
..."Setiap hal pasti tidak luput dari kebenaran dan kesalahan. Manusia berkembang dengan kedua hal tersebut. Seperti warna putih dan warna hitam. Keduanya saling melengkapi satu sama lain. Tanpa adanya kesalahan maka tidak akan pernah ada kebenaran, begiitu pula sebaliknya tanpa adanya kebenaran maka tidak akan ada kesalahan. Karena dengan kebenaran dapat menjadikan seseorang lebih percaya diri akan menjalani suatu hal. Dengan kebenaran maka peluang terbukanya jalan akan lebih mengesankan dan lebih menenangkan. Sebab kebenaran mencerminkan keadilan."
...
Tiupan angin yang cukup kencang ditambah sinar matahari yang cerah membuat suasana yang nyaman. Sejauh mata memandang hanya hamparan ladang berwarna hijau beserta beberapa hewan yang sedang merumput disana. Tak ada seseorang pun diladang tersebut. Semua komponen yang ada hanya berisikan ekosistem alam yang murni. Beberapa hewan yang dapat dilihat diantara lain; Domba, Kambing, Sapi, Rusa, Kerbau, dan Kelinci. Hanya saja bentuk tubuh hewan-hewan ini lebih eksotis. Contohnya Domba berbulu serigala, Kambing tidak berbulu , Sapi bertanduk badak, Rusa sebesar beruang, Kerbau bercakar macan, dan kelinci bertanduk rusa. Belum lagi setiap hewan tersebut mempunyai beberapa skill pasif dan aktif disetiap gerakannya. Ditambah ada level tertentu disetiap hewan tersebut. Hampir semuanya berlevel lima belas atau bisa disebut sebagai monster level menengah. Ini mengindikasikan bahwa setiap hewan disekitar ladang ini cukup berbahaya bagi sebagian orang. Karena apabila ada gangguan yang mengahadang mereka maka setiap skill tersebut dapat aktif untuk perlindungan diri hewan-hewan ini. Kerusakan yang disebabkan mungkin saja dapat mencabut nyawa seseorang jika tidak berhati-hati saat menghadapinya.
Sirlia diam tak berkutik dan tidak bergerak sama sekali. Ia masih belum kuat untuk menghadapi kenyataan yang telah ia lihat didepan mata kepalanya sendiri. Sejenak dirinya menghela napas agak lama, agar dirinya dapat menenangkan diri. Ia juga mencoba untuk meriset setiap hal yang berada disekitarnya. Perlahan tapi pasti dirinya berjalan menelusuri jalan yang berada disebelahnya. Hingga ia pun menemukan suatu gubuk ditengah ladang tersebut. Tanpa berpikir lama Sirlia segera memasuki tempat tersebut. Didalamnya terdapat beberapa peralatan sederhana. Ada satu kasur untuk satu orang, meja beserta dua kursi yang saling berhadapan, jendela disebelah kiri dan pintu disebelah kanan, beserta beberapa peralatan untuk memasak. Semua barang tersebut seakan-akan dibuat khusus untuk para pengembara.
"Syukurlah.….. Aku dapat tempat peristirahatan." Gumam Sirlia.
"Aku masih perlu mencari makanan dan minuman disini. Sebab aku pasti akan sangat lama berada disini."
"Hanya saja aku tidak tau caranya berburu, apalagi dunia ini terlalu berbeda dengan duniaku sebelumnya."
"Apakah aku bisa bertahan disini ya…….? Mungkinkah ini merupakan akhir bagiku…….?"
Sirlia masih kebingungan untuk memikirkan setiap hal yang bisa ia lakukan. Namun dirinya tiba-tiba kembali teringat akan kenangannya bersama Hadad dimasa lalu. Dibalik semua kebingugannya itu, Sirlia memrasakan ada satu perasaan yang masih melekat padanya. Yakni perasaan akan kehilangan seseorang yang berharga baginya. Namun dirinya tetap menegakkan kepalanya agar dapat melangkah lebih jauh.
"Yahhh.…. Sepertinya semua peralatan disini dapat aku pakai hingga beberapa hari kedepan." Gumam Sirlia.
"Mungkin dunia ini mempunyai beberapa rahasia yang belum aku ketahui. Tetapi apa ya…..?"
Dan disaat ia memikirkan sesuatu tiba-tiba kedua lengannya bercahaya seakan bereaksi terhadap apa yang ia pikirkan.
"A.…apa ini……? Kok bisa tanganku bersinar seperti ini…..?"
"Apa jangan-jangan ini adalah bentuk dari suatu sihir ya…..?"
"Tetapi bagaimana ya… aku bisa mengaktifkannya….?"
"Yasudahlah.… aku akan mencoba untuk beristirahat dulu sejenak, semoga ada beberapa ide yang dapat aku pikirkan."
__ADS_1
Akhirnya Sirlia melentangkan tubuhnya dikasur itu. Ia merasa tubuhnya sudah terlalu lelah untuk menghadapi ini semua. Rasa kantuknya terlalu kuat dan membuat dirinya kelelahan. Keempukan kasur yang ia tiduri pun semakin membuat suasana yang menenangkan baginya. Ditambah waktu yang sudah mulai petang menuju malam. Perlahan kelopak matanya pun menutupi penglihatannya. Dan segera membuat dirinya terlelap didalam tidurnya. Namun belum beberapa menit dari tidurnya itu, ia merasakan bahwa mimpinya seakan nyata. Yakni mimpinya bertemu seniornya kembali. Dalam mimpinya ini Sirlia sedang mencoba untuk menghentikan seniornya untuk kembali kehadapannya.
"Kak Hadad.….…Tunggu aku….." Ujar Sirlia.
"Maafkan aku.….." Ucap Hadad.
"Nampaknya keberadaanku ini malah menghambatmu untuk maju kearah yang lebih baik….."
"Iiii.…itu tidaklah benar……. Aku dan yang lainnya benar-benar membutuhkanmu……"
"Kamu benar-benar sudah berkembang daripada yang dulu ya…. Padahal aku mengira dirimu akan tetap seperti dahulu, tetapi aku sduah akan terkejar olehmu….."
"Kak Hadad.….…. Tunggu……"
"Pakailah mantra ini…… Siapa tahu kamu akan bisa kembali bertemu denganku….."
"Kak.….."
"Aaa...apa itu…..?" Ujar Sirlia
"Nampaknya monster itu sedang mengincarku…. Apa yang harus aku lakukan…..?"
"Oh iya.…Aku ingat tadi saat aku bermimpi Kak Hadad seperti memberikan suatu mantra padaku…."
"Mantra itu kalau tidak salah berbunyi…. Maho….. No ugoki….. : Namikaze……"
Tiba-tiba kedua lengan Sirlia kembali bercahaya. Namun kali ini cahaya itu begitu cerah dan seakan siap untuk menembakkan sesuatu. Dan benar dari kedua lengannya keluar suatu sihir angin yang sangat besar. Angin tersebut datang seperti badai kecil yang siap menghancurkan setiap hal disekitarnya. Angin tersebut tidaklah terlalu cepat seperti serigala hitam yang sedang mengincarnya. Namun angin ini dapat mengenai beberapa bagian dari tubuh hewan itu. Dan akhirnya hewan itu pun lari terbirit-birit menjauhi Sirlia. Kaget akan kejadian singkat yang terjadi dihadapannya, Sirlia pun duduk dengan perlahan. Kedua kakinya lemas tak berdaya setelah kejadian itu. Ia masih tidak menyangka dirinya masih beruntung dapat bertahan hidup dari incaran serigala tadi.
"Ternyata benar.…." Ucap Sirlia.
"Dunia ini bukanlah dunia yang sama dengan kehidupanku sebelumnya. Ini merupakan dunia sihir fantasi yang sama persis dengan permainan yang pernah aku mainkan dulu bersama Kak Hadad."
__ADS_1
"Mungkin aku bisa mencoba mepraktekkan beberapa sihir disini."
"Perutku juga mulai lapar tidak karuan, semoga diluar ada hewan yang bisa aku buru sementara untuk dimakan."
Dengan sigap Sirlia kembali menganalisa strategi untuk berburu. Kepercayaan dirinya telah kembali dan membuat ia lebih positif dalam menghadapi keadaan yang ada. Mental yang kuat dan jiwa yang sehat menjadi tumpuannya demi bertahan hidup didunia ini. Setelah menelaah keadaan sekitarnya Sirlia mencoba untuk merapalkan sihir yang dapat ia gunakan. Sebelumnya ia mengandalkan sihir dari angin. Namun kali ini ia merasa bahwa sihir ini tidak akan mempan terhadap beberapa hewan yang akan ia buru. Ia pun bergegas mencari hewan yang sekiranya dapat ia buru dengan mudah. Dan hewan yang terpikirkan olehnya yaitu Domba. Kebetulan hewan ini berada didekatnya sehingga ia dapat melancarkan sihirnya kearah buruan tersebut.
"Maho no Ugoki : Joyato…."
Cahaya mengkilap keluar dari kedua telapak tangannya. Cahaya tersebut sengaja ia gunakan untuk menerangi jalan disekitarnya. Namun Domba yang akan ia buru mendadak panik dan menjauhi dirinya. Sebab cahaya yang ia hasilkan membuat domba tersebut terkejut ketakutan.
"Maho no Ugoki : Hantau Indoaro…."
"Dar.…..Dar…..Dar……"
Sihir panah pun telah ia lancarkan. Dan tak disangka sihir ini ternyata mengeluarkan beberapa busur panah angin berkecepatan sedang.
"Gedebug.….."
"Yatta.… akhirnya aku berhasil juga…."
Panah tadi telah melumpuhkan hewan buruannya. Sirlia nampak kegirangan setelah adegan tersebut. Panah yang ia tembakkan mengenai beberapa bagian dari Domba tadi. Akhirnya sirlia pun membawa Domba tersebut kembali ke gubuknya untuk ia kuliti dan olah menjadi santapan makan malam. Bulu domba tersebut dapat ia gunakan sebagai selimut agar tidak kedinginan dimalam harinya. Beberapa saat kemudian, Sirlia pun telah selesai menguliti dan mengolah buruannya tadi. Daging yang akan ia makan telah ia bumbui dengan beberapa rempah yang ia temukan didapur. Entah bakal seperti apa rasanya. Karena bumbu-bumbu rempah ini sangatlah berbeda dengan bumbu rempah ditempat asalnya dahulu. Tetapi dirinya tetap percaya diri akan masakan yang akan ia buat apapun hasilnya. Sebab perutnya sudah keroncongan berkali-kali seakan memberitahu dirinya bahwa ia harus segera makan. Setelah ia bumbui daging domba ini, Sirlia memanaskan wajan untuk menggorengnya. Waktu yang ia butuhkan adalah sepuluh menit lamanya. Demi mendapatkan kualitas kematangan yang sempurna. Sebab ia menggemari makanan yang benar-benar sudah matang. Sesaat kemudian masakannya pun telah jadi dan siap untuk disantap.
"Yesss.…. setelah sekian lama menunggu….."
"Aku dapat kembali menyantap makanan lagi….."
"Hap.….. Nyam….. Nyam….. Nyam….."
"Wah enak.…. Tak kusangka ternyata masakanku enak juga…."
Ia melahap makanan yang ia santap dengan lumayan cepat. Dan tanpa ia sadari makanan itu telah habis disantapnya. Sirlia telah mendapatkan suatu bentuk kebahagiaan yang baru. Ternyata dengan berpindahnya kehidupan yang ia alami tidak membuat dirinya terpuruk dengan lama. Bahkan ia merasa dirinya dapat melewati hari demi hari disini. Hingga ia dapat menemukan kebenaran akan dunia baru yang sedang ia tempati ini. Beserta senior yang sedang ia cari.
__ADS_1