja.


"Kenapa? Kamu tidak mau kita berbuat seperti semalam?" tanya suaminya dengan tegas.


"Bu-bukan begitu Rama, aku hanya kasihan pada bayi kita," jawab Rima beralasan.

__ADS_1


"Ya kamu benar juga, lagian aku juga hanya bercanda kok. Tadinya memang ingin libur, tapi ini di suruh bekerja,"


Rama segera berganti pakaian dan bersiap-siap berangkat kerja.


"Aku berangkat dulu ya, tolong sampaikan kepada ibu juga,"


Rima merasa lega sekali. Ia mencium tangan suaminya dan mengantarnya sampai depan rumah. Setelah memastikan punggung suaminya tidak terlihat lagi ia langsung masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian.


"Huh untung masih ada waktu,"


Rima dapat bernapas lega hari ini, ia segera berangkat bekerja setelah berpamitan kepada ibu mertuanya.


☆☆☆


"Nita, aku akan pergi keluar. Nanti tolong katakan pada Rima untuk menjaga kasir menggantikan aku ya. Mungkin sekitar 3 sampai 5 jam lagi aku baru pulang,"


"Iya Mas, siap,"


Anton memberi pesan kepada karyawannya itu. Nita tersenyum licik ketika pria itu sudah berlalu dari sana.


"Aku akan membuat mu di keluarkan dari sini, Rima," ucap Nita.


"Wah rajin sekali sih Nit, biasanya Rima yang selalu datang lebih awal," sindir Sinta.


Nita hanya tersenyum masam kepada gadis itu. Mereka mulai membuka tempat itu. Tak berapa lama Rima juga datang dan bergabung bersama mereka.


"Tumben datangnya belakangan, Rima? Biasanya paling awal daripada kita,"


"Iya, soalnya suami ku baru saja berangkat kerja. Jadi aku datang agak siang," jawab Rima.


"Rima, tadi Mas Anton menyuruh mu menjaga kasir sampai dia pulang," sahut Nita.


"Ok baiklah Nit, terima kasih infonya,"


Mereka melanjutkan pekerjaannya. Jika sedang ramai, Rima akan membantu melayani pembeli juga dan meninggalkan kasir sementara waktu.


☆☆☆


"Bagaimana keadaan konter hari ini?" tanya Anton.


"Alhamdulillah ramai seperti biasanya, Mas. Tadi sih sedikit keteteran, tapi alhamdulillah masih bisa mengatasi," jawab Rima.


"Syukurlah jika begitu, kamu istirahat dulu saja tidak apa-apa," ucap Anton.


"Ya sudah aku makan dulu ya Mas, kebetulan memang lapar," balas Rima sembari tersenyum malu-malu.


'Ya ampun, senyum kamu manis sekali sih. Seandainya kamu bukan istri orang, Rima' batin Anton.

__ADS_1


Dengan pandangan sinis Nita menatap mereka, dia merasa muak sekali dengan tingkah Rima yang menurutnya sok manis.


"Ini kok uangnya jumlahnya tidak sesuai dengan total penjualan hari Ini sih, apa Rima tidak salah ya?"


Anton terlihat bingung setelah menghitung jumlah uang yang ia terima saat Rima menjadi kasir tadi. Namun ia tidak ingin berprasangka buruk, ia yakin Rima orang yang jujur.


"Rima, sebentar lagi aku ingin bicara setelah kamu selesai istirahat ya," ucap Anton.


"Baik, Mas,"


Rima segera mempercepat makannya, ia tahu tidak mungkin Anton memanggilnya saat makan jika itu tidak penting. Hanya butuh lima menit untuk menghabiskan semua bekal yang ia bawa.


"Mas Anton aku sudah selesai, ada apa?" tanya Rima.


"Kalau kamu ingin shalat dulu tidak apa-apa, Rima," jawab Anton.


"Sebentar lagi saja Mas, setelah dari sini,"


Rima menunggu bosnya berbicara.


"Begini Rima, uang yang tadi kamu setor jumlahnya tidak sesuai dengan total penjualan hari Ini,"


Anton menunjukkan uang yang ia ikat dengan karet dari Rima tadi, kemudian mencocokkan dengan jumlah barang terjual. Dahi Rima mengeryit, ia merasa bingung sekali. Pasalnya ia sudah menghitung uangnya 3x dan jumlahnya sama.


"Tapi Mas, aku yakin sekali tadi jumlahnya sama. Aku menghitungnya sampai 3x,"


Rima berkata dengan serius. Anton menatapnya dan ia tahu gadis itu memang tidak berbohong.


"Ya sudah tidak apa-apa, nanti aku coba hitung lagi ya. Mungkin saja aku yang salah menjumlah,"


Dengan rasa tidak nyaman, Rima melanjutkan pekerjaannya setelah selesai shalat. Namun sepanjang sisa waktu ia tidak bisa fokus, ia masih memikirkan tentang uang itu. Jumlahnya lumayan, selisih 500 ribu dari seharusnya.


"Masa iya aku salah hitung sih, aku yakin tadi sudah benar kok. Lalu kemana uang itu ya?"


Rima bergumam, pikirannya melayang kepada uang yang hilang sampai waktu pulang tiba.


"Nita, Sinta, Rima kemarilah. Aku ingin berbicara kepada kalian semua," ucap Anton tegas.


Semua karyawannya menghampiri dirinya. Ia menatap satu persatu mereka sehingga membuat ketiganya tertunduk.


"Kalian tahu kenapa aku memanggil kalian semua kesini?"


Ketiganya menggeleng.


"Dari awal bekerja aku sudah bilang, aku ingin karyawan yang jujur dan bertanggung jawab. Kenapa sampai ada uang hilang 500 ribu saat aku tidak ada. Apa ada yang mau menjelaskan pada ku?"


Anton menatap mereka serius, ketiganya memilih menunduk.

__ADS_1


'Ya Tuhan apa uang itu benar hilang? Kok bisa, kemana hilangnya?' batin Rima di penuhi tanda tanya.


"Di periksa saja Mas, pasti nanti ketahuan juga," ucap Nita.


__ADS_2