
Keesokan harinya.
"Bagaimana Rima, apa kamu sudah bicara kepada Rama tentang rencana mu bekerja lagi?" tanya bu Yani.
"Sudah Bu, alhamdulillah dia tidak keberatan. Nanti jam 9 aku mau menaruh lamaran pekerjaan," jawab Rima, senang.
"Di tempat mu kemarin, Rima?"
"Bukan Bu. Aku mau mencoba di pabrik tempat ibu ku bekerja, katanya sih ada lowongan di bagian produksi,"
"Apa kamu kuat, Nak? Kerja di pabrik itu berat, jam kerjanya juga biasanya panjang,"
Bu Yani kasihan jika menantunya harus bekerja di pabrik. Harusnya putranya yang bertanggung jawab memberi nafkah, entah mengapa Rama begitu susah mendapatkan pekerjaan. Memang sudah rezekinya yang sulit atau memang putranya itu yang terlalu pemilih.
"Insyaallah aku kuat, Bu. Aku mau minta izin Rama dulu ya,"
Rima segera masuk ke dalam kamarnya.
"Rama nanti aku mau ke pabrik, naruh lamaran pekerjaan. Titip Rendra ya, barangkali ibu nanti keluar," ucap Rima.
"Iya, nanti aku jaga. Semoga lancar dan cepat bekerja,"
"Amin,"
Rima senang ternyata suaminya benar-benar mendukungnya bekerja. Ia tidak tahu saja jika Rama memang sengaja tidak mencari kerja, agar dia mau bekerja kembali. Rama tahu istrinya pasti tidak nyaman jika bergantung terus kepada orang tuanya, jadi pasti mengajukan diri untuk kembali bekerja. Jadi Ia tidak perlu bersusah payah menyuruhnya lagi.
☆☆☆
"Halo Nak, apa kamu jadi ke pabrik?" tanya bu Santi.
"Iya Bu, sebentar lagi aku berangkat. Memangnya ada apa?"
"Tidak apa-apa. Tapi maaf ibu tidak bisa membantu, karena pabriknya beda dengan tempat ibu bekerja. Tempat mu itu pabrik cabang, sedang ibu di pusat,"
"Oh tidak masalah, jika rezeki pasti bisa di terima. Ya sudah Bu, aku mau berangkat dulu,"
Setelah mengucapkan salam, Rima memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia berpamitan kepada Rama dan bu Yani.
☆☆☆
"Selamat pagi, Pak. Saya mau naruh lamaran kerja,"
Rima menyapa satpam pabrik.
"Tahu dari mana di sini sedang buka lowongan, Mbak?" tanya satpam yang bernama Danang itu.
"Ibu saya kerja di pabrik pusat, Pak. Saya dapat info darinya," jawab Rima.
"Oh ya sudah, taruh saja di situ. Nanti pasti di hubungi lebih lanjut untuk proses selanjutnya,"
__ADS_1
"Terima kasih, Pak. Saya permisi dulu,"
Rima meninggalkan kedua satpam itu.
"Pak Slamet, wanita barusan cantik sekali ya, mana bodinya aduhai bikin klepek-klepek," ucap Danang.
"Inget istri di rumah, lihat cewek bening langsung hijau mata mu," ledek pak Slamet.
"Itu namanya aku masih normal, Pak. Hanya pria yang tidak normal yang melihat wanita cantik seperti tadi tidak tergoda," sahut Danang.
Pak Slamet hanya tertawa mendengar ucapan Danang. Wajar anak muda seperti dia masih tinggi gairahnya. Tidak seperti dirinya yang sudah tua dan lebih memikirkan tentang kesejahteraan hidup dan masalah akhirat.
☆☆☆
"Kok cuma sebentar, apa tidak langsung interview?" tanya Rama.
"Tidak, katanya nanti akan di hubungi lagi untuk proses lebih lanjut," jawab Rima.
"Ya sudah, syukurlah kamu cepat pulang. Ini Rendra sudah haus sepertinya, tadi sudah aku coba beri susu formula tapi dia tidak mau,"
Rama menyerahkan Rendra kepada istrinya. Benar saja bayi itu kehausan, ia minum dengan rakus sekali. Mulutnya menempel sampai ketiduran, saat di tarik Rendra terbangun. Terpaksa Rima ikut berbaring di kasur. Punggungnya terasa sakit karena sejak tadi menyusui sambil duduk.
"Waduh, ayahnya tidak kebagian kalau begitu," ucap Rama.
Rima hanya tertawa menanggapinya.
Rima memandangi wajah polos putranya yang sedang terlelap. Rasanya ia tidak tega meninggalkan bayi mungil ini untuk bekerja kembali. Namun kebutuhan hidup semakin besar, tidak mungkin ia bergantung terus kepada orang lain. Saat ini dirinya sudah menjadi orang tua, jadi harus bertanggung jawab atas hidup keluarga kecilnya.
"Aku juga tidak tahu, mungkin dia belum terbiasa saja. Kita jalani saja, toh aku belum bekerja. Masih ada waktu untuk mengajarinya. Besok aku akan membeli pompa asi,"
"Ya semoga saja ini hanya sementara, kamu harus berhenti bekerja jika dia rewel terus. Aku dan ibu tidak mungkin bisa menjaganya,"
"Iya,iya... belum juga bekerja sudah bicara tentang berhenti,"
Keduanya memilih tidur dan tidak melanjutkan pembicaraan tadi.
☆☆☆
Keesokan harinya.
"Belum ada panggilan kerja ya?"
Rima merasa bingung kenapa suaminya begitu antusias dirinya ingin bekerja kembali. Tidak terhitung sudah berapa kali ia bertanya tentang panggilan kerja yang mungkin ia terima. Namun sampai hari ini juga masih belum ada panggilan.
"Belum, tidak ada telepon sama sekali," jawab Rima.
"Mungkin kamu salah memberi nomor telepon?"
"Tidak mungkin, aku hapal betul nomor ponsel ku. Mungkin memang belum,"
__ADS_1
Sebenarnya Rima pesimis di terima, karena dia sama sekali tidak punya pengalaman sama sekali bekerja di pabrik. Apalagi pesaingnya sangat banyak dan banyak yang telah berpengalaman, ia sempat berbincang dengan beberapa pelamar saat menaruh lamaran kerja kemarin.
"Ini ada teman ku yang memberi info, katanya ada lowongan sebagai admin di dekat sini. Apa boleh aku melamar kesana?"
Rima menunjukkan pesan temannya kepada suaminya supaya pria itu percaya.
"Lumayan jadi admin, pekerjaannya tidak seberat di pabrik. Terserah kamu saja, aku tidak melarang,"
"Sungguh?"
Rama mengangguk.
"Tentu saja, bukannya kamu memang ingin bekerja,"
Rima begitu senang, ia memeluk dan mencium suaminya karena reflek.
"Terima kasih, aku akan siap-siap dulu ya,"
Rima melenggang masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian dan sedikit bermake up. Setelah selesai ia berpamitan dan meminta doa dari suami dan Ibu mertuanya.
"Ibu doakan kamu di terima, karena kalau admin pekerjaannya tidak seberat di pabrik," ucap Bu Yani.
☆☆☆
"Jadi kamu lulusan SMA ya?"
"Iya Pak, saya baru punya pengalaman kerja di konter handphone. Tapi saya janji jika di terima bekerja, saya akan bekerja keras,"
"Tapi saya tidak bisa memberi gaji besar, saya hanya bisa memberi 2,5 juta sebulan. Selama 3 bulan kamu akan di training, jika cocok kamu akan di angkat jadi karyawan tetap dan gajinya akan di sesuaikan. Tapi jika tidak, kamu harus keluar dari pekerjaan ini," ucap pak Agung, pemilik tempat itu.
"Siap Pak, saya tidak keberatan. Apa itu tandanya saya di terima bekerja di sini?" tanya Rima.
"Saya memang sangat membutuhkan karyawan di bagian admin, jadi kamu saya terima. Apalagi kamu rekomendasi dari rekan bisnis ku. Besok kamu bisa mulai bekerja,"
Rima tidak hentinya mengucap syukur di dalam hatinya. Ia sangat berterima kasih atas kebaikan pak Agung.
Pak Agung lalu mulai menjelaskan tentang jam kerjanya, apa saja yang akan dia kerjakan dan lain-lain. Setelah semuanya ia pahami, bosnya menyuruhnya pulang.
☆☆☆
"Rama, Ibu..."
Rima bergegas masuk dan memanggil keduanya, ia sampai lupa memberi salam.
"Ada apa Rima, kenapa berteriak?" tanya Rama.
"Iya Sayang, kamu baik-baik saja kan?" bu Yani juga bertanya.
"Aku mendapat pekerjaan," jawab Rima dengan tersenyum lebar.
__ADS_1