Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 32 Tertipu


__ADS_3

"Kamu jangan asal menuduh. Lagi pula wajar jika aku selingkuh, lihat diri mu sekarang. Sudah tidak merawat diri, kamu juga tidak peduli lagi dengan ku. Tiap hari kerjaan mu hanya mengurus Rendra," ucap Alif.


"Kamu jangan mencari pembenaran untuk selingkuh. Kamu pikir saja selama ini kamu sering meninggalkan konter, aku yang menjaganya. Aku juga harus membantu pekerjaan ibu, belum lagi mengurus Rendra. Apa pernah aku mengeluh pada mu? Aku bahkan tidak ada waktu untuk diri ku sendiri,"


Rima sudah tidak dapat menahan perasaannya, hatinya begitu sakit. Mengapa selalu ia yang di salahkan jika ada sesuatu yang tidak di sukai suaminya. Selama ini ia sudah berusaha untuk menjadi istri, ibu serta menantu yang baik. Namun masih selalu kurang di mata suaminya.


"Berisik kamu, sudah aku bilang kalau kamu tidak suka, kamu bisa pergi dari sini,"


Selalu itu yang Rama katakan jika mereka bertengkar, seolah-olah ia dan Rendra tidak ada harganya di matanya. Jika begini Rima hanya bisa diam, kemana ia akan pergi bersama Rendra jika suaminya mengusirnya? Keadaan ibunya juga sedang tidak baik-baik saja. Semua saudaranya berada jauh di desa sehingga ia tidak punya tempat pelarian sama sekali.


Membayangkan suaminya bermesraan dengan wanita lain saja sudah membuat hatinya perih, di tambah perlakuan pria itu yang kembali kasar terhadapnya. Beban perasaannya begitu besar. Di saat gadis lain tengah menggapai cita-citanya, ia justru sibuk berkutat dengan urusan rumah tangga dan beban hidup yang tidaklah ringan. Menyesal memang tidak pernah di awal, selalu saja datangnya belakangan. Setelah terjadi barulah orang itu sadar.


☆☆☆


Satu bulan kemudian.


Konter Rama mulai kosong, barangnya hanya sisa sedikit. Bahkan depositnya sering terlambat sehingga membuat pembeli harus pergi dengan tangan kosong. Orang tuanya bahkan sudah memberi tambahan modal, namun tidak bisa lagi menyelamatkan usaha konternya itu.


Semua ini bukan terjadi tanpa sebab. Rama terlalu royal pada kekasihnya Maya, sehingga modal plus keuntungan dari usaha ini hilang tak berbekas. Maya sangat matre, ia mendekati Rama hanya karena menginginkan uangnya. Sekarang setelah tahu jika pria itu mulai terpuruk, ia mulai menjauh darinya.


"Ah sialan, kenapa nomor Maya selalu tidak aktif sih," umpat Rama.


Sudah beberapa hari ini gadis itu tidak bisa ia hubungi. Padahal sebelumnya masih bisa walau mereka sudah jarang bertemu karena keuangan Rama sedang menipis.


"Awas saja jika ketemu. Enak saja dia mau pergi, sudah puluhan juta aku keluarkan sekarang dia malah ngilang,"


Rama benar-benar kesal. Dia tidak tahu harus mencari gadis itu kemana karena mereka selalu bertemu di luar, jadi tidak pernah tahu di mana rumahnya.


"Oh iya, sebaiknya aku cari ke kampusnya saja,"


Rama bergegas mengeluarkan motornya, namun ibunya memanggilnya.


"Rama kamu mau kemana? Kamu jangan keluyuran terus, ayah mu sudah memberi mu tambahan modal. Harusnya kamu bisa menjaga kepercayaannya, mau sampai kapan kamu seperti ini,"


Bukannya mendengarkan, Rama justru mengacuhkan ibunya. Ia pergi begitu saja, membiarkan konternya tidak ada yang menjaga.

__ADS_1


"Astagfirullah, kok bisa anak ku jadi begitu. Tolong beri hidayah kepada Rama Ya Allah,"


Walaupun kesal dengan ulah Rama, bu Yani tetap mendoakan yang baik untuk putranya itu.


"Kenapa Bu, kok kelihatan sedih begitu?" tanya Rima.


"Suami mu itu kok susah sekali di bilangin. Ia masih sering keluyuran tidak jelas dan membiarkan konter tidak ada yang menjaga. Ibu sampai capek menasehatinya, tidak pernah di gubris," jawab bu Yani.


"Sabar ya, Bu. Aku juga tidak pernah di dengarkan, biarlah Allah yang langsung mengingatkannya. Kita doakan saja dia cepat sadar,"


Rima terpaksa menutup konter, karena barangnya juga hanya sisa sedikit. Sedangkan ponsel untuk pengisian pulsa dan lain-lain di bawa oleh suaminya, jadi untuk apa konter tetap di buka.


☆☆☆


Siang harinya.


Rama datang dengan wajah yang kusut. Ia tidak dapat menemukan Maya di kampusnya. Ternyata Maya sudah tidak kuliah sejak sebulan yang lalu tanpa keterangan. Tidak ada yang tahu di mana rumah atau keberadaan gadis itu sekarang. Rama merasa di tipu mentah-mentah olehnya. Yang paling membuatnya kecewa, kata temannya Maya terkenal sebagai ayam kampus di sana selama ini.


"Ingat pulang juga kamu Rama. Apa kamu lupa jika sudah punya anak dan istri? Mana tanggung jawab mu sebagai seorang pria,"


"Kenapa diam, jawab!" bentak ayahnya.


"Maaf, aku memang salah Yah," ucap Rama sembari tetap menunduk.


"Ibu mu sudah cerita semuanya. Ternyata kamu bukan orang yang bertanggung jawab. Kamu kemanakan uang hasil usaha selama ini, jelaskan?"


Wajah Rama menjadi pusat pasi, keringat dingin mulai memenuhi wajahnya. Ayahnya adalah orang yang paling ia takuti selama ini. Jangankan melihatnya marah, melihatnya saat dalam suasana yang senang saja ia sungkan.


"Itu Yah, aku... Ehm..."


Rama bingung akan memberi alasan apa, ayahnya bukanlah orang yang gampang untuk di bodohi.


"Yang jelas bicaranya," bentak ayahnya.


"Maaf Yah, aku telah di tipu,"

__ADS_1


"Di tipu sama siapa? Biar ayah cari orangnya?"


Rama semakin gemetaran, ia takut untuk jujur namun bingung untuk mencari alasan yang tepat sehingga ayahnya tidak jadi marah. Tiba-tiba Rendra menangis tiada henti, itu berhasil menyelamatkannya dari desakan ayahnya.


Oek... oek... oek...


"Rendra kenapa, Rima?" tanya ayah mertuanya.


"Badannya panas sejak tadi Yah, makanya rewel," jawab Rima.


"Kenapa tidak kamu bawa ke dokter?"


"Rencananya memang mau ke dokter Yah, tapi menunggu Rama pulang,"


Pria itu menatap putranya dengan tajam.


"Kamu lihat itu, anak mu sakit bukannya kamu bawa ke dokter kamu justru keluyuran. Ayah macam apa kamu ini, cepat bawa cucu ku ke dokter! Awas jika sampai dia kenapa-kenapa, aku pukul kamu,"


Rama ngeri mendengar ancaman ayahnya, secepat kilat ia mengantar mereka ke dokter terdekat.


"Apa kata, Dokter?" tanya Rama.


"Katanya radang, padahal ia hanya minum asi. Sepertinya aku harus menjaga makanan ku," jawab Rima.


"Makanya yang hati-hati. Sudah tahu sedang menyusui makannya sembarangan," sindir Rama.


Rima memilih diam, percuma bicara dengan orang yang mau menang sendiri seperti suaminya. Tetap dia yang akan di salahkan.


"Kenapa diam? Sana cepat bayar," titah Rama.


Rima menatap suaminya, ia merasa sangat kesal. Sejak dia memulai usaha dia tidak pernah lagi di beri nafkah, sekarang ia malah menyuruh dirinya membayar biaya rumah sakit Rendra. Rama sangat keterlaluan.


"Uang kamu kemana? Selama ini kamu sudah tidak pernah memberi ku uang,"


"Aku tunggu di depan,"

__ADS_1


Bukannya membayar pria itu justru meninggalkannya. Untung masih ada sisa pemberian Rama dulu, ia segera membayarnya karena tidak enak dengan tatapan petugas di depannya.


__ADS_2