
..."Dalam kehidupan sosialnya manusia tidak luput dari yang namanya sosok berharga. Ya sesuai dengan namanya Sosok ini merupakan orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Sebab dengan adanya sosok ini kehidupan seseorang akan lebih bermakna. Maka kehilangan sosok ini sama saja dengan kehilangan separuh semangat dalam menjalankan kehidupan bersosial."
...
"Kak Hadad.…." Ujar Sirlia.
"Apakah dokumen dari hasil rapat kemarin sudah kamu pisahkan dengan dokumen sebelumnya…?"
"Eh iya aku lupa…." Ucap Hadad.
"Kemarin aku terlalu lelah untuk menyortirnya, jadi aku keburu ketiduran."
"Yahhh sudah kuduga…."
"Apa yang kamu duga Sirlia….?"
"Kak Hadad ini kan pelupa orangnya…. Jadi dokumen setipis tadi juga pasti bakal lupa kamu sortir."
"Tapi kan.… Aku keburu lelah loh…. Mau bagaimana lagi kan kalau sudah lelah mah…."
"Lalu kenapa kamu tidak meminta bantuan kepada yang lain….? Kan di organisasi itu masih banyak orang yang bisa kamu minta bantuannya…. (Khususnya aku loh….)"
"Aku tidak mau membebani mereka dengan tugas yang sulit dikerjakan…. Sebab mereka juga pasti mempunyai kesibukannya masing-masing."
"Begitu ya.… (Kamu benar-benar baik sekali Kak….)"
"Tentu saja.…Kamu juga Sirlia…."
"Hmmmm.…apanya kak….?"
"Kamu juga tidak perlu memaksakan dirimu untuk selalu mengerjakan tugas yang bukan untukmu…."
"Iya deh iya…. (Itulah alasan mengapa aku menyukaimu…..)"
"Baiklah, jangan lupa untuk beristirahat dengan cukup ya…."
"Okok.…. Oh iya kak aku lupa satu hal….."
"Apa itu.…?"
"Kamu keren sekali….."
"Ehhhh.…."
Wajah Hadad memerah mendengar bisikan Sirlia yang terdengar tepat ditelinga kirinya. Sirlia pun berlari keluar dari tempat tersebut. Dan disaat dirinya membuka pintu disana, Tiba-tiba Hadad memanggilnya kembali.
"Sirliaaaaa.….."
"Iya Kak.…."
"Jagalah dirimu ya…….."
"Baik Kak.…."
"Clinggg.….."
Dengan sekejap muncullah cahaya yang sangat terang hingga menutupi pandangan Sirlia. Saking terangnya sampai membuat Sirlia mengalihkan pandangannya agar tidak merasakan silaunya cahaya tersebut. Dan disaat cahaya itu mulai meredup Sirlia telah berada ditempat yang berbeda. Bukan ruangan kerja yang biasanya ia lihat melainkan padang rumput yang panjang menjulang di setiap sudut. Angin berhembus sangat kencang kearahnya seakan membuktikan bahwa kejadian yang ia rasakan sebelumnya merupakan imajinasinya saja. Sirlia kembali tersadar akan situasinya saat ini. Sontak ia pun tidak bisa menahan tangisannya yang perlahan membasahi wajah cantiknya. Rasa sakit dari lubuk hatinya terus meronta-ronta dan membuat dirinya semakin tersiksa. Tapi mau bagaimana pun dirinya mengelak dari situasi ini. Ia tidak dapat melakukan apapun, sebab dirinya sangatlah rapuh dengan keadaan ini. Tetap tegar dan memandang masa depan yang akan ia hadapi.
...----------------...
"Sekarang coba kamu pantau situasi pedesaan didekat padang rumput ini…." Suara Sosok misterius lewat telepati.
"Apa yang harus aku lakukan nanti….?" Tanya Sirlia dengan nada kebingungan.
"Kau hanya akan berperan sebagi pengintai saja…. Tidak lebih…."
__ADS_1
"Baiklah.…aku akan melaksanakan tugas ini dengan sebaik-baiknya…."
"Bagus.… Lakukanlah tugasmu dengan baik…. Dan ingat jika kamu membantah perintahku maka aku tidak akan segan untuk menyalakan sihir peledak itu…."
"Baik tuan.…. (Tunggu saja Kak, aku pasti akan segera bertemu denganmu.)"
Sirlia pun mengikuti arahan Sosok misterius untuk datang ke tempat yang sosok itu tunjukkan padanya. Petunjuk yang ia berikan berupa telepati tingkat lanjut. Jadi Sirlia tidak dapat berbuat sesuka hatinya. Tetapi Sirlia tidak menyerah dan tetap mencari jalan terbaik agar dapat keluar dati situasi yang kurang menguntungkan baginya ini.
Beberapa saat kemudian Sirlia telah tiba disebuah desa tempat para manusia setengah serigala berkumpul. Namun keadaan desa berbeda jauh dengan apa yang Sirlia pikirkan. Ladang rumput yang hijau, pepohonan yang rimbun, serta sungai biru yang mengalir mengelilingi desa telah hilang dan hancur. Kebenaran yang ia temukan berupa Ladang yang tandus tak berbentuk, pepohonan telah tumbang dan tak bersisa, serta Air sungai yang hampir surut sepenuhnya. Sungguh pemandangan yang enak untuk dilihat saat ini. Nampaknya desa ini telah hancur oleh bencana yang sangat besar. Semua ini terbukti dengan keadaan desa dan penduduk yang tidak terlihat ceria sama sekali. Mereka kebingungan dan panik dalam menghadapi kiamat kecil ini. Sirlia mencoba mencari tempat pengungsian sekitar untuk mengumpulkan informasi. Dan tak lama ia bertemu dengan seorang gadis yang sedang mengumpulkan bahan makanan didekat tenda pengungsian. Dengan sigapnya Sirlia pun segera bertanya padanya.
"Permisi.…." Ujar Sirlia.
"Apakah kamu penduduk desa ini…..?"
"Iya.… benar…." Sahut gadis itu.
"Ada apa ya….?"
"Apa kamu tahu tempat pengungsian dimana….?"
"Oh iya aku tau, tempat itu berada tepat diujung tenda sebelah barat. Nanti kamu akan menemukan salah satu tenda berwarna hijau army. Disana juga kamu dapat menanyakan segala hal tentang pengungsian dan lainnya."
"Baik terima kasih banyak."
"Iya sama-sama…."
"Ngomong-ngomong aku belum bertanya tentangmu… Siapa namamu….?"
"Namaku Akarui Hikari. Kamu bisa memanggilku Hikari. Kalau kamu…?"
"Oh iya, namaku Sirlia Ajram. Kau bisa memanggilku Sirlia."
"Sirlia ya.…Salam kenal Sirlia…."
"Iya salam kenal juga Hikari…"
"Aku berasal dari kerajaan gurun dari arah timur laut desa ini."
"Apakah itu kerajaan Yorokobi no Bunya…?"
"Iya kau benar, bagaimana kau bisa mengetahuinya? Apa mungkin kamu pernah kesana….?"
"Tidak pernah. Aku hanya mendengarnya dari salah satu temanku yang pernah pergi kesana."
"Begitu ya.… (Sepertinya aku bisa mencari informasi dari temannya itu.)"
"Maaf ya, kami tidak menyambut tamu dengan benar."
"Iya tidak apa-apa. Aku juga hanya kebetulan mampir kesini."
"Syukurlah, jika kamu perlu sesuatu, tolong jangan sungkan untuk memintanya padaku."
"Iya baiklah, mohon bantuannya ya Hikari"
"Iya sama-sama."
Keduanya pun berpisah kearah tujuannya masing-masing. Sirlia pun segera pergi menuju tenda pengungsian. Disana ia coba untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Beruntungnya ia bertemu dengan seorang pria tua paruh baya yang sedang terbaring didalam salah satu tenda. Namun anehnya didalam tenda tersebut tidak terlihat seorang pun melainkan pria tersebut. Perlahan Sirlia masuk kedalam tenda itu dan mulai menyapa pria itu.
"Permisi.." Ucap Sirlia.
"Silahkan.…." Sahutnya.
"Anu.…apa benar disini tempat tenda pengungsian?"
"Iya kau benar nona…. Apakah kamu mau menjenguk seseorang…?"
__ADS_1
"Tidak pak.… Aku hanya sedang mengumpulkan informasi tentang bencana yang melanda desa ini. Apakah kamu tidak keberatan apabila aku menanyakan hal tersebut….?"
"Begitu ya.… Baiklah aku akan menjadi subjek wawancara mu itu."
"Benarkah..? Terima kasih banyak pak…!"
"Iya sama-sama. Lalu pertanyaan apa yang akan kamu tanyakan padaku…?"
"Anu.…kenapa desa ini bisa dilanda bencana seperti ini….? Apakah ini berasal dari bencana alam…? Atau mungkin peperangan yang terjadi didekat sini….?"
"Keduanya bukanlah alasan yang tepat."
"Lalu, apa yang sebenarnya terjadi disini….?"
"Beberapa bulan yang lalu, desa ini merupakan desa yang makmur dan sangat aman untuk ditempati. Bahkan disini juga biasa menjadi tempat singgahnya para petualang yang akan pergi ke daerah labirin didekat pegunungan Articia."
"(Berarti tempat ini benar-benar berbentuk seperti apa yang aku bayangkan sebelumnya.)"
"Namun kisah lama itu tidak berlangsung lama. Karena disaat desa ini sedang dalam keadaan damai, tiba-tiba muncul sesosok monster besar yang keluar dari arah hutan disebelah barat daya."
"Monster.…? Monster seperti apa…..?"
"Seekor monster besar yang entah siapa namanya. Namun ia begitu kejam dan ganas. Tak bisa dihentikan oleh orang-orang ahli sihir biasa."
"(Apa jangan-jangan itu ogre ya….?)"
"Tidak berselang lama setelah kemunculannya, disini sempat terjadi gempa yang cukup besar dan membuat panik seluruh warga desa. Alhasil para penduduk pun meninggalkan rumah mereka dan pergi menuju tempat yang lebih aman."
"Apa yang terjadi dengan monster itu….?"
"Ia dengan ganasnya berjalan kearah desa. Dan mulai menginjak setiap benda yang berada tepat didepannya."
"Menakutkan sekali ya……"
"Itu hanyalah permulaannya saja."
"Apa permulaan.…? Memangnya monster itu masih tetap menghancurkan desa ini….?"
"Iya benar. Dia datang sembari meluluh lantahkan seluruh desa. Perawakannya yang tinggi dan badannya yang besar membuat monster itu begitu tangguh untuk dikalahkan."
"(Kenapa monster sejahat itu bisa muncul disini ya…? Apa jangan-jangan monster itu dikendalikan oleh sihir jahat yang sengaja ditanamkan oleh seseorang ya…?)"
"Anehnya, monster itu tidak merusak desa hingga hancur lebur. Melainkan ia menghancurkan desa hingga hanya menyisakan setengahnya saja."
"Apa mungkin monster itu telah mendapatkan keinginannya….?"
"Entahlah, aku pun tidak tahu secara pasti apa niatnya kemari. Yang jelas kehadirannya itu telah membuat kami menghadapi bencana yang sangat besar dan tak dapat kami hindari. Bahkan istri dan ketiga anakku pun menjadi korban keganasan monster tersebut."
"Aku turut berduka cita atas keluargamu itu……"
"Iya terima kasih."
"Maafkan aku yang telah bertanya terlalu jauh tentang bencana ini…!"
"Kau tidak perlu meminta maaf. Ini semua sudahlah takdir dari Yang Maha Kuasa. Makhluk yang fana seperti kita hanya bisa menerima semua ketentuan-Nya secara lapang dada. Karena di setiap hal yang terjadi pasti ada hikmahnya."
"(Begitu tegar nya bapak ini…. Aku belum pernah bertemu sosok sehebat dirinya…. Semoga ia bisa mendapatkan suatu hal yang lebih baik setelah kehilangan segalanya….)"
"Nona, apa kamu pernah kesini sebelumnya….?"
"Aku baru pertama kali datang kesini."
"Begitu ya.…Entah kenapa aku seperti pernah bertemu seseorang yang sifatnya mirip denganmu."
"Benarkah.…? Siapa namanya….?"
__ADS_1
"Kalau tidak salah ia bernama Hadad…. Apa gitu…. Aku tidak terlalu bisa mengingat nama panjangnya."
"Hadad.….???!!!"