Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 45 Lelah


__ADS_3

"Rama, kok istri mu belum pulang, inikan sudah hampir jam 7 malam?" tanya bu Yani.


"Tadi dia memberi tahu jika lembur sebentar, karena pekerjaannya masih banyak," jawab Rama.


"Astaga kasihan sekali Rima, hari pertama kerja sudah harus lembur. Kamu harus membantunya, ia sudah membantu mu mencari nafkah,"


Bu Yani menasehati putranya dengan lembut. Ia tidak ingin Rama berbuat kasar lagi terhadap Rima. Usia mereka berdua memang masih muda jadi pasti sama-sama susah untuk mengontrol emosi masing-masing. Sifat Rama yang tertutup membuat dirinya tidak begitu paham dengan sifat putranya itu.


"Di mana-mana namanya bekerja ikut orang pasti tidak enak Bu, itu sudah resiko. Aku juga pasti membantu Rima menjaga Rendra," jawab Rama.


"Bukan hanya menjaga Rendra, sebaiknya kamu juga membantu pekerjaan istri mu yang lainnya,"


"Maksud Ibu aku di suruh, memasak, menyapu, mencuci baju begitu?"


Rama tidak percaya ibunya menyuruhnya melakukan pekerjaan wanita mengurus rumah dan memasak. Apa kata dunia jika dia sampai melakukannya.


"Memangnya kenapa? Bukannya Rima menggantikan tugas mu mencari nafkah, ya sudah sewajarnya kamu membantu tugasnya,"


"Ah, ibu ada-ada saja,"


Rama kembali masuk ke kamarnya dan asyik bermain game online. Ia tidak mau mendengarkan nasehat ibunya itu.


☆☆☆


"Assalamualaikum,"


Rima baru saja datang, tubuhnya terasa sangat pegal. Ini adalah hari pertamanya bekerja, namun ia sudah harus merasakan lembur. Bekerja sebagai staf admin memang terlihat ringan, namun jika di jalani tidak semudah yang di bayangkan.


Seharian menatap layar laptop membuat matanya terasa sangat lelah. Ingin rasanya ia segera mandi lalu beristirahat.


"Waalaikum salam, kamu sudah pulang ya. Sudah jam 8 malam, sebaiknya kamu makan lalu mandi, kamu pasti capek,"


Bu Yani menyambutnya dengan ramah. Ia memang sangat pengertian.


"Aku mau mandi dulu saja Bu, badan ku sangat lengket,"


Rima segera masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Rama sedang bermain game di ponselnya. Ia tidak peduli dengan kehadirannya. Rima kesal, pria itu sama sekali tidak berbasa-basi walau sekedar bertanya tentang apapun. Rima segera ke kamar mandi.


"Ya Tuhan kenapa rasanya selelah ini? Baru saja sehari rasanya sudah ingin menyerah," ucap Rima.


Guyuran air dan wanginya sabun sedikit membuatnya rileks. Tubuhnya terasa segar. Setelah selesai ia segera masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya di samping Rendra. Baru saja akan terpejam terdengar Rendra menangis.


Matanya terasa berat untuk terbuka. Namun tangisan Rendra yang semakin keras membuatnya memaksa membuka mata. Ternyata suaminya tidak ada di kamar itu.


"Kemana sih, Rama?"


Rima segera menyusui Rendra sambil berbaring. Rasa kantuk yang sangat membuat dirinya tidak sadar kapan Rendra berhenti menyusu. Ia tertidur dalam keadaan buah dadaanya belum ia tutup kembali.


☆☆☆

__ADS_1


Oek... oek... oek...


Rima masih terlelap tidur, ia tidak mendengar suara Rendra yang menangis. Rama yang merasa terganggu dengan tangisan anaknya segera membangunkan istrinya.


"Rima bangun, Rendra nangis itu,"


Rima tetap diam, Rama terpaksa mengguncang tubuh gadis itu.


"Hei bangun, itu Rendra dari tadi menangis,"


Rima membuka matanya, ia segera menyusui Rendra. Ia baru sadar jika tidur dalam keadaan belum merapikan kembali bajunya sesudah menyusui putranya.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Walaupun terasa lelah, Rima tetap semangat. Ia melakukan rutinitasnya setiap pagi seperti biasanya.


"Bagaimana pekerjaannya kemarin, Rima? Apa bos mu baik?" tanya bu Yani.


"Sebenarnya tidak berat Bu, mungkin karena belum terbiasa di depan laptop jadi mata cepat lelah. Kalo bosnya sangat baik, mereka perhatian. Kemarin aku di beri makanan dan susu," jawab Rima.


"Mereka? Memang bosnya ada berapa?"


"Kebetulan kantornya itu gabung dengan rumahnya Bu. Jadi ya ketemu suami istri itu setiap hari,"


"Amin..."


☆☆☆


"Rima, kamu harus kuat," ucapnya menyemangati dirinya sendiri.


Ia mulai membersihkan meja kerjanya, senyum merekah di bibirnya yang sensual.


"Wah, wajah mu kelihatan berseri sekali Rima," ucap bosnya.


Rima jadi salah tingkah.


"Tidak kok Pak, hanya senang saja karena sudah bekerja,"


"Oh aku kira sudah dapat kejutan dari suami mu, makanya senyum begitu,"


"Boro-boro Pak, suami ku tidak romantis," ucap Rima dalam hatinya.


Rima hanya tersenyum menanggapi. Ia tidak ingin membawa masalah rumah ke dalam kantor.


"Oh ya Rima, hari ini tolong kamu minta faktur ke beberapa rekan bisnis kita ya. Kamu bawa motor kan?"


Rima mengangguk.

__ADS_1


"Iya Pak, saya bawa motor sendiri,"


Pak Agung menyerahkan daftar rekanan bisnis beserta alamatnya.


"Kamu kan orang sini, pasti tahu tempat-tempat itu. Semua tidak jauh dari sini kok. Kalau kesulitan kamu bisa pakai google map,"


Rima melihat semua alamat itu, memang tidak jauh dari sana. Tapi tempat pastinya tentu saja ia tidak tahu.


"Ya sudah, aku harus pergi dengan istri dan anak ku. Kalau sudah semua, kamu letakkan saja di tempat file. Setelah itu kamu boleh pulang, kuncinya kamu taruh di pos satpam," imbuh pak Agung.


"Apa Bapak akan menginap? Besok bagaimana, Pak?"


"Tidak, nanti malam aku pulang kok. Ya sudah, aku pergi dulu,"


Setelah kepergian bosnya, ia bersiap-siap melakukan tugasnya. Ada 6 tempat yang harus ia datangi. Ia memulai dengan tempat yang terdekat dari sana.


"Astaga, panas sekali,"


Rima menatap matahari yang bersinar terik, ia mulai melajukan motornya. Ia mencari berkeliling namun belum menemukan tujuannya. Ia terpaksa mengirim pesan ke bosnya untuk minta petunjuk. Setelah mendapat balasan barulah ia lebih mudah menemukannya.


"Ya Allah kuatkanlah aku, masih 5 tempat lagi. Semangat Rima,"


Gadis itu menyeka peluh yang membasahi wajahnya. Kulitnya terlihat lebih gelap karena terkena sinar matahari yang terik. Ia beristirahat sebentar di warung ketika tempat tujuannya sisa dua lagi.


"Es teh nya satu ya, Mbak," pesan Rima.


Rima menikmati es yang berhasil menyegarkan tenggorokan itu. Ia habiskan minumannya dalam dua kali tegukan. Ia kembali melanjutkan perjalanan setelah membayar.


☆☆☆


"Assalamualaikum,"


Rima segera masuk ke dalam kamar. Tubuhnya sangat lelah. Entah kemana orang-orang, rumah sangat sepi sekali. Tak berapa lama ia tertidur dengan nyenyak.


"Loh Rima, kok kamu ada di sini? Bangun Rima, apa kamu di pecat dari pekerjaan mu?"


Rama terkejut melihat istrinya yang seharusnya bekerja justru tertidur di kamar. Padahal jam di dinding masih menunjukkan pukul 4 sore, ia mengira jika istrinya di pecat. Ia tidak senang karena itu berarti ia tidak akan mendapatkan uang dan tentu saja hidupnya tidak sebebas biasanya jika Rima di rumah.


"Aku lelah sekali Rama, biarkan aku tidur sebentar,"


Rima masih malas untuk membuka mata. Ia sangat ngantuk sekali.


"Kok kamu malah santai di pecat dari kerja sih,"


Kebiasaan Rama yang selalu mengambil kesimpulan sendiri tidak pernah berubah.


"Apaan sih Rama, aku sudah pulang kerja,"


Rima makin erat memeluk gulingnya.

__ADS_1


__ADS_2