Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 30 Merintis Usaha


__ADS_3

"Membersihkan kandang singa di kebun binatang," jawab Rama asal.


"Apa? Yang benar kamu Rama?"


Ibu dan istrinya tentu saja tidak percaya, namun dia bodo amat. Dia memilih masuk ke dalam kamarnya, karena dari tadi berkeliaran di luar membuat tubuhnya cukup letih.


"Aku capek Bu, mau istirahat dulu," ucap Rama.


Bu Yani tak ingin menginterogasi putranya lagi karena sepertinya dirinya benar-benar lelah. Rima mengekor suaminya ke dalam kamar.


"Apa kamu lapar? Kalau ingin makan biar aku siapkan," tawar Rima.


"Tidak perlu, tadi aku sudah makan. Sekarang aku hanya ingin istirahat,"


Sebenarnya tubuhnya sangat lelah, namun ketika melihat bayi mungil yang sedang tertidur lelap di sampingnya membuat dirinya ingin bermain dengannya. Dengan lembut ia mulai menciumi pipi Rendra yang gembul, lalu lanjut ke keningnya. Kemudian memainkan jari-jarinya yang mungil. Ia sangat merindukan bayi mungil itu.


Rima terpaku melihatnya. Hatinya begitu senang suaminya begitu menyayangi putranya. Jika ingat betapa Rama dulu tidak menginginkannya hati Rima terasa sakit. Beruntung masa-masa itu telah berlalu.


"Kamu rindu ya dengannya? Dia sudah dari tadi tidur, sudah saatnya bangun,"


"Benarkah, kalau begitu aku bangunkan saja ya,"


Rama mulai menciumi putranya dengan gemas, membuat anak itu merasa tidak nyaman dan menggeliat. Menit kemudian bayi itu benar-benar membuka matanya. Malam itu mereka menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya, sejenak ia lupa dengan kejadian yang menimpanya tadi.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali Rama keluar, dia pergi ke rumah orang tua Ghani. Nomor sepupunya belum juga dapat di hubungi, makanya ia memutuskan ke sana. Mungkin sepupunya ganti nomor atau kenapa, menurutnya pasti akan menghubungi orang tuanya.


Namun sesampainya di sana orang tuanya justru menanyakan kabar Ghani padanya yang membuat Rama bingung untuk menjawab. Terpaksa ia berbohong agar mereka tidak tahu. Ia pulang dengan tangan kosong, tidak ada informasi apapun tentang Ghani. Jujur ia tergiur dengan uang yang ia bawa karena jumlahnya sangat banyak. Namun tentu saja ia tidak ada niat membawanya kabur.


"Kamu dari mana saja, Rama?" tanya istrinya.


"Hanya keluar sebentar," jawabnya.


"Kenapa kamu selalu membawa tas itu? Apa isinya?" tanya Rima yang penasaran.


"Oh ini, tidak ada hanya peralatan bekerja ku," jawab Rama.

__ADS_1


"Barusan Ghani datang kemari, sepertinya dia mau mengajak mu kembali bekerja,"


"Apa? Lalu kemana dia sekarang?"


Rama terkejut, ternyata Ghani paham betul di mana ia berada.


"Aku tidak tahu, tapi dia bilang kamu suruh meneleponnya di nomor barunya. Katanya ponselnya rusak tidak bisa menyala, jadi tidak bisa menghubungi mu,"


Rama lega mendengarnya, ia sudah tahu pasti ada yang terjadi dengan sepupunya hingga tidak bisa di telepon. Dia memang tidak kembali lagi ke hotel karena takut tertangkap jadi memilih pulang kembali ke rumahnya saja. Setelah mendapatkan nomor Ghani, ia segera menghubunginya. Mereka lalu sepakat untuk bertemu di luar.


☆☆☆


"Akhirnya bisa ketemu juga, aku kira kamu kabur dengan uang itu," seloroh Ghani.


"Hahaha... inginnya sih begitu, tapi mengingat si bos yang pasti mencari ku ke lubang semut sekalipun, aku jadi tidak berani,"


Rama menanggapi candaan sepupunya dengan bercanda juga.


"Maaf ya Ghani, aku sudah tidak mau bekerja seperti itu lagi. Tenang saja, aku tidak akan pernah bercerita apapun tentang hal itu kepada siapapun," ucap Rama.


"Sayang sekali ya, padahal kamu cukup berbakat. Hanya saja kamu kadang terlalu penakut, hehe..."


"Iya, kemarin aku benar-benar takut. Makanya ku putuskan berhenti saja,"


Ghani menerima telepon dari bosnya, setelah berbicara sebentar Ghani berbicara lagi dengan Rama.


"Ayo ikut ke bank sekarang, kita di minta untuk mentransfer uang ini sekarang juga,"


Mereka pergi menuju bank dan segera mengirim uang tersebut.


"Kenapa cuma 450 juta dan 20 juta yang di kirim? 30 jutanya buat apa?" tanya Rama.


"Ya buat kita lah, ini 15 juta untuk mu 15 juta untuk ku. Sebenarnya jatah mu hanya 10 juta, tapi karena ini tugas terakhir mu tidak apa-apa aku bagi sebagian jatah ku," jawab Ghani.


"Ah yang benar, 15 juta buat aku?"


Rama masih belum bisa percaya semudah itu mendapatkan uang.


"Iya, ambil saja. Kamu buat usaha saja biar berguna, jangan buat foya-foya saja,"

__ADS_1


"Iya, iya aku tahu,"


Mereka pun berpisah di sana. Ghani harus kembali ke luar kota, ia harus segera mencari pengganti Rama. Sementara Rama langsung pulang ke rumahnya.


☆☆☆


Malam harinya.


"Rima, aku kan sudah tidak bekerja, bagaimana kalau kita membuat usaha saja?" usul Rama.


"Ide bagus itu, tapi kamu ingin membuka usaha apa?"


"Aku juga bingung, usaha apa ya?"


Keduanya tampak sama-sama berpikir.


"Kenapa tidak buka konter saja, jual pulsa, token, paket data dan lain-lain. Barang seperti itu kan tidak seperti makanan yang gampang kadaluarsa jika tidak laku,"


"Sepertinya ide bagus, kita cukup duduk menunggu pembeli datang,"


Rama tertarik dengan ide istrinya, sepertinya mudah dan tidak memakan tenaga.


"Ya sudah, besok aku akan mulai usahanya. Mungkin nanti aku bisa tambah dengan jual kartu perdana, casing handphone, dan barang lain yang tidak begitu mahal tapi banyak peminatnya," ucap Rama.


Sembari menyusui Rendra, Rima tampak mendampingi suaminya yang sedang mencari informasi tempat mengambil barang-barang yang berkenaan dengan usaha yang ingin mereka rintis.


☆☆☆


Keesokan harinya.


"Mau kemana suami mu Rima? Kok sepagi ini sudah berdandan rapi?" tanya bu Yani.


Rima pun segera menjelaskan tentang ide mereka untuk merintis usaha dengan hasil bekerja Rama sebelumnya. Bu Yani merasa senang, ia mendukung sekali rencana mereka. Bahkan ia juga bersedia membantu jika kekurangan modal usaha.


"Aku berangkat dulu ya,"


Rama segera berangkat menuju grosir barang-barang yang ia ingin beli. Ia merasa sangat antusias sekali. Ia sangat berharap sekali bisnisnya ini akan berhasil dan bisa memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.


Beberapa jam kemudian, Rama datang dengan banyak barang. Ia juga membeli etalase untuk memuat dagangannya. Ia mulai menyusun barang-barang tersebut ke dalam etalase. Ia tersenyum puas. Ia segera memesan banner untuk melengkapi bisnisnya. Rama memberinya nama "Rendra Cell".

__ADS_1


"Wah banyak juga barangnya, pekerjaan mu membersihkan kandang singa ternyata sangat besar ya gajinya sampai bisa buka konter seperti ini," ucap Bu Yani.


Rama ingin tertawa mendengarnya, ternyata jawabannya yang asal-asalan waktu itu di tanggapi ibunya dengan serius. Seandainya semua orang tahu yang ia kerjakan... Ah sudahlah, yang penting baginya sekarang ia mencoba untuk tetap berjalan di jalan yang lurus dan melupakan masa lalu yang kelam.


__ADS_2