
"Heh, kamu itu kenapa? Siapa kamu kok ada di dekat rumah ku?"
Seorang pria setengah baya yang ternyata pemilik rumah yang di buatnya bersandar yang telah mengagetkannya. Jantungnya nyaris copot karena menyangka polisi berhasil menangkapnya.
"Maaf Pak, saya hanya kelelahan dan numpang istirahat sebentar," jawab Rama setelah tenang.
"Oh, saya kira siapa. Duduk saja di teras jika mau istirahat,"
Bapak tua itu menawarinya namun dirinya tidak ingin membuang waktu lagi. Ia tidak ingin sampai terkejar oleh polisi.
"Tidak perlu, Pak. Saya mau pulang saja, terima kasih,"
Rama berpamitan dari sana. Ia segera menuju jalan besar dan menyetop taksi. Rama berusaha menghubungi Ghani namun tidak di angkat. Rama sangat ketakutan. Ia memilih untuk pulang saja ke rumahnya. Ia segera memesan tiket pesawat. Beruntung ada penerbangan dalam 2 jam ke depan jadi setelah pesan tiket ia segera menuju bandara.
☆☆☆
"Aduh, bagaimana keadaan Rama ya? Apa dia tertangkap?"
Ghani mondar mandir mengkuatirkan sepupunya itu. Ia menyesal tidak mendengarkan ucapan Rama, ternyata firasatnya sangat tepat. Semuanya jadi berantakan, ia yakin bosnya pasti marah besar.
Ghani bingung bagaimana menghubungi sepupunya itu, ponselnya jatuh dan tidak bisa menyala. Ia juga tidak hapal nomor Rama.
"Sepertinya aku harus mencoba mencarinya di hotel,"
Ghani melajukan mobilnya ke hotel tempat mereka menginap. Ternyata kamar mereka kosong, Rama tidak ada di sana.
"Astaga, dia kemana ya? Dia tidak mengerti daerah ini,"
Ghani bingung harus mencarinya di mana. Akhirnya ia memutuskan menunggunya di hotel sembari beristirahat.
☆☆☆
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum,"
Bu Santi mengunjungi putrinya. Ia rindu kepadanya dan cucunya.
"Waalaikum salam, eh Bu Santi mari masuk. Bagaimana kabarnya?" tanya bu Yani.
"Alhamdulillah, baik Bu. Rima apa sedang tidur ya?" tanya bu Santi.
"Masuk saja langsung ke kamarnya Bu, saya mau keluar dulu ya,"
Bu Santi mengetuk kamar putrinya, sepertinya ia sedang tidur atau menidurkan Rendra, jadi dia langsung membuka pintu.
"Ibu, masuk saja ini aku sedang menidurkan Rendra,"
__ADS_1
Tidak berapa lama, Rendra sudah terlelap tidur. Mereka kemudian asyik mengobrol.
"Lalu bagaimana, Bu? Apa ibu akan menggugat ayah?" tanya Rima.
"Aku takut Rima, kemarin dia berhasil menemukan kos ibu yang baru. Dia membawa Reza untuk membuat ibu kembali padanya,"
Bu Santi mulai bercerita.
"Apa? Jadi Reza sekarang tinggal bersama ayah? Kenapa ibu baru cerita?"
"Ibu takut mengganggu kamu, Nak. Kamu sudah berkeluarga jadi pasti punya kesibukan sendiri,"
Rima memeluk ibunya yang sedang menangis, ia memang belum bisa bebas keluar rumah karena masih dalam masa nifas.
"Setidaknya ibu bisa berbagi untuk meringankan beban pikiran. Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Rima.
"Sepertinya aku akan mengajak ayah mu ke tempat yang baru, tapi ibu kos kan sendiri. Karena ibu sudah tidak ingin tinggal seatap dengannya, ini demi keselamatan adik mu,"
Rima bangkit dari duduknya, ia membuka lemari pakaiannya dan mengambil dompetnya. Ia memberikan uang satu juta rupiah kepada ibunya.
"Bu, maaf hanya segini Rima bisa bantu,"
"Sayang ini banyak sekali, lebih baik untuk kebutuhan mu saja,"
Bu Santi mengembalikan uang pemberian putrinya.
"Alhamdulillah jika suami mu sudah bekerja. Dia kerja apa Nak kok uangnya banyak?"
Sejujurnya Rima juga tidak tahu persis apa pekerjaan suaminya, ia hanya tahu jika dia bekerja ikut sepupunya Ghani di luar kota.
"Dia bisnis ikut sepupunya ke luar kota, Bu,"
Karena tidak ada Rama, Bu Santi memutuskan menemani putrinya sampai sore. Mereka bersyukur masih punya keluarga untuk saling menguatkan satu sama lain.
Manusia kadang lupa untuk bersyukur karena membandingkan dengan keadaan di atas mereka. Coba sesekali melihatlah ke bawah, banyak hamba Allah yang hidupnya lebih sulit dari kita. Hanya saja mereka tidak banyak mengeluh dan selalu bersyukur masih di beri napas untuk terus bisa hidup dan berusaha.
☆☆☆
Gubrakk...
Pintu di buka dengan keras, beberapa orang pria masuk ke dalam ruangan. Ghani yang sedang tidur nyenyak seketika langsung bangun. Masih setengah sadar tangannya sudah di ikat bak penjahat. Ia menduga jika mereka adalah suruhan bosnya. Bosnya pasti marah karena dia tidak ada kabar sama sekali.
"Lepaskan aku, kalian siapa beraninya mengikat ku seperti ini," teriak Ghani.
"Kamu itu adalah pengkhianat, sudah di beri tugas besar malah menghilang," jawab salah seorang dari mereka.
"Aku bukan pengkhianat, ponsel ku jatuh dan tidak bisa menyala lagi. Semua data ada di sana, aku tidak hapal nomor siapapun. Bahkan aku tidak bisa menghubungi rekan ku. Makanya aku kembali ke hotel ini,"
__ADS_1
Mereka saling pandang untuk mengkonfirmasi kebenaran dari ucapan Ghani.
"Hubungi bos saja, biar dia bicara langsung dengannya,"
Seorang pria mengambil ponsel dan tampak menelepon seseorang.
"Halo Bos, ini kita sudah di hotel bersama orang itu. Dia ingin bicara,"
Pria itu mendekatkan ponselnya kepada Ghani dan di loudspeaker.
"Halo Bos, ini aku Ghani. Ponsel ku jatuh dan tidak bisa menyala jadi aku kehilangan akses dengan siapapun. Aku tidak mungkin berkhianat, aku sudah setia bertahun-tahun. Aku kembali ke hotel karena tahu Bos atau Rama akan mencari ku di sini,"
Setelah berbicara beberapa saat, Ghani pun di lepaskan. Ia di berikan ponsel baru dengan banyak kontak di sana.
"Kamu harus segera menemukan teman mu itu, dia sudah membawa kabur uang bos kita," ucap pria tadi.
"Aku yakin Rama bukan sengaja kabur, aku yakin dia terdesak. Tenang saja, aku pasti menemukannya,"
Semua pria tadi meninggalkan Ghani sendirian di hotel, mereka kembali setelah selesai melakukan tugasnya.
"Sebenarnya Rama kemana sih? Tapi aku yakin dia tidak tertangkap, jika tertangkap polisi pasti sudah ramai dan mencari ku juga. Apa jangan-jangan Rama pulang ya? Karena kan hanya itu tempatnya untuk melarikan diri," ucap Ghani.
Ghani segera memesan tiket pesawat, namun semua sudah kosong untuk hari itu. Adanya masih besok pagi. Dia pun memesan penerbangan pagi.
☆☆☆
Rama sudah sampai sejak tadi di kotanya, namun ia tidak langsung ke rumah. Ia bingung harus beralasan apa kepada keluarganya dengan kepulangannya yang mendadak. Apalagi ia memegang uang setengah milyar di tangannya. Tapi ia tidak ada opsi lain, tempat teraman hanyalah rumah. Dengan langkah gontai ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya.
"Assalamualaikum,"
Rama segera masuk ke dalam rumah.
"Waalaikum salam,"
Rima dan ibunya terkejut melihat kedatangannya yang tanpa kabar.
"Rama..." Rima menatap suaminya tidak percaya dengan penglihatannya.
"Loh Rama, kok pulang tidak memberi kabar? Mana Ghani?"
Rama duduk di ruang tamu, ia meletakkan tas berisi uang di dekatnya.
"Aku berhenti kerja, pekerjaannya terlalu berbahaya," jawab Rama.
"Memangnya apa pekerjaannya, Nak?"
Semua memandang Rama menunggu jawabannya.
__ADS_1