Tanpa Tujuan

Tanpa Tujuan
Mengadaptasikan Diri


__ADS_3

..."Adaptasi merupakan suatu proses dimana seorang manusia yang datang atau bersinggah ke suatu tempat yang mana tempat tersebut berbeda dengan tempat yang ia tempati sebelumnya. Entah perbedaan itu dari cuacanya, lingkungannya, adat istiadatnya, atau yang lainnya. Semua komponen terlibat dalam satu tempat. Oleh karena itu seseorang tersebut harus bisa mengadaptasikan dirinya agar kehidupannya dapat berjalan dengan semestinya. Sebab jika ada ketidakcocokan diantara beberapa aspek sebelumnya, maka dari itu ia harus bisa merasakan dan menahan semua hal yang mungkin kurang cocok atau terlalu cocok dengannya."


...


Hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, dan detik demi detik seakan tersa begitu cepat. Semua diawali dengan ketidaktahuan Sirlia akan dunia lain yang baru ia tempati ini. Belum lagi dirinya masih kaget akan keadaan yang sangatlah berbeda dan begitu mencolok didunia yang sekarang. Karena semua yang ia perlukan harus didapatkan dengan pikiran dan tenaga yang ekstra. Bukan hanya mengandalkan keinginan sementara, tapi kebutuhan jangka panjang. Dirinya paham betul akan keadaan lingkungan disekitarnya. Seakan naluri bertahan hidupnya telah terasah dengan baik seiring berjalannya waktu. Proses adaptasi lingkungan yang cepat menjadi sebuah sebab dirinya dapat bertahan lebih lama. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bertualang mencari beberapa informasi yang dapat ia dapatkan disini. Berbekal persediaan makanan, alat, pakaian, dan usaha yang cukup. Sirlia mulai melangkahkan kakinya menuju kerajaan atau desa tempat pemukiman warga setempat. Namun ia masih merasa agak ragu untuk memulai kearah tempat yang akan ia tuju. Sebab dirinya baru mengenal wilayah disekitarnya selama beberapa hari saja, bahkan jika dikalkulasikan Sirlia hanya dapat mengingat jalan yang pernah ia lalui sekitar 300 meter disekkitar tempat singgahnya. Dirinya takut bila tidak ada manusia yang dapat ia ajak bicara. Karena ia pernah mendengar bahwa usia manusia itu bisa lebih pendek bila tidak dapat berinteraksi dengan sesamanya. Dengan tenang Sirlia pun mulai mengawali langkahnya kearah timur. Arah yang sebelumnya ia tentukan saat dirinya masih bertahan hidup digubuk. Ia merasa diarah timur dapat dipastikan terdapat ekosistem kehidupan masyarakat. Mungkin perjalanannya kali ini akan memakan waktu yang cukup lama.


Setelah dua jam lamanya ia berjalan menyusuri jalan yang mengarah ke timur, Sirlia masih belum menemukan kerajaan atau desa yang sedang ia cari. Beruntungnya persediaan makanan dan minumannya sangatlah banyak sehingga membuat dirinya tidak terlalu lemas dalam perjalanan yang jauh. Ia beristirahat sejenak disebelah jalan yanga ada.


"Waduh.….. lumayan melelahkan juga ya…." Ujarnya.


"Kira-kira seberapa lama ya…. Aku bisa sampai dipemukiman penduduk nanti…?"


"Anehnya tempat yang sebelumnya aku tempati sangatlah sepi…. Bahkan belum pernah ada seorangpun yang aku temui disana…."


"Padahal peralatan yang aku pakai selama disana merupakan bekas dari para petualang."


"Semoga sebentar lagi aku sampai ditempat yang aku tuju….."


Dirinya terus bergumam dan memikirkan cara tebaik agar dapat menuju tempat yang ia tuju. Ia menyantap beberapa makanan yang sebelumnya ia bawa. Tapi disaat ia berada ditengah santapannya, Tiba-tiba ia melihat sosok gadis diujung kelopak matanya. Gadis tersebut seperti sedang kebingungan. Ia menoleh kesetiap arah. Dan matanya berakhir memandang kearah Sirlia. Sontak dirinya kaget bukan main. Sebab gadis tersebut berlari kearahnya. Sirlia yang sedang menyantap bekalnya pun mendadak mempercepat suapannya. Akan tetapi gadis dihadapannya sudah hampir mendekati dirinya.


"Si.…sisis…siapa kau…?" Tanya Sirlia sambil gemetar.


"Kakak.…. Tenyata kau berada disini…." Ujarnya.


"Lahhh.… kakak…..?"


"Iya kak.…."


"Kkkamu siapa ya…..?"


"Ini aku Megumi Hulwa"


"Megumi.….? Aku belum pernah mendengar nama ini…."


"Masa kakak lupa sama aku sih……"


"Beneran aku belum pernah bertemu denganmu…. Jadi aku juga tidak tahu namamu…."


"Yaudah deh.… Kalau kakak memang tidak mengingatku."

__ADS_1


"Maaf ya.…"


"Iya gak apa-apa, mungkin kakak masih terdampak peristiwa besar saat itu ya…."


"Pe-peristiwa apa yaa…..?"


"Yah begitulah.…. Terlebih kakak kok bisa ada disini sih…..? Kan kakak harusnya sekarang menjalankan misi kelas B bersama petualang dari guild."


"Benarkah.…? Sepertinya kakak terpisah dari mereka… (Kok dia tidak menceritakan detail peristiwa besar itu ya….? Apa mungkin itu terlalu berat baginya"


"Hahhh.…. Kakak kan seorang petualang kelas A dikota Yorokobi no Bunya"


"Oh iyaya.…hehehe… aku lupa….. (Kota apa itu ya….?"


"Aneh kok kakak bisa lupa segalanya sih…? Apa jangan-jangan kakak ini….."


"Oh iya kebetulan aku sekarang lagi luang loh…. Kamu bisa mengantarkanku ke kota tersebut gak….?"


"Boleh sih.… tapi kan kakak kan lebih tahu jalannya daripada aku?"


"Sepertinya aku terlalu lelah untuk memikirkan itu… Jadi tolong ya bimbing aku kesana… Please…."


"Siap laksanakan.…."


Keduanya pun berbincang-bincang sambil berjalan kearah kota Yorokobi no Bunya. Hanya saja Sirlia heran dengan setiap perkataan dari gadis tersebut, sebab dirinya merasa seperti sosok yang begitu dekat dengan gadis ini. Beruntungnya ia dapat mengecoh beberapa pertanyaan yang dilontarkan gadis tersebut kepadanya. Beruntungnya ia dapat mengarang cerita agar tidak dicurigai. Megumi pun mempercayai semua cerita yang ia dengarkan dari Sirlia. Hingga akhirnya mereka berdua pun sampai dikota yang sedang dituju.


Kota Yorokobi no Bunya. Sebuah kota esentrik yang berada tepat didekat sebuah gurun yang cukup luas. Kota ini didirikan pada saat terjadinya transmigrasi besar-besaran dari pusat kota. Semua penduduk disini adalah penduduk asli kota. Sebab pendatang baru seringkali kurang bersahabat dengan para pribumi. Raja yang baru dilantik beberapa bulan yang lalu sempat menerapkan suatu peraturan baru yang cukup fenomenal. Dimana seperti adanya diskriminasi akan para orang asing. Maka tak aneh apabila beberapa orang baru yang datang kesini lebih memilih untuk berprofesi sebagai petualang agar tidak dibuang menjadi budak. Pedagang yang ada cukup bervariatif dengan dagangan khas kota yakni 'Altumut Almuskirah'. Jajanan ini terbuat dari kurma yang diolah menjadi manisan dengan toping coklat diatasnya. Sumber daya manusia dan sumber daya alam dikota ini cukup banyak. Mereka aktif pada impor dan ekspor kurma dan coklat. Peradaban manusianya juga cukup maju. Sungguh kota yang nyaman untuk ditempati. Akan tetapi masih ada rahasia didalam kota ini. Entah seperti apa dan apa rahasia tersebut. Hanya saja Sirlia tidak terlalu mementingkan hal tersebut karena dirinya masih mencari kebenaran dari dunianya sekarang.


Megumi mengantarkan Sirlia tepat didepan guild petualang. Guild ini telah menampung petualang sebanyak 100 petualang yang aktif. Dimana setiap petualang dibagi menjadi tujuh kelas yakni dimulai dari kelas S hingga F. Setiap kelas mempunyai misi yang berbeda. Semakin tinggi kelasnya maka semakin sulit juga misinya, begitupun sebaliknya semakin rendah kelasnya maka semakin mudah misinya. Dan menurut sejarah guild yang ada hanya beberapa orang yang dapat mencapai kelas A. Belum pernah ada yang mencapai kelas S. Sehingga para petualang kelas A sangatlah dihargai keberadaannya.


"Terima kasih banyak ya Megumi kamu telah mengantarkanku sampai sini…." Ujar Sirlia.


"Iya kak sama-sama, makasih banyak ya traktirannya." Ucap Megumi sambil tersenyum.


"Iya, tapi ingat jangan terlalu banyak makan yang manis-manis ya…. Nanti gigimu bakalan rontok loh…."


"Hehe.… siap kak. Semua aman terkendali…."


"Yasudah sampai berjumpa lagi ya….."

__ADS_1


"Dadah kakak.….."


"Dah.…."


Megumi pun berpamitan kepada Sirlia dengan senyumannya yang polos. Dirinya melambaikan tangannya beberapa kali tanda perpisahan diantara keduanya. Sirlia perlahan melangkahkan kakinya masuk kedalam guild. Namun disaat ia akan bertanya sesuatu kepada resepsionis yang ada, tiba-tiba suasana disekitarnya agak mencekam. Entah apa penyebab dari suasana tidak menyenangkan ini. Tetapi dengan tekadnya yang kuat akhirnya Sirlia dapat berada didekat ruang resepsionis.


"Anu.…mohon maaf apakah disini terdapat papan pengumuman untuk menyelesaikan misi….?" Tanya Sirlia.


"Iya ada.…." Jawab resepsionis tersebut dengan nada yang agak lemas dan kurang bersemangat.


"Kalau boleh tau disebelah mana ya….?"


"Itu ada disebelah pintu masuk….."


"Oh iya baik, kalau tempat penginapan dikota ini ada disebelah mana ya….?"


"Kalau kamu ingin tau tempat tersebut kamu bisa membeli denah kota ini disini."


"Baiklah kalau begitu aku beli denah itu satu."


"Silahkan.…harganya 100 crest."


"Baik ini uangnya…. Oh iya satu lagi kenapa orang-orang disekitar ruangan ini seakan kurang bersahabat dengan petualang lainnya ya…?"


"Itu dikarenakan Raja yang baru sedang menyambut petualang misterius yang baru saja datang disini. Ia sangatlah beruntung bisa bertemu langsung dengan pihak kerajaan. Sebab para petualang disini saja belum pernah mendapatkan panggilan tersebut. Sehingga mereka kurang mempercayai para petualang baru yang datang ke guild ini."


"Nampaknya itu cukup membuat petualang kota ini kesulitan ya…."


"Yah seperti itu…. Kamu juga sepertinya baru ya disini…."


"Iya.. Aku adalah pengembara yang sedang mengembara ke setiap kota yang ada. Dan kebetulan kota ini menjadi kota pertama yang aku singgahi."


"Begitu ya, tetapi kenapa kamu ingin menjadi petualang disini….? Bukankah menjadi pedagang lebih menguntungkan ya….?"


"Tidak, aku masih belum punya niat untuk memulai perdagangan. Sebab aku belum terlalu tahu seluk beluk kota ini. Mungkin kedepannya aku akan memikirkannya kembali."


"Baiklah kalau memang itu alasanmu…."


Setelah mendapatkan informasi yang cukup. Sirlia pun akhirnya meninggalkan guild tersebut dan segera menuju penginapan terdekat. Beruntungnya ada penginapan murah didekat guid petualang. Fasilitas yang ditawarkan pun cukup menarik perhatiannya. Dan membuat Sirlia memutuskan untuk menginap sementara disini. Beberapa saat setelah dirinya bertransaksi dengan resepsionis penginapan, ia pun diantarkan menuju kamarnya. Kamar yang akan ia tinggali berada diruangan paling ujung dari penginapan. Sehingga dirinya dapat melihat pemandangan orang-orang yang berjalan didekat jendelanya. Tak lama setelah Sirlia mengucap terima kasih kepada resepsionis tadi, ia telah berada didalam kamarnya. Dirinya langsung berbaring dikasur yang ada didalamnya sambil merentangkan kaki dan tangannya. Ia merasa sangat lelah akan perjalanannya tadi. Kelelahan yang ia rasakan cukup berat dan membuat dirinya perlahan memejamkan matanya. Dan tak berselang lama dirinya pun tertidur dengan pulas. Tetapi disaat ia baru saja tertidur, dirinya masih memikirkan sosok petualang misterius yang sempat diceritakan oleh resepsionis guild tadi. Sirlia merasa bahwa sosok tersebut dapat membantunya mencari petunjuk akan keberadaannya disini. Sebab ia berfirasat sosok itu juga berasal dari dunia yang sama dengannya. Dirinya berharap agar sosok tersebut dapat membantunya dikemudian hari.

__ADS_1


__ADS_2