Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 47 Rama Pemalas


__ADS_3

Satu bulan kemudian.


Perkembangan Rendra makin pesat. Anak itu sudah bisa merangkak dan menanggapi dengan lucunya jika di ajak berbicara. Ia juga sudah pandai meniru dan mulai bisa berbicara walau tidak jelas. Namun seiring dengan pertumbuhannya anak itu menjadi lebih susah di tinggal ketika Rima akan bekerja. Terkadang ia harus sembunyi-sembunyi berangkat supaya Rendra tidak menangis.


"Rama, kamu bawalah Rendra keluar dulu. Dia pasti akan menangis jika melihat ku pergi," ucap Rima.


"Ya, baiklah," balas Rama.


"Sayang, ikut ayah jalan-jalan yuk,"


Rama mengajak Rendra pergi dengan motornya. Awalnya Rima merasa kuatir suaminya membawa putranya tanpa gendongan seperti itu, namun melihat Rendra tenang dan senang ia pun membiarkannya. Namun ia selalu berpesan agar berhati-hati.


"Bu, aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum,"


Rima mencium tangan bu Yani, lalu berangkat kerja.


☆☆☆


Hari ini Rima mendapat tugas mengambil faktur ke beberapa rekan bisnis pak Agung. Pekerjaan ini tidak terasa sulit lagi karena ia sudah hapal tempatnya.


"Hai Rima, makin cantik saja kamu," sapa pria itu.


"Bisa saja pak, apa faktur yang di minta pak Agung telah di siapkan?" tanya Rima.


"Duduk saja dulu, aku akan segera menyiapkannya,"


Rima menurut, ia menunggu sembari bermain dengan ponselnya. Beberapa saat kemudian faktur itu sudah di berikan kepadanya. Pria itu sengaja menyentuh tangannya.


"Tolong jangan begini, Pak," Rima menepis tangan pria itu.


"Rima, ayolah jangan menolak. Aku akan memberikan apapun yang kamu mau," Tommy berusaha merayu Rima.


"Saya sudah punya suami, Pak. Tolong jangan seperti ini,"


Rima sangat ketakutan, tidak biasanya tempat ini sepi. Mana pria itu terlihat sangat bernafsu terhadapnya.


Tommy memegang erat tangan Rima hingga ia tidak bisa berkutik.


"Tolong lepaskan, pekerjaan saya masih banyak. Pak Agung pasti marah jika saya bekerja sangat lambat," ucap Rima.


"Jadilah kekasih ku, aku tidak masalah walau kamu sudah menikah. Justru aku suka yang sudah berpengalaman seperti mu,"


Pria itu makin mendekat, ia menjulurkan lidahnya membuat Rima semakin jijik dan ketakutan.


'Ya Allah berilah aku kekuatan untuk melawan,' batin Rima.


Brukkk...

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga ia mendorong Tommy hingga jatuh menatap meja. Momen itu ia manfaatkan untuk melarikan diri. Ia berlari sekencang-kencangnya ke arah motornya di parkir.


"Ya Allah kenapa pak Tommy jadi nekad begitu sih, aku kapok kesini lagi," ucap Rima.


Rima gemetar, sepanjang jalan ia menangis karena merasa di lecehkan. Beruntung Tuhan memberikannya kekuatan untuk melawan, bagaimana seandainya ia lemah? Apa yang akan terjadi padanya. Bisnis pak Agung bergerak di bidang kontraktor dan bahan bangunan, sehingga kliennya rata-rata memang dominan pria.


Rima sering berinteraksi dengan mereka, karena hampir semua masalah kantor di urus olehnya. Namun dengan kejadian ini sedikit memberikan rasa trauma untuknya. Seandainya saja ia bisa memilih, ia ingin berhenti sekarang juga.


☆☆☆


"Halo Dimas, kamu di mana?" tanya Rama.


"Ya di rumahlah, memangnya kenapa?"


"Kamu hubungin anak-anak ya, kita ketemu di warung kopi biasanya. Nanti malam aku traktir kalian semuanya,"


"Wah serius nih? Habis dapat lotere atau bagaimana nih?"


"Hari ini kan istri ku gajian, aku pasti punya uang,"


Dengan tidak tahu malunya Rama membanggakan diri, padahal istrinya yang bekerja keras.


"Wah beruntung sekali kamu dapat Rima, nurut saja mau di bagaimanakan. Hahaha..."


"Makanya nanti kalau cari istri yang seperti Rima, mudah di manfaatkan. Hahaha..."


Ayahnya sangat cuek dan tidak terlalu peduli terhadapnya, apalagi setelah menikah lagi dengan wanita lain ia membiarkan anak-anaknya berbuat sesuka hatinya. Rama berubah sedikit lebih baik ketika ayahnya rujuk kembali dengan ibunya.


☆☆☆


"Rima, ini gajian mu. Suami ku menambahkan 300 ribu karena kamu lembur beberapa kali,"


Bu Dita menyerahkan amplop yang di pegangnya kepada Rima.


"Alhamdulillah, terima kasih ya Bu,"


Rima sangat bersyukur sekali di beri tambahan. Karena walaupun beberapa kali lembur satu atau dua jam namun ia juga beberapa kali di diperbolehkan pulang lebih awal saat tidak ada pekerjaan lagi. Ia menganggap waktu lembutnya untuk menutupi waktu dia pulang awal. Tidak menyangka jika pak Agung akan memberinya uang lebih.


"Ya sudah kamu pulang saja jika pekerjaannya sudah selesai,"


"Tapi ini masih jam 5, Bu,"


"Tidak apa-apa, kata bapak tidak ada pekerjaan lagi,"


"Baik Bu, terima kasih,"


Rima segera membereskan meja kerjanya. Ia sudah mengirim semua file yang di minta bosnya. Ia lalu berpamitan kepada bu Dita.

__ADS_1


"Alhamdulillah, lebih baik aku simpan saja 500 ribu. Kalau tidak pasti Rama akan mengambil banyak seperti bulan lalu,"


Ia menyimpan uang itu di lipatan buku agendanya. Ia lanjut berbelanja kebutuhan Rendra dan dirinya, semuanya habis 500 ribu. Ia segera menghitung sisanya.


"Sisa 800 ribu ini setelah nanti aku berikan kepada ibu, lebih baik Rama aku beri 300 ribu saja,"


Rima lanjut pulang ke rumah.


☆☆☆


"Sudah pulang kamu, mana gajiannya?"


Bukannya menanyakan keadaannya yang baru saja pulang kerja, Rama justru langsung meminta uangnya.


"Uang ku hanya sisa ini, ambillah 300 untuk mu,"


Rima memperlihatkan uangnya yang hanya sisa 800 ribu.


"Yang benar saja, kenapa jadi turun begini. Bukannya beberapa kali kamu lembur ya?"


Rama benar-benar tidak bersyukur, sudah di kasih hati malah minta jantung.


"Apa kamu lupa aku juga sering pulang awal, hari ini saja aku pulang jam 5 sore,"


Rima kesal sekali, lama kelamaan ia malas untuk terus bekerja. Hal ini membuat suaminya menjadi semakin malas. Sejatinya pria adalah orang yang bertanggung jawab mencari nafkah bukan hanya mengharapkan jerih payah istrinya dan terkesan memanfaatkan keadaan.


"Ah kamu alasan saja, jangan-jangan kamu sembunyikan yang lainnya,"


Rama berusaha mencari di tas dan dompet Rima.


"Hentikan Rama, aku tidak suka dengan cara mu ini. Aku akan berhenti kerja, aku lelah karena kamu tidak menepati janji mu," teriak Rima.


"Apa kamu bilang? Kamu tidak boleh berhenti, apa kamu tidak malu menumpang hidup pada orang tua ku. Aku anak mereka, sedangkan kamu hanya menantu di sini,"


Bisa-bisanya Rama memutar balikkan fakta. Harusnya sebagai pria dialah yang merasa malu karena tidak becus mengurus keluarganya sendiri.


"Untuk apa aku malu? Kepala keluarganya saja tidak malu kok," tantang Rima.


"Sudah berani kurang ajar rupanya mulut mu itu ya,"


Rama merasa tersinggung dengan kata-kata istrinya itu.


"Apa? Mau menampar aku? Lakukan saja, setelah itu jangan harap aku mau kembali pada mu,"


Mata Rima menatap tajam ke arah Rama. Ia lelah di injak-injak terus. Sudah saatnya ia melawan agar tidak selalu di remehkan.


Rama mengurungkan niatnya memukul istrinya, ia berlalu membawa kemarahannya.

__ADS_1


__ADS_2