Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 49 Di Kerjain Hantu


__ADS_3

Malam harinya.


"Ibu ngapain saja sih di rumah tante sampai malam begini? Ibu bahkan tidak peduli Rendra rewel dan menangis," ucap Rama ketus.


"Ibu baru hari ini tidak bisa menjaga Rendra kamu sudah berteriak seperti ini. Kemana kamu setiap hari sampai mengabaikan anak mu? Kamu bahkan selama ini tidak peduli dan lebih senang sibuk dengan teman-teman mu itu,"


Rama terlihat menunduk, ia termakan kata-katanya sendiri.


"Istri mu sibuk bekerja, sampai rumah masih mengurus Rendra dan hal lainnya. Lalu ibu setiap hari mengurus pekerjaan rumah dan menjaga Rendra jika Rima bekerja. Lalu kamu, apa yang kamu lakukan?"


Bu Yani berlalu meninggalkan Rama yang makin tertunduk. Pria itu pasti merasa sangat malu. Kewajiban mencari nafkah dan menjaga Rendra harusnya merupakan kewajibannya. Namun ia selalu mangkir dari tanggung jawabnya itu. Bahkan ia merasa bangga bisa memanfaatkan istrinya. Entah pria macam apa Rama ini.


"Ibu kok bilang begitu sih, jujur aku merasa tersinggung,"


Rama kembali masuk ke dalam kamarnya, ia berbaring di sebelah Rendra yang sedang tertidur. Tadinya ia ingin keluar nongkrong bersama teman-temannya jika ibu atau istrinya datang. Namun ia mengurungkan niatnya setelah mendengar ucapan ibunya. Ia hanya bisa bermain game online.


☆☆☆


Krekkk...


Rima membuka pintu kamar perlahan, ia takut membangunkan Rendra. Ia melihat Rama juga sudah tertidur di samping putrinya. Rima melirik jam di dinding masih menunjukkan pukul 10 malam.


'Tumben Rama tidak keluar?' batin Rima.


Rima langsung mandi dan berganti pakaian. Ia lalu ikut berbaring di samping putranya.


Saat sudah terlelap tidur, ia merasa tubuhnya ada yang meraba-raba namun matanya tidak sanggup untuk terbuka. Ia seperti sedang bermimpi suaminya sedang meminta jatahnya. Yang ia rasa hanya nikmat saja.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Seperti biasa Rima bangun saat terdengar suara adzan subuh dari masjid depan rumahnya. Ia mengecek matanya yang masih mengantuk.


"Akh..."


Rima berteriak, hingga membuat Rama terbangun. Ia terkejut bukan main melihat tubuhnya telah polos tanpa sehelai benang pun. Ia ingat sekali jika semalam tidak melakukan penyatuan bersama suaminya. Lalu bagaimana bisa ia tanpa busana seperti ini?


"Kamu kenapa pagi-pagi sudah berteriak?" tanya Rama yang masih mengantuk.


"Ada yang melepas baju ku, padahal semalam aku sedang tidur. Kenapa aku tidak merasa ya?"


Rima berkata jujur, ia harap suaminya yang melakukannya ketika ia tertidur pulas.


"Wah jangan-jangan ada hantu yang mengerjai mu, hiii..."

__ADS_1


Rama justru menakuti istrinya, sepertinya ia senang jika Rima ketakutan.


"Kamu jangan bicara sembarangan Rama,"


Rima terlihat sangat ketakutan, tadinya ia mau memakai bajunya sampai tidak jadi. Ia hanya menutupi tubuhnya dengan selimut. Sementara Rama tersenyum jahil.


"Habisnya kamu itu tidur seperti kerbau sampai tidak sadar sudah ku tusuk dengan senjata ku semalam. Hahaha,"


Rama terlihat puas sekali berhasil mengerjai istrinya. Rima mencoba memahami ucapan Rama.


"Hah? Jadi semalam berarti aku tidak bermimpi. Pantas saja itu ku sakit," balas Rima.


"Sakit apa enak? mana ada orang sakit sampai mendesaah begitu," ledek Rama.


"Apa iya begitu?"


Rima sangat malu, bisa-bisanya ia menganggap itu hanya mimpi. Pasti karena dirinya terlalu lelah dan sangat mengantuk sehingga tidak sadar.


"Hahaha... kamu itu aneh," ucap Rama sebelum akhirnya tidur kembali.


Rima segera mengenakan pakaiannya, ia langsung mandi karena ternyata suaminya telah menyetubuhinya.


☆☆☆


Hari ini Rima di beri libur oleh pak Agung, karena kemarin sudah menemaninya ke luar kota sampai malam. Rima memanfaatkan waktunya untuk bermain bersama Rendra.


"Rama, ayo kita ke tempat ibu. Aku sudah lama sekali tidak ke sana," ajak Rima.


"Memangnya kamu tidak bisa ke sana sendiri? Biasanya kamu naik motor sendiri ke situ,"


Sejak menikah sikap Rama berubah terhadap orang tuanya. Ia sering menolak jika di ajak ke sana dengan berbagai alasan. Karena tidak ingin berdebat ia memutuskan ke sana sendiri.


"Bu, aku pamit mau ke tempat ibu ku ya,"


Rima menyalami bu Yani.


"Kenapa tidak minta di antar Rama, dia kan tidak ada kesibukan,"


"Dia tidak mau, Bu. Biarlah aku jalan sendiri saja, malas ribut dengan Rama,"


"Ya sudah, hati-hati di jalan. Salam kepada ibu mu ya,"


☆☆☆


"Kok kos ibu tutupan ya? Apa jangan-jangan ibu sedang bekerja?"

__ADS_1


Rima melihat kos ibu dan ayahnya terkunci. Seorang tetangga kos mendekatinya.


"Kamu anaknya bu Santi ya?" tanya Ibu itu.


"Iya, Bu saya Rima," jawab Rima.


"Kamu kemana saja sudah lama tidak pernah ke sini? Ibunya sedang di rawat di puskesmas, kemarin dia di hajar ayah mu sampai parah,"


"Apa?"


Rima lemas seketika mendengar cerita ibu itu. Pantas saja ia tidak bisa menghubungi ponsel ibunya dari semalam. Ia tidak dapat menahan kesedihan di hatinya. Air matanya mengalir begitu saja.


"Aku sekarang bekerja Bu, jadi tidak bisa sering kemari. Ibu bisa antarkan saya ke sana?"


"Ya sudah, sebentar saya ambil motor dulu,"


Pikiran Rima tidak karuan. Ia kuatir sekali dengan kondisi ibunya. Ayahnya sangat keterlaluan, ia harus di laporkan ke pihak berwajib.


"Ayo, Rima,"


Ibu itu memimpin di depan. Sampai di puskesmas ia segera berlari ke arah petugas.


"Pasien atas nama bu Santi yang kemarin baru masuk di rawat di mana, Bu?"


"Itu di sana," tunjuk petugas itu ke arah belakang Rima.


Rima dan tetangga ibunya segera masuk. Ia melihat ibunya tengah tertidur. Jantungnya terasa berhenti berdetak tatkala melihat ibu yang sangat ia cintai wajahnya babak belur. Tangannya juga penuh luka.


Rima tak sanggup lagi menopang tubuhnya yang sedang menggendong Rendra. Ia terduduk di kursi, menangis sembari menutup mulutnya agar tidak mengganggu ibunya yang sedang tidur. Ibu itu berusaha menghibur dan menyabarkan hati Rima.


"Sabar Nak, ibu juga tidak menyangka jika separah ini. Semalam saat kejadian ibu sudah tidur, baru tadi pagi dengar dari tetangga," ucap ibu itu.


"Apa ibu tahu sekarang ayah ku kemana?" tanya Rima.


Ibu itu menggeleng.


"Katanya ayah mu lari setelah banyak warga berdatangan menolong ibu mu. Tapi tidak ada yang tahu dia lari kemana,"


"Terima kasih sudah mengantar ke sini ya Bu, kalau ibu ada keperluan lain tidak apa-apa saya sendirian di sini. Kebetulan hari ini saya libur bekerja,"


"Nanti saja Rima, aku masih ingin menemani mu,"


"Rima..."


Bu Santi mulai membuka mata, mungkin karena mendengar suara orang berbicara.

__ADS_1


"Ibu... Kenapa sampai begini?"


Rima bangkit dan memeluk ibunya, tangisnya tidak tertahan lagi.


__ADS_2