
..."Setiap perjalanan pasti ada tujuan. Setiap tujuan pasti berakhir dengan kepastian. Semua ini ada dan tercipta dengan sendirinya. Belum lagi manusia diciptakan untuk mehamami cara berjalan yang pasti. Mulai dari terbaring, merangkak, hingga berdiri. Tanpa berjalan manusia tidak berarti apa-apa. Bertualang mencari hasil yang ingin didapatkan. Walau setiap perjalanan itu pasti terdapat konflik dan hambatan. Namun setiap insan pasti dapat menemukan solusinya."
...
Beberapa hari telah berlalu. Para penduduk desa sudah mulai terbiasa dengan situasi yang rumit. Dan menjadikan hal yang normal bagi mereka. Progres membenarkan setiap sudut desa sudah sampai 80%. Reruntuhan-reruntuhan yang ada sudah dibereskan. Jalanan yang tak ada bentuknya akibat reruntuhan sekarang menjadi jalanan sementara yang dibuat dari bebatuan, tanah, dan pasir yang dicampurkan dengan air. Pengeringan jalan memakan waktu cukup lama, karena sumber daya alam yang berkurang drastis. Bangunan-bangunan desa juga sudah mulai direnovasi seiring dengan banyaknya sumber daya manusia yang ada. Rumah yang berada diujung desa itu merupakan tempat tinggal dari dua sahabat karib Hadad. Ya, mereka adalah Arkhan dan Layyin. Bersama dengan teman barunya Hikari.
"Persediaan makanan didapur sudah siap kak." Ucap Layyin.
"Baik tempatkan disini dulu saja ya." Jawab Hikari.
"Nah berarti tinggal mengolah makanan dulu ya." Timpal Arkhan.
"Lah.….. kok makanan melulu sih yang kamu bahas."
"Ya gimana lagi…. Kan aku udah banyak membantu desa."
"Jadi upahku juga harus banyak dong….. Apalagi kalau makanan."
"Yah begitulah.….. Kak Arkhan ini sudah sangat bersahabat dengan makanan, bahkan saat kita kekurangan bahan bangunan pun yang ia pikirkan juga sama hanya makanan."
"Pantas saja dia kekurangan tenaga saat kerja bakti dengan warga ya…. Hahaha"
"Iiiittu gak benar. Aku cuma butuh tenaga ekstra saja."
"Tapi kan yang lainnya juga cuman dapat satu porsi bukan? Kok Kak Arkhan dapetnya 3?"
"Mmmmungkin karena diriku bekerja lebih keras dari yang lain, jadi upahnya bertambah."
"Iya deh iya dasar tukang makan."
Ketiganya hidup secara sederhana dan bahagia dalam rumah yang telah diperbaiki. Padahal rumah sebelumnya lebih baik dari rumah pasca bencana. Tetapi kehangatannya melebihi kepuasan dari rumah sebelumnya. Rumah pasca bencana ini dibuat dengan konsep yang biasa seperti sebelumnya. Hanya saja setiap sudutnya lebih berdekatan. Dua ruang kamar disebelah kiri, ruang tamu dan ruang makan ditengah rumah, serta kamar mandi disebelah kanannya. Furniturnya sederhana karena terbuat dari beragam bahan yang tersisa. Namun dengan beragam kreatifitas yang ada dapat membuat rumahnya terlihat menarik. Sedihnya rumah mereka tidak bersebelahan lagi dengan tetangga. Karena naas beberapa rumah tetangga mereka lebih hancur lebur dan memakan korban yang banyak. Mereka sudah tiada namun kenangan atas mereka tetap abadi selamanya.
"Kapan ya kita bisa ketemu Hadad lagi?" Tanya Arkhan.
"Iya nih, jadi kangen." Jawab Hikari.
"Cie.…yang lagi kasmaran" Timpal Layyin
"Susah kalau lagi LDR-an ya kak."
"Hehe.…iya nih Layyin, coba saja kalau kita bisa langsung ketemu Hadad pasti ia bisa diandalkan."
__ADS_1
"Nah iya bener…. Kak Hadad itu emang bisa diandalkan banget."
"Apalagi kalau situasi kayak gini ya….. Gak kayak lelaki yang doyan makan ini."
"Yang mana kak……? Aku enggak lihat…"
"Itu tuh.…" Sambil menunjuk kearah Arkhan
"Lahh….. Kok aku sih…? Terus yang ngumpulin kayu sama bahan bangunan rumah siapa dong?"
"Kan ada relawan lain yang lebih cekatan."
"Iya bener bahkan enggak minta upah makannya dulu."
"Ttttapi kan mau gimana lagi? Soalnya aku udah lapar duluan."
"Mmmmmm sudah kita duga Arkhanso." Jawab mereka bersamaan.
"Njier kok jadi Arkhanso sih…."
"Hehe.… ini juga tau dari Kak Hadad loh."
"Mmmmmm sa ae kamu Dad."
"Tok.…tok…..tok……tok……"
Suara itu semakin lama semakin terdengar suaranya. Obrolan mereka pun mendadak berhenti. Suara tersebut juga membuat mereka penasaran. Tangan Layyin gemetar disaat mendengar suara tersebut. Arkhan dan Hikari pun demikian. Tapi apalah daya tubuh mereka seakan lemas dan tidak dapat digerakkan. Hingga akhirnya Hikari memberanikan diri untuk membuka pintu sendirian.
"Hati-hati Kak……." Bisik Layyin
"Awas hewan buas….." Ucap Arkhan
"Dasar kamu ya….. Bukannya bantu malah sembunyi." Ujar Hikari sembari melihat kearah Arkhan.
"Nanti aku bantu….. Kalau udah aman……"
"Serah kamu aja dah….."
Hikari mendekati pintu depan secara perlahan dan tidak membuat suara secara mendadak. Dan disaat dirinya sudah berhadapan dengan pintu didepannya, ia mencoba untuk mengintip kearah luar rumah lewat engsel pintu. Tetapi dirinya tidak bisa melihat secara jelas sosok yang berada dibalik pintu tersebut. Hingga akhirnya Hikari berinisiatif untuk membuka pintu secara perlahan tiba-tiba……
"Gbruk.….…"
__ADS_1
suara yang terdengar setelah pintu dibuka.
"Hhhh...h…..Ha……ha….. HADAD…….???!!!" Teriak Hikari
Sontak setelah teriakan tersebut Arkhan dan Layyin segera mendekati Hikari. Dan ternyata sosok yang mengetuk pintu tadi adalah sahabat mereka. Tanpa banyak bicara Arkhan pun segera membantu Hikari untuk menggendong tubuh Hadad yang terjatuh didepan pintu. Ia langsung membawa Hadad untuk dibaringkan di tempat tidur. Hanya saja mereka masih heran dengan tubuh yang telah diangkat itu. Karena sosok yang mereka lihat memanglah terlihat seperti Hadad namun tubuhnya seperti sudah tercabik-cabik oleh seekor monster.
"Layyin cepat panggilkan Dokter dibalai desa….." Suruh Arkhan.
"Bbbaik kak.…" Jawab Layyin dengan tergesa-gesa.
"HADAD.…. Bangunlah……." Teriak Hikari.
"Kenapa ini bisa terjadi padamu….?!"
"Tenanglah Hikari.…. Sepertinya dia pingsan dan tidak sadarkan diri."
"Bagaimana aku bisa tenang….!!! Arkhan bukankah kamu sudah melihat keadaannya seperti apa…?"
"Iiiyaaa.… aku tau. Aku yakin bahwa dia pasti baik-baik saja. Jadi aku mohon agar kamu lebih tenang."
"Bbbbaiklah.…hiks…..hiksss…."
Air mata mulai bergelinang di pelupuk mata Hikari. Ia tidak kuasa untuk menahan tangisannya. Ia berusaha untuk menahan tetapi hati kecilnya sudah tidak mampu. Arkhan yang berada tepat disebelahnya pun hanya bisa terdiam dan tidak berbicara sama sekali. Ia mencoba untuk menahan amarah dan kesedihannya. Karena ia tidak ingin kembali bertemu dengan sahabatnya dalam keadaan bersedih.
"H.…hi……hi….ka….ri……. A…..a……a…..aaarkhan….." Suara yang keluar dari mulut sosok tersebut.
"Hadad.…. " Ucap keduanya
"Ini aku Hikari….. Kamu masih mengingatku kan?"
"Iya dad ini aku arkhan….. Kau tidak mungkin melupakan sahabatmu kan….."
"Ppppper.….per….per….gilah….. Ka…kalian…. Ke… tem…pat… pe…. Penyi…. Hir"
"Kenapa kami harus pergi kesana? Ada apa disana?"
"Ce..ce….ccccepatlah…. a…aku…. Sudah…. Tidak kuat….. Lagi…"
"Baiklah kami akan pergi kesana…. Tetapi kamu harus bertahan sebelum kami kesana…"
"Te.…ri….ma…. Kkkaaa…sih…."
__ADS_1
Sosok itu pun kembali tidak sadarkan diri. Keduanya terdiam dan tak bisa berkata apapun. Karena mereka belum bisa mencerna pesan yang telah mereka dengarkan. Hingga akhirnya mereka pun menunggu kedatangan dokter dari balai desa yang sedang Layyin jemput. Keduanya berharap agar Layyin dapat datang secepatnya sebelum terlambat. Sebab mereka khawatir keadaan sosok ini akan semakin memburuk jika terus dibiarkan begitu saja.