Tanpa Tujuan

Tanpa Tujuan
Tragedi Baru


__ADS_3

..."Bencana yang besar dan berefek pada kehidupan ekosistem merupakan masalah yang dirasakan oleh seluruh bagian didalamnya. Bekum lagi bencana-bencana itu kerap kali datang diwaktu yang tidak tepat. Bahkan disaat genting sekalipun. Karena setiap bencana yang datang akan menjadi luka yang membekas dan tak dapat dihilangkan begitu saja. Hal ini disebut juga dengan Tragedi. Buah dari bencana yang terus terjadi. Serta ingatan kelam yang ditinggalkan setelahnya."


...


Secarik kertas didalam suatu amplop misterius didalamnya telah berada digenggaman seorang gadis ceria. Kertas tersebut sangatlah lembut untuk ia sentuh. Seakan benda ini belum lama ditinggalkan dan ditulis oleh seseorang. Pola aksara yang dibuat berupa aksara sederhana. Karena dapat dipahami oleh setiap makhluk yang membacanya. Seakan surat ini dibuat khusus untuk penduduk desa. Bahasa, tulisan, dan aksennya pun sangatlah kental akan tradisi didesa ini. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa pelaku sengaja membuatnya dalam keadaan terdesak. Sebab diawal tulisannya dibuat dengan sangat rapih, namun diakhir seakan tulisan ini semakin menyusut bentuknya. Dan isi dalam surat tersebut berbunyi :


"Sudah selayaknya kehidupan disini berakhir…….


Kami sudah memprediksi setiap kemungkinan yang ada….


Dua bagian dari desa ini sudah semakin rapuh……


Sumber daya alamnya akan kami manfaatkan……


Sumber daya manusianya pun akan kami hancurkan…


Melepaskan makhluk berbahaya yang memangsa segalanya….


Semua itu sudah menjadi rencana yang mutlak…….


Karena kamilah sang penghancur kehidupan…..


Entah siapapun yang menghalangi kami…..


Maka akan kami musnahkan keberadaanya….


Baik itu dari pihak musuh maupun teman……


Akan kami lenyapkan semuanya tanpa sisa……"


Seketika Layyin menjatuhkan kertas tersebut ketanah. Tangannya bergetar, keringat dingin mulai bercucuran dari tubuhnya, dibarengi dengan mukanya yang mulai memucat. Semua ini terjadi sebab kepanikannya setelah membaca secarik kertas tadi. Tubuhnya melemas dan tidak mampu menopang kesadarannya. Beruntungnya Arkhan yang berada tidak jauh darinya langsung mengulurkan tangannya. Sehingga Layyin tidak terjatuh ke tanah dan bisa berada digenggaman saudaranya itu.


"Layyin….. Apa yang telah terjadi……?" Tanya Arkhan.


"Aaakkkkuuuuu….. " Jawab Layyin dengan suara yang lemah.


"Hoi…. Dia tidak apa-apa kan…?" Ujar Relawan yang berada didekatnya.


"Cepat tandu dia kedalam tenda yang kosong." Ucap relawan lainnya.


"Baik.…"


Layyin pun segera dilarikan kedalam tenda relawan yang kosong disebelah tenda sebelumnya. Para relawan yang berada didekat tempat keberadaanya langsung bahu membahu untuk membantunya. Arkhan tertinggal dibarisan terbelakang. Sebab ia belum bisa mencerna hal yang telah terjadi dihadapannya. Dirinya menemukan suatu kertas yang tergeletak di tanah.


Namun dikala dirinya hampir mengambil kertas itu, tiba-tiba lengannya seperti ditarik oleh seseorang.


"Saudara Arkhan ikutlah denganku…" Ujar salah satu relawan yang mendatanginya.


"Ada apa….? Apakah telah terjadin hal buruk terhadap Layyin….?" Ucap Arkhan.

__ADS_1


"Tidak.… semua baik-baik saja."


"Lalu apa yang kau inginkan….?!"


"Sebenarnya temanmu itu……"


Tiba-tiba terjadi gempa dengan kekuatan cukup besar. Gempa ini berbeda dengan gempa sebelumnya. Sontak Arkhan kembali berlari kearah Layyin. Sebab ia sangat khawatir akan kejadian yang pernah terjadi padanya. Maka dirinya pun mempercepat langkahnya dengan keadaan yang sangat terburu-buru. Orang-orang disekitarnya juga terlihat panik menghadapi musibah ini. Semuanya mencoba untuk mengevakuasi keluarga mereka. Dengan berbekal pengetahuan dan pengalaman di musibah sebelumnya, membuat pengevakuasian warga pun menjadin lebih mudah. Sayangnya Arkhan terlambat untuk menjemput kedua temannya yang masih dirawat ditenda relawan. Namun beruntungnya ia dapat bertemu dengan Layyin tepat pada waktunya. Saudaranya itu terbaring disebuah tenda yang tidak ada seorangpun didalamnya selain dirinya. Mungkin karena keadaan sekitar yang terlalu panik akan bencana. Menyebabkan gadis tersebut tertinggal disini sendirian.


"Layyinn…. Kau baik-baik saja kan….?" Tanya Arkhan.


"Kkkaakaaakkkk.…." Jawabnya dengan keadaannya yang belum begitu baik.


"Cepatlah naik ke punggungku. Agar aku dapat membawamu ketempat yang lebih aman."


"Bbbbaik kkkaaakkk.… "


Arkhan segera menopang tubuh saudarinya yang sedang terbaring lemah itu. Dirinya perlahan memindahkan tubuh Layyin agar dapat ditopang dengan posisi yang benar. Setelah itu, Arkhan pun bergegas pergi dari tenda menuju tenda yang diisi oleh kedua temannya. Tapi anehnya ia tidak melihat siapapun didalamnya.


"Hikari……. Dimana dirimu berada…..?" Ucapnya.


"Kkkkaaakkk…. Sepertinya ia berada…. Ditenda yang lain….." Ujar Layyin.


"Kau mungkin benar….."


"Iiiyaaaa kak.… Ranjangnya pun sudah tidak…. Ditempati lagi olehnya…."


"Pergi kemana ya dia….."


"Kkkakaaakkk apakah kamuuuuu… mendengarnya…?"


"Iiiya, sepertinya dia masih berada disini…"


"Arkhan, Layyin aku disini…"


"Hikari.….."


"Iiituuu.. Kak… dia berada diujung sana…"


Dengan refleknya Arkhan pun segera mendekati asal suara tersebut. Dan benar saja Hikari berada diujung tenda. Ia terbaring dibawah ranjang disebelahnya. Ini karena dirinya terpental disaat gempa terjadi. Sehingga dirinya terjatuh dari ranjang.


"Hikari, Kau baik-baik saja kan…..?" Tanya Arkhan.


"Aku baik-baik saja….." Jawabnya.


"Hanya saja lengan kananku terluka, akibat terkena reruntuhan didekat tenda."


"Syukurlah.…kamu baik-baik saja…. Kak Hikari…" Ujar Layyin.


"Iya Layyin. Kamu juga tidak apa-apa kan…?"

__ADS_1


"Iya.…aku sudah agak mendingan sekarang.."


"Baiklah teman-teman, sepertinya kita harus menyimpan percakapan ini sementara. Karena waktu kita tidak banyak."


"Siap.…."


Ketiganya pun segera meninggalkan tempat pengungsian tersebut. Dan kembali kerumah tempat mereka tinggal. Untungnya keadaan yang sudah sepi, menjadikan langkah mereka lebih mudah untuk kembali ke tempat tersebut. Semua orang telah berada ditempat evakuasi yang lebih aman. Ini semua berkat bimbingan para relawan yang senantiasa menjaga para warga selama 24 jam penuh. Ketiga sahabat ini pun sempat melewati kumpulan para pengungsi, namun mereka lebih memilih untuk tidak berada ditempat pengungsian yang baru. Karena mereka tidak mau kembali merepotkan orang-orang disana.


Akhirnya ketiganya sampai dirumah mereka. Namun anehnya rumah yang mereka tinggali tidak terdampak oleh gempa sama sekali. Entah siapa yang melindungi rumah tersebut. Hanya saja mereka tidak sempat untuk memikirkan hal rumit ini. Ketiganya kembali memasuki rumah dengan selamat.


"Layyin kamu istirahat dulu dikamarmu sekarang….." Ucap Arkhan.


"Baik kak.…." Jawabnya dengan cepat bergegas kedalam kamarnya.


"Aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu…." Ujar Hikari.


"Siap, aku akan menyiapkan segala peralatan untuk mengobati luka Layyin."


Ketiganya berpisah dengan kegiatan masing-masing. Dan sekitar setengah jam lamanya, ketiga sahabat tersebut kembali berkumpul diruang tamu untuk menyantap makanan yang telah Hikari buat.


"Akhirnya kita dapat makan bersama kembali." Ujar Layyin


"Iya nih.…udah kangen banget aku sama keadaan ini," Jawab Hikari.


"Yap, nampaknya gempa yang terjadi pun tidak menyebabkan kerusakan yang besar seperti sebelumnya." Ucap Arkhan.


"Iya kak.…semua pengungsi pun tidak ada yang terluka atau tewas sebab kejadian ini."


"Itu berarti.…desa kita sudah siap untuk penanggulangan bencana secara dini."


"Pengalaman merupakan pembelajaran yang terbaik. Sebab dengan adanya pengalaman dapat membuat seseorang lebih baik dari sebelumnya."


"Iya kak kau benar…."


"Tapi.. Ada satu hal yang masih mengganjal dipikiranku sekarang…"


"Apa itu…?"


"Kalian merasa gak sih, kalau ada seseorang yang kita lupakan….?"


"Lahhh.… siapa ya…?"


"Aku juga tidak tahu."


"Sepertinya kita terlalu lelah, sehingga kita melupakan hal-hal disekitar kita."


"Entahlah, tapi menurutku orang tersebut masih remang-remang keberadaanya."


"Tapi siapa ya…?"

__ADS_1


Sesaat ketiganya pun memikirkan perkataan yang terucap tak sengaja oleh Hikari. Kejanggalan tersebut seperti sudah ada didalam lubuk hati mereka sebelum terjadinya gempa. Namun entah siapa orang tersebut, yang pasti dirinya bukanlah orang biasa. Setelah memikirkan hal tersebut, ketiganya kembali mengobrol kembali. Hikari mencoba mencari topik obrolan terbaru agar suasana didalam rumah tidak menjadi canggung. Hingga mereka dapat menyelesaikan obrolan dan makanan mereka. Serta kembali beristirahat dikamarnya masing-masing. Jika hari kemarin merupakan memori, hari esok merupakan misteri, maka hari ini merupakan hal yang patut disyukuri. Ketiganya berharap hari esok akan menjadi hari yang lebih baik bagi mereka.


__ADS_2