
Sebulan kemudian.
Selama sebulan ini Rima hidup penuh perjuangan. Ia bekerja namun juga tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri, ibu dan juga menantu. Walaupun lelah tidak dapat di tolak namun ia pantang menyerah.
Kehidupannya semakin terasa berat tatkala suaminya tidak menepati janjinya untuk membantunya dalam urusan rumah tangga. Rama lebih asyik dengan dirinya sendiri. Ia kembali kepada tabiatnya ketika awal mereka menikah. Hanya saja ia tidak pernah main tangan lagi kepadanya sekarang.
"Rima, kamu kan sudah satu bulan bekerja, kapan kamu gajian?" tanya Rama.
"Katanya sih hari ini. Nanti kalau jadi gajian, sepulang kerja aku langsung belanja kebutuhan kita dan Rendra ya," jawab Rima.
"Iya, tapi jangan lupa kamu juga harus memberi ku uang,"
Rima menatap suaminya. Pria itu masih merokok sampai saat ini. Bahkan ia tidak malu meminta kepada ibunya saat ia tidak punya uang sama sekali.
"Iya, tapi aku tidak bisa memberi mu banyak. Kebutuhan kita banyak, kita juga harus memikirkan biaya hidup kita sampai gajian depan,"
"Iya, aku tahu,"
☆☆☆
"Hei Rama, apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan?" tanya Jefri.
"Belum, memangnya kenapa? Apa kamu sendiri sudah kerja?"
"Alhamdulillah, aku di ajak kerja di proyek oleh paman ku. Kalau kamu mau ayo ikut, kebetulan masih butuh 3 orang pekerja lagi di sana," ajak Jefri.
"Kerja proyek bangunan maksudnya? Kuli gitu?" tanya Rama.
"Iya, lumayan daripada nganggur kan. Sudah dapat makan juga di sana, bagaimana kamu mau kan?"
Rama seolah jijik dengan pekerjaan itu. Baginya pekerjaan kasar seperti itu tidak pantas untuk dirinya. Jika pun bekerja, ia akan memilih bekerja kantoran. Pria itu tidak sadar diri dengan kemampuan dan dasar pendidikannya yang tidak begitu tinggi.
"Yang benar saja kamu mengajak ku jadi kuli, apa tidak ada pekerjaan lain?"
Rama begitu sombong dan meremehkan. Jefri menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya aku cuma adanya itu, kalau kamu tidak mau tidak apa-apa kok,"
Jefri meninggalkan temannya yang sombong itu. Ia pergi kembali untuk bekerja. Ia datang hanya untuk membeli es mumpung istirahat. Sebenarnya ia memang berniat mengajak Rama bekerja, karena ia dengar ia sedang butuh pekerjaan. Namun niat baiknya justru berbuah penghinaan.
☆☆☆
"Astaga, anak itu kemana saja sih. Istrinya setiap hari sibuk bekerja dia justru enak-enakan bermain dengan temannya. Bahkan ia tidak peduli dengan anaknya,"
Bu Yani geram menyaksikan sifat Rama yang kembali seperti dulu. Ia prihatin melihat menantunya yang harus bekerja keras.
"Rama, cepat pulang,"
__ADS_1
Bu Yani langsung mematikan panggilan. Entah dengan cara bagaimana lagi ia harus menasehati putranya itu. Ia seolah sudah kehilangan akal.
"Ada apa, Bu?" tanya Rama.
"Aku lihat kamu terlalu memanfaatkan istri dan ibu mu ini. Kamu justru asyik bersama teman mu. Mulai sekarang kamu harus mengurus Rendra sendiri. Ibu capek melihat sikap mu yang tidak bertanggung jawab,"
Bu Yani menyerahkan Rendra kepada Rama dan meninggalkan mereka. Ia berharap dengan begini Rama bisa berubah.
Dengan terpaksa ia menemani putranya bermain sembari sibuk dengan ponselnya. Lebih tepatnya Rendra bermain sendiri.
Oek... oek... oek...
Rendra mulai terlihat lelah dan kehausan. Dengan malas ia mulai membuatkan susu. Ia ikut berbaring dan tidur bersama putranya.
☆☆☆
"Alhamdulillah, aku sudah gajian. Aku akan belanja sepulang kerja," ucap Rima.
"Rima ini kebetulan ada oleh-oleh dari saudara, kamu bawa pulang sebagian ya,"
Bu Dita memasukkan berbagai macam kue, buah dan juga roti ke paper bag dan menyerahkannya untuk Rima.
"Astaga, terima kasih ya Bu. Ibu baik sekali, keluarga saya pasti senang,"
Rima mengambil paper bag yang di sediakan bu Dita.
Rima segera menyelesaikan pekerjaannya yang sedikit lagi selesai. Ia sangat bersemangat sekali.
"Akhirnya selesai juga, pas waktunya pulang,"
Rima melihat jam tangannya, sudah lebih 5 menit dari waktu pulang. Ia segera merapikan pekerjaannya lalu segera berpamitan kepada bu Dita, karena pak Agung sedang keluar kota.
☆☆☆
Rima melihat daftar belanjaannya, ia segera mengambil barang-barang di rumah yang sudah habis stoknya.
"Semuanya 610 ribu, Mbak,"
Rima memberikan uang 650 ribu kepada kasir, setelah mendapatkan kembalikan ia segera membawa barang belanjaannya. Sebenarnya ia juga ingin membeli sembako, namun pasti kesulitan membawanya jadi ia memutuskan memberikan uangnya saja kepada ibu mertuanya nanti.
☆☆☆
"Bu ini untuk kebutuhan rumah, maaf ya hanya bisa memberi segini. Tadinya mau aku belikan sembako langsung tapi tidak bisa membawanya,"
Rima memberikan uang 700 ribu kepada ibu mertuanya.
"Ya ampun Sayang, terima kasih ya. Semoga rezekinya lancar terus. Tidak apa-apa biar nanti aku yang beli semua kebutuhan dapur. Kamu istirahat saja setelah mandi, Rendra sudah tidur kok,"
__ADS_1
Rima segera masuk ke dalam kamarnya, ada Rama yang sedang asyik bermain game online di samping Rendra yang tertidur.
"Mana jatah ku, Rima?"
Rama menengadahkan tangannya kepada Rima.
"Ini, aku cuma bisa kasih segini,"
Rima memberikan uang 200 ribu kepada suaminya.
"Kok hanya segini sih? Kamu kan gajian 2,5 juta, masa iya kamu cuma ngasih aku 200 ribu,"
Rama merasa keberatan istrinya hanya memberinya 200 ribu.
"Rama, aku tadi belanja habis 650ribu. Lalu memberi ibu 700 ribu. Belum untuk bensin ku satu bulan dan kebutuhan lainnya nanti,"
Rima mencoba menjelaskan.
"Ah kamu pelit sekali, sini beri aku 500 ribu,"
Rama merampas dompetnya, ia mengambil 300 ribu lagi baru mengembalikan lagi kepadanya.
"Rama kamu egois sekali, aku saja sampai tidak memikirkan diri ku sendiri,"
Rima merasa kecewa, ia yang bekerja saja tidak memikirkan dirinya sendiri.
"Uang mu itu juga Uang ku, jadi kamu jangan cerewet. Aku mau pergi dulu,"
Rama berlalu begitu saja tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Ya Allah, uang ku hanya sisa kurang dari 700 ribu. Belum untuk beli token listrik, aku tidak mungkin membebani ibu terus. Mereka sudah membelikan Ac masa listrik juga harus menumpang,"
Rima menghela napas panjang, ia berharap uangnya cukup untuk satu bulan ke depan. Sepertinya ia tidak bisa berbagi untuk adik dan ibunya kali ini.
"Kenapa ya aku merasa jika Rama hanya memanfaatkan ku saja, dia baik hanya jika ada maunya saja," gumam Rima.
Ia segera mandi lalu istirahat di samping Rendra.
Tring... tring...
Notifikasi pesan masuk, Rima segera mengambil ponselnya.
[Wah Rama sudah bekerja ya Rima, dia sedang mentraktir temannya. Ibu ikut senang kalian sudah tidak ada masalah lagi.]
Ibunya mengirim pesan di sertai foto suaminya sedang nongkrong di warung bersama teman-temannya.
"Astagfirullah, tega sekali kamu mengambil uang ku hanya untuk menyenangkan teman-teman mu,"
__ADS_1
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rima. Hatinya sakit dan begitu kecewa dengan perlakuan suaminya.