
Hari ini Rama memutuskan tidak pergi kemana-mana. Ia ingin menemani anaknya di rumah. Sikapnya mulai berubah saat Rendra lahir, bahkan kepada Rima sudah baik kembali.
"Ayah akan mencari kerja agar bisa menghidupi kamu dan Ibu mu,"
Rima mendengar suaminya berbicara kepada putranya. Ia berharap apa yang di ucapkannya benar. Ia sangat bersyukur jika kehadiran Rendra memberi pengaruh baik untuk keluarga kecilnya.
Ting tong... ting tong...
Suara bel berbunyi, Rima segera keluar untuk membuka pintu.
"Assalamualaikum, Rama ada?" seorang wanita mencari suaminya.
"Ada, sedang menggendong anaknya di kamar. Tunggu sebentar aku panggilan,"
Rima sengaja mengatakannya. Ia tidak mengenal siapa gadis ini, namun perasaannya tidak nyaman melihat seorang gadis mencari suaminya. Dengan berat hati ia melangkah ke kamar.
"Rama, ada tamu yang mencari mu," ucap Rima.
"Siapa?" Rama tidak mengalihkan pandangannya kepada putranya.
"Aku tidak tahu, tapi tamunya seorang wanita," jawab Rima kesal.
Rama menatap istrinya yang terkesan marah. Dalam hatinya merasa senang melihat istrinya cemburu, namun berusaha ia tutupi. Tapi siapa wanita yang mencarinya itu.
"Kamu temui saja, biar Rendra aku gendong,"
Rima mengambil alih menggendong Rendra, ia mengekor langkah suaminya. Bagaimanapun dia wajib melindungi suaminya dari pelakor masa kini.
"Oh kamu Nasya, ada apa datang kemari?" tanya Rama datar.
Gadis itu menatap Rama lalu melirik Rima bergantian.
"Oh dia istri dan anak ku. Ada perlu apa kamu mencari ku?" tanya Rama lagi.
Gadis itu menunduk, ia tidak menjawab pertanyaan Rama.
"Kalian bicara saja, aku akan pergi jika kalian terganggu dengan kehadiran ku,"
Rima berkata dengan hati pedih, namun suaminya menarik tangannya saat ia akan pergi.
"Kamu tidak perlu pergi, kamu kan istri ku jadi berhak tahu apapun tentang aku," ucap Rama dengan tegas.
Gadis di depannya terlihat salah tingkah, sementara Rima merasa senang sekali.
"Aku hanya ingin melihat mu," jawab Nasya pada akhirnya.
"Untuk apa ingin melihat ku?" tanya Rama.
Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, Rima menjadi kasihan melihatnya.
"Sudah lama kamu tidak menghubungi ku, tentu saja aku penasaran. Bukankah kita sedang dekat,"
__ADS_1
Nasya menjawab dengan gugup.
"Lebih baik kamu selesaikan Rama, aku harus segera menidurkan Rendra,"
Rima masuk ke dalam kamar dan mulai menyusui putranya. Ia masih bisa mendengar jika gadis bernama Nasya itu sedang menangis tersedu-sedu.
"Sepertinya kamu salah paham, aku hanya menganggap mu teman selama ini. Bukankah kamu tahu aku sudah memiliki istri," ucap Rama.
"Tapi sikap mu lebih dari seorang teman. Kamu sangat perhatian dan peduli kepada ku, bahkan kita juga sering jalan bersama selama ini," balas Nasya.
"Itu hanya karena aku sedikit bosan saja dengan keadaan di rumah, jadi kamu jangan terlalu terbawa perasaan. Aku juga tidak pernah bilang cinta sama kamu," ucap Rama.
"Kamu jahat Rama! Aku kira kamu berbeda dengan pria lainnya ternyata kamu sama saja. Kamu brengsek,"
Plakkk...
Nasya berlari pergi dari rumah Itu setelah menampar Rama.
Rima yang dari tadi menyimak senang karena suaminya lebih mempertahankan mereka daripada gadis itu. Namun di sisi lain ia sangat mengutuk sifat suaminya yang dengan gampang bermain hati. Menurutnya apa yang telah Rama lakukan termasuk dalam kategori selingkuh. Tidak seharusnya orang yang punya pasangan masih dekat dengan lawan jenisnya.
☆☆☆
Sore harinya.
Rama melihat putranya ketika di mandikan. Ia juga mulai belajar mengganti popok dan memakaikan bedong dengan sabar. Ia sangat menikmati perannya sebagai ayah. Semenjak Rendra lahir ia tidak pernah nongkrong dengan teman-temannya lagi.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam. Eh Ghani, ayo masuk,"
Pria itu masuk dan duduk di ruang tamu.
"Rama... Ini Ada Ghani datang, cepat kemari," panggil bu Yani.
Rama segera keluar dari kamar, ia memeluk sepupunya itu dengan erat.
"Akhirnya kamu pulang juga, aku kira sudah kepincut mojang priangan," seloroh Rama.
"Hahaha... bisa saja kamu. Rencananya aku memang ingin menyusul mu, doakan saja ya," balas Ghani.
"Pasti aku doakan yang terbaik untuk mu,"
Bu Yani datang membawakan mereka minum dan camilan.
"Ayo Ghani di minum dan di makan hidangannya,"
"Iya Bu, terima kasih. Aku ke sini ingin melihat anak mu, katanya istri mu sudah melahirkan. Maaf ya aku tidak bisa datang saat pernikahan mu,"
"Tidak apa-apa, aku tahu kamu sibuk. Sebentar ya, aku panggil mereka dulu,"
__ADS_1
Rama segera ke kamar membawa anak dan istrinya untuk menemui Ghani.
"Ini Rima istri ku, dan ini putra kami Rendra,"
"Wah pandai juga kamu cari istri. Anak kamu mirip sekali dengan mu, sepertinya kamu yang mendominasi saat membuatnya,"
Kedua pria itu tertawa, namun Rima merasa sedikit malu. Rendra kini beralih dalam gendongan Rama. Sementara Rima masuk ke belakang rumah, berbincang dengan ibu mertuanya.
☆☆☆
Sepupunya cukup lama di sana, ia baru datang dari luar kota jadi mereka saling melepas rindu.
Rima segera mengambil Rendra saat ia menangis dan membiarkan mereka mengobrol sepuasnya. Entah jam berapa pria itu pulang, ia baru terbangun saat waktu sudah menunjukkan jam 10 malam.
"Rama kemana ya? Kok sepi, apa dia ikut sepupunya tadi?"
Rima memeriksa seluruh rumah, namun tidak melihat kehadiran suaminya. Akhirnya ia masuk ke kamar lagi menemani Rendra yang tertidur.
Tok... tok... tok...
"Rima, tolong buka pintunya,"
Rama mengetuk pintu yang sudah di kunci oleh ibunya. Rima terjaga dengan mata masih sangat mengantuk.
"Iya, sebentar,"
Rima melangkah keluar.
"Apa Rendra sudah tidur?" tanya Rama.
"Sudah dari tadi, hanya terbangun untuk minum susu lalu tidur lagi. Kamu darimana saja?"
Walaupun suaminya sudah bersikap baik, tapi kadang ia masih merasa takut terhadapnya.
"Aku tadi di ajak keluar sebentar oleh Ghani," jawab Rama.
"Oh... Apa kamu mau makan, biar aku siapkan?"
"Tidak perlu Rima, tadi kami sudah makan di luar,"
"Oh baiklah. Sepupu mu kerja apa Rama?"
"Dia itu punya bisnis. Oh iya, ini ada rejeki untuk Rendra. Sebentar ya,"
Rama mengambil sebuah amplop dari sakunya. Ternyata berisi uang yang cukup banyak. Rama menghitungnya.
"Totalnya 5 juta. Kamu pegang 3 juta, sisanya aku yang pegang,"
Rima terkejut suaminya memberi uang yang cukup banyak, dari mana ia mendapatkannya. Ia menatap suaminya tajam.
"Aku tidak mencuri, tenang saja. Ini hadiah pernikahan sekaligus kelahiran Rendra dari Ghani,"
__ADS_1
Rima senang sekaligus terkejut. Senang karena prasangka buruknya terhadap suaminya salah. Terkejut karena Ghani begitu royal terhadap mereka.
"Rencananya aku ingin bekerja dengan Ghani, tapi di luar kota," ucap Rama.