
Keesokan harinya.
Rima bangun pagi seperti biasanya. Ia membantu ibu mertuanya memasak dan membersihkan rumah. Dia bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa kepada dirinya.
"Rima, nanti kamu bawa bekal saja jika bekerja biar lebih hemat. Uangnya bisa kamu tabung untuk kebutuhan mu serta anak dalam kandungan mu," ucap ibu mertuanya.
Rima diam sejenak, ia bingung bagaimana untuk menjawabnya. Rama telah berkata dengan tegas semalam jika mulai hari ini dia sudah tidak di perbolehkan bekerja kembali. Ia takut untuk membantahnya.
"Aku sudah berhenti bekerja, Bu," jawab Rima.
"Loh, kenapa berhenti? Apa kehamilan mu membuat kamu tidak kuat bekerja ya?" tanya bu Yani.
Rima menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa?"
"Rama menyuruh ku berhenti, katanya dia yang akan bekerja,"
"Oh baguslah jika dia sadar, memang seharusnya kamu istirahat di rumah saja,"
Bu Yani tersenyum kepada menantunya itu. Walaupun bu Yani tidak punya seorang putri karena adik perempuan Rama adalah anak tirinya, namun ia bisa merasakan susahnya hamil muda tapi masih harus bekerja.
"Bu, aku berangkat dulu," pamit Rama.
"Mau kemana, Rama?" tanya ibunya.
"Kerja," jawab Rama ketus sembari menatap istrinya.
Di tatap seperti itu membuat Rima tertunduk, kini dirinya mulai takut dengan perlakuan suaminya itu.
☆☆☆
"Assalamualaikum," Rima masuk ke dalam rumah ibunya.
"Waalaikum salam, loh kok kamu tidak bekerja Nak? Apa sedang libur?" tanya ibunya terkejut dengan kedatangannya.
Rima duduk di depan ibunya yang masih terus menatapnya.
"Aku sudah tidak bekerja lagi Bu, Rama menyuruh ku berhenti. Oh iya, ini ada makanan pemberian ibu mertua ku,"
Rima meletakkan rantang yang ia bawa di dekat ibunya.
"Kok repot-repot sih Nak, tolong sampaikan rasa terima kasih ibu ya,"
"Kalau kamu berhenti terus bagaimana? Kalian sudah menikah, jadi seharusnya belajar bertanggung jawab dengan rumah tangga kalian sendiri," ucap bu Santi.
"Aku tahu Bu, tadi Rama bilang dia berangkat bekerja. Semoga saja dia tidak bohong,"
"Oh syukurlah jika dia sudah dapat pekerjaan,"
Tiba-tiba ponsel Rima berdering.
__ADS_1
"Ya Mas, ada apa?"
"Kenapa kamu tiba-tiba berhenti, aku kerepotan karena belum menemukan pengganti mu?"
"Maaf sekali Mas, tapi suami ku menyuruh berhenti bekerja,"
"Aku tahu, tapi setidaknya jangan mendadak begini. Aku yang repot jika begini, tidak bisakah kamu kembali bekerja sampai aku mendapat pengganti?"
Rima merasa tidak enak kepada Anton, dirinya sudah begitu baik kepadanya selama ini. Tapi dia juga merasa begitu takut kepada suaminya.
"Bagaimana ya Mas, aku tidak bisa memutuskan sendiri. Aku tanya suami ku dulu ya, nanti aku kabari. Sekali lagi maaf ya Mas,"
Anton memberinya waktu sampai besok, karena mencari karyawan yang kompeten dan good looking seperti Rima agak susah di cari.
"Lebih baik kamu bicarakan dengan Rama, kalau kamu kuat kan tidak ada salahnya sama-sama bekerja. Kebutuhan orang punya anak itu banyak, kalian jadi bisa nabung dari sekarang,"
Ucapan ibunya memang benar, dirinya juga sependapat. Namun dia tidak yakin jika Rama akan mengizinkannya bekerja kembali.
☆☆☆
"Wah mantunya bu Yani rajin sekali sih, tumben ada di rumah?" seorang ibu-ibu menyapa Rima yang sedang menyiram tanaman di depan rumah.
"Iya Bu, kebetulan sudah berhenti bekerja jadi bisa banyak waktu di rumah," jawab Rima.
"Memang seharusnya wanita itu di rumah, biarkan suaminya saja yang bekerja. Ya sudah lanjutkan saja, ibu mau beli sayur dulu,"
Wanita itu berlalu meninggalkannya. Memang pandangan setiap orang berbeda tentang seorang wanita yang memutuskan menjadi wanita karir. Sebenarnya tidak ada yang salah, semua tergantung dari sudut pandangnya saja.
"Iya Bu, sebentar," sahut Rima.
Ia segera mematikan kran air dan memenuhi panggilan ibu mertuanya.
"Ini ibu membelikan kamu pakaian, bawa saja ke dalam,"
Rima memperhatikan beberapa baju yang sangat bagus untuknya. Ia merasa terharu ibu mertuanya sangat perhatian kepadanya seperti itu.
"Terima kasih ya Bu, tapi kok banyak sekali? Aku jadi tidak enak dengan ibu,"
Bu Yani bangkit dan menyerahkan semua baju itu kepada Rima. Ia mengusap punggung menantunya dengan lembut.
"Kamu jangan merasa begitu, kamu adalah istrinya Rama jadi otomatis sama saja dengan anak ku juga,"
Rima memeluk ibu mertuanya dengan penuh rasa haru dan mengucapkan terima kasih kembali.
☆☆☆
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 20.00 namun suaminya belum juga pulang ke rumah. Rima menunggu dengan resah, ingin menghubunginya namun takut pria itu merasa terganggu.
"Sudah jam segini, kenapa dia belum pulang juga ya? Sebenarnya dia kerja apa sih?" tanya Rima.
Dia memegang ponselnya, tidak ada satupun pesan dari suaminya. Hanya Anton saja yang mengirimnya beberapa pesan menanyakan tentang keputusannya, namun belum ia balas karena belum berbicara dengan suaminya. Rima begitu senang setelah beberapa saat kemudian mendengar suara motor Suaminya.
__ADS_1
"Rama kamu sudah pulang ya, mau makan atau mandi dulu?"
Rima menyambut suaminya dengan baik, ia tidak ingin hubungan mereka memanas lagi. Mungkin sebaiknya dirinya mengalah dan lebih sabar terhadap Rama.
"Aku mau mandi dulu, baru makan,"
Rama meninggalkan istrinya dan masuk ke dalam kamar, ia mengambil baju ganti lalu masuk ke kamar mandi. Rima menyiapkan makanan untuk suaminya. Ia senang sikap Rama tidak seburuk semalam, walaupun juga tidak begitu ramah.
"Kamu mau makan yang mana, biar aku ambilkan ya?"
Rima bermaksud melayani pria itu namun di tolaknya.
"Tidak perlu, aku bisa ambil sendiri,"
Rama mengambil nasi serta lauk pauk sendiri. Sebelum makan ia mengambil uang di sakunya dan memberinya kepada Rima.
"Kamu lihat kan, aku bisa memberi mu uang. Setiap hari aku akan memberi mu segini, untuk tiap bulannya akan aku beri lagi. Jadi tidak perlu kamu berpikir untuk bekerja lagi,"
Ucapan suaminya begitu tegas. Ia mengambil uang 100 ribu pemberian Rama tadi dan menyimpannya. Ada rasa penasaran di hatinya tentang pekerjaan suaminya itu, namun ia sedikit ragu untuk menanyakannya. Namun karena rasa itu begitu menyiksa ia akhirnya menanyakannya juga.
"Rama, memangnya kamu bekerja apa dan di mana?"
Rima menanyakan dengan selembut mungkin agar suaminya tidak marah.
"Tidak perlu banyak tanya, yang penting aku memberi kamu nafkah, itu sudah cukup,"
Rama berlalu setelah meminum segelas air putih. Ia masuk ke dalam kamarnya. Sementara Rima masih termenung, ia mencuci piring suaminya sembari terus berpikir.
"Rima... ponsel mu berdering terus," teriak Rama sehingga membuatnya sadar dari lamunanannya.
"Iya, sebentar,"
Dengan tergopoh-gopoh ia berlari ke dalam kamar dan mengangkat teleponnya.
"Iya, halo ada apa?"
"Bagaimana Rima, di sini benar-benar kewalahan. Aku butuh orang, tolong bekerjalah kembali sampai aku menemukan pengganti mu,"
Kata-kata Anton membuatnya bingung, apalagi ada Rama di sana yang pasti mendengarkan pembicaraan mereka.
"Iya kenapa? Sebentar ya Bu, suaranya tidak jelas aku akan keluar dulu sepertinya sinyalnya jelek,"
Rima berakting agar tidak ketahuan Rama.
"Rima aku Anton, bukan ibu mu,"
"Iya Mas, aku tahu tadi salah bicara. Aku hanya bisa bekerja sampai jam 6 sore kalau Mas mau, kalau tidak maaf sekali aku tidak bisa membantu," putus Rima.
"Hem... bagaimana ya? Baiklah tidak masalah, daripada tidak sama sekali," jawab Anton.
"Rima, kenapa kamu telepon di sini? Siapa yang menelepon mu?"
__ADS_1
Rama datang membuatnya terkejut sampai salah tingkah.