
Keesokan harinya.
Rima melakukan rutinitasnya setiap pagi. Ia tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri, ibu dan juga menantu walaupun sejak hari ini ia akan kembali bekerja. Ia membantu pekerjaan ibu mertuanya. Memandikan dan merawat Rendra serta menyiapkan kebutuhan suaminya.
"Sayang, nanti tidak boleh nakal ya. Aku akan bekerja keras untuk mu, nanti kita akan liburan,"
Rima mencoba berinteraksi dengan putranya yang menggemaskan itu. Sementara bayi itu hanya merespon ucapan ibunya dengan gumaman khas bayi.
"Kenapa kamu belum berangkat juga, katanya mulai bekerja hari ini?" tanya Rama.
"Tempatnya kan tidak begitu jauh, jadi nanti aku berangkat jam setengah 10. Karena jam kerjanya ku dari jam 10 sampai jam 6 sore," jawab Rima.
"Wah baguslah, jadi pagi masih bisa mengurus rumah dan Rendra,"
Senyum licik tampak di wajah Rama. Ia bisa ongkang-ongkang kaki selama istrinya bekerja. Urusan menjaga Rendra pasti ibunya yang handle.
"Iya, aku akan tetap menjalankan kewajiban ku. Tapi aku mohon kamu juga bisa membantu, karena aku kan sudah mulai bekerja,"
Rima menatap suaminya penuh harap.
"Iya, tenang saja. Selama tidak merendahkan posisi ku sebagai kepala keluarga akan ku bantu,"
Rama lalu pergi mandi dan sarapan. Setelah itu ia menemani Rendra sembari sibuk dengan gadgetnya.
"Aku berangkat dulu ya, itu asinya sudah aku taruh di freezer nanti tinggal kamu panasin saja jika Rendra mau minum,"
Rima lalu berangkat bekerja setelah berpesan kepada suaminya. Ia juga tak lupa meminta tolong ibu mertuanya untuk melihat Rendra saat bersama Rama. Ia takut suaminya teledor menjaga putranya itu.
☆☆☆
Tepat pukul 09.50 Rima sudah tiba di tempat kerjanya. Ternyata ia tidak di letakkan di kantor, melainkan di rumah pemilik tempat itu. Karena bosnya tidak ingin jauh dari keluarga, ia menjadikan kantor dan rumahnya menjadi satu.
Pak Agung sudah mempunyai istri bernama bu Dita, mereka memiliki seorang putra bernama Daren yang masih berusia 5 tahun. Mereka adalah keluarga yang harmonis.
"Kamu sudah datang, Rima. Apa kamu mahir menggunakan laptop?" tanya pak Agung.
"Insyaallah saya masih ingat, saya janji akan cepat belajar, Pak," jawab Rima.
Karena kantor sudah lama tidak punya karyawan sehingga terlihat berantakan dan sedikit kotor, jadi Rima membersihkannya dulu agar nyaman saat bekerja. Ia bertanya kepada bosnya mana barang yang masih terpakai atau tidak. Pak Agung senang ternyata Rima terlihat sangat rajin sekali.
__ADS_1
"Tolong kamu kirim file-file ini ke email saya ya," titah pak Agung.
Rima segera melakukan pekerjaannya. Awalnya dia masih di bimbing namun lama-kelamaan dia sudah bisa melakukannya sendiri.
☆☆☆
"Hei Rama, kok kamu tiap hari nongkrong di sini sih? Memangnya istri dan orang tua mu tidak menyuruh mu kerja?" tanya Dimas.
"Aku sih santai, kan istri ku sekarang yang bekerja. Anak ku di urus ibu, jadi aku bisa nongkrong,"
Rama tersenyum penuh kemenangan.
"Jambrettt... Enak sekali hidup mu itu. Istri sedang kerja keras kamu malah keluyuran begini. Memang ibu mu tidak tanya kamu keluar kemana?"
"Ya tanyalah, aku tinggal bilang cari info pekerjaan. Beres kan, semua aman terkendali, hahaha,"
Semuanya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya itu. Dari semua yang ada di sana, hanya Rama yang telah menikah. Usia mereka rata-rata seumuran, namun semua masih single sehingga masih belum di bebani tanggung jawab untuk mencari nafkah.
"Aku heran dengan Rima, dia kan cantik, baik, pekerja keras lagi. Kok bisa mau dengan mu yang tampangnya biasa saja, walaupun kamu kaya tapi milik orang tua, pekerjaan juga tidak punya. Lalu apa yang dia lihat di diri mu?" ledek Dimas.
"Dia kan cinta mati pada ku, apalagi sudah tahu rasanya senjata ku, langsung klepek-klepek dia,"
"Ya percaya, buktinya si Rendra sudah brojol. Mana lahirnya cepat banget lagi belum sampai 9 bulan sudah keluar, pasti sebelum nikah orang tuanya sudah nyicil duluan," sahut yang lain.
"Tahu saja kamu,"
Ya begitulah kehidupan Rama, hampir tiap hari waktunya ia habiskan dengan nongkrong yang tidak berfaedah. Ia lebih senang bersama dengan temannya daripada menemani Rendra yang sebenarnya lebih butuh kehadirannya.
☆☆☆
"Oek... oek... oek..."
Rendra dari tadi terus menangis, Bu Yani sudah mencoba memberinya susu formula tapi anak itu menolaknya. Sepertinya dia sangat kehausan sekali.
"Aduh, bagaimana ini Rendra menangis terus. Rama kemana sih?"
Bu Yani merasa kesal dengan Rama, tadi dia pamit hanya pergi sebentar tapi sudah hampir sore dia belum datang juga. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi putranya.
"Halo Rama, kamu kemana saja sih? Ini Rendra rewel, cepat kamu pulang sekarang," titah bu Yani.
__ADS_1
Wanita itu langsung mematikan panggilan dan kembali sibuk dengan Rendra. Ia sudah membuatkan susu baru yang lebih kental namun juga tidak di minumnya. Bu Yani bingung harus berbuat apalagi.
Krekkk...
Rama baru saja datang dan langsung menghampiri mereka.
"Rendra rewel kenapa, Bu?" tanya Rama.
"Dia sepertinya haus sekali, dari tadi ibu beri susu formula dia tidak mau," jawab bu Yani.
"Oh, sebentar aku panaskan asi Rima dulu,"
Rama segera mengambil asi istrinya di dalam freezer. Ia panaskan sebentar lalu memberikannya kepada putranya dalam keadaan hangat-hangat kuku. Rendra awalnya meminumnya sedikit, lalu semakin banyak sampai habis tak bersisa satu botol.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau istri mu sudah menyiapkan asi di kulkas. Tahu begitu kan tidak sampai Rendra rewel karena kehausan," ucap Bu Yani.
"Maaf Bu, aku lupa,"
Rama menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Ya sudah, segera siapkan air hangat untuk mandi anak mu. Hari sudah sore, saatnya ia mandi setelah itu ajaklah dia bermain," titah bu Yani.
Rama segera melaksanakan perintah ibunya.
☆☆☆
"Kamu lumayan cepat belajar, semoga kamu betah kerja di sini," ucap Pak Agung.
"Terima kasih, Pak. Saya akan bekerja dengan rajin,"
Dari tadi sebenarnya Rima memikirkan Rendra, walaupun ia tetap fokus bekerja namun perasaannya sebagai ibu tidak dapat di bohongi. Namun ia sedikit tenang setelah tahu anaknya tidak rewel dari pesan yang mertuanya kirim.
"Rima, hari ini tolong lembur sebentar ya sampai semua surat ini selesai kamu kirim ke semua email rekan bisnis kita,"
Rima melihat jam di tangannya hampir menunjukkan pukul 18.00 namun pekerjaannya memang masih banyak. Ini adalah hari pertamanya bekerja, jadi dia harus menunjukkan yang terbaik yang ia bisa.
"Baik Pak, akan saya selesaikan segera,"
Dengan penuh semangat ia mengerjakan pekerjaan yang tersisa. Walaupun ia ingin cepat pulang namun ia harus bekerja secara profesional agar bosnya merasa senang.
__ADS_1