
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00.
Rama baru saja pulang dari nongkrong seharian. Ia tidak mencari pekerjaan, ia keluar rumah agar tidak mendengar omelan ibunya.
"Rama, Rima kenapa kok belum pulang ya?" tanya bu Yani.
"Memangnya dia kemana?"
Dahi Rama berkerut.
"Tadi sih pamit ke rumah ibunya, tapi sampai sekarang belum datang,"
Sejak tadi Bu Yani sangat kuatir, Rima pergi tidak pernah selama ini walau ke rumah orang tuanya.
"Mungkin dia ingin menginap di sana, biarkan saja Bu. Nanti juga pulang sendiri,"
Rama masuk ke dalam kamar, meninggalkan ibunya yang masih terpana dengan ucapannya. Bu Yani tidak habis pikir bagaimana mungkin putranya seolah tidak peduli dengan ketiadaan anak dan istrinya.
"Aku yakin dia pasti akan segera pulang, dia tidak mungkin bertahan tinggal di kosan yang sempit dan pengab. Jangan harap aku datang untuk menyuruh mu kembali, mimpi," gumam Rama.
Awalnya dia asyik bermain game dan berselancar dengan akun medsosnya. Namun lama-kelamaan ia merasa bosan, ia merasa sepi dengan tidak adanya istri dan anaknya. Tapi ia berusaha menahannya, ia mengalihkannya dengan tidur.
Satu jam kemudian, ia terbangun lagi dan menatap jam di dinding. Sudah jam 10 lebih tapi Rima dan Rendra belum pulang juga, hatinya jadi tidak tenang namun gengsinya terlalu besar untuk menghubungi istrinya.
"Kurang ajar sekali sih Rima itu, pergi membawa Rendra tidak pamit dan memberi kabar," umpat Rama.
Sepanjang malam ia gelisah, ia juga tidak tahu mengapa hatinya seperti ini. Harusnya ia senang orang yang sering membuatnya emosi tidak tidur bersamanya malam ini. Namun ada ruang kosong di hatinya sepeninggal anak dan istrinya. Tapi tentu saja dia tidak mungkin mengakuinya, egonya terlalu besar untuk itu.
☆☆☆
Sementara itu di sudut kota yang sama.
Rima juga tidak dapat tidur dengan nyenyak, hatinya juga gelisah. Sebenarnya ia tidak enak dengan mertuanya namun ia juga sudah lelah menghadapi sikap suaminya yang semaunya sendiri.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Apakah keputusan ku sudah benar? Berilah hamba mu ini petunjuk ya Robbi," Rima berdoa kepada penciptanya.
Rendra terbangun, ia mulai menyusuinya. Dia sudah membawa sedikit perlengkapan anaknya, dia akan mengambilnya lagi jika memang di butuhkan. Dirinya sudah bertekad tidak akan pulang jika Rama tidak menjemputnya dan berjanji untuk berubah lebih baik.
☆☆☆
__ADS_1
Keesokan harinya.
Suara adzan subuh berkumandang, Bu Yani bangun seperti biasanya. Setelah shalat subuh ia melanjutkan aktivitasnya. Memasak, menyapu dan lain-lain. Ia melihat pintu kamar anaknya yang masih tertutup rapat.
"Apa Rima belum juga pulang ya? Tidak biasanya dia begini, apa dia bertengkar dengan Rama?"
Berbagai pertanyaan muncul di dalam benaknya. Untuk menjawab rasa penasarannya ia harus bertanya langsung kepada putranya itu.
Tok... tok... tok...
"Rama, bangun. Rama..."
Bu Yani mengetuk cukup keras membuat Rama sangat terganggu. Dengan rasa malas dan setengah sadar ia berjalan membuka pintu.
"Ada apa, Bu? Ini masih pagi kenapa sudah membangunkan ku?" tanya Rama kesal.
Bu Yani melongok ke dalam kamar.
"Kamu itu anak istri tidak ada justru enak tidur, bukannya menjemput mereka pulang kembali. Rima tidak pernah seperti ini sebelumnya, jangan-jangan kamu sudah menyakitinya lalu mengusirnya dari sini, iya?"
Perasaan bu Yani tidak nyaman karena tidak melihat cucu dan menantunya di rumah. Ia tidak mungkin berdiam diri, ia takut mereka bertengkar sehingga Rima memutuskan pergi.
Rama menutup pintu kamarnya dan melanjutkan tidurnya lagi. Semalam ia tidak dapat tidur, ia baru bisa tidur dengan nyenyak setelah pagi akan menjelang.
"Dia kira aku akan menjemputnya, enak saja. Dia pergi atas kemauannya, biarkan dia kembali atas keinginannya sendiri. Membuat susah orang saja. Dia kira aku tidak bisa hidup tanpanya apa," guman Rama.
☆☆☆
"Sayang bagaimana tidurnya semalam cucu nenek, nyenyak ya?"
Bu Santi yang baru pulang kerja mengajak Rendra berbicara. Rendra sudah bisa menangkap pembicaraan orang padanya. Dia akan tertawa sebagai bentuk responnya.
"Apa kamu tidak menghubungi ibu mertua mu, Nak?" tanya bu Santi.
"Belum Bu, aku tidak tahu harus bilang apa," jawab Rima.
Bu Santi menghela napas dalam-dalam kemudian ia hembuskan perlahan.
"Dia pasti bertanya-tanya, kamu harus menceritakan semua padanya agar tidak ada kesalah pahaman,"
__ADS_1
Rima menunduk, ia tidak tega untuk mengatakannya karena selama ini ibu mertuanya sangat baik padanya. Ia takut darah tinggi bu Yuni kambuh jika ia bercerita tentang kejadian yang menimpanya.
"Aku takut menyakiti hatinya, Bu. Aku takut darah tingginya kambuh jika mendengar semuanya,"
"Lalu apa rencana mu untuk ke depannya?"
"Jujur aku masih bingung, aku berharap Rama akan sadar dan menjemput kami,"
Sejujurnya ia tidak ingin putranya tumbuh tanpa sosok seorang ayah, ia berharap suaminya bisa merubah sikap. Ia rela membantu suaminya mencari nafkah asal dia menjadi pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab.
"Lalu bagaimana jika dia tidak menjemput kalian?" tanya bu Santi.
"Berarti dia sudah tidak menginginkan kami. Itu tandanya perpisahan adalah yang terbaik, Bu. Untuk apa bertahan dengan orang yang tidak pernah menganggap dan menghargai kita," jawab Rima.
"Tapi bagaimana jika dia mengambil Rendra? Apa kamu sudah siap kehilangan putra mu, Rima?"
"Apa mungkin dia melakukannya, selama ini dia sudah tidak peduli lagi,"
"Semua hal bisa saja terjadi, Nak. Kamu lihat saja ayah mu itu, bahkan dia menganggap diri mu bukan anak kandungnya padahal jelas-jelas ibu melakukannya dengannya. Dulu ibu tidak pernah berpikir seperti itu, ayah mu baik waktu kita belum menikah. Semenjak kamu lahir sikapnya berubah jadi kasar sampai saat ini,"
Rima jadi ragu. Dia tidak mau sampai kehilangan putranya, ikatan batin mereka sangat kuat. Mereka tidak dapat di pisahkan, apalagi Rendra masih bayi dan butuh asi serta kasih sayang seorang ibu.
"Aku bingung, Bu. Aku harus bagaimana? Di satu sisi aku tidak tahan hidup bersama Rama, tapi jika dengan berpisah aku harus kehilangan Rendra aku juga tidak sanggup,"
"Coba berikan waktu kepada Rama, biarkan dia berpikir juga. Tapi sebaiknya kamu memberi kabar mertua mu agar tidak kuatir, katakan seperlunya saja tidak perlu mendetail,"
Bu Santi memberi saran yang menurutnya terbaik untuk pernikahan putrinya.
"Iya, Bu. Aku akan segera mengabari mertua ku. Maaf ya Bu, aku sudah merepotkan. Sekarang aku terpaksa menumpang di sini dulu,"
Rima merasa bersalah karena telah menambah beban ibunya.
"Tidak apa-apa Sayang, ibu justru senang kamu di sini. Adik mu jadi ada teman saat ini bekerja masuk malam,"
Jedder...
Tiba-tiba pintu di buka. Pak Tono sudah berdiri di ambang pintu.
"Heh kenapa kamu di sini pagi-pagi sekali, kamu kan punya suami. Apa jangan-jangan semalam kamu menginap di sini ya?"
__ADS_1