
"Halo Ghani, ada apa?"
Rama menjauh dari teman-temannya saat sepupunya itu menelepon. Ia takut jika yang ingin ia bicarakan berhubungan dengan pekerjaan mereka kemarin.
"Besok aku ada pekerjaan di sana, bisakah kamu membantu?" tanya Ghani.
"Di kota ini? Pekerjaan apa? Apa seperti kemarin?" Rama membombardir pertanyaan.
"Ya memangnya pekerjaan apa lagi, hanya dua hari saja. Kamu mau kan?"
"Lihat besok saja deh, sebenarnya aku masih sedikit trauma,"
"Ayolah Rama, kita ini pria. Jadi bersikaplah seperti pria, masak seperti itu saja bisa trauma," ledek Ghani.
"Sialan kamu, ya sudah sampai ketemu besok saja,"
Rama memutus panggilan, ia kembali nongkrong bersama teman-temannya.
"Siapa yang telepon, Ram?" tanya Dimas.
"Sepupu ku, Ghani," jawab Rama.
"Eh hati-hati loh, dia kan seorang pengedar. Bukan rahasia umum lagi, dia itu incaran banyak polisi. Jangan sampai kamu ikut-ikutan, kalau sampai tertangkap bisa mendekam di penjara nanti,"
Rama terkejut ternyata banyak yang tahu pekerjaan Ghani, tapi mengapa sepertinya keluarganya adem ayem saja. Apa mereka sebenarnya juga sudah tahu pekerjaan Ghani? Jika iya, mengapa mereka tetap membiarkan putra mereka terjerumus? Apa mereka tidak kuatir dengan masa depannya?
Berbagai pertanyaan itu muncul di benak Rama. Keluarga Ghani sangat religius, tidak mungkin rasanya keluarganya akan membiarkan putranya menjadi perusak generasi bangsa. Akhirnya Rama menyerah memikirkannya. Setiap orang pasti punya alasannya masing-masing untuk memilih jalan itu, termasuk juga dirinya.
Ia tidak terlalu merespon ucapan Dimas, dan memilih menyimak saja.
☆☆☆
"Bagaimana, apa dapat info pekerjaannya?" tanya Rima saat suaminya selesai mandi.
"Belum, susah sekali ya ternyata mencari pekerjaan," jawab Rama.
"Sabar, yang penting kamu jangan patah semangat. Terus berusaha, jangan pernah lelah berharap,"
Rima memberinya semangat.
__ADS_1
"Iya, terima kasih ya sudah mau mengerti. Maaf belum bisa memberi mu uang,"
Kata-kata Rama tidak berasal dari hatinya, ia hanya ingin membuat Rima percaya lagi kepadanya. Sebaliknya, Rima merasa suaminya memang telah berubah.
"Sama-sama, apa pun masalahnya sebaiknya kita bicarakan agar bisa mencari penyelesaian bersama. Ini untuk mu, kamu bisa gunakan untuk bekal mencari pekerjaan,"
Rima memberikan uang 200 ribu kepada suaminya. Uang itu adalah pemberian bu Yani tempo hari yang ia simpan. Ibu kandungnya memberikan apapun yang ia dan Rendra butuhkan saat menginap di sana, jadi uang pemberian ibu mertuanya itu masih utuh.
"Wah terima kasih ya, kamu memang istri yang sangat pengertian,"
Mata Rama berbinar melihat uang di depan matanya, ia mencium kening istrinya agar ia senang.
"Tapi ngomong-ngomong kamu dapat uang dari mana? Bukannya uang yang aku kasih sudah kamu berikan semua kepada ku tempo hari?" tanya Rama.
"Itu pemberian ibu mu untuk membeli kebutuhan ku dan juga Rendra, sekarang kamu pasti lebih butuh,"
'Ada gunanya juga aku menjemputnya kembali, lumayan bisa buat beli rokok beberapa hari,' batin Rama.
☆☆☆
Malam harinya.
"Belum, entah kenapa dia belum mengantuk. Padahal biasanya jam 8 dia sudah tidur, apa gerah ya?"
Rendra justru terus menangis. Memang udara hari ini sangat panas, sepertinya anak itu gerah.
"Rama, Rima, kenapa Rendra menangis terus?" tanya bu Yani dari luar pintu.
Rama segera membuka pintu kamar dan membiarkan ibunya masuk.
"Tidak tahu juga Bu, padahal dia sudah kenyang karena dari tadi minum terus. Badannya juga tidak panas, hanya saja dia berkeringat sepertinya dia gerah Bu," jelas Rima.
"Oalah, ya sudah besok di pasang ac saja. Anak kecil memang lebih tahan terhadap hawa dingin. Ini kamar kalian memang panas sekali, pantas saja jika dia merasa gerah. Besok ibu akan suruh ayah mu membeli ac biar sekalian di pasang. Biar malam ini dia tidur bersama ibu saja,"
Bu Yani segera membawa Rendra ke kamarnya. Benar saja tangisannya langsung reda setelah beberapa saat berada di dalam. Kamar bu Yani memang menggunakan ac, Rendra tidur dengan nyenyak.
"Rendra tahu saja ya kalau ayah dan ibunya ingin berduaan, anak kita pengertian ya," ucap Rama.
"Masa iya sih?" tanya Rima.
__ADS_1
"Tentu saja, berbulan-bulan tidur di sini baru sekarang ia rewel begitu. Itu tandanya dia ingin kita berdua bermesraan,"
Rama menatap Rima lekat, ia mulai mencium bibirnya dengan lembut. Namun Rima segera menghindar.
"Keluarlah dulu, bukankah kamu ingin aku memakai lingerie?"
Rama segera tersenyum mengerti.
"Baiklah, aku ingin kamu tampil menggoda. Lima menit lagi aku akan kembali,"
Rama segera keluar kamar. Sementara Rima mengganti bajunya dengan lingerie satu-satunya yang ia punya, ia tidak pernah memakainya sebelumnya jadi sedikit merasa tidak nyaman. Ia juga memakai parfum agar lebih menggoda. Wajahnya ia poles bedak dan lipstik agar tidak pucat.
"Ah ternyata aku cantik juga ya,"
Rima melihat pantulannya di cermin yang sangat cantik dan menggoda. Ia yakin suaminya pasti senang melihatnya.
Krekkk...
Terdengar pintu terbuka, suara jantung Rima seperti lonceng. Berdetak keras namun beraturan. Rama yang baru saja membuka pintu tercengang melihat penampilan istrinya. Ia memang tidak salah memilih. Rima memang cantik dan memiliki bentuk badan yang sangat indah seperti gitar spanyol.
"Sayang, kamu sangat cantik dan seksi," puji Rama.
Wajah Rima merona walau tidak memakai blush on. Pujian suaminya membuatnya melayang. Jika saja ia ada waktu, pasti ingin selalu terlihat cantik di mata suaminya. Namun apa daya, mengurus bayi begitu merepotkan.
"Apa kamu suka?" tanya Rima malu-malu.
"Tentu saja, apa yang ada pada diri mu begitu indah. Apalagi ini dan ini,"
Rama menunjuk kedua bagian milik istrinya. Kedua bagian tubuh istrinya itu adalah yang paling menonjol selama ini, itu adalah bagian kesukaan Rama sejak mereka berpacaran.
Rama segera melahap bibir istrinya, tidak peduli lipstik yang menempel di bibirnya. Mereka berciuman lama sekali, tangan Rama tampak gemas memainkan setiap inci tubuh istrinya. Rima sudah melayang, begitu lama ia tak merasakan hubungan seperti ini. Keduanya terhanyut dalam kenikmatan surgawi.
Rima menjambak rambut suaminya tatkala pria itu kembali membuatnya terbang ke langit ke tujuh. Rasanya begitu nikmat.
Rima mendapatkan ******* nya yang pertama kali. Tubuhnya lemas, keringat membasahi tubuhnya. Rama tersenyum penuh kemenangan, ia berhasil membuat istrinya senang.
"Sayang... nikmat sekali rasanya,"
Keduanya memekik saat berhasil mencapai puncaknya. Cairan hangat memenuhi rahim Rima. Mereka lemas, lalu berbaring saling berpelukan. Jika biasanya Rama akan langsung tidur memunggungi istrinya setelah bermesraan, maka tidak untuk kali ini.
__ADS_1
"Terima kasih ya, aku ingin kita bermesraan seperti ini terus," ucap Rama sebelum akhirnya tertidur.