
...
"Semua yang berlalu biarlah berlalu, karena masa lalu hanyalah kejadian yang terjadi satu kali. Kesimpulan ini menjadi awal dari perpindahan sifat maupun kebiasaan seseorang yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan pengalaman di masa lalu. Sebab tidak semua orang dapat merasakan hal yang baik disetiap kehidupannya, sehingga perlarian tidak dapat dihindari. Mungkin bahasa yang pas itu migrasi atau transmigrasi, namun karena keadaan yang mendadak membuatnya berubah menjadi kata pelarian. Seakan peristiwa ini terjadi dengan cepat dan tanpa persiapan yang betul-betul matang."
...
Sekitar pukul lima sore, keadaan disekitar kerajaan masih begitu sibuk untuk mempersiapkan event yang akan dirayakan malam harinya. Setiap pelayan berlulu lalang disekitaran istana untuk bekerja sesuai dengan arahan yang telah diberikan Raja agar perayaan ini terjadi dengan khidmah dan lancar. Bahkan ada satu pelayan yang begitu sibuk mempersiapkan semua dekorasi yang bakal digunakan nanti. Ia merupakan kepala pelayan kerajaan yang bernama Margareth. Sosoknya yang sudah berumur hampir kepala lima dengan perawakan orangtua yang mana setiap kulitnya mulai mengeriput disetiap bagian, ditambah rambut yang mulai beruban dan cara berjalannya yang mulai tidak stabil. Namun hebatnya ia masih memiliki semangat layaknya seorang veteran yang kembali bergabung ke tempat pertarungan. Kharisma dan Kebijaksanaan menjadi gambaran yang sangat elok untuk dipandang daripada sosoknya itu. Ia berjalan kesana kemari demi mencari beberapa perlengkapan yang mungkin belum cukup atau siap untuk disiapkan. Begitu lincah dan sangatlah cekatan. Hingga dirinya dapat menyadari tempat-tempat yang seakan cukup dimata orang lain namun belum begitu sempurna dihadapannya. Maka tak ayal sifat perfeksionisnya ini menjadi kebanggan baginya tersendiri.
Margareth terus menerus mengecek semua hal yang berkaitan dengan dekorasi istana yang sedang dipersiapkan. Layaknya jarum jam dinding kuno, dirinya bergerak tanpa henti dalam satu jalur lintasan dilorong kerajaan. Dan tak disadari dirinya sampai didepan ruangan tempat Hadad dan Sirlia beristirahat. Dirinya mencoba untuk memberitahukan kedua orang ini agar dapat mempersiapkan diri mereka sebelum acara dimulai. Karena keduanya merupakan bintang utama dalam acara ini.
"Tok.….Tok…..Tok……."
"Tuan Hadad.…. Nona Sirlia….. Apakah kalian sudah siap….?" Tanya Margareth sambil mengetuk pintu.
"Iiiyaaa bi.….…" Jawab Hadad dan Sirlia dengan kompak.
"Apakah masih ada hal yang perlu saya bantu….?"
"Tidak ada bi….., Semuanya sudah kami siapkan kok."
"Baiklah, kalau begitu jangan sungkan ya, berutahu bibi ya kalau memang ada hal lain yang masih kalian butuhkan."
"Siap Bi.…."
Margareth pun kembali menutup pintu ruangan dan segera kembali ke tempat dekorasi. Ia tidak menyadari bahwa ruangan tadi tidaklah berpenghuni. Dan suara yang keluar tadi pun berasal dari sihir angin buatan sehingga dapat membuat suara yang persis dengan keduanya.
......................
Tak lama setelah mempersiapkan semua dekorasi yang ada, Margareth kembali kehadapan Raja untuk melaporkan selesainya dekorasi acara. Dirinya pun segera bersiap dan memulai langkahnya menuju jantung kerajaan. Dan disaat Margareth sampai, ia sudah melihat Raja sedang duduk disinggasananya bersama dengan Pangeran Suna. Perlahan dirinya pun mendekati Raja dan berlutut untuk menghormatinya.
"Berapa persentase dari persiapan dekorasi acara ini Margareth…?" Tanya Raja.
"Baik Yang Mulia, semuanya sudah hampir siap. Kisaran 95% dekorasi, masakan, cinderamata, pakaian pesta, dan lain-lainnya telah dipersiapkan." Jawab Margareth.
__ADS_1
"Begitu ya.… Nampaknya tinggal kita saja yang perlu bersiap-siap."
"Benar Yang Mulia…."
"Oh iya aku lupa satu hal….. Bagaimana keadaan kedua tamu kita itu….?"
"Mereka baik-baik saja Yang Mulia. Tadi saya sempat bertemu dengan keduanya saat mendekorasi bagian lorong kerajaan. Nampaknya mereka sedang bersiap untuk menggunakan pakaian pesta yang sebelumnya telah saya siapkan."
"Baiklah.…Jika memang mereka sudah siap, maka kita tinggal mulai mengumumkan acara ini kepada para penduduk kerajaan."
"Siap laksanakan Yang Mulia….."
Tak lama setelah Margareth beranjak dari tempatnya, tiba-tiba saja datang seorang prajurit dihadapan Raja. Prajurit ini terlihat seperti berlari dari lorong kerajaan menuju singgasana, karena ia bergerak dengan tergesa-gesa. Melihat keadaannya seperti itu, Pangeran pun segera mendekatinya dan mulai bertanya akan hal yang telah terjadi padanya.
"Prajurit apa yang telah terjadi…..?" Tanya Pangeran.
"Pangeran.….. Mohon maaf sebelumnya…… Saya…. Ingin menyampaikan suatu hal…. Yang sangat penting….." Ujar Prajurit itu.
"Ada apa gerangan….? Hingga kau tergesa-gesa kesini….?"
"Mereka kenapa.…?" Tanya Raja dengan keheranan.
"Mereka menghilang Yang Mulia……!!!"
"Aaapa.….? Bagaimana bisa…..? Bukankah mereka berada diruangan istirahatnya…..?"
"Saya tidak berbohong Yang Mulia….. Mereka benar-benar hilang dari tempat itu….."
"Lalu kemana perginya mereka….? Bukankah saya telah mengutus beberapa prajurit disekitar tempat itu….?"
"Entahlah Pangeran, saya juga tidak tahu mereka kemana….. Yang jelas saat saya dan beberapa teman prajurit saya hendak mengetuk pintu mereka….. Tiba-tiba terdengar suara yang mirip dengan keduanya….."
"Kok bisa.….? Padahal kan tadi kau bilang bahwa keduanya menghilang….? Lalu mengapa suara keduanya masih bisa terdengar….?"
__ADS_1
"Nah itu dia Yang Mulia. Ternyata suara-suara itu berasal dari sihir angin tingkat atas. Yang mana dengan sihir tersebut dapat menjadikan angin sebagai tiruan suara pengguna sihir tersebut…"
"Apa.…. Lalu kemana perginya mereka…..?"
"Ayahanda, sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu dari kita….."
"Kau benar.… Nampaknya kita harus segera mencari keduanya…. Sebelum hal ini diketahui oleh pihak lainnya."
"Baik Ayahanda, aku akan segera mencari mereka ditempat yang bisa aku jangkau."
"Kerahkan seluruh prajurit kerajaan untuk mencari kedua orang tersebut…. Perintahkan agar mereka tidak membuat kericuhan bahkan mengganggu kegiatan penduduk kerajaan."
"Baik Yang Mulia akan saya laksanakan, Saya mohon pamit untuk melaksanakan tugas tersebut….."
Dengan cepat prajurit itu pun berlari keluar dari ruang singgasana menuju tempat lapangan. Ia menemui beberapa prajurit lainnya dan segera meminta yang lainnya untuk segera berkumpul. Sementara itu Pangeran Suna langsung pergi lewat pintu belakang kerajaan menuju tempat yang sebelumnya dilewati oleh Hadad dan Sirlia. Sang Raja pun ditinggalkan didalam ruang singgasana bersama dengan Margareth.
"Margareth.….!!!!" Bentak Raja.
"Kenapa kamu tidak dapat menyadari kepergian keduanya….!!!"
"Mohon ampuni saya Yang Mulia……" Ujar Margareth sambil menundukkan kepalanya.
"Saya tidak tahu bahwa itu merupakan sihir angin dan bukan suara asli mereka."
"Lalu kenapa kamu tidak memperhatikan kedalam ruangan itu terlebih dahulu…..!!!???"
"Itu karena.…. Saya merasa tidak enak untuk memaksa mereka secara langsung Yang Mulia…."
"Ya sudah.…. Kamu juga segera cari jejak mereka bersama dengan pelayan lainnya…..!"
"Siap akan saya laksanakan Yang Mulia….."
Margareth pun pamit dihadapan Raja dengan keadaan panik dan ketakutan. Ia merasa sangat bersalah atas kejadian ini. Ia tidak menyangka bahwa dirinya tidak dapat menyadari hal sesederhana itu. Akhirnya ia pun menyesali perbuatannya dan mulai meminta bantuan kepada para pelayan kerajaan lainnya.
__ADS_1
......................
Di sisi lain, Hadad dan Sirlia sedang mengendap-ngendap lewat jalan rahasia dibawah kerajaan. Jalan ini bersambung hingga dungeon disebelah barat daya dari kerajaan. Keduanya nampak terburu-buru karena takut jejak mereka diketahui oleh pihak kerajaan. Beruntungnya Hadad dan Sirlia telah menyiapkan beberapa perlengkapan sebelum mereka pergi. Sehingga keduanya tidak terlalu khawatir akan perjalanan yang panjang ini.