Tanpa Tujuan

Tanpa Tujuan
Reuni Keluarga


__ADS_3

..."Pertemuan kembali merupakan hal yang tidak bisa dilupakan oleh semua orang. Dari sekian banyaknya pertemuan yang terjalin, kata reuni menjadi kata kunci yang paling sering digunakan saat ini. Dimana setiap orang yang sudah saling mengenal itu kembali bertemu setelah sekian lama berpisah. Emosi yang meluap semakin membuat momen pertemuan ini terasa lebih berkesan. Wajah yang telah lama dirindukan dapat kembali terlihat dan kembali bercakap secara langsung. Mungkin inilah waktu yang tepat agar dapat melepas rindu akan insan dimasa lalu. Perubahan bukanlah hal yang aneh melainkan momen pembuktian bahwa waktu telah memisahkan mereka cukup lama. Sehingga pertemuan ini menjadi awal dari tonggak memperkuat tali silaturahmi antar sesama."


...


Sekujur tubuh Hadad seakan memerah dan tidak teratur suhu badannya. Ia tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya serta penyesalan selama dirinya pergi meninggalkan kampung ini. Rasanya bak tersengat lebah di siang bolong, dimana suatu hal yang Hadad tidak dapat ia bayangkan tiba-tiba terjadi didepan matanya sendiri. Semakin lama ia memikirkan hal tersebut, semakin memerah pula raut wajahnya. Karena ia masih belum percaya dengan keadaan disekitarnya ini. Berbeda dengan kedua temannya yang terlihat antusias dan penasaran akan tempat baru yang sedang mereka lewati ini. Keduanya merasa ada hal yang janggal didekat desa ini sehingga mereka memutuskan untuk mengikuti alur dari kejadian ini. Akan tetapi Hadad tetap tidak bisa menolehkanpandangannya sedikitpun dari Layyin. Yang notabene gadis tersebut merupakan sahabat lamanya. Melihat gerak-geriknya yang semakin tidak karuan, Sora pun mencoba untuk memecah suasana hening itu dengan obrolan ringannya kepada Hadad.


"Hadad kamu tidak apa-apa kan….?" Tanya Sora.


"Iiii.….iiiyaa…. Aku baik-baik saja." Jawab Hadad dengan agak sedikit gemetar.


"Syukurlah jika kamu baik-baik saja. Hanya saja aku khawatir dengan kondisimu selama perjalanan ini loh…."


"Memangnya.…ada yang aneh pada diriku ini…?"


"Tidak kok, tidak ada hal yang aneh pada dirimu. Kecuali wajahmu yang masih memerah itu…"


"Be...benarkah…? (Sial, kenapa tiba-tiba aku merasa malu ya…?!)"


"Iya tau, kukira kamu terkena demam atau penyakit sejenisnya….. Oleh karena itu aku khawatir padamu."


"Iii..itu tidak apa-apa kok. Aku cuman butuh istirahat saja."


"Baiklah jika memang itu maumu. Tapi tetap jangan terlalu memaksakan diri ya, sebab kamu juga bisa lelah. Jadi aku sarankan agar kamu mengandalkan teman-temanmu ini jika memang kamu tidak bisa menahannya sendiri."


"Iya kau benar, terima kasih banyak atas saranmu Sora."


"Siap sama-sama."


Berkat obrolan ringannya itu, Hadad sedikit demi sedikit mulai melangkahkan kakinya dengan mantap. Memang bukan langah kaki yang benar-benar siap, tetapi kondisinya saat ini agak lebih baik daripada sebelumnya. Mukanya yang memerah pun mulai memudar dan tubuhnya yang panas perlahan-lahan mulai mendingin. Melihat keadaanya itu Sora merasa senang sekali. Sebab ia dapat membantu Hadad dengan kemampuannya. Ia berharap agar dirinya dapat lebih membantu Hadad untuk kedepannya.


Beberapa menit kemudian Keempat pejalan kaki ini akhirnya telah sampai disebuah rumah diujung pintu masuk desa. Disini Hadad kembali mengingat kenangan masa lalunya di rumah ini. Bedanya ia tidak terlalu memperhatikan sekitarnya seperti sekarang. Buktinya Hadad dapat menggambarkan suasana lama yang telah lama berubah keadaannya. Mulai dari tanaman, pohon, rerumputan, jalan, serta warga yang seringkali dirinya lihat berada disekitaran rumah itu. Tetapi kali ini pemandangan yang dirinya lihat secara seksama hanya menyisakan puing-puing reruntuhan pasca bencana. Memori indah dimasa lalu masih ada dibenaknya hingga saat ini. Namun objek dan subjek diingatannya kali ini tidak membekas semuanya. Semuanya seperti sirna begitu saja. Tanaman yang tadinya bermekaran disetiap sudut desa, sekarang sudah layu dan tak dapat ditanam kembali. Pepohonan dan rerumputan hijau yang tersebar disetiap penjuru seakan hilang ditelan bumi. Jalanan yang tadinya menjadi penghubung antara satu daerah ke daerah lainnya telah rusak berkeping-keping. Penduduk desa pun mengalami penurunan populasi dari asalnya hampir ratusan menjadi puluhan orang yang tersisa. Sungguh pemandangan tragis bagi Hadad. Kemungkinan kecil baginya dapat bertemu dengan teman-teman seperjuangannya dulu. Serta para sepuh dan tokoh masyarakat yang mulai berkurang jumlahnya. Beruntungnya ia masih sempat untuk bertemu dengan ketiga sahabatnya disini, yakni Layyin, Arkhan, dan Hikari. Mereka masih bisa bertahan ditengah gempuran bencana. Tak lama Layyin pun segera membuka pintu depan rumahnya.


"Kakak.….. Kak Hikari aku sudah pulang…." Teriak Layyin.


"Iyaa.… sebentar….." Balas Hikari


"Layyin apakah benar Arkhan dan Hikari masih ada disini…?" Tanya Hadad memastikan.


"Mereka ada kok. Sebentar lagi juga mereka bakalan nongol kak."


"Kreekkkk.…." Suara pintu terbuka dengan cukup cepat.


"Layyin, apakah kamu sudah membeli apa yang aku catat sebelumnya…?"


"Iya sudah kak."


"Baiklah kalau begitu cepat masuklah kerumah, aku akan segera memasakkan bahan-bahan itu untuk makan malam kita."


"Tetapi kak ada satu hal yang aku bawa juga dari sana…."


"Satu hal.…? Apa itu….? "


"Ini dia.….."

__ADS_1


Layyin segera menunjuk dengan tangan kanannya kearah Hadad dan kawan-kawan. Sontak perbuatannya itu membuat Hikari kebingungan, sebab ia belum sepenuhnya melihat kearah depan pintu. Hingga akhirnya pintu rumah pun sengaja ia buka seluruhnya agar dapat melihat sesuatu yang diberitahu oleh Layyin. Dan ternyata itu adalah…..


"Hadad.….…"


"Hikari, aku pulang….."


"Kamu beneran Hadad kan…?"


"Iya benar ini aku Hadad."


"Itu tidak mungkin, aku masih tidak percaya. Coba buktikan jika kamu memanglah Hadad yang aku kenal."


"Aku telah menikahi seorang gadis cantik misterius ditaman desa saat pagi hari. Dan dia menyapaku dengan senyumnya yang manis serta imut. Lalu perlahan ia memasangkan cincin pernikahan padaku, dan akhirnya kita resmi menjadi suami istri."


"Wah.… hebat. Ternyata kamu benar-benar sosok Hadad yang aku cari hingga saat ini."


Tiba-tiba Hikari melompat kearah pangkuan Hadad. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi sebab orang yang telah ia cintai sepenuhnya sudah datang dihadapannya. Namun hal itu membuat suasana disekitar mereka menjadi tidak karuan. Khususnya bagi Sora dan Eraseru yang berada tepat disebelah Hadad. Mereka merasa heran dengan kejadian yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri.


"Hadad siapa ia sebenarnya….?" Tanya Sora.


"Iya Hadad kok bisa-bisanya ia memelukmu secara cuma-cuma." Ucap Eraseru.


"Padahal kan Sora juga kan pengen kayak gitu."


"Iii...itu tidak benar Eras…."


"Tapi kok mukamu memerah Sora….?"


"I...ini tidak ada hubunganya denganmu…."


"Dasar kamu yah…."


"Ehm.…. Sebenarnya ia adalah tunanganku…. Namanya Hikari."


"Benarkah.…? Tapi sejak kapan kalian menikah….? Padahal kamu tidak pernah bercerita tentang ini…."


"Maaf sekali, aku lupa untuk memberitahumu saat itu."


"Aku juga kaget loh, ternyata Hadad yang pendiam itu sudah punya calon pasangan masa depan ya…."


"Ya begitulah.… Hehe…."


"Oh iya, Hadad sebenarnya siapa mereka berdua ini…..?"


"Mereka adalah.…."


"Kami adalah rekan seperjuangan Hadad selama ini, perkenalkan namaku Sora."


"Dan aku Eraseru….."


"Iya salam kenal juga, namaku Hikari. Tunggu berarti kalian sudah saling mengenal sejak lama ya…..?"


"Betul sekali, kami berdua cukup akrab dengan Hadad."

__ADS_1


"Mmmmmmm begitu toh, lalu apa hubungan kalian dengan Hadad….?"


"Aku hanyalah teman sebayanya saja kok tidak lebih."


"Lalu kamu Sora….?"


"Aaaaku.… adalah temannya juga……"


"Benarkah.…? Kukira kalian adalah istri simpanan Hadad."


"Itu tidak mungkin terjadi….!!!"


"Hehe ya kan namanya juga nebak, sudah pasti tidak bisa dicerna semuanya."


"Syukurlah kalau kalian sudah saling mengenal." Ujar Layyin.


"Sekarang mari saya antar kalian ke ruang makan, karena hari ini adalah hari yang spesial."


"Emangnya kenapa hari ini disebut hari yang spesial…?"


"Sebab kita bisa kembali bereuni setelah sekian lamanya…."


"Iya kau benar Layyin. Kapan lagi kita merayakan momen baik seperti ini."


"Tetapi dimana Arkhan…? Aku belum bertemu denganya daritadi."


"Ia masih berada dikamarnya. Mungkin masih tidur dengan pulas, karena kemarin ia sudah banyak membantu masyarakat untuk dapat tinggal didesa pasca bencana ini. Tapi dia baik-baik saja kok."


"Syukurlah jika ia sehat. Aku tidak sabar untuk bisa kembali mengobrol dengannya."


"Okelah kalau begitu aku akan membangunkan Kak Arkhan agar dapat berbincang-bincang dengan Kak Hadad dimeja makan nanti."


"Okok terima kasih banyak Layyin."


"Iya sama-sama, silahkan masuk kerumah sederhana kami ini. Jika kalian butuh sesuatu cukup panggil saja aku dan Kak Hikari, kami akan berusaha sekuat tenaga agar permintaan kalian dapat dikabulkan."


"Siap, untuk sementara kami rasa cukup."


"Baiklah tunggu sebentar ya…."


Dengan cepatnya Layyin segera bergegas menuju kamar Arkhan dilantai dua rumah. Ia mencoba untuk memberitahunya bahwa sahabat terdekatnya telah kembali ketempat asalnya. Mungkin sekitar 10 menit lamanya agar ia dapat membangunkan Arkhan. Untungnya Arkhan dapat bangun dan dengan setengah kesadarannya, ia bergegas menuju ruang makan.


"Arkhan.…???" Ujar Hadad.


"Hadad.….???" Balas Arkhan.


"Kenapa kamu aa disini….?"


"Ceritanya panjang sobat, mungkin aku akan menceritakannya setelah kita menyantap masakan Layyin."


"Baiklah, kalau begitu aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu."


"Okok, jangan terlalu lama ya."

__ADS_1


"Iya deh iya…"


__ADS_2