Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 9 Akhirnya Ibu Tahu


__ADS_3

Malam harinya.


Rima mulai membuka matanya perlahan. Wajah dan tubuhnya terasa begitu sakit. Ia berusaha mengingat kejadian sebelumnya, namun kepalanya begitu pusing. Hanya ruangan serba putih yang terlihat di pelupuk matanya yang masih belum terbuka sepenuhnya.


"Rima Sayang, kamu sudah sadar Nak?"


Ibunya menatapnya dengan penuh kekuatiran. Ia mengusap rambut putrinya dengan lembut. Cairan bening mengalir begitu teras membasahi kedua netranya yang mulai keriput.


"Aku ingat, ayah memukul ku. Ayah jahat dengan kita Bu, aku tidak ingin hidup dengan ayah lagi," ucap Rima mulai terisak.


"Ibu takut kejadiannya begini Nak, makanya selama ini selalu mengalah. Aku tidak ingin kalian yang menjadi sasarannya," balas ibu Rima.


"Bertahun-tahun Ibu hidup seperti ini, aku tidak sampai hati membiarkan ibu mengalah untuk kami. Biarkan ayah pergi, Bu,"


Dengan suara serak aku meminta kepada ibu yang masih bergeming.


"Jangan membahas itu dulu, Rima. Sekarang masalah mu lebih penting, apa benar yang dokter tadi katakan? Apa kamu benar-benar mengandung?" tanya ibunya.


Duar...


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, Rima begitu terkejut apa yang selama ini sulit ia ucapkan ternyata ibunya sudah tahu. Wanita yang telah melahirkannya itu pasti teramat kecewa anak gadisnya tidak dapat menjaga kesuciannya. Cairan bening mengaliri kedua manik Rima, ia merasa sangat bersalah terhadap ibunya.


"Maafkan aku Bu, maafkan aku..."


Hanya itu yang mampu ia katakan dalam deraian air mata.


"Kenapa sampai sejauh itu Nak? Ayah mu pasti akan sangat marah sekali. Apa Rama yang berbuat?" tanya ibunya lagi.


"Iya Bu, ini bayinya. Sekali lagi aku mohon maaf, aku khilaf Bu. Aku sangat menyesal,"


Rima menggenggam tangan ibunya dan menciuminya, dirinya merasa menyesal sekali.


"Sudah berapa minggu usia kandungannya? Apa orang tua Rama sudah tahu?"


"Sekitar 6 minggu lebih Bu, orang tuanya belum tahu. Rama sedang ke desa neneknya, ia bilang akan menikahi ku setelah dari sana,"


"Nak, menikah bukan hanya tentang dua orang manusia tapi tentang menyatukan dua buah keluarga. Kita harus segera memberi tahu orang tua Rama agar secepatnya memberikan solusi untuk kalian," ucap Ibunya serius.

__ADS_1


"Aku tahu Bu, tunggulah 3 hari lagi. Jika memang Rama belum juga datang, temani aku untuk mengatakan kepada orang tuanya," balas Rima.


Wanita itu melihat putrinya dengan tatapan iba dan penuh rasa bersalah. Jika saya ia punya waktu untuk merawat dan membesarkan anaknya mungkin semua ini tidak akan terjadi. Ia sangat jarang sekali berada di rumah, berangkat ketika anak masih tidur dan pulang saat sudah petang dan tubuh sangat letih.


Sebenarnya semua ia lakukan juga untuk mereka, agar mereka bisa makan dan tetap bersekolah. Ayahnya sudah lama tidak mau bekerja sehingga tanggung jawab beralih berada di atas pundaknya. Bahkan tubuhnya semakin kurus bagai tulang berbalut kulit. Namun semua luka nestapa ia rasakan sendiri.


"Maafkan Ibu yang tidak bisa menjaga mu dengan baik, kita akan tunggu itikad baik Rama. Tapi jika dalam 3 hari dia tidak datang, ibu tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Perut mu akan membesar seiring berjalannya waktu,"


"Terima kasih pengertiannya Bu, ini semua salah ku yang mudah tergoda. Jangan menangis lagi ya, Bu,"


Rima menyeka air mata ibunya, mereka berdua saling berpelukan dan saling menguatkan. Dua orang wanita korban keegoisan pria sedang dalam keadaan tidak berdaya menghadapi pahit getirnya kehidupan.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Keadaan Rima yang membaik membuat dirinya boleh melakukan rawat jalan. Ia tidak ingin membebani ibunya dengan biaya rumah sakit yang besar, jadi memaksa untuk pulang.


"Apa kamu masih mual-mual?" tanya ibunya saat mereka berkemas.


"Sudah jarang Bu, tapi kadang malas mau melakukan kegiatan," jawab Rima.


"Terima kasih ya Bu, sekarang aku punya teman bicara. Sebelumnya semua hanya aku pendam sendiri, terkadang aku justru ingin bunuh diri karena tidak kuat menghadapi semuanya sendiri,"


Rima berkata jujur kepada ibunya, ia bersyukur ada hikmah di balik pemukulan ayahnya kepadanya.


"Jangan begitu, apa yang kamu lakukan adalah dosa besar. Jangan menambah dosa lagi, justru kamu harus memperbaiki segalanya,"


Ibunya adalah teladan bagi Rima, ia wanita tersabar dan terkuat yang pernah ada dan pernah ia temui selama ini. Keduanya berjalan bergandengan keluar dari tempat tersebut.


"Sudah pulang kalian?" tanya ayahnya dengan sikap seolah tidak terjadi apa-apa.


"Kalian bisu ya, apa tidak bisa menjawab?"


Teriakan pria itu memekakkan telinga sehingga membuat keduanya takut.


"Kamu kan sudah lihat sendiri kita baru pulang," jawab ibunya berusaha sabar.

__ADS_1


"Nah gitu kan enak," balas ayah Rima.


"Aku mau pergi selama 3 hari, kamu siapkan baju-baju ku," perintah suaminya.


"Kok lama, memangnya mau kemana?" tanya istrinya.


"Sudah jangan banyak tanya, nanti aku jawab kamu sakit hati," jawab pria itu.


Wanita itu sudah lelah berdebat, ia menuruti perkataan suaminya. Setelah membaringkan putrinya di kasur ia segera mengemas pakaian suaminya.


"Selama aku pergi, awas saja jika kamu macam-macam. Jangan kira aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakang ku," ucap suaminya.


"Maksud mu apa berkata begitu? Kapan aku pernah macam-macam?"


"Dasar kamu itu wanita j*l*ng. Aku bahkan tidak yakin jika Rima itu adalah anak ku,"


Air mata menetes dari sudut mata ibunya, Rima benar-benar tidak tahan dengan perlakuan kasar ayahnya. Entah mengapa pria itu begitu senangnya membuat hati ibunya terluka. Ibunya hanya diam, percuma berdebat dengan pria yang selalu merasa benar.


"Semua sudah aku siapkan, sekarang aku mau istirahat,"


"Tunggu, aku mau kamu memasakkan aku dan kekasih ku bekal. Jadi kita tidak perlu keluar uang lagi untuk makan,"


Mendengar kata kekasih dia begitu meradang namun berusaha bersikap tenang.


"Yang mau makan kamu dan kekasih mu, silahkan kamu masak sendiri. Aku sangat lelah," ucapnya datar.


"Berani ya kamu membantah ku, kamu..."


"Apa? Mau mengancam lagi? Bunuh saja aku sekalian, daripada hidup dengan pria seperti diri mu lebih baik aku mati,"


"Ibu..."


Rima memeluk ibunya, mata wanita itu telah banjir dengan air mata.


"Sudah Yah, cukup. Jangan sakiti ibu lagi. Lebih baik ayah pergi dari sini,"


Ketakutannya hilang bersama rasa sakit yang tengah ibunya rasakan. Ia mengusir ayahnya.

__ADS_1


"Dasar ibu dengan anak sama-sama kurang ajar, aku akan kembali. Ingat itu,"


Pria itu akhirnya pergi meninggalkan luka menganga di hati keduanya.


__ADS_2