Tanpa Tujuan

Tanpa Tujuan
Gadis Dimasa Lalu


__ADS_3

Setiap orang mempunyai kenangan di masa lalu, baik berupa kenangan yang baik maupun kenangan yang buruk. Begitu pula dengan sosok yang menghiasi kenangan itu, sebut saja seorang lelaki atau seorang gadis. Subjek dan objek di dalamnya sangat mempengaruhi kenangan itu. Mungkin masa lalu itu bisa menjadi batu loncatan bagi orang yang mengalaminya, atau bisa menjadi kesuraman yang kelam dan tidak ingin diingat. Maka masa lalu bisa menjadi panah yang menancap atau bumerang yang berbalik, tergantung pada insan yang menghadapinya.


Sepucuk surat yang Hadad temukan disamping rumah tadi merupakan surat misterius yang tidak ia ketahui asalnya. Di dalamnya hanya tertulis kata-kata yang berbunyi,


"Apakah kamu masih ingat denganku……?


Dulu kamu adalah orang yang pendiam dan tidak peduli akan sekitarmu…..


Sekarang kamu sudah berubah seiring berjalannya waktu…..


Tidakkah kamu merasakan kejanggalan pada salah satu temanmu itu……


Sebab bisa saja satu orang di antara kalian merupakan seseorang……


Yang sebelumnya kamu cari hingga saat ini……..


Tetapi aku tidak akan memberitahumu sekarang…..


Agar kamu mengerti betapa kesepiannya diriku ini…..


Menunggu kedatanganmu nanti.….…."


Sejenak Hadad memikirkan apa makna dari rangkaian tulisan dalam sepucuk surat tersebut. Hanya saja, ia masih tidak terpikir akan sosok yang telah menulis tulisan ini. Belum lagi tulisan ini seakan dibuat khusus untuk dirinya. Sebab Hadad tahu bahwa ada penggalan kalimat yang sedikit menyindir padanya. Walaupun tidak secara langsung, tetapi kalimat itu seakan menegaskan bahwa ia tahu tujuan Hadad yang sebenarnya. Hingga akhirnya, Hadad memutuskan untuk mencari tahu penulis dari sepucuk surat misterius ini.


Namun, belum juga dirinya beranjak dari samping jendela, tiba-tiba ia melihat jejak kaki aneh di dekat halaman rumahnya. Jejak tersebut terlihat berkilau dan berwarna aquamarine. Hadad tidak melihat seorangpun di dekat rumahnya itu, akan tetapi jejak aneh itu berjalan menuju gunung yang digadang-gadang sebagai gunung indah pada masa lampau. Ya, gunung itu bernama Arashi. Rasa ingin tahu membuat dirinya beranjak dari rumah dan mulai mengikuti jejak aneh itu. Ia berharap agar jejak tersebut bukanlah berasal dari hewan aneh atau monster yang sedang berkeliaran, sebab dirinya khawatir apabila apa yang ia bayangkan itu terjadi. Berbekal keingintahuan yang tinggi, Hadad pergi menuju jalan di luar jalan utama. Perlahan demi perlahan, Hadad semakin menjauh dari pemukiman warga. Tidak ada seorangpun di dekatnya. Dan sejauh mata memandang, Hadad hanya bisa melihat rerumputan yang tinggi. Anehnya, jejak itu sulit terlihat oleh matanya, efek dari tingginya rumput yang sejajar dengan dadanya. Dan semakin Hadad berjalan, maka semakin buruk medan perjalanannya dan semakin tidak karuan jalan di sekitarnya. Padahal, rerumputan di setiap sudutnya menutupi pandangannya ke depan, tetapi medan perjalanan yang dilewatinya sangatlah buruk dan mulai berlumpur. Beruntungnya, Hadad menyiapkan beberapa mantra sihir dasar agar alas kakinya tetap bersih walaupun melewati jalanan berlumpur ini. Setelah sekian lamanya Hadad menyelusuri padang rumput itu, akhirnya Hadad dapat sampai di suatu danau yang tidak terlalu besar tetapi cukup dalam. Dengan luas permukaan 82.414 kilometer persegi, danau ini diisi oleh air tawar yang cerah dan berwarna emerald. Hadad menyangka bahwa danau ini terbentuk akibat terjadinya erosi atau pelarutan pada batu gamping. Di dunia sebelumnya, manusia menyebut danau ini dengan nama danau karst. Bedanya, batu gamping di sini lebih berkilau dan terlihat lebih mahal dibandingkan batu gamping di dunia sebelumnya. Melihat keindahan tiada tara pada danau tersebut membuat Hadad melupakan tujuan awalnya untuk mencari jejak kaki misterius.


"Wah jarang-jarang nih bisa lihat danau seindah ini," gumam Hadad sembari duduk santai di sebelah danau.


"Kok bisa ya danau seindah ini tidak pernah terjamah oleh seseorang sama sekali?"


"Atau mungkin danau ini berbahaya ya….? Ah, enggak mungkin juga sih, soalnya di sini adem ayem aja."


"Itu karena kamu tidak menyadarinya sama sekali….." Ucap suara misterius yang terdengar entah dari mana.


"Siapa itu.….? Apa ada orang di sana……? Jika ada, jawab aku……?"

__ADS_1


"Aneh, padahal tadi aku mendengar suara perempuan…..? Apa jangan-jangan itu hantu ya….."


"Yaiyalah, masa iya-iya dong."


"APAAAAAAA.….?"


Hadad terkejut bukan main, hingga dirinya tersungkur ke tanah. Bulu kuduknya merinding, matanya terbelalak, dan wajahnya tidak karuan. Ia panik dan tidak bisa berpikir jernih. Hadad khawatir pada keselamatannya di sini. Hadad mencoba lari dari situasi itu, akan tetapi salah satu kakinya dicengkram oleh tangan misterius yang entah berasal dari mana, sehingga ia kembali terjatuh ke permukaan tanah.


"Sial, kenapa kakiku berat sekali…..?"


"Kamu mau kemana kak…..?"


"Siapa kamu….? Kenapa kamu menyeretku ke sini….? Apa jangan-jangan kamu itu hantu penunggu danau ya….?"


"Mohon maaf.… Sepertinya kakak salah sangka deh….. Masa gadis secantik ini kamu sebut sebagai hantu sih….. Gak habis pikir…."


"Suara ini.… Rasanya aku pernah mendengar suara ini deh, tapi di mana ya…..?"


"Siapa hayo.….?"


"Pim pom.…. Seratus buat kakak…."


"Ah yang benar ini pasti bohong kan….?"


"Lahhhh, masih gak percaya juga nih…..?"


"Bukan, bukan. Bukan itu masalahnya. Masalahnya aku masih belum bisa melihat sosokmu di sini."


"Baiklah, kalau begitu aku akan menunjukkan sosokku yang indah ini kepadamu…."


"Byur.…. Srassshhhh"


Air danau mulai naik ke atas permukaan tanah disertai dengan guncangan tanah yang cukup kuat. Perlahan demi perlahan, air itu berkumpul tepat di hadapan Hadad. Kumpulan air tersebut bertransformasi menjadi bentuk seorang gadis, mulai dari bagian bawah kaki hingga bagian atas kepala. Semua air itu bersatu menciptakan keharmonisan yang tiada tara. Dan benar saja, kumpulan air danau ini mulai terbentuk sesuai dengan apa yang diharapkan - sesosok gadis yang telah lama Hadad temui semenjak ia berpindah ke dunia fantasi ini. Salah satu gadis yang paling ia cintai dengan ketulusan hati yang tidak dapat dipungkiri lagi. Sontak Hadad perlahan mengeluarkan air matanya sebagai ungkapan perasaan yang telah ia tahan hingga saat ini. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya agar tidak terlihat cengeng di hadapan orang yang dicintainya itu.


"Ini benar…? Ini bukan mimpi kan…?" tanya Hadad.

__ADS_1


"Bukan atuh, masa ketemuan offline begini disebut mimpi sih," jawabnya.


"Sirlia, maaf aku… Tidak sempat memberitahumu… Saat itu…"


"Tidak apa-apa kak, mungkin saat itu memanglah bukan takdirnya…"


"Iya, kau benar…"


"Hehe… Aku rasa kamu kangen ya sama aku…?"


"Iya, kangen banget…"


"Wihhh tumben nih bilangnya pede, biasanya kakak jarang jawab kayak gini deh…"


"Ih, beneran Sirlia… Aku di sini sudah berubah… Menjadi pribadi yang lebih peduli akan sosial…"


"Begitu ya, syukurlah. Aku kira kamu bakalan murung terus di sini."


"Ya, ya enggaklah… nanti malah aneh dong jadinya…"


"Hehe, iya juga ya…."


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa tau aku ada di sini…? Bagaimana caranya kamu bisa berada di sini…? Bukankah kamu masih berada di ruangan kerja ya saat itu…?"


"Aku tahu kok. Sebab aku juga sempat dipindahkan ke sini setelah kepindahanmu itu. Portal yang saat itu muncul tepat di hadapanmu mengalami distorsi ruang yang cukup mengerikan. Sehingga portal itu menyedot beberapa hal agar masuk ke dalamnya, termasuk aku."


"Kok bisa kebetulan kayak gitu ya…?"


"Entahlah, mungkin sudah ceritanya kayak gitu…."


"Lalu, kenapa kamu bisa berada di danau ini…?"


"Itu karena…"


"Kak Hadad, kamu di mana…? Apakah kamu di sini…?" teriak seorang perempuan dari arah belakang Hadad.

__ADS_1


"Suara itu jangan-jangan…"


__ADS_2