
Keesokan harinya.
Dari sepulang kerja semalam, Rama mengacuhkan dirinya. Entah apa yang terjadi kepadanya sehingga bersikap seperti itu. Rima hanya bisa pasrah menerima keadaan tersebut.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30, namun Rama masih bermalas-malasan di kamar. Rima terpaksa memberanikan diri untuk bertanya karena jam kerjanya semakin dekat.
"Rama, apa hari ini kamu libur bekerja?" tanyanya lembut.
Rama menatapnya dengan tajam, membuatnya sedikit ketakutan.
"Aku berhenti bekerja," jawab suaminya datar.
"Apa? Tapi kenapa, Rama? Bukankah kamu baru beberapa hari bekerja? Lalu bagaimana dengan hidup kita nanti?"
Rima membombardir dirinya dengan berbagai pertanyaan membuat pria itu jengah.
"Berisik sekali sih. Uang yang aku beri setiap hari masih ada kan? Pakai itu dulu, nanti aku akan cari kerja lagi," jawab Rama ketus.
"Bagaimana jika aku bekerja kembali sampai kamu dapat pekerjaan lagi?" tanya Rima.
Rama menatapnya dengan tajam.
"Tidak!"
Pria itu memunggunginya, Rima hanya bisa diam. Ia keluar kamar untuk meredam pertengkaran. Ia terpaksa mengirim pesan kepada Anton untuk tidak masuk atau lebih tepatnya berhenti bekerja.
[Mas maafkan aku, aku harus berhenti bekerja. Suami ku tidak setuju aku bekerja, maaf beribu-ribu maaf ya Mas. Aku tidak punya pilihan lain, maafkan aku.]
Rima merasa bersalah kepada Anton, namun ia tidak berdaya. Ia takut Rama marah jika ia membantahnya.
Anton segera membalas pesannya. Pria itu sangat kecewa dengan keputusan yang di ambil Rima, tapi bagaimanapun ia tidak dapat memaksa lagi jika itu memang menjadi pilihannya.
"Rima, kamu kok tidak pergi bekerja?" tanya Ibu mertuanya.
"Sstt..."
Rima menempelkan telunjuk di bibirnya. Ia memberi tanda kepada bu Yani agar memelankan suaranya.
"Kenapa?" tanya bu Yani lirih.
"Rama sudah berhenti kerja katanya Bu, dia juga tidak memperbolehkan aku kerja lagi," jawab Rima lirih.
"Oh, begitu,"
Wanita mengangguk tanda paham maksud menantunya.
__ADS_1
"Kenapa berhenti katanya?" tanya bu Yani.
Rima hanya menggeleng, ia juga tidak tahu apa alasan suaminya berhenti bekerja.
☆☆☆
Seminggu kemudian.
Sudah seminggu berlalu namun suaminya tidak juga bekerja kembali. Uang pemberiannya sudah habis tak bersisa, bahkan uangnya juga sudah menipis. Rama selalu meminta uang kepadanya dengan banyak alasan. Jika ia tidak memberikan pria itu akan sangat marah kepadanya. Ia terpaksa selalu memberinya demi meminimalisir pertengkaran.
Tapi hari ini uangnya hanya sisa 300 ribu saja, ia benar-benar ingin berhemat karena tidak tahu kapan bisa menghasilkan uang kembali. Ia bertekad tidak akan memberi uang kepada Rama lagi, jika pria itu meminta kepadanya.
"Bagi uangnya dong,"
Seperti biasa Rama meminta kepadanya seperti memalak saja, tidak ada kata-kata lembut bahkan merayu.
"Aku sudah tidak punya uang," jawab Rima datar.
"Jangan bohong, berikan pada ku," teriak Rama mulai memaksa.
"Tidak ada lagi, Rama,"
"Kalau kamu tidak memberinya, aku akan mencarinya sendiri,"
Rama mengambil tas Rima dan mengeluarkan semua isinya. Ia membuka dompet istrinya namun tidak ada uang satu lembar pun di sana. Ia masih belum puas juga, ia merangsek ke lemari pakaian wanita itu. Ia mengeluarkan semua isinya untuk mencari uang namun juga tidak mendapat apa-apa.
Ia pergi begitu saja menyisakan Rima yang hanya bisa terisak mendapat perlakuan seperti itu darinya. Dengan hati pedih ia mulai merapikan kembali semua barang yang berhasil suaminya berantakan.
"Ya Tuhan, aku tidak menyangka sifatnya begitu buruk. Untung aku sudah menyembunyikan uang itu, aku harus menyimpannya untuk kontrol kandungan lusa,"
Rima menyeka air matanya sembari terus merapikan kamar itu.
"Rima..." panggil ibu mertuanya.
"Iya, Bu,"
Rima segera membersihkan sisa-sisa air matanya supaya tidak ketahuan. Setelah di rasa aman, ia segera memenuhi panggilan ibu mertuanya itu.
"Ada apa, Bu?" tanya Rima.
"Kapan kamu kontrol kandungan lagi?"
"Lusa Bu, memangnya kenapa?"
"Ini untuk mu, pakai buat periksa kandungan,"
__ADS_1
Bu Yani memberikan uang padanya namun di tolaknya dengan lembut.
"Tidak perlu Bu, aku masih pegang uang sisa gajian tempo hari,"
"Sudahlah Rima ambil saja, kamu dan suami mu sama-sama tidak bekerja. Jadi sudah kewajiban ibu untuk merawat kalian,"
Bu Yani memaksanya sehingga ia terpaksa menerimanya walau tidak enak hati.
"Terima kasih ya Bu atas pengertiannya. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi,"
Ia memeluk bu Yani dengan perasaan haru.
"Kemana lagi suami mu itu, Rima? Bukannya mencari pekerjaan justru keluyuran tidak jelas. Kemarin ibu melihatnya nongkrong di warung kopi dengan teman-temannya, biar nanti ibu akan beri tahu ayah nya saja,"
Bu Yani tampak kesal sekali kepada Rama. Bukannya bertanggung jawab terhadap kehidupan istri dan calon bayinya ia justru lebih asyik pergi bersama teman-temannya.
☆☆☆
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 23.00 saat Rima mulai mengantuk karena sudah sekian lama menunggu suaminya pulang. Ia sudah tidak mendengar lagi ketika pintu di buka dan suaminya datang. Rima baru tersadar saat seseorang menjamah tubuhnya dengan kasar. Rima segera membuka mata.
"Rama, kamu sudah pulang?" tanya Rima.
Bukannya menjawab pria itu malah menyingkap daster yang di pakai istrinya hingga sebatas dada, memperlihatkan bra warna merah yang tampak penuh dan menggoda. Ia memiringkan istrinya dengan kasar dan membuka pengait bra istrinya. Dengan rakus ia menyesap dua buah gunung itu secara bergantian.
"Akh... pelan Rama, sakit," Rima meringis saat suaminya menggigit puncak gunungnya sedikit kasar.
Rama terus saja bergerilya, kini pria itu mulai mencium bibir istrinya. Lidahnya menjelajahi setiap rongga di dalam mulut Rima, memaksa lidah Rima untuk turut bermain sambil kedua tangannya terus saja meremas kedua gunung kembar istrinya.
"Rama kamu mabuk ya?"
Rima bisa merasakan bau minuman dari mulut Rama, bahkan rasanya hingga masuk ke dalam mulutnya saat mereka tadi berciuman. Rima berusaha menghindar, ia tidak ingin di gauli saat suaminya mabuk.
"Jangan menolak," bentak Rama.
Ia menarik kaki istrinya hingga kembali terbaring, dengan sigap ia melepas semua pakaian Rima hingga wanita itu polos. Rima mencoba menutupi kedua bagian sensitifnya. Dengan kasar Rama menyingkirkan tangan Rima.
"Rama jangan, aku tidak ingin berhubungan saat kamu mabuk," pinta Rima lirih.
"Bohong, kamu pasti menikmatinya,"
Dengan kasar ia memasukkan jarinya ke dalam bagian sensitif istrinya.
"Akh... sakit Rama,"
Rima mulai menangis, namun suaminya justru mempercepat gerakan tangannya di sana. Ia mulai membuka kedua paha istrinya, ia menindihnya tanpa mempedulikan bayi di dalam perut Rima.
__ADS_1
Ia memasukkan rudalnya dengan kasar, membuat Rima menggigit bibirnya menahan rasa sakit. Rama kembali melahap kedua gunung istrinya dengan rakus dan menggigitnya seperti di awal. Rima menangis, baru pertama kalinya bercinta menjadi sangat menyakitkan baginya.
Bibir, bagian dada, perut serta bagian bawahnya terasa sakit semua. Apalagi Durasinya sangat lama sehingga membuatnya akan pingsan karena tidak berdaya. Ia hanya bisa menangis tertahan.