
Beberapa bulan kemudian.
Setelah Rima mengetahui pekerjaan apa yang pernah suaminya lakoni, ia tidak lagi menyuruhnya bekerja. Ia sudah pasrah dengan keadaan mereka. Sebenarnya ia ingin bekerja kembali sejak kejadian itu namun mertuanya melarangnya demi menjaga dirinya dan juga kandungannya.
Rima menebalkan wajahnya dengan hidup menumpang selama berbulan-bulan di rumah mertuanya itu. Walaupun perlakuan mereka sangat baik, tentu saja ia tetap merasa tidak nyaman. Apalahgi melihat suaminya yang tidak ada daya upaya untuk bertanggung jawab menafkahi dirinya sangat membuatnya miris.
"Ibu..."
Rima berteriak memanggil ibu mertuanya. Bu Yani yang mendengar menantunya berteriak segera berlari menemuinya.
"Ada apa Rima, apa sudah waktunya melahirkan ya?"
Bu Yani berusaha untuk tidak panik, ia menyuruh menantunya untuk menarik napas dalam-dalam. Ia segera menghubungi putranya namun puluhan kali mencoba tetap tidak di angkat. Ia beralih menghubungi suaminya.
"Halo Yah, ayah di mana ini Rima kesakitan. Sepertinya dia akan melahirkan," ucap Bu Yani.
"Di bawa langsung ke rumah sakit saja, Rama kemana?"
"Aku tidak tahu, sudah ku hubungi berulang kali namun tidak di angkat,"
"Aku masih ada urusan dengan partai, minta tolong sama ayahnya Rangga saja. Cepat bawa bu, kasihan Rima,"
Akhirnya bu Yani minta tolong kepada adik iparnya. Beruntung dia sedang di rumah sehingga bisa segera membawa Rima ke rumah sakit.
"Kemana sih anak itu, sudah punya istri sedang hamil besar bukannya menjaga malah keluyuran," gerutu bu Yani.
Ia mondar-mandir di depan pintu ruang bersalin. Rima sudah pembukaan lengkap saat sampai di rumah sakit, bidan segera membantu proses melahirkannya.
Rima sangat kecewa kepada Rama. Di saat ia bertarung nyawa untuk melahirkan anaknya pria itu justru tidak berada di sampingnya. Lengkaplah kini penderitaannya.
Oek... oek... oek...
Tangis bayi menggema hingga terdengar keluar ruangan. Bu Yani tiada hentinya mengucap rasa syukur. Hari ini dia telah menjadi seorang nenek, ia merasa terharu sekali. Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Halo Yah, aku sudah di rumah sakit. Rima baru saja melahirkan, kita sudah jadi kakek dan nenek," ucap bu Yani.
"Alhamdulillah, anaknya perempuan atau laki-laki Bu?" tanya suaminya.
"Belum tahu, aku masih di luar. Tolong hubungi Rama segera, anak itu susah sekali di hubungi,"
Setelah selesai berbicara, Bu Yani segera melihat cucunya yang sedang di mandikan.
__ADS_1
"Selamat ya Bu, cucunya laki-laki dan sehat sekali," ucap seorang perawat.
"Terima kasih sus, boleh saya menggendongnya?"
Perawat itu memberikan bayi itu kepada bu Yani, sementara dia kembali ke ruang bersalin. Setelah selesai mengurus ibunya, Bu bidan mempersilahkan keluarga Rima untuk masuk.
☆☆☆
Sore harinya.
Ruangan Rima di penuhi kebahagian. Keluarganya datang, mereka tampak senang dengan kehadiran cucu mereka. Seorang bayi laki-laki lucu yang sangat mereka nantikan.
Krekkk...
Suara pintu di buka, semua orang menoleh ke arah pintu. Tampak Rama baru saja datang.
"Kamu kemana saja sih Nak, dari tadi susah sekali di hubungi. Lihatlah istri mu sudah melahirkan, anak mu seorang laki-laki," ucap bu Yani.
"Maaf Bu, tadi ponsel aku silent jadi tidak dengar,"
Rama mendekat ke arah istri dan anaknya, ia menatap Rima sekilas lalu beralih kepada bayi mungil yang begitu mirip dengannya. Ingin rasanya dia menangis dan memeluk anak itu, namun gengsinya masih begitu tinggi sehingga ia hanya mengelus pipi anaknya.
"Bu, karena tidak ada masalah saat melahirkan dan ibu serta anaknya sehat maka malam ini sudah boleh pulang," suster itu memberi tahu mereka.
"Tenang saja Bu, saya akan merawat Rima dan bayinya dengan baik," sahut bu Yani.
Mereka terus saja berbicara, semuanya memutuskan menemani Rima sampai kepulangannya. Hanya ayah Rima pak Tono yang sudah pulang terlebih dahulu, ia hanya sebentar di rumah sakit.
☆☆☆
Malam ini rumah orang tua Rama kedatangan cahaya baru, seorang bayi laki-laki yang membawa keceriaan kepada semua orang. Saudara-saudara mereka berdatangan untuk melihat bayi itu. Mereka baru pulang saat waktu sudah menunjukkan pukul 22.00.
"Sayang kamu dan bayi mu harus segera beristirahat. Rama kamu harus membantu istri mu menjaga dia,"
Rama tidak menyahuti namun dalam hatinya ia mengiyakannya.
Bayi itu di beri nama Rendra Mahardika, nama itu adalah pemberian Rama. Tadinya ia sangat membenci anak itu karena dirinya adalah penyebab hidupnya jadi seperti sekarang, namun melihat betapa lucunya bayi itu perasaan itu mulai terkikis. Lambat laun ia mulai menerima keberadaannya.
"Sini biar aku saja yang menggendong, kamu istirahat saja," ucap Rama.
Rima menatap suaminya tidak percaya, namun pria itu ternyata serius dengan ucapannya. Ia menggendong Rendra dengan perlahan, ia bahkan mengajaknya mengobrol walaupun bayi itu belum mengerti.
__ADS_1
"Rama hati-hati, dia masih sangat kecil," balas Rima.
"Iya aku tahu, kamu tidur saja. Aku akan membangunkan mu jika dia haus dan menangis,"
Rima menuruti ucapan suaminya, ia pura-pura memejamkan mata. Ia tersenyum kecil melihat suaminya bermain dengan putranya itu. Tadinya ia kuatir jika Rama tidak akan menerima kehadiran bayinya, namun ternyata ia salah. Yang terjadi justru sebaliknya.
Karena lelah Rima akhirnya tertidur sungguhan. Ia tidak tahu apalagi yang suaminya lakukan bersama bayinya.
"Rima bangunlah, Rendra haus dan ingin menyusu,"
Mendengar suaminya memanggil ia pun membuka mata, ia mulai menyusui putranya. Ia melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari.
"Apakah dari tadi kamu belum tidur?"
Rima menatap suaminya yang sedang asyik melihat anaknya menyusu.
"Dia tidak mau aku letakkan, tiap akan aku letakkan dia menangis jadi aku menggendongnya,"
Rima merasa terharu, ternyata orang sekasar Rama masih punya hati juga.
"Ya sudah kamu tidur saja, biar aku yang menemaninya,"
Rama menurut, matanya sudah sangat mengantuk dari tadi namun di tahannya. Rima meletakkan bayinya di antara mereka setelah putranya mulai mengantuk. Akhirnya ia bisa menyusul mereka tidur.
☆☆☆
Oek... oek...oek...
Rendra menangis, namun orang tuanya tidak mendengar dan masih terlelap tidur. Bu Yani yang mendengar segera mengetuk pintu kamar mereka.
Tok... tok... tok...
"Rima, Rama, anak kalian menangis. Apa kalian belum bangun?"
Mereka akhirnya terbangun mendengar pintu kamar di ketuk cukup keras. Rama membuka pintu sedangkan Rima segera menggendong putranya dan memberi susu. Sepertinya bayi itu sangat kelaparan. Ia menyusu penuh semangat hingga meninggalkan rasa nyeri di puncak gunung milik Rima.
"Kalian tidur nyenyak sekali sampai tidak mendengar suara tangisan bayi," ucap Bu Yani.
"Maaf Bu, kita sangat mengantuk sampai tidak dengar. Maaf sudah mengganggu ibu," balas Rima.
"Kalau begitu biarkan bayi ini tidur sama ibu saja, sepertinya kalian belum siap menjaganya,"
__ADS_1
"Apa?" mata keduanya membulat sempurna mendengar ucapan bu Yani.