Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 27 Kesalahan Yang Nikmat


__ADS_3

Keesokan harinya.


Rama terbangun dengan kepala yang masih pusing. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi dengannya semalam. Betapa terkejutnya ia menatap tubuh polosnya di balik selimut. Ia lebih terkejut ketika seorang wanita juga telanj*ng di sampingnya. Ia segera memakai pakaian dan pergi dari sana. Ia kembali ke hotel yang mereka tempati.


"Oh astaga, apa yang sudah aku lakukan kepada wanita itu? Bagaimana jika dia hamil?"


Rama sangat kuatir, dia juga merasa sangat bersalah terhadap istrinya. Walaupun terkadang ia memang suka menggoda wanita, namun tidak pernah sampai seintim itu. Ia segera membersihkan tubuhnya dengan air hangat, lalu beristirahat kembali.


☆☆☆


Di rumah orang tua Rima.


"Apa-apaan kamu, Pak? Siapa wanita itu?"


Bu Santi meradang mendapati suaminya berduaan dengan seorang wanita yang menurutnya seperti wanita nakal.


"Apa sih kamu, mengagetkan aku saja. Karena kamu sudah tahu ya sudahlah. Ini Tina pacar ku,"


Dengan santainya pak Tono mengenalkan kekasihnya pada istri sahnya. Hati bu Santi terasa tersayat sembilu, pedih tak terkira.


"Tega kamu berbuat seperti ini kepada ku. Jika ingin berbuat mesum jangan di sini, apa kamu tidak memikirkan perasaan ku dan anak mu. Kamu keterlaluan,"


Bu Santi berteriak dengan berlinang air mata, ia memegang dadanya yang terasa begitu sakit. Tubuh kurusnya limbung terduduk di lantai. Tangisan dan teriakannya mengundang tetangga berdatangan.


"Apa kalian lihat-lihat, jangan suka ikut campur urusan rumah tangga orang," gertak pak Tono kepada tetangganya.


"Kamu jangan begitu, kasihan istri mu sudah bekerja banting tulang, kamu malah selingkuh," ucap seorang pria tetangganya.


"Itu bukan urusan kalian, cepat pergi atau aku bunuh kalian,"


Pak Tono masuk ke dalam rumah, ia keluar lagi membawa pisau di tangannya. Semua tetangga sontak berlari dan masuk ke dalam rumah masing-masing. Mereka takut dengan ancaman pria yang di kenal nekad itu.


Bu Santi terkejut melihat suaminya seperti orang kesetanan, ia merasa takut akan keselamatannya dan juga Reza putranya.


"Apa lihat-lihat, kamu ingin aku gor*k? Semua karena mulut mu, suka sekali membuat aku malu," ucap suaminya dengan mata merah.


"Sudah Mas, kita pergi saja dari sini. Kita tidak bisa mantap-mantap jika ada istri mu,"


Wanita itu berkata dengan manja, membuat bu Santi merasa sangat jijik. Di mana harga dirinya sebagai seorang wanita, begitu tega merusak rumah tangga wanita lain demi kepuasaannya.


"Ya sudah, ayo kita pergi. Heh kamu, awas kamu nanti,"


Pak Tono mengacungkan bogem mentah ke arah istrinya, wanita itu hanya bisa menunduk dan menangis.


"Ya Allah, aku tidak bisa hidup begini terus. Aku harus bisa lepas darinya, jika tidak aku dan anak-anak akan selalu dalam bahaya,"

__ADS_1


Bu Santi segera menyeka air matanya, ia bangkit dan mulai berkemas. Ia memasukkan barang-barang yang di anggapnya penting, sisanya bisa ia ambil kapan-kapan.


Setengah jam kemudian ia telah siap, barang berharga dan barang yang di pakai sehari-hari telah ia kemas. Pakaiannya dan juga Reza juga sudah ia masukkan. Ia segera memanggil abang becak untuk mengangkut barangnya.


"Pak, antarkan saya ke jl. Diponegoro ya,"


Bu Santi menjadi petunjuk arah. Sebenarnya ia memang berniat pindah kos karena merasa tidak nyaman, rencananya baru akan pindah minggu depan. Namun karena kejadian tadi ia mempercepat kepindahannya. Setelah menemui pemilik kos dan menaruh barangnya ia segera minta di antar kembali ke kos lama.


"Reza... Ayo kita cepat pergi dari sini. Kita sudah tidak bisa tinggal dengan ayah mu. Cepat bantu ibu,"


Reza yang tidak mengerti duduk permasalahannya tetap menuruti ibunya.


"Pak tolong antar anak dan barang saya ke tempat tadi, lalu kembali kesini ya,"


Sisa satu kali lagi maka barang-barang sudah terangkut semua yang di anggap penting.


☆☆☆


Rima merasa gelisah, sejak semalam suaminya tidak membalas pesannya. Perasaannya tidak nyaman, apalagi setelah kejadian foto jatuh dan Rendra rewel kemarin. Walaupun hari ini putranya sudah tidak lagi rewel tapi ia tetap merasa kuatir.


"Kenapa wajah kamu terlihat kuatir begitu, Rima?" tanya bu Yani.


"Dari semalam Rama tidak membalas pesan ku, Bu. Aku merasa kuatir dengan keadaannya," jawab Rima.


Bu Yani berusaha menghibur menantunya.


Rima merasa ucapan ibu mertuanya memang benar, seharusnya dia tidak boleh berpikiran seperti itu.


"Maaf ya Bu, aku terlalu terbawa perasaan,"


"Sekarang yang penting kamu rawat Rendra dengan baik, selebihnya kamu pasrah kepada Tuhan,"


☆☆☆


Sementara itu Rama masih tertidur lelap, karena mabuk berat semalam membuat badannya tidak nyaman.


"Woi bangun... ini sudah siang. Enak banget ya semalam sampai pulas gitu tidurnya. Aku kira kamu tidak mau main perempuan, ternyata malah pilih yang bahenol. Hahaha..."


Rama mengucek matanya yang masih mengantuk.


"Aku tidak tahu jika itu orang lain, aku kira dia Rima istri ku. Tolong kamu jangan ungkit hal itu lagi. Aku juga tidak ingin mabuk lagi,"


Rama menjawab dengan sedikit kesal. Ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Walaupun itu memang nikmat, namun tetap saja itu hanya sebuah kesalahan.


"Ok, tenang saja aku akan menghargai keputusan kamu ini. Sekarang kamu cuci muka dulu, kita akan bertugas lagi," ucap Ghani.

__ADS_1


"Apa kita akan melakukan ini setiap hari?" tanya Rama.


"Tidak, seminggu ke depan kita free. Nikmati saja, mumpung ada kerjaan. Apalagi bayarannya besar banget,"


"Ok deh, aku cuci muka dulu,"


Setelah siap, mereka segera berangkat.


☆☆☆


"Mana barangnya?"


Rama segera mengeluarkan pesanan pria itu, setelah memberikan uangnya mereka segera berpisah.


Wiuw... wiuw... wiuw...


Sirine polisi tiba-tiba berbunyi. Mereka berdua panik dan lari tunggang langgang dari sana.


Huft...


"Astaga, untung bisa kabur. Kalau bukan demi anak istri aku tidak akan bekerja seperti ini,"


Rama segera berlari menjauh.


"Halo Ghani, kamu di mana?"


"Aku di depan mu, cepat masuk ke dalam mobil,"


Rama segera berlari menuju ke arah Ghani.


"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ghani.


"Tidak apa-apa bagaimana, tadi aku nyaris tertangkap. Bagaimana bisa polisi ada di tempat itu?"


Rama terlihat kesal sekali.


"Sudah biasa hal seperti ini. Hanya ada dua kemungkinan, ada penyusup di antara kita atau ada di antara kita yang berkhianat,"


"Ternyata pekerjaan ini tidak semudah yang aku bayangkan. Siapa yang akan menjamin ku jika sampai tertangkap?"


Rama teringat orang tuanya yang selalu menerimanya walaupun berkali-kali berbuat kesalahan.


"Tenang saja, bos kita tidak akan diam jika anak buahnya sampai tertangkap," jawab Ghani.


"Bos? Aku kira kamu bosnya?"

__ADS_1


"Bukan, aku hanya pion. Rajanya tidak akan menunjukkan diri," jawab Ghani.


__ADS_2