
Sepanjang hari Rama terus saja berpikir. Ia tidak bisa menerima kenyataan bila Rima pergi meninggalkannya. Bukan karena rasa cinta, melainkan ia tak ikhlas jika istrinya hidup bahagia setelah mereka berpisah. Iya, pikirannya memang picik, usia yang masih muda mungkin salah satu sebab ia bersikap begitu. Namun penyebab terbesar sebenarnya adalah karena dia menganggap hidupnya menjadi seperti ini karena Rima.
Tanpa ia mau berkaca jika ialah penyebab kejadian ini terjadi. Ia lupa bahwa dirinya yang sudah membujuk Rima untuk berhubungan badan saat mereka masih berpacaran. Ia yang menjebak Rima hingga harus menyerahkan keperawanannya. Dan sekarang ia hanya memojokkan Rima atas semua yang telah terjadi.
"Apa sebaiknya aku berdamai saja ya, aku bisa berpura-pura sedih dengan ini semua. Tidak masalah aku mengiba padanya, setelah dia percaya akan ku buat ia menyesal telah berbuat ini semua kepada ku,"
Rama tersenyum dengan licik, di kepalanya sudah tersusun semua skenario yang harus segera ia mainkan.
"Dengan begitu aku akan membuat Rima pulang kembali ke sini, dan orang tua ku pasti tidak akan marah lagi pada ku,"
Ia bergegas mengambil kunci motor, tanpa pamit kepada ibunya ia mulai melajukan motornya ke tempat orang tua istrinya.
Ketika akan sampai di sana, ia mengubah mimik wajahnya supaya terlihat sedih. Bahkan ia membayangkan saat orang tuanya meninggal agar lebih menghayati perannya. Ia senang ketika melihat Rima tengah bermain dengan Rendra di depan teras, sehingga ia tidak perlu susah payah mengetuk pintu.
"Rima, aku datang lagi," ucapnya di buat sesedih mungkin.
"Rama, untuk apa kamu datang lagi kemari? Bukankah aku sudah bilang kemarin, aku tidak akan kembali jika kamu tidak merubah sikap mu. Aku lelah kamu selalu tidak menghargai perasaan ku, kamu selalu menyiksa jiwa dan raga ku," ucap Rima mulai terisak.
Rama menatap istrinya dengan intens.
"Bisakah kita bicara di dalam, tidak enak jika sampai kedengaran tetangga," pinta Rama.
Karena terlalu emosi Rima sampai lupa jika sekarang mereka masih berada di teras. Wanita itu segera masuk di susul oleh suaminya. Ia duduk di atas kasur, Rendra ia biarkan bermain di kasur.
"Aku minta maaf Rima, aku sadar aku banyak salah terhadap mu selama ini. Aku stres karena selalu saja kehilangan pekerjaan, aku malu karena sebagai pria tidak bisa bertanggung jawab kepada mu dan juga Rendra,"
Rama memperhatikan pancaran sinar mata istrinya sudah berubah lembut, tidak ada api kemarahan lagi di sana. Rama senang, rayuannya berhasil. Ternyata menaklukkan hati Rima tidak sesulit yang ia bayangkan.
"Tapi tidak seharusnya kamu memperlakukan aku dengan kasar, kita bisa membicarakannya," ucap Rima melunak.
"Iya maaf, aku salah. Aku ingin memperbaiki semua, aku tidak ingin kehilangan kamu dan Rendra. Aku mohon pulanglah bersama ku sekarang," pinta Rama mengiba.
__ADS_1
Rima masih terlihat ragu, begitu cepat suaminya berubah. Ia sedikit curiga, namun perasaan itu segera di tepisnya. Pun jika Rama hanya berpura-pura, ia berharap bisa menjadikannya nyata. Yang terpenting saat ini adalah Rendra, putranya layak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Apakah kamu benar-benar ingin kita kembali?" tanya Rima untuk memastikan
"Tentu saja, apa kamu tidak lihat aku sampai memohon seperti ini pada mu. Aku ingin keluarga kecil kita tetap utuh, aku sayang kalian berdua,"
Rama menggenggam tangan Rima dan menatap kedua maniknya yang indah. Ada getaran di hati Rima, ya gadis itu memang masih mencintai suaminya. Mungkin Rama juga sebenarnya masih punya rasa terhadap gadis itu, namun egonya lebih besar dari perasaannya itu.
"Baiklah, demi Rendra dan demi janji suci yang kita ikrarkan di depan penghulu, aku akan memberi satu kesempatan lagi kepada mu. Tolong jangan pernah sia-siakan, karena ini kesempatan terakhir mu,"
Mereka segera mengemas barang-barang. Rima memberi tahu ibunya melalui telepon jika ia akan kembali hidup bersama suaminya, ia menitipkan kunci kepada ayahnya. Mereka akhirnya pulang kembali ke rumah orang tua Rama.
☆☆☆
"Assalamualaikum,"
Rima senang, rencananya dengan ibu mertuanya berhasil dalam waktu yang sangat singkat. Bu Yani menyambut menantu dan cucunya dengan suka cita.
Bu Yani merangkul Rima lalu mengambil Rendra dari gendongan menantunya itu. Ia sangat merindukan bayi mungil itu, apalagi dia sudah bisa di ajak bercanda sekarang.
"Rendra Sayang, ikut nenek ya. Hari ini kamu sama nenek saja ya,"
Bu Yani mengajak cucunya bicara, Rendra hanya tersenyum dan bergumam tidak jelas menanggapinya.
"Rima, biarkan Rendra bersama ku ya. Kamu istirahat saja," titah bu Yani.
"Iya Bu, aku mau beres-beres dulu. Jika dia mau minum berikan saja pada ku, Bu,"
Rima segera meletakkan pakaian yang ia bawa di dalam lemari. Sementara suaminya mengekor di belakang. Ia mulai mengendus leher istrinya, rambutnya yang wangi membangkitkan gelora nafsunya yang beberapa hari sudah tidak tersalurkan.
"Rama hentikan, geli tahu,"
__ADS_1
Rima berusaha menghindar, bulu kuduknya berdiri akibat ulah suaminya itu.
"Apa kamu tidak merindukan ku? Apa kamu betah jauh dari ku ya?"
Rama berbisik di telinga istrinya, hembusan napasnya memberi kehangatan tersendiri untuk Rima. Ia seperti tersengat listrik, bagian sensitifnya menegang.
"Ini masih terang, ibu pasti akan datang kesini sebentar lagi," jawab Rima.
"Baiklah, nanti malam kita akan melakukannya. Aku ingin kamu memakai baju yang transparan, apa itu namanya ehm..."
Rama tampak berpikir.
"Lingerie?"
"Ya itu dia, lingerie. Semenjak Rendra lahir kita jarang ada waktu berdua. Kita akan melakukannya sepuasnya nanti malam,"
Rama mengerling nakal ke arah istrinya membuat wajah Rima merona. Memang setelah melahirkan hubungan intim mereka tidak sehangat dulu, itu karena dia sudah sangat lelah dengan pekerjaan di rumah serta merawat Rendra sehingga tenaganya terkuras habis. Itu membuat mereka kurang maksimal dalam melakukan hubungan intim.
"Ya sudah, aku mau keluar dulu. Aku mau cari info pekerjaan, sapa tahu teman-teman ada yang tahu,"
"Ya, semoga saja segera dapat, amin,"
Rama pun keluar rumah, ia pergi nongkrong dengan temannya. Dia memang bertanya tentang pekerjaan, tapi tujuan utamanya sebenarnya hanyalah nongkrong. Jadi jika ada yang melihatnya di sana, ia punya alasan karena temannya menjadi saksinya.
☆☆☆
"Bu... Ibu bilang bagaimana kepada Rama kok dia bisa secepat itu berubah?" tanya Rima ketika suaminya telah pergi.
"Hahaha... aku berkata jika kamu serius ingin berpisah, jadi jika Rama masih menginginkan kalian harus bertindak cepat. Aku tidak menyangka dia secepat itu berubah, karena mendengar cerita mu tadi sepertinya dia kasar sekali," jawab bu Yani.
"Iya Bu, aku harap kali ini serius. Karena jika dia mempermainkan aku lagi, sepertinya aku akan benar-benar memilih berpisah," ucap Rima.
__ADS_1