
..."Kumpulan ide dan keinginan yang akan dilaksanakan untuk langkah kedepannnya merupakan definisi singkat tentang rencana. Ya dengan menyebut namanya saja, terbesit dalam pikiran kita bahwa rencana meruapakan suatu hal kompleks yang dibutuhkan sebelum melakukan sesuatu. Sebab dengan adanya rencana yang jelas, maka hasil yang diekspektasikan pun menjadi lebih mudah untuk digapai. Sehingga manusia pada umumnya akan mengasah kemampuannya dengan memfokuskan rencana demi masa depannya."...
"Kenapa kamu terlihat kaget nona…..?" Tanya Pria didepannya.
"Apa mungkin kamu mengenal nama yang aku sebutkan tadi….?"
"Ti...tidak… aku tidak mengenal seorang pun disini. (Gawat… jika sampai ia tahu bahwa aku mengenal Hadad, pasti ia akan mencurigainya.)"
"Lalu mengapa kamu terkejut seperti itu…?"
"Reaksiku tadi hanyalah reaksi terhadap cerita yang anda kisahkan tadi. Bolehkah anda menceritakannya lebih lanjut….?"
"Baiklah, kalau begitu aku akan menceritakan semua hal yang aku tahu."
"Aku akan mendengarkannya dengan senang hati…."
"Jadi ketika pemuda tersebut datang di tenda ini ia terlihat gelisah dan tidak dapat mengontrol emosinya. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikannya sebab lukaku pun masih belum pulih sepenuhnya."
"(Berarti Hadad juga termasuk korban dari bencana ini ya….. Kasihan sekali dia…..)"
"Namun hati nurani ku tergerak ketika melihatnya murung tak berdaya. Sehingga aku coba untuk mengajaknya mengobrol dengan perlahan. Awalnya ia menolak obrolanku, tapi pada akhirnya ia perlahan-lahan mulai berbicara dengan normal."
"Lalu apa yang terjadi padanya….?"
"Ia kabur dari keluarganya karena ia merasa bersalah, namun akhirnya ia berani untuk meminta maaf dan kembali hidup dengan normal bersama keluarganya itu."
"Kalau boleh tau dimanakah tempat ia tinggali saat ini….?(Aku masih penasaran… sebenarnya siapa keluarganya itu ya….?)"
__ADS_1
"Rumahnya berada disekitar tempat ini, kalau tidak salah ia tinggal diujung pedesaan dari arah utara. Jika kamu tidak menemukannya kamu bisa bertanya lebih detailnya kepada penduduk yang kamu temui nanti…."
"Baik terima kasih banyak ya pak….."
"Iya sama-sama, semoga kamu menemukan apa yang kamu cari itu ya…."
"Iya pak.… (Apa Cuma pikiranku saja… atau memang pria mengetahui rencanaku saat ini ya….? Ah sudahlah… yang penting aku bisa menemukan informasi yang berharga….)"
Sirlia pun berpamitan pada pria paruh baya tersebut. Ia bersyukur dapat menanyakan segala hal padanya, karena informasi yang ia berikan pun diberikan secara percuma. Maka informasinya saat ini dapat ia gunakan dengan sebaik- baiknya.
Setelah keluar dari tenda pengungsian Sirila kembali melanjutkan perjalanannya mencari tempat tinggal yang Hadad tinggali disini. Beberapa penduduk desa yang tinggal disini pun cukup ramah dan bersahabat. Ini terlihat saat Sirlia berinteraksi dengan mereka. Ia menanyakan hal yang sederhana namun mereka membalasnya dengan kebaikan yang luar biasa. Tak hanya memberikan senyuman, mereka bahkan memberikan beberapa bahan makanan kepada Sirlia. Merasa dirinya diterima dengan baik disini, Sirlia pun memutuskan untuk tinggal disini sementara. Serta melanjutkan pencariannya terhadap rumah yang Hadad tinggali diujung desa ini.
Matahari mulai tergelincir kearah barat. Kemiringan yang sempurna membentuk pantulan cahaya dengan paduan warna oranye. Sungguh memanjakan mata dan membuat keadaan yang sangat tenang. Pencarian Sirlia sudah mencapai puncaknya. Setelah bertanya kepada beberapa penduduk disini, akhirnya ia dapat menemukan rumah yang ia cari-cari hingga saat ini. Rumah tersebut benarlah terletak diujung pedesaan. Rumah sederhana dengan polesan furnitur yang cukup menarik perhatiannya. Dua lantai rumah ini menjadi daya tarik sendiri bagi Sirlia. Akan tetapi Sirlia masih tidak bisa mencerna situasi aneh yang terasa didekat rumah tersebut. Tak lama Sirlia pun memperkuat tekadnya demi bertemu dengan sosok yang berharga baginya. Perlahan ia langkahkan kakinya menuju rumah itu sambil melihat-lihat keadaan sekitar.
Mega merah semakin terlihat keberadaannya. Ini menunjukkan bahwa malam hari tinggal beberapa menit lagi. Sirlia sudah berada didekat rumah tersebut. Ternyata rumah ini terlihat lebih sepi daripada apa yang ia pikirkan sebelumnya. Padahal ia mendengar dengan jelas dari para penduduk bahwasanya rumah ini ditinggali oleh empat orang. Tetapi ia tidak melihat sama sekali pergerakan seorang pun didalam rumah ini. Alhasil Sirlia mencoba membuat rencana baru agar dapat melangkah ke arah selanjutnya. Akan tetapi disaat dirinya baru saja duduk disamping jendela rumah itu, tiba-tiba dirinya mendengar suara dari Sosok misterius lagi.
"Apakah kamu sudah menemukan orang yang telah aku perintahkan sebelumnya…?" Tanya Sosok misterius.
"Begitu ya.…Sayang sekali… Kalau begitu coba kita lakukan rencana yang lain…."
"Rencana apa itu….? (Jangan-jangan ia akan memerintahkanku untuk menghancurkan rumah ini…..?)"
"Coba kamu tulis beberapa tulisan dalam satu surat biasa…."
"Tulisan dalam surat biasa….? Kalau boleh tau surat itu digunakan untuk apa ya…..?"
"Kau tidak perlu tahu lebih jauh… Yang penting tuliskan saja kalimat yang akan aku bisikkan padamu nanti…."
__ADS_1
"I..iya baiklah… (Perasaanku tiba-tiba terasa tidak enak…. Kenapa ya….?)"
"Darku Majiku : Whaito Sheet…."
"Maho no Ugoki : Wraitto letter…"
Dengan cepat Sirlia pun langsung menuliskan segenap kalimat yang Sosok misterius bisikkan kepadanya. Ia menulis setiap kata dan kalimat dengan sangat teliti agar tidak dimarahi oleh Sosok misterius. Awalnya ia merasa biasa saja dan tidak terlalu peduli dengan isi surat tersebut. Namun sesaat sebelum surat itu selesai ia merasa bahwa ada suatu kejanggalan dalam satu kalimat ditengah surat itu. Tetapi Srilia tidak sempat membacanya, sehingga surat itu telah selesai dibuat begitu saja. Dan seusai membuat surat itu Sirlia pun kembali mendapat perintah baru dari Sosok misterius.
"Selanjutnya kau harus pergi kembali ke tempat padang rumput dekat pegunungan sebelumnya…."
"Eh.… Kenapa aku harus balik lagi kesana….? (Udah capek banget kayak gini, malah disuruh balik lagi… kejamnya…..)"
"Sudahlah, patuhi saja perintahku ini. Atau tidak hidupmu akan berada dalam bahaya."
"I...iya… akan aku laksanakan…."
"Bagus kalau begitu masuklah lewat portal yang akan aku tunjukkan padamu…."
"Portal.…?"
"Darku Majiku : Jikan no Modotte…."
"Zapppp.….. Sringggg……."
"Wah.… portal apa ini…..? Kenapa portal ini begitu hitam pekat warnanya….?"
"Portal ini akan membawamu ke tempat yang aku perintahkan tadi. Kau tidak perlu bertanya lagi, sebab jawaban akan pertanyaanmu itu akan kau temukan dibalik portal ini."
__ADS_1
"Ba...Baiklah, aku akan segera memasuki portal ini…."
Sirlia pun melompat kearah portal tersebut dengan agak gemetaran. Dirinya masih merasa bahwa Sosok misterius ini masih belum bisa ia percayai tindakannya. Sebab dirinya pun masih berada dalam kontrak yang tidak jelas hasilnya. Sehingga dirinya selalu mempersiapkan diri sebelum terjadi suatu hal diluar kemampuannya. Satu ancaman saja dapat membuat dirinya berada dalam keadaan berbahaya. Maka satu kesalahan dapat membuat Sirlia terjatuh kedalam keputusasaan. Tetapi dirinya tetap menambah kewaspadaannya agar tidak terjadi hal tidak diinginkan. Tak lama setelah berpikir akan keselamatannya, Sirlia pun telah berada ditempat yang disebutkan oleh Sosok misterius. Sebuah pada rumput dekat bantaran sungai yang mengalir deras didepannya. Tempat dimana ia akan melaksanakan rencana selanjutnya.