Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 42 Rima Bekerja Lagi?


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Rima, aku harus pergi bertemu Ghani. Dia sedang ada proyek di sini," ucap Rama.


Rima menatap suaminya tajam. Ia heran dengan suaminya yang masih terus berhubungan dengan sepupunya itu, padahal pria itu memberi pengaruh negatif kepadanya.


"Apa kamu akan ikut menjual barang haram lagi?" tanya Rima tidak senang.


Rama lupa jika istrinya sudah tahu, seharusnya ia tidak mengatakannya padanya.


"Ehm, bukan begitu. Kita hanya bertemu karena kebetulan dia pulang saja," ucap Rama berbohong.


"Jangan bohong Rama, kamu tahu aku tidak menyukai hal itu,"


"Iya, tenanglah aku tidak akan bekerja kepadanya lagi,"


"Aku tidak akan pernah percaya pada mu lagi jika kamu ketahuan berbohong,"


"Iya, ya sudah aku pergi dulu ya. Assalamualaikum,"


Walaupun hati Rima tidak tenang, ia tetap melepas suaminya pergi.


"Waalaikum salam, hati-hati di jalan," ucap Rima.


Sebenarnya Ghani adalah sosok yang baik, hanya saja ia memberi pengaruh negatif terhadap suaminya sehingga membuatnya tidak menyukai keberadaannya. Ia sudah sangat senang dengan keputusan Rama berhenti bekerja kepadanya, sekarang justru mereka bertemu kembali. Rima hanya bisa berharap suaminya tidak terjerumus lagi. Walaupun uang yang di dapatkan memang besar, namun tidak ada artinya dengan dosa yang ia dapatkan.


☆☆☆


"Dari mana saja kamu, aku sudah menunggu mu dari tadi," ucap Ghani.


"Biasalah, kalau orang sudah punya istri ya bermesraan dulu dengan istrinya. Makanya cepat nikah biar tahu rasanya," ledek Rama.


"Sialan, aku bisa begituan tiap hari tanpa menikah tahu. Hahaha..."


Rama hanya bisa ikut tertawa. Ia jadi teringat peristiwa saat dirinya mabuk. Orang yang punya banyak uang seperti Ghani memang bisa mendapatkan semua yang di inginkan, termasuk urusan di bawah perut.


"Jadi gimana, kamu mau kan membantu ku seperti dulu?" tanya Ghani.


Rama tampak ragu, ia sudah berjanji kepada istrinya. Ia takut jika sampai ketahuan ia akan kehilangan Rima dan juga Rendra.


"Gimana ya, aku sudah terlanjur berjanji tidak akan bekerja seperti itu lagi,"

__ADS_1


"Hah, jadi kamu memberi tahu keluarga mu tentang pekerjaan yang kita lakukan?" tanya Ghani tak percaya.


"Tidak, hanya Rima yang tahu. Ia juga sebenarnya tidak tahu persis sih, hanya saja tahunya jika kita berbisnis barang haram. Memangnya keluarga mu tidak tahu? Apa mereka tidak curiga kamu punya banyak uang?" tanya Rima.


"Ya tahulah,"


Ghani hanya menjawab singkat, tanpa penjelasan lebih lanjut. Membuat Rama jadi sangat penasaran.


"Lalu mereka membiarkan kamu terus bekerja seperti ini?" tanya Rama.


"Sebenarnya mereka sudah berulang kali melarang. Tapi aku sudah tidak bisa lepas dari pekerjaan ini. Bos pasti akan sangat marah. Aku sudah berkecimpung di dalam bisnis ini sudah bertahun-tahun, aku sudah menjadi salah satu orang kepercayaan Bos,"


"Apa orang tua mu tidak marah?"


"Awalnya mereka sangat marah, mereka kuatir dengan ku. Tapi aku tidak ada pilihan lain selain pekerjaan ini. Ah sudahlah jangan membicarakan hal ini, itu membuat ku sedih,"


Terlihat sekali sorot mata Ghani di penuhi beban berat. Rama mengerti betul bagaimana rasanya menjadi tidak berdaya oleh keadaan.


"Maaf ya, Ghani," ucap Rama merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Apa kamu punya teman yang bisa di ajak ikut bersama ku, aku butuh orang di kota ini?"


Rama tampak berpikir. Walaupun teman tongkrongannya bukan anak baik, tapi mereka juga bukan pengedar barang terlarang. Agak susah mencari orang yang kompeten dan bisa di percaya. Karena salah-salah justru bisa menimbulkan kecurigaan polisi.


"Ya sudah tidak masalah. Aku harus pergi dulu ya, kalau tidak bos pasti marah,"


Setelah berpamitan, mereka berpisah. Rama segera ke tempat biasanya dia nongkrong.


☆☆☆


"Bu, kalau misalnya Rama belum dapat pekerjaan, bagaimana jika aku bekerja kembali?" tanya Rima.


"Lalu Rendra bagaimana Rima? Ibu mau saja menjaganya, tapi dia kan butuh asi mu,"


"Aku bisa memompanya, Bu. Atau jika dia mau aku bisa memberikan susu formula untuknya. Semakin hari ia makin tumbuh, keperluannya juga semakin banyak. Aku tidak ingin terus merepotkan Ibu, aku tidak nyaman,"


Bu Yani menyentuh pundaknya, wanita itu memang sangat perhatian.


"Ibu tidak masalah jika kamu tidak merasa capek, coba dulu kamu bicarakan dengan suami mu. Rendra juga tidak pernah rewel kok, yang penting susunya tidak telat, itu saja,"


Rima sangat senang mendapat dukungan dari ibu mertuanya. Ia harap Rama juga akan mendukungnya. Bukankah beban hidup itu menjadi tanggung jawab bersama, jika Tuhan tidak memberikan rezeki lewat suaminya mungkin saja di titipkan lewat dirinya.

__ADS_1


☆☆☆


"Rendra kemana?" tanya Rama saat baru tiba.


"Dia bersama ibu, di kamar kita soalnya barusan di pasang ac. Jadi tadi Rendra tidur di kamar ibu," jawab Rima.


Rama segera mengambil handuk untuk mandi, namun Rima menghentikannya.


"Rama, setelah mandi aku ingin berbicara penting dengan mu," ucap Rima.


"Ya, baiklah aku mandi dulu,"


Setelah 10 menit berlalu, Rama kembali dengan wajah yang sangat segar.


"Mau bicara apa, katakanlah?"


Rama duduk di depan istrinya.


"Bagaimana tadi? Apa dapat informasi pekerjaannya?" tanya Rima.


"Belum, sebenarnya Ghani tadi menawari pekerjaan untuk 2 hari ke depan. Tapi aku menolaknya. Kamu kan melarang ku bekerja seperti itu lagi," jawab Rima.


Rima mengatur napasnya agar stabil, ia merasa sedikit gugup untuk mengatakan keinginannya. Karena sebelumnya suaminya sangat menentang ia bekerja kembali.


"Bagaimana kalau aku ikut mencari kerja? Mana yang keterima duluan gitu. Karena kita kan tidak mungkin seperti ini terus. Kita harus memikirkan Rendra juga, semakin hari ia makin tumbuh dan membutuhkan banyak biaya,"


Rima menyusun kata sedemikian rupa agar suaminya tidak merasa tersinggung. Ia takut jika sampai menyulut emosi pria itu sehingga ia bersikap kasar lagi terhadapnya.


"Lalu Rendra bagaimana jika kamu bekerja? Dia masih butuh asi mu. Siapa yang akan merawatnya nanti?" tanya Rama.


"Aku bisa memompa asi ku. Atau jika dia mau kita bisa memberinya susu formula. Aku sudah bicara dengan ibu, beliau mau merawatnya selama aku bekerja. Lagian kamu juga kan bisa mengajaknya bermain,"


Rima berusaha meyakinkan suaminya.


"Ya terserah kamu, atur saja. Yang penting Rendra jangan sampai tidak terurus. Lalu kamu mau bekerja di mana? Apa kembali ke tempat kerja mu dulu?"


Tentu saja Rima tidak mungkin bekerja di sana, ia sudah beberapa kali membuat Anton kecewa. Ia masih punya malu untuk melakukan hal itu.


"Tidak, aku akan melamar di pabrik tempat ibu ku bekerja. Katanya sih sedang ada lowongan. Kalau kamu mengizinkan besok aku akan menaruh surat lamaran,"


"Ya terserah kamu saja, yang jelas aku Tidak menyuruh mu bekerja. Semua adalah keinginan mu sendiri,"

__ADS_1


Mata Rima berbinar, ia sama sekali tidak menyangka suaminya akan setuju semudah itu. Ia tersenyum senang.


__ADS_2