
..."Semua kejadian yang terjadi berdasarkan observasi dan sesuai dengan praktek dilapangan merupakan sebuah fakta. Hal yang menjadi landasan dari suatu peristiwa yang ada sehingga menimbulkan beberapa kemungkinan juga merupakan sebuah fakta. Jadi pada intinya setiap hal yang berkaitan dengan fakta sudahlah tentu sesuai dengan apa yang ada. Sebab fakta bukanlah opini yang bisa dibuat dengan berbagai rangkaian kata. Namun pernyataan yang sudah ada semenjak terjadinya suatu hal yang pasti keberadaannya."
...
"Ini tidak mungkin……. Bagaimana mungkin Kak Hadad bisa berada disini…..?" Tanya Sirlia dengan keadaan yang masih kebingungan.
"Keberadaanku ini asli Sirlia." Tegas Hadad.
"Sebab kamu bisa melihat dan merasakan langsung sosokku ini."
"Tapi kan kak Hadad tidak mungkin muncul begitu saja dihadapanku….? Ini pasti jebakan dari sosok aneh tadi….."
"Itu tidak benar, ini adalah diriku yang sebenarnya."
"Coba buktikan bila dirimu ini benarlah nyata……!!!"
"Baiklah jika memang kamu memaksa….."
Sejenak Hadad pun memperlihatkan wujudnya secara menyeluruh. Diawal pertemuannya dengan Sirlia ia masih berupa sosok bayangan hitam. Namun setelah perkataan Sirlia tadi, akhirnya Hadad menunjukkan sosoknya yang asli. Sontak Sirlia kaget dan menangis setelah melihat seniornya itu. Ia tak kuasa membendung air matanya dan segera memeluk seniornya itu.
__ADS_1
"KAK HADAD.….….." Ujar Sirlia seraya memeluk seniornya itu dengan erat.
"Sirlia.…." Jawab Hadad.
"Maafkan aku yang telah membuatmu khawatir…."
"Itu tidaklah sepenuhnya benar…….."
"Kamu menangis karena bisa bertemu denganku kan……?"
"Iya itu pasti……. Aku mohon agar jangan menghilang lagi dari hadapanku….."
"Baiklah, aku akan berusaha untuk mewujudkan itu……"
Setelah situasi yang cukup menyentuh hati itu. Sirlia terlelap tidur dipangkuan Hadad. Dirinya sangatlah lelah akibat dari perjalanan lama yang telah membuat mental dan batinnya terkuras. Beruntungnya ia dapat kembali kehadapan seniornya ini. Hanya saja disaat Sirlia tertidur, Hadad memindahkan tubuhnya ke tempat yang lebih aman. Dan ternyata diantara dimensi kegelapan ini, terdapat sebuah rumah berukuran tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Didalam rumah tersebut terlihat cukup sederhana. Dengan properti seadanya, rumah ini dapat menampung hingga empat orang. Walau hanya satu lantai, rumah ini difasilitasi dengan beragam perabotan yang sangat menarik. Mulai dari perabotan dapur, kamar mandi, kamar tidur, dan ruang tamu. Setibanya dirumah tersebut Hadad segera membaringkan Sirlia ditempat tidur. Ia menyelimuti Sirlia dengan perlahan agar tubuhnya tidak kedinginan. Sirlia pun semakin nyaman dengan tempat tidur yang ia dapatkan. Hanya saja tak lama setelah ia dibaringkan, Hadad pergi melangkah keluar rumah. Ia seperti menuliskan sesuatu di secarik kertas. Setelah menulis Hadad menympan tulisan itu didekat lampu tidur disebelah Sirlia.
"Maafkan aku Sirlia……" Gumam Hadad.
"Aku belum bisa bersama denganmu dalam keadaan seperti ini. Mungkin di lain waktu, aku akan lebih mempersiapkan diri lagi agar dapat bersama denganmu. Semoga kau baik-baik saja sampai saat kita bertemu kembali."
__ADS_1
Lalu dirinya pun mematikan lampu itu dan pergi keluar dari rumah tersebut.
Setelah beberapa jam lamanya Sirlia pun terbangun dari tidurnya. Ia seakan tidur dirumah asalnya dahulu sehingga ia merasa sangat nyaman dengan tempatnya ini. Tak lama setelah ia terbangun, Sirlia bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia mengalirkan air dari suatu keran didalam kamar mandi. Sebab kamar mandi ini mempunyai bath hub yang berbentuk kolam. Sehingga ia haru mengisi terlebih dahulu agar dapat menikmatinya. Dan penantiannya pun berakhir saat air yang ia alirkan telah memenuhi bak tersebut. Sejenak ia pun membasuh setiap inci dari tubuhnya. Tak lama setelah ia mandi dirinya berjalan menuju dapur. Disana ia menyantap makanan yang berada dimeja makan. Makanan yang ia santap berupa Steak sapi dengan olesan mentega dan sayur asparagus yang segar. Disampingnya ia meminum sebuah air yang rasanya seperti susu namun berwarna layaknya madu. Semua ia santap dengan hati yang ceria hingga tak ada yang tersisa sedikitpun.
Lalu dirinya kembali ke tempat tidur untuk mengganti pakaiannya. Dan ternyata ia dapat menemukan sebuah gaun berwarna biru didalam lemari disamping tempat tidurnya. Maka dengan sigap ia pun memakai gaun itu. Tetapi ia merasakan suatu kejanggalan. Yakni ia belum menemukan satu cermin pun didalam rumah yang ia tinggali ini. Dirinya mencoba mengingat semua hal yang baru saja ia alami, namun pikirannya seakan menolak untuk memikirkan hal tersebut. Sebab semakin ia menelusuri ingatannya itu maka semakin sakit pula kepalanya. Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk tidak memikirkan hal yang dapat membuatnya sakit. Akan tetapi lenganya tidak sengaja menyentuh sebuah kertas didekat meja lampu tidurnya.
Dirinya pun mencoba untuk membaca tulisan pada kertas itu, dan ternyata tulisannya berbunyi seperti ini;
"Untuk Sirlia.……"
"Sirlia maaf apabila kamu terbangun dalam keadaan kebingungan. Aku disini hanya ingin memberitahumu suatu hal."
"Dimensi yang kau tinggali ini merupakan ilusi yang telah dibuat oleh sosok misterius yang pernah kamu temui sebelumnya. Semua hal yang kamu temui disini merupakan gambaran dari setiap ingatanmu dikehidupan sebelumnya. Maka tidaklah aneh apabila ada beberapa hal mendetail yang tidak asing bagimu. Begitu juga dengan ingatanmu sekarang. Sehingga kamu tidak dapat memikirkan memori dikehidupan sebelumnya disini. Sebab sosok misterius sengaja merancang dimensi ini agar tidak dapat mengingat memori dikehidupan sebelumnya. Jadi ia membuat semua keinginan dan harapan yang ada dihatimu sebagai sarana yang ia buat sedemikian rupa wujudnya disini."
"Aku juga awalnya kaget saat pertama kali berada disini persis seperti dirimu tadi. Bedanya saat itu aku masih sendirian terdiam dan termenung disini. Awalnya pun diriku terlalu terpaku dengan keadaan disekitarku ini hingga aku lupa untuk melakukan sesuatu. Dan akhirnya aku melupakan itu semua demi bertahan hidup disini."
"Akan tetapi setelah diriku kembali bertemu denganmu, perasaanku mulai campur aduk dan tidak karuan. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini. Dadaku seakan sesak setiap kali melihat wajahmu yang cantik itu. Seakan kamu datang sebagai pendamping hidupku. Namun disaat kamu tidur aku mulai tersadar. Bahwasanya aku harus mencari jalan keluar dari dimensi ini, agar bisa kembali menikmati waktu denganmu sepenuhnya."
"Maka dari itu aku sengaja menulis tulisan ini agar kamu membaca setiap ukiran katanya. Dan jika kamu sudah membaca tulisan ini, maka dapat dipastikan bahwa diriku telah kembali mencari cara agar bisa keluar dari sini. Oleh karena itu aku harap kamu baik-baik saja. Simpan rasa suka dan dukamu setelah kita bertemu lagi. Karena aku yakin jika saat itu telah tiba, kita dapat kembali bertukar pikiran kembali."
__ADS_1
"Dengan penuh cinta dan kasih sayang……….. Tertanda Hadad."
Sirlia perlahan kembali bersedih. Ia menahan tangisannya kali ini, namun lututnya tidak kuasa untuk menopang tubuhnya. Sehingga ia terdiam menghadap lemari dalam keadaan duduk lemas. Ia masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi padanya. Padahal dirinya baru saja melupakan hal-hal disekitarnya agar bisa bertahan hidup ditempat yang asing ini. Namun ternyata ia kembali harus tabah dan sabar menghadapi kenyataan. Ia meletakkan salah satu tangannya dipelipis kepalanya tanda bahwa dirinya sudah tidak kuasa menghadapi beberapa kejadian yang satu persatu terjadi padanya secara serentak. Beruntung ketegarannya hari ini dapat kembali menyelamatkannya dari kesedihan jangka panjang. Pada akhirnya Sirlia melanjutkan kehidupan barunya dengan semagat baru. Ia berharap kejadian kali ini dapat membuatnya lebih kuat dikemudian hari, sebab pesan diakhir kertas tadi mengisyaratkannya bahwa masih ada kesempatan bagi dirinya untuk kembali bertemu dengan Hadad.