Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 31 Rama Selingkuh?


__ADS_3

Keesokan harinya.


Rama mulai membuka usahanya, banner juga sudah di pasangnya. Pintu pagar juga ia buka lebar-lebar. Ia mulai promosi ke saudaranya, tetangga, teman nongkrong, teman sekolah dan beberapa orang yang ia kenal. Ternyata mereka menyambut baik promosi darinya.


"Wah boleh hutang dong, bayarnya pas gajian,"


"Selamat ya, tapi harga teman ya,"


"Wah jadi pengusaha sekarang, selamat ya. Pasti nanti aku mampir kesana,"


Beragam tanggapan dari mereka, ada yang menanggapi serius ada juga yang bercanda. Namun Rama senang atas tanggapan mereka semua.


Rama rajin sekali, ia membuka konternya sejak jam 7 pagi. Setiap pelaku bisnis selalu bersemangat di awal, namun lambat laun akan menjadi mengendor. Sepertinya itu bukan rahasia umum lagi. Hanya pebisnis yang rajin dan ulet yang bisa sukses. Semoga Rama menjadi salah satunya.


"Beli pulsa, Mas,"


"Iya mbak, yang berapa?"


"50 ribu saja, berapa harganya?"


"52 ribu, mbak,"


Gadis itu segera memberikan nomornya yang akan di isi pulsa.


"Tidak menyangka ya, orang tampan seperti Mas ini mau bekerja begini. Di bayar berapa, Mas?" tanyanya.


"Ini konter punya ku, Mbak. Lumayan bisa buat menghidupi anak dan istri serta membantu orang tua," jawab Rama.


"Oh kirain cuma kerja di sini. Wah masih muda ternyata sudah menikah, coba masih single aku mau loh di jadikan pacar,"


Gadis itu berkata dengan genit, ia mencoba menggoda Rama. Rama menatap gadis itu, memandangnya dari bawah hingga atas. Jika di bandingkan dengan istrinya dia masih kalah cantik. Hanya saja bodinya yang sekal dengan pakaian yang seksi sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya menjadi daya tariknya.


'Sepertinya lumayan, untuk mainan' batin Rama.


"Memangnya kalau sudah beristri kenapa?" tanya Rama.


"Ya kan takut ketahuan istrinya,"


"Ya jangan sampai ketahuan dong,"


Keduanya tampak saling tertarik, gadis itu meminta nomor Rama. Ternyata namanya adalah Maya, masih kuliah semester awal di perguruan tinggi sekitar sana. Mereka lanjut berkirim pesan melalui ponsel.


Rama memang masih labil, usianya yang masih muda membuatnya masih senang bermain-main. Sebentar sadar sebentar berbuat ulah lagi. Semua itu kembali kepada sifat masing-masing. Tidak ada pernikahan tanpa ujian. Tergantung kita menyikapinya bagaimana. Usia matang juga bukan ukuran sebuah pernikahan akan langgeng, pun begitu juga sebaliknya.

__ADS_1


☆☆☆


Satu bulan kemudian.


Rima merasakan suaminya sudah mulai berubah. Sekarang ia menjadi sedikit cuek terhadapnya bahkan kepada Rendra. Usaha yang ia bangun juga lebih sering ia yang menjaganya sembari momong Rendra. Suaminya menjadi sering keluar rumah tak tahu kemana.


"Rima, aku mau pergi deposit saldo dulu ya," pamit Rama.


"Iya, konternya aku tutup saja ya. Rendra sedang rewel karena sakit jadi aku tidak bisa menjaga konter,"


"Terserah,"


Rama meninggalkan istrinya yang mulai menutup konternya.


Tring... tring...


Rima mendengar suara ponsel berbunyi, namun ia yakin itu bukan ponselnya. Ternyata ponsel Rama yang ketinggalan. Ia segera mengambil ponsel itu. Betapa terkejutnya ia melihat ada pop up pesan dari seseorang wanita yang memanggil suaminya dengan sebutan sayang. Mereka ternyata sedang janji ketemuan.


"Rima... ambilkan ponsel ku yang ketinggalan,"


Suara Rama membuatnya tersentak. Tadinya ia ingin membuka ponsel suaminya, namun yang punya keburu sadar jika ponselnya tertinggal. Rima segera memberikannya kepada Rama. Ia lalu masuk setelah selesai menutup konter.


"Ya Allah, apakah Rama berselingkuh? Siapa wanita itu dan kenapa memanggilnya dengan sebutan sayang?"


☆☆☆


Di tempat lain.


Rama sedang asyik bermesraan bersama Maya. Mereka layaknya pasangan yang sedang di mabuk asmara. Rama sudah lupa jika dirinya sudah beristri dan mempunyai seorang anak yang selalu setia menunggunya di rumah.


"Sayang, belikan aku perhiasan dong," ucap Maya dengan manja.


"Boleh, kamu pilih sendiri mau yang mana ya,"


Mereka berboncengan menuju mall, Maya ingin membeli perhiasan yang di jual di sebuah mall. Sesampainya di sana wanita itu tengah asyik memilih sebuah cincin dan gelang.


"Berapa, mbak?" tanya Rama.


"Tiga juta tujuh ratus ribu, Mas,"


Rama menyodorkan uang sejumlah yang di katakan karyawan itu. Setelah selesai mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di dalam mall. Maya bergelayut manja di lengan kekasihnya.


"Terima kasih ya, Sayang. Kamu baik sekali," ucap Maya.

__ADS_1


Mereka terus saja bersenang-senang sampai lupa waktu.


☆☆☆


"Ya Allah, sudah sore kenapa Rama belum pulang juga ya? Jangan-jangan memang dia pergi dengan wanita tadi,"


Rima menunggu dengan perasaan sedih. Hari ini dia merasa sangat emosional. Rendra sangat rewel karena sedang sakit di tambah dirinya tidak sengaja membaca pesan mencurigakan di ponsel suaminya.


Klek...


Rama membuka pintu kamar.


"Kamu darimana saja sih? Kamu kan tahu Rendra sedang sakit, ia sangat rewel harusnya kamu membantu ku menjaganya bukan malah keluyuran tidak jelas. Pamit mau deposit tapi sampai jam segini baru pulang,"


Rima terang-terangan menunjukkan rasa kesalnya.


"Berisik sekali sih kamu. Menjaga anak itu tugas mu, buat apa aku membantu. Yang penting aku memenuhi kebutuhan kalian, beres kan," teriak Rama.


"Rendra itu anak kita, Rama. Kita harus mengurusnya bersama, kamu jangan egois begini," ucap Rima.


"Lalu apa mau mu? Jika kamu tidak suka, kamu bisa membawanya pergi," balas Rama santai.


Sakit hati Rima mendengar suaminya berkata seperti itu. Rama benar-benar telah berubah. Memegang banyak uang membuatnya bertindak semena-mena.


"Apa kamu mengusir kami?"


Dengan bercucuran air mata menahan rasa sakit Rima berusaha tegar.


"Kamu tahu aku tidak suka di atur. Aku tidak suka di ceramahin. Jika kamu tidak menerima aku apa adanya untuk apa kamu di sini?"


Rama membaringkan tubuhnya membelakangi istrinya yang masih terlihat menangis.


Rima mencengkeram sprei dengan kuat, ia berusaha meredam emosinya. Ia tidak ingin suaranya sampai membangunkan Rendra yang sudah dengan susah payah bisa tidur dengan tenang.


"Rama, apakah kamu sudah tidak mencintai ku lagi? Kenapa kamu tega selalu menyakiti hati ku?" tanya Rima lirih.


Rama menghela napas dengan kasar. Sebenarnya dia masih mencintai istrinya, hanya saja ia sedikit merasa bosan dan butuh hiburan. Apalagi Rima sekarang lebih sibuk dengan Rendra, jarang ada waktu berdua lagi.


"Apa perlu aku jawab? Hal itu tak lagi penting saat kita sudah berkeluarga. Sekarang kamu juga lebih sibuk dengan Rendra dan tidak peduli terhadap ku," jawab Rama.


"Apa? Jadi kamu merasa iri dengan anak mu sendiri? Jadi itu kenapa kamu memilih selingkuh?"


Rima sudah tidak bisa menahannya, ia harus memaksa suaminya mengaku.

__ADS_1


__ADS_2