Tanpa Tujuan

Tanpa Tujuan
Menyesal dan Bersalah


__ADS_3

..."Manusia merupakan tempatnya salah dan lupa. Maka tidaklah aneh apabila manusia selalu berputar dilingkaran tersebut. Siklus ini selalu berputar pada porosnya. Belum lagi kehidupan setiap orang tidak akan luput dari rasa penyesalan. Ini semua dimulai dari kesalahan yang sepele diawal namun berdampak besar diakhir. Oleh karenanya tiga sifat berikut haruslah diselesaikan dengan kepala yang dingin dan akal yang sehat. Agar persentase penyelesaiannya lebih cepat didapat dibandingkan dengan penyelesaian yang terpaksa."


...


Tetesan darah terus mengucur membasahi pakaian yang dikenakan oleh pria ini. Warna merah pekat sudah mengotori separuh badannya. Belum lagi tangan dan kakinya semakin menjadi dingin layaknya es. Matanya tebelalak kearah yang tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata. Bak sakaratul maut, tubuhnya semakin ringkih dan tak berdaya. Sungguh mengenaskan keadaan tubuh dan jiwanya itu. Hikari yang berada didekat pria tersebut tidak dapat bersuara dikarenakan jeritan sebelumnya. Ditambah air mata yang mengalir dikedua pelupuk matanya semakin membuat dirinya tersiksa. Diam dan tak bergerak sama sekali. Pria ini terbaring dipangkuan Hikari cukup lama. Ini disebabkan dirinya menunggu kedatangan para relawan dan dokter yang sedang dipanggil oleh Layyin. Panggilan tersebut cukup memakan waktu yang lama sehingga membuat Arkhan bergegas untuk menyusulnya.


"Hikari tolong tunggu sebentar lagi, aku akan coba menjemput Layyin secepatnya." Ucap Arkhan


"Ii...iya…." Jawab Hikari dengan suara yang kecil sebab tangisannya.


Arkhan pun mempercepat langkahnya menuju jalan yang sebelumnya dilewati oleh Layyin. Jarak antara tempat mereka berada dan tenda relawan cukup jauh sekitar 1KM. Belum lagi keadaan desa pasca bencana memaksa setiap warganya untuk berjalan dari rumah ke rumah. Sebab setiap kendaraan telah hancur berkeping-keping dan tidak bersisa sama sekali. Tapi untungnya gerakan jalan cepat yang dilakukan Arkhan sangatlah efektif. Ia sudah kembali ke rumah dengan membawa relawan dan dokter. Dan terbukti penanganan medis yang cepat dari mereka dapat memandu dan segera membawa pria tadi ketempat yang seharusnya. Dengan cekatan Arkhan beserta Layyin langsung menenangkan Hikari. Namun apa daya dirinya tidak kuat untuk menopang tubuh dan emosinya sehingga membuatnya tidak sadarkan diri.


"Hikari……. Bertahanlah……." Teriak Arkhan.


"Kak Hikari.… kami sudah berada disisimu." Ucap Layyin.


"Layyin bantu aku menopangnya ke tenda relawan."


"Baik kak.…."


Keduanya pun bersama-sama menopang tubuh Hikari yang lemah. Arkhan menopangnya disebelah kiri sedangkan Layyin disebelah kanan. Keduanya berjalan menuju tenda relawan.


Singkat cerita keduanya sudah sampai ditenda relawan dan sedang menunggu diluarnya. Ini dikarenakan dokter menyuruh keduanya untuk menunggu. Awalnya Layyin menolak karena dirinya ingin menemani Hikari, namun Arkhan berhasil membujuk Layyin untuk menunggu. Sebab ia tidak ingin Layyin mempersulit keadaan didalam tenda.


"Tenanglah Layyin jangan bertindak gegabah." Ucap Arkhan.


"Tttapi.…kak Hikari sendirian disana….." Jawab Layyin.


"Iiyaaa… aku tau itu, tetapi tetap saja itu tidak boleh…"


"Kenapa kak.…? Padahal keadaan Kak Hikari sedang tidak baik-baik saja. Tetapi kenapa kakak malah tenang-tenang saja menghadapinya?"


"Itu tidak benar….." Ujar Arkhan yang mulai meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Aku juga berpikir demikian, namun apa daya kita tidak dapat membantunya saat ini. Kita tidak boleh mengganggu prosedur dokter yang sedang berlangsung. Sebab pendarahan pria yang mirip Hadad tadi sudah terlalu lama. Takutnya ia kehilangan nyawanya sebab kekurangan darah dan itu berpotensi mengakhiri hidupnya."


"Kalau begitu aku berarti diperbolehkan untuk menemui Kak Hikari kan?"


"Iya itu memang perlu, namun sekarang juga bukanlah saat yang tepat."


"Kok tidak boleh juga? Kan Kak Hikari butuh orang yang menemaninya disat ia tidak sadarkan diri. Bagaimana bila terjadi sesuatu padanya….?"


"Cukup pecaya saja padanya dan do'akan agar cepat sembuh. Karena aku yakin dirinya dapat kembali sadar seperti semula. Sebab dirinya tidak terluka, namun hatinya pasti menjerit kesakitan."


"Bbbaik kak…."


Setelah menenangkan Layyin, Arkhan mengeluarkan sesuatu didalam didalam kantongnya. Semacam makanan ringan layaknya sandwich. Yang mana makanan tersebut merupakan makan malam yang akan disantap oleh ketiganya nanti. Namun ia sengaja membawa makanan itu, karena kejadian ini terjadi secara tiba-tiba. Maka dirinya pun bergegas membawa makanan tersebut untuk disantap bersama ditenda tempat mereka berada. Perlahan tapi pasti mereka dapat menyantap makanan tersebut hingga habis. Dengan keadaan batin yang sedang tersiksa. Tak lama seorang dokter pun datang menghampiri mereka.


"Apakah kalian adalah Saudara Arkhan dan Saudari Layyin?" Tanya dokter.


"Ya betul dok…" Jawab Layyin.


"Bagaimana kondisi kedua teman kami itu dok?" Tanya Arkhan.


"Penyakit aneh.…? Penyakit seperti apa itu dok…?"


"Tetapi bukannya teman kami itu sebelumnya mengalami pendarahan saja kan dok?"


"Ya.…kamu benar. Namun pendarahan tersebut hanyalah gejala awalnya saja. Sebab penyakit yang sebenarnya bersumber dari dalam tubuhnya. Dan setelah kami pelajari serta selidiki lebih lanjut, ternyata penyakit tersebut tidak menular. Namun dampaknya bisa terus menggerogoti tubuh pengidapnya."


"Aaaapppaaa.….? Kkkok bisa gitu dok…? Sebenarnya apa yang terjadi padanya..?"


"Iiiya dok.…soalnya kami juga belum mengetahui luka serta penyakitnya secara pasti. Karena teman kami ini datang kerumah dalam keadaan yang mengenaskan."


"Nampaknya teman kalian ini terkena suatu sihir terlarang yang berasal dari monster didalam gua. Karena sihir tersebut tidaklah tersebar lewat penggunanya namun dari setiap ruang dan oksigen yang berada disekitarnya. Jadi semakin dirinya menghirup atau terkena luka didalam ruangan itu maka sangatlah besar kemungkinannya dia terkena penyakit tersebut."


"Tapi apakah ada obat atau ramuan penawar penyakit tersebut?"

__ADS_1


"Sepertinya tidak ada."


"Mengapa tidak ada dok…?!"


"Itu karena tim medis yang kita miliki belum difasilitasi dengan teknologi yang canggih dan ditambah juga dengan relawan yang mengerti akan medis hanya sedikit."


"Jadi secara tidak langsung kita membutuhkan seorang yang ahli dalam bidang ini ya dok?"


"Ya kau benar…."


"Ah ya.… aku baru saja mengingat sesuatu…"


"Ingat apa kak…?"


"Sebelum pria tersebut tidak sadarkan diri, ia menyebut bahwa kita harus bergegas menuju seorang penyihir. Namun aku masih belum dapat memastikan penyihir tersebut berada dimana.."


"Nampaknya aku tahu siapa sosok itu…..!!!"


"Siapa sosok itu dok….?"


"Dia berasal dari hutan belantara yang mana disana tidak ada seorangpun yang berani untuk menemuinya. Sebab hutan tersebut dihuni oleh beberapa makhluk yang mengerikan, beringas, dan saling memangsa satu sama lain."


"Jangan-jangan sosok tersebut dapat menyembuhkannya…?"


"Aku tidak begitu yakin. Orang-orang didesa pun lebih memilih untuk tidak berurusan dengan sosok tersebut. Karena konon katanya sifat penyihir itu sangatlah rakus dan tidak pandang bulu. Sehingga para petualang yang berani menapakkan kaki didekat tempat tinggalnya disinyalir seringkali mengalami kejadian yang menakutkan. Entah penyakit atau kehilangan barang. Sungguh tempat yang hina."


Setelah penjelasan dokter yang begitu mendetail dan panjangnya membuat Arkhan dan Layyin mengurungkan niat mereka untuk menemui sosok penyihir tersebut. Padahal cara itu menjadi opsi terakhir mereka agar dapat menyelamatkan teman mereka. Namun apa daya ketidaktahuan dan kelemahan mereka membuat mereka ragu untuk melangkah. Dan hanya menyisakan usaha mereka dengan berdo'a dan menemani teman mereka itu. Beberapa saat kemudian dokter pun pamit undur diri dari hadapan keduanya. Namun tidak berselang lama setelah kepergian dokter, seorang suster pembantu yang mengawasi kedua pasien tersebut tiba-tiba saja menghampiri mereka. Dari kejauhan suster tersebut nampak tergesa-gesa seakan telah menyaksikan sesuatu yang berasal dari luar nalarnya.


"Suster…. apa yang telah terjadi…? Mengapa kamu terburu-buru?" Tanya Arkhan.


"Iya sus.…apakah terjadi sesuatu dengan teman kami….?" Tambah Layyin.


"Mmmohon maaf.… aku tidak bisa menjelaskannya sekarang." Jawab Suster.

__ADS_1


"Lebih baik kalian ikut saja denganku sebelum kita terlambat……"


__ADS_2