Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 6 Memberitahu Rama


__ADS_3

Seketika dunia Rima rasanya runtuh, lututnya lemas tidak bertenaga. Tubuhnya jatuh lunglai di atas lantai kamar mandi, tangisnya pecah seketika. Penyesalan menyelusup ke dalam hatinya yang masih di penuhi rasa tidak percaya.


"Ya Tuhan, bagaimana jika yang aku alami tadi di dalam mimpi menjadi nyata? Bagaimana jika Rama tidak mengakui anak ini? Bagaimana dengan nasib hidup ku?"


Rima menangis meratap, ia tidak lagi memperdulikan tubuhnya yang basah dan mulai kedinginan. Banyak sekali pikiran yang sedang menari-nari di dalam bayangannya.


"Aku takut ayah akan memukul ku, aku harus bagaimana Tuhan?"


Rima segera bangkit lalu membereskan semuanya, ia membungkus tespek itu dengan tisu setelah terlebih dulu mencucinya dengan air. Ia tidak ingin ayahnya sampai tahu karena ia bisa saja datang kapan saja.


"Aku harus menemui Rama, aku harus membicarakan hal ini dengannya," ucap Rima.


[Rama, kita harus bertemu. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan,]


Pesan segera terkirim dan di baca. Secepat kilat pria itu pun membalas.


[Ada apa, kamu kangen ya? Atau mau seperti yang waktu itu? 😘😘 ]


Rima kesal karena Rama menanggapinya dengan bercanda, pria itu memang susah di ajak bicara serius.


[Rama aku serius! Kita bertemu di belakang sekolahan, setengah jam lagi.]


[Iya, baiklah.]


Walaupun jadwal masuknya masih sekitar dua jam lagi, Rima segera bersiap-siap. Ia harus menemui Rama terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja nanti. Rima pun bergegas membersihkan tubuh, ia kembali muntah saat berada di dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, ia telah siap untuk berangkat. Setelah mengunci semua pintu ia melajukan motornya ke arah belakang sekolah. Ternyata kekasihnya sudah berada di sana menunggunya.


"Apa kamu sudah datang dari tadi?" tanya Rima berbasa-basi.


"Baru saja kok. Kamu ingin bicara apa sampai minta bertemu, biasanya cukup telepon saja?"


Rima merasa ragu sejenak, ia takut apa yang di alami di dalam mimpinya menjadi kenyataan.


"Duar... kok malam diam, katanya mau bicara,"


Rama membuatnya terkejut, ia tersadar dari lamunannya. Ia mengeluarkan tisu di dalam saku jaketnya dan memberikannya kepada Rama.


"Kamu serius mau melakukan itu di sini ya? Kita bisa menyewa hotel jika memang kamu menginginkannya,"


Otak pria ini sepertinya hanya berisi ************ saja, bisa-bisanya ia memikirkan hal itu.


"Kamu itu memang mesum ya, otak mu kemana-kemana. Coba kamu lihat di dalam tisu itu ada apa," jawab Rima kesal.

__ADS_1


Tanpa rasa berdosa Rama segera membuka tisu itu. Ia memperhatikan benda itu dengan seksama, namun ia sama sekali tidak mengerti apa maksud kekasihnya memberikannya benda itu.


"Ini apa Rima? Kenapa kamu memberikan ini kepada ku? Kamu ingin bercanda dengan ku?" tanya Rama yang memang tidak tahu fungsi benda itu.


"Jadi kamu tidak tahu? Itu adalah alat tes kehamilan. Aku positif Rama, aku mengandung anak mu,"


Rima memperhatikan kekasihnya tanpa berkedip, ia ingin tahu bagaimana reaksi pria itu setelah mengetahui dirinya hamil. Rama hanya memandangnya, tanpa ekspresi yang berarti.


"Apa kamu serius, Rima? Bukankah kita sudah tidak melakukannya lama sekali, sekitar sebulanan yang lalu?" tanya pria itu.


"Untuk apa aku berbohong dengan masalah serius seperti ini? Aku hanya melakukannya bersama mu, Rama,"


Rima menangis tertahan, ucapan kekasihnya telah melukai perasaannya.


"Aku tahu Rima, aku percaya kamu hanya berbuat dengan ku. Hanya saja mengapa baru tahu sekarang, padahal kita sudah melakukannya cukup lama," ucap Rama.


"Dari kemarin aku mual dan muntah, kepala ku terasa pusing. Awalnya aku menyangka karena masuk angin, lalu aku ingat jika bulan ini sudah tidak datang bulan. Setelah tes akhirnya aku tahu jika hamil, sebaiknya kita periksa ke dokter agar kamu merasa yakin," balas Rima.


"Ya sudah, ayo kita periksa sekarang," ajak Rama.


"Sebentar lagi aku harus bekerja, besok saja sebelum bekerja kita ketemu di sini lagi ya,"


"Baiklah kalau begitu, kamu jaga diri baik-baik ya,"


☆☆☆


"Huek... huek..."


Rima kembali merasa mual saat di tempat kerja.


"Rima kamu sakit ya? Harusnya tidak perlu berangkat kerja jika tidak enak badan. Pulang saja sana,"


Anton, anak pemilik konter tersebut memang menaruh hati terhadap Rima. Rima memang gadis yang cantik, kulitnya bersih kuning langsat dengan rambut panjang sedikit kecoklatan. Semua di wajahnya sangat indah, di tambah posturnya yang cukup tinggi seperti model memang membuat mata pria banyak yang terpana. Anton selalu memperhatikan gadis itu diam-diam.


"Aku baik-baik saja kok Mas, mungkin hanya sedikit masuk angin saja," jawab Rima.


"Tapi wajah kamu pucat sekali, sebaiknya istirahat di rumah saja. Atau aku antar ke dokter ya,"


Rima memang merasa lemas, namun dia sungkan untuk tidak masuk mengingat dirinya baru saja bekerja.


"Tanggung Mas, tinggal beberapa jam lagi pulang,"


"Aku tidak mau kamu sampai sakit karena menahannya. Pulanglah, Aku menganggap mu tetap masuk hari ini kok,"

__ADS_1


"Tapi..."


"Sudah, ayo aku antar kamu pulang,"


Rima tidak dapat menolak lagi, rasa pusing di kepalanya makin menjadi. Ia mengikuti Anton yang bersedia mengantarnya.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Pagi ini rasa mual masih saja di alami Rima, namun gadis itu menahannya karena tidak ingin orang tuanya menjadi curiga.


"Rima, apa kamu sudah sehat Nak?" tanya ibunya.


"Alhamdulillah, sudah mendingan Bu,"


Rima berbohong, padahal tubuhnya justru semakin lemah. Apalagi dia menahan rasa mual yang sangat, itu membuatnya sangat menderita.


"Ya sudah, kalau begitu ibu tenang. Ibu berangkat kerja dulu ya," pamit ibunya.


Rima bangkit dari tidurnya, walaupun lemah ia harus tetap membersihkan rumah dan menyiapkan makanan yang ibunya masak supaya ayahnya tidak curiga. Setelah selesai beberes ia segera mandi lalu sarapan. Tubuhnya sudah agak membaik walau rasa mulai masih sesekali di rasanya.


"Rima, ayah keluar dulu ya," pamit ayahnya.


"Iya, Yah,"


Rima segera menghubungi kekasihnya untuk melaksanakan rencana mereka kemarin.


"Halo Rama, ayah sudah pergi. Ayo kita segera berangkat ke dokter, kita ketemu di tempat kemarin ya," ucap Rima.


"Ya, tapi aku mungkin sedikit terlambat karena masih membantu ayah ku sebentar. Tunggu aku ya," balas Rama.


"Ya, baiklah. Tapi jangan terlalu lama ya,"


Setelah selesai, Rima segera bersiap-siap. Ia memakai seragam kerjanya yang ia tutupi dengan jaket. Gadis itu ingin segera semuanya menjadi jelas agar bisa menentukan jalan untuk ke depannya.


"Semoga semua lancar, aku akan tanggung apapun resikonya. Ini memang kesalahan ku dan Rama, bayi ini tidak bersalah," ucap Rima.


Gadis itu mengunci semua pintu dan jendela, lalu menaruh kuncinya di tempat biasa.


"Rima, kamu mau kemana jam segini?"


Ayahnya tiba-tiba saja datang dan menegurnya. Rima gugup bukan main.

__ADS_1


__ADS_2