Takdir Cinta Rama Dan Rima

Takdir Cinta Rama Dan Rima
Bab 53 Kecelakaan


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Sikap Rama seminggu ini mulai membaik, walaupun terkadang ia tidak konsisten. Berbuat baik memang dari kebiasaan selain karena memang sifat.


"Rima, aku minta uang lagi dong. Nanti aku ganti, hari ini aku kan gajian,"


Rima yang sangat bersyukur karena Rama sudah mau bekerja segera memberi uang 100 ribu kepada suaminya itu.


"Ini, ambillah. Hati-hati kalau bekerja,"


Rama sangat senang, segera di ambilnya uang itu dan mengucapkan terima kasih kepada istrinya. Lalu berpamitan untuk berangkat kerja.


"Aku senang sekali Rama betah bekerja di sana walau pun pekerjaannya berat, Bu," ucap Rima.


"Iya Sayang, ibu juga senang. Apalagi sikapnya banyak berubah, ia menjadi lebih baik dan lebih peduli sekarang," balas bu Yani.


Mereka terus bercakap sampai bayangan Rama tidak terlihat lagi di pandangan mata mereka.


☆☆☆


"Wah pagi sekali kamu datang, Rama," sapa Sabar.


"Hari ini kita kan gajian, jadi aku semangat,"


Rama tersenyum, wajahnya terlihat antusias sekali.


"Oh iya aku lupa, ini kan bayaran pertama mu di sini ya. Semoga apa yang kita terima berkah ya, amin,"


"Amin,"


Rama turut mengamini doa Sabar.


Mereka terlihat bersemangat sekali. Mereka terus saja mengobrol sampai semua kuli datang. Setelah waktunya masuk, mandor segera memimpin mereka untuk bekerja.


"Yang semangat bekerjanya, hari ini kalian kan menerima bayaran," ucap sang mandor.


"Siap..."


Semua serentak menjawab sudah seperti barisan tentara yang sedang latihan saja.


Mereka mulai bekerja dengan semangat 45, sudah terbayang uang yang bisa mereka terima untuk kerja keras mereka selama seminggu ini.


"Biasanya untuk apa bayaran kamu, Sabar?" tanya Rama.


"Aku biasanya hanya mengambil 50 ribu untuk keperluan ku selama seminggu ke depan, sisanya aku berikan untuk istri ku agar bisa dia kelola," jawab Sabar.


"Hanya 50 ribu yang kamu ambil?" tanya Rama tidak percaya.


Pria itu mengangguk sembari tersenyum ke arahnya.


"Kedua adik ku sekolah, nenek juga sakit-sakitan jadi kadang harus ke dokter. Aku harus hemat agar semua kebutuhan bisa terpenuhi," jelas Sabar.


"Kamu hebat, aku kagum pada mu Sabar,"


Rama tulus mengatakannya. Ia malu, ia sering hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak perduli dengan keluarganya. Bahkan ia rela memanfaatkan istrinya demi kepentingannya sendiri.


☆☆☆


Sore harinya.


"Kamu terima berapa, Sabar?"

__ADS_1


Rama penasaran dengan bayaran temannya.


"Ya sama saja, kita kan sama-sama kuli,"


Sabar menunjukkan upah yang ia terima.


"Aku kira berbeda orang lama sama orang baru," ucap Rama.


"Yang membedakan hanya tukang dan kuli, tukang lebih banyak beberapa puluh ribu dari kita,"


Rama mengangguk-anggukkan kepalanya, ia baru tahu karena memang tidak pernah bekerja jadi kuli sebelumnya.


☆☆☆


"Sudah selesai magrib kok Rama belum pulang, Rima?" tanya bu Yani.


"Mungkin dia mampir ke tempat temannya lagi, Bu,"


"Kebiasaan yang buruk, harusnya kalau tidak langsung pulang dia itu memberi kabar,"


Bu Yani terlihat kesal, Rama sering membuat orang rumah kuatir karena tidak memberi kabar jika pulang terlambat.


Beberapa saat kemudian terdengar suara motor Rama yang baru datang. Keduanya langsung menunggu di ruang tamu.


"Assalamualaikum,"


Rama menyalami kedua wanita yang menyayanginya tersebut.


"Waalaikum salam, kamu kemana saja sih Rama? Kebiasaan kamu itu pulang telat tidak memberi kabar," ucap Bu Yani, menumpahkan kekesalannya.


"Maaf Bu, hari ini aku kan gajian jadi pulangnya agak telat,"


Rama mengeluarkan amplop upah yang tadi ia terima.


Rama memberikan 200 ribu kepada ibunya.


"Untuk istri mu saja, ibu kan sudah dapat dari ayah mu,"


Bu Yani mengembalikan uang pemberian Rama.


"Tidak, ini untuk ibu. Ini untuk Rima,"


Rama memberikan istrinya 300 ribu.


"Upah ku hanya 700 ribu, jadi maaf hanya bisa memberi kalian segitu,"


Rama baru sadar, mencari uang halal dan berkah itu tidak mudah. Sekarang ia bisa lebih menghargai uang dan tidak menghambur-hamburkannya lagi untuk hal tidak penting.


"Ya sudah ibu ambil, terima kasih ya. Semoga berkah dan tetap semangat bekerja," ucap bu Yani.


"Bukan di lihat berapa besar yang bisa kamu beri, yang penting keikhlasan mu untuk memberi, dan uangnya halal,"


Rama bersyukur istri dan ibunya tidak meremehkan dirinya walau yang ia beri tidak banyak.


☆☆☆


Keesokan harinya.


Seperti biasa wajah Rama tampak bersinar setiap akan berangkat kerja. Pekerjaan yang dulu ia pandang sebelah mata sekarang justru ia harapkan bisa menyambung hidup keluarganya. Awal bekerja terasa sangat berat sampai dirinya hampir saja menyerah, beruntung temannya Sabar selalu memberinya semangat.


"Rama, hari ini istri ku masak lebih banyak. Ini untuk kamu,"

__ADS_1


Sabar memberikan kotak makan kepada Rama.


"Kenapa repot-repot sekali, untuk kalian saja,"


Rama bermaksud memberikan kembali kotak itu. Keluarga Sabar pasti lebih membutuhkan daripada dirinya.


"Ambil saja, keluarga ku ikhlas memberikannya untuk mu. Mereka senang kepada mu, katanya kamu baik,"


Rama menerima pemberian Sabar, ia terharu hingga matanya berkaca-kaca. Pemberian kecil yang ia berikan ternyata sangat bermakna untuk orang lain.


"Terima kasih ya," ucap Rama.


"Sama-sama, ayo kita siap-siap bekerja,"


☆☆☆


Beberapa saat kemudian.


"Rama, tolong ambilkan ember itu," salah satu tukang meminta tolong.


Rama berjalan mengambil ember di belakangnya.


"Butuh berapa, Pak?" tanya Rama.


"Dua saja, langsung kamu ikat ke atas ya,"


Rama mulai mengikat ember itu dan menariknya ke atas.


"Rama, ayo cepat ke sini. Aku butuh bantuan mu," teriak Sabar.


"Iya, sebentar lagi selesai,"


Rama segera menyelesaikan pekerjaannya. Karena terburu-buru kakinya tersandung batu hingga ia terjatuh.


"Rama kamu tidak apa-apa?" tanya Sabar dari kejauhan.


"Aku cuma tersandung kok,"


Brukkk..


"Akh..." Rama berteriak kesakitan.


Semua orang menoleh ke arahnya. Mereka berlarian setelah tahu ada yang terluka.


"Astaga, kakinya terluka. Pasti patah itu," ucap seorang kuli.


"Rama, kenapa bisa begini?"


Sabar membantu menopang badan Rama yang terlihat lemah karena menahan sakit. Ternyata ember berisi semen yang tadi ia ikat ke atas talinya terputus sehingga tepat mengenai kaki kirinya yang tersandung baru.


"Ada apa ini Kok berkumpul di sini semua?" tanya pak mandor.


"Itu ada yang terluka, Pak," jawab mereka.


"Astaga Rama, kok bisa seperti ini. Ayo bantu bawa dia ke rumah sakit,"


Mereka bergotong-royong membawa tubuh Rama ke dalam mobil dan langsung menuju rumah sakit. Mandor dan Sabar menemani Rama ke sana.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya mereka saat Rama selesai di periksa.


"Pasien mengalami cidera otot yang cukup parah, kita masih harus melakukan rontgen untuk melihat ada tulang yang patah atau tidak. Yang jelas pasien harus beristirahat total sementara waktu,"

__ADS_1


Mereka terlihat sedih. Baru juga menerima upah, Rama sudah mendapat musibah seperti ini.


__ADS_2