
..."Ada beberapa hal yang mungkin tidak bisa kita sangka atau prediksi kejadiannya. Entah itu bencana maupun rencana. Sebab hal-hal tersebut biasa terjadi secara kebetulan dan terjadi begitu saja. Efek dari setiap hal disekitarnya. Secara harfiah persentase dari sebuah hal yang tak terduga bisa mencapai tujuh puluh sampai sembilan puluh persen per harinya. Karena semakin dilihat atau dirasakan keberadaannya maka akan semakin bisa pula terjadi suatu hal tersebut. Baik secara cepat atau lambat. Sungguh semua seperti terjadi begitu saja."
...
Baru tiga hari lamanya Sirlia bermukim di kerajaan Yorokobi no Bunya. Ia sudah merasa terbiasa akan lingkungan disekitarnya. Sepuluh permintaan atau quest telah ia selesaikan selama kurun waktu tersebut. Meski demikian dirinya masih belum bisa mengakrabkan diri dengan penduduk disekitarnya. Karena dirinya masih malu dan kurang percaya diri untuk bisa berkenalan dengan orang yang masih asing baginya. Padahal dikehidupan sebelumnya ia merupakan gadis yang riang dan sangat baik dalam bersosialisasi dengan lingkungannya. Hanya saja keadaannya saat ini jelas sangatlah berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Sehingga membuat dirinya merasa seperti menjadi pribadi jauh dari kata yang sama. Sirlia juga membatasi setiap kenalan yang bisa ia kenal agar dirinya tak terekspos keberadaannya. Rasa khawatir pada dirinya muncul disebabkan kekuatan sihirnya yang irregular. Maka dari itu dirinya bergerak secara independen dan tak terlalu mencolok dihadapan para petualang lainnya.
Pada suatu hari, Sirlia baru saja membereskan quest yang telah ia ambil dari guild. Misi tersebut berupa pengumpulan tanaman herbal diujung istana. Konon katanya tanaman ini dapat menyerap beberapa nutrisi dalam keadaan teriknya panas matahari. Bentuknya sekilas mirip dengan tanaman kaktus, berduri berwarna hijau serta hidup dialam yang gersang. Bedanya tanaman ini bisa dikonsumsi oleh masyarakat sekitar. Sehingga guid dikota pun memberikan quest ini pada para petualang pemula agar persediaan tanaman herbal dapat mencukupi kebutuhan para petualang lainnya. Harganya relatif murah dan dapat dijangkau oleh setiap kalangan masyarakat. Setelah Sirlia berhasil memetik beberapa tanaman yang ada disekitarnya, ia memindahakan semua tanaman itu ke kotak penyimpanannya.
"Wah.… ternyata tanaman ini sangat mudah untuk didapatkan." Ujarnya.
"Mungkin aku bisas membuat potion penyembuh dengan tanaman ini."
"Kira-kira berapa ya stok yang bisa aku dapatkan nanti…?"
"Ah.… sepertinya berapapun jumlahnya pasti bisa aku manfaatkan dengan seksama."
Tak lama setelah ia merapihkan setiap kaktus yang ada, ia berjumpa dengan salah satu petualang yang kebetulan sedang mencari tanaman kaktus juga. Keduanya berpas-pasan disaat Sirlia melangkahkan kakinya kearah kota.
"Yo.… Apakah hari ini kau mendapatkan tanaman yang tertera dalam misi….?" Tanya petualang itu.
"Iiiya.…" Jawab Sirlia.
"Yosh.… nampaknya hari ini keberuntungan sedang berpihak denganku."
"Ya.… Semoga beruntung….."
__ADS_1
Perlahan petualang itu pun pergi meninggalkan Sirlia. Anehnya petualang yang ia temui tadi tidak menunjukkan raut wajah yang menyenangkan. Padahal perkataannya tadi terlihat menyenangkan. Namun ia malah merasakan sebaliknya. Dengan cepat Sirlia menjauhkan fantasinya yang menjadi-jadi setelah kejadian tadi. Karena takutnya ia tidak bisa fokus dalam pekerjaannya. Dan akhirnya ia dapat sampai ke tempat guild lagi. Sesampainya diguild Sirlia bergegas menuju tempat resepsionis berada. Tapi sebelum dirinya hendak bertanya pada resepsionis, ia melihat sosok lelaki aneh didepannya. Lelaki tersebut nampak sedang bernegosiasi dengan resepsionis. Tetapi Sirlia belum bisa mendengar dengan jelas percakapan diantara keduanya. Sebab ia masih membereskan tanaman yang akan ia tukarkan nanti. Setelah menunggu beberapa menit lamanya, negosisasi diantara keduanya pun telah selesai. Namun sesaat sebelum kepergian lelaki tersebut, Sirlia seakan mendengarkan suatu suara disaat ia berada tepat disebelahnya.
"Cepatlah sebelum semua ini terlambat….." Ujar suara aneh itu.
"Semua yang kau miliki sebelumnya, belumlah hilang sepenuhnya."
"Hanya saja kau harus segera bertarung untuk merebutnya……"
"Karena hanya kamulah orang yang berhak berada disisinya….."
Sekilas suara tersebut pun menghilang dengan cepat tanpa ada bekas sedikitpun. Sontak Sirlia terkejut dengan suara itu. Dan segera ia menutup telinganya agar kepanikan tersebut cepat berlalu. Beruntungnya tidak ada orang yang menyadari kejadian itu. Dengan sigap Sirlia segera menukarkan tanaman yang ia dapatkan kepada resepsionis dan langsung pergi ketempat penginapannya. Dirinya berusaha untuk menyembunyikan kegelisahannya sebelum terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.
Jantungnya berdetak begitu kencang, kaki dan tangannya gemetaran tak menentu, juga mukanya yang mulai memucat membuat dirinya tidak bisa mengontrol emosinya. Semua hal ini terjadi setelah mendengar suara aneh sebelumnya, dirinya mencoba untuk tetap tenang. Berbekal sihir angin yang ia miliki, dirinya mengusapkan angin tersebut sepeti kipas angin. Dan akhirnya kegelisahan itu pun dapat diminimalisir keberadaannya. Segera Sirlia kembali bangkit menuju kasur disebelahnya. Ia beristirahat dengan cepat karena ia masih belum mampu untuk bergerak dengan bebas. Perlahan tapi pasti Sirlia pun dapat memejamkan matanya dan beristirahat dengan tenang.
Dimalam harinya ia bermimpi bertemu kembali dengan seniornya.
"Kak Hadad.….… " Teriak Sirlia.
"Jejakku tinggal beberapa meter saja didekat kediamanmu ini."
"Tapi kak.…Aku masih belum sanggup bertemu denganmu nanti….."
"Itu tidak benar…… Dirimu saat ini telah berkembang pesat melebihi dirimu saat itu."
"Kalahkan sosok aneh yang berada dikerajaan itu. Sebab ia memiliki petunjuk akan keberadaanku saat ini."
__ADS_1
"Aku yakin kamun pasti bisa kembali bertemu denganku…. Oleh karena itu aku menunggu kedanganmu itu….."
"Kak.…. Hadad……."
Keesokan paginya Sirlia terbangun dalam keadaan terjaga. Dirinya bersiap-siap untuk menjalani kehidupannya seperti biasa. Namun bedanya hari ini ia lebih gesit dari biasanya. Sebab ia tidak memiliki waktu lagi untuk bisa berleha-leha disini. Sekitar empat puluh menit lamanya telah ia gunakan dengan sebaik-baiknya dengan membasuh tubuhnya dan sarapan terlebih dahulu. Semua peralatan telah ia siapkan untuk jaga-jaga apabila terjadi hal yang tidak dapat ia prediksi. Disaat yang bersamaan dirinya berpamitan dengan pemilik penginapan dan berjalan menuju istana.
Sesampainya didekat istana Sirlia melihat sosk misterius yang keberadaanya ini terus dibicarakan oleh warga sekitar. Nampaknya sosok itu masih berada tepat disebelah kanan istana. Mungkin ia sedang beristirahat dikamar tidurnya. Sirlia dapat melihatnya berat bantuan teropong buatan yang ia hasilkan dari beberapa alat yang telah ia sediakan sebelumnya. Akan tetapi disaat dirinya masih memantau sosok itu, ia tersadar bahwa wajah yang sedang ia amati tersebut merupakan seniornya dimasa lalu. Pikirannya tiba-tiba kosong sejenak seakan bereaksi setelah melihat hal yang tidak ia duga sebelumnya. Ia berkesimpulan bahwa sosk itu ada hubunganya dengan seniornya dulu. Maka demikian Sirlia melengkapi pakaiannya dengan jubah berwarna putih keemasan yang menutupi seluruh badannya. Ia mengendap-ngendap lewat bangunan dekat sosok misterius itu. Berkat sihir angin miliknya ia dapat menghilangkan hawa keberadaannya dan mulai melewati beberapa penjaga istana didekatnya. Dan kebetulan ia dapt langsung bertemu dengan sosok itu. Perlahan demi perlahan Sirlia pun mengikuti sosok tersebut hingga sampai di kamarnya. Sesaat setelah sosok itu membuka pintu ia mengobrol sejenak dengan salah satu penjaga istana. Melihat kesemmpatan tersebut Sirlia pun dengan cepat masuk kedalam kamarnya itu dan bersembunyi diujung kamarnya. Tetapi ia merasakan keganjilan disaat berada didalam kamar tersebut. Seakan hawa keberadaannya itu ditolak mentah-mentah oleh kamar ini. Belum lagi ia merasakan aliran sihir yang tidak seperti biasanya. Seperti sihir hitam yang jahat. Tetapi Sirlia tetap menunggu agar ia mendapatkan momentum yang tepat.
Sekitar sepuluh menit lamanya Sosok misterius pun perlahan masuk kedalam kamarnya. Ia tidak mengeluarkan sepatah dua patah katapun saat berada dikamar itu. Hening tanpa ada suara yang keluar dari mulutnya. Sirlia juga masih ragu untuk menyerang sosok itu saat ini. Sehingga dirinya menunggu agak lama demi mendapatkan momentum yang tepat. Tak lama sorotan matanya mulai bergerak kesetiap arah. Sosok itu seperti mengecek keadaan kamar disekitarnya. Dan ternyata dirinya telah mengetahui keberadaan Sirlia. Sebab arah pandangannya itu tiba-tiba terfokus kearahnya. Merasa hidupnya akan terancam Sirlia pun mulai merapalkan sihir untuk mengelabui sosok tersebut.
"Maho no Ugoki : Hogo fu."
Dan ternyata sihirnya pun dapat membuat sosok tersebut memalingkan wajahnya dari Sirlia. Dan membuat dirinya mendapatkan kesempatan emas untuk melumpuhkannya. Dengan percaya diri Sirlia segera menarik pedang dari sarung pedangnya serta langsung mengarahkan tikamannya kearah sosok itu. Namun diluar dugaan sosok tersebut dapat menghindari serangannya itu.
"Apa.…..? Bagaimana bisa ia menghindar dari serangan sedekat itu…..?" Ujar Sirlia.
"Hehehe.…. Akhirnya aku menemukanmu." Ucap Sosok misterius.
"Siapa kau sebenarnya…..?"
"Aku bukanlah siapa-siapa, aku hanyalah seorang bayangan pemusnah."
Sosok itu membuka tiung pada jubahnya. Sehingga ia dapat memperlihatkan wajahnya. Dan ternyata sosok itu berwajah sangat mirip dengan Hadad, senior Sirlia sebelumnya.
"Kak Hadad.….. Apa yang terjadi denganmu…..?"
__ADS_1
"Ini bukanlah urusanmu……"