
..."Ekspedisi merupakan suatu rekam jejak perjalanan dari sekelompok orang yang sedang mencari keberadaan suatu hal atau benda. Ekspedisi juga melibatkan beragam jenis manusia sebagai narasumber dari jejak tersebut. Baik kenampakan alam atau perubahan iklim dan ekosistem suatu tempat menjadi komponen pembantu dalam ekspedisi. Begitu pula waktu sebagai pemberitahuan akan lamanya suatu ekspedisi diadakan. Karena semakin lama waktu yang dicapai maka semakin panjang pula perjalanannya. Sehingga waktu menjadi ukuran dalam suatu ekspedisi tertentu."
...
Matahari mulai bergerak perlahan ke arah barat. Tanda hari sudah sore. Kenampakan alam yang indah muncul dikala waktu itu, sebagai contoh fenomena yang kerap kali muncul saat ini ialah senja. Senja notabenenya merupakan fenomena alam menarik dimana matahari sejajar dengan pergerakan bulan. Waktu malam akan tiba disaat matahari mulai terbenam dan bulan sedikit demi sedikit menampakkan wujudnya. Perlahan tapi pasti sinar yang terpantul dari cahaya matahari berubah warna menjadi kuning oranye. Tampak indah menghiasi seluruh jagat alam bumi dan sekitarnya.
Ombak terlihat sedang pasang menuju surut akibat pergerakan bulan. Tarikan magnet gravitasi membuat ombak yang tadinya besar berubah menjadi kecil. Ikan dilautan pun turut mengikuti pergerakan air laut itu. Biasan cahaya yang terpantul ke arah laut membuat lautan semakin lama semakin enak dipandang. Sirlia dan Suna yang sebelumnya terdampar dalam keadaan panik berubah menjadi tenang dan terkendali. Keduanya tampak mulai menikmati suasana didekat lautan ini dengan penuh senyuman dan penghayatan. Sebab mereka tahu bahwa apa yang diberikan tuhan pada mereka merupakan suatu anugerah yang tak dapat tergantikan dalam hal baik maupun buruk.
"Andai saja Hadad disini mungkin suasana ini lebih enak untuk dipandang….." Gumam Sirlia.
"Kamu tidak apa-apa Sirlia….?" Tanya Suna yang sedang merapihkan perapian.
"Entahlah.… aku merasa bahwa semua yang terjadi saat ini seakan baru terjadi kemarin…."
"Kau benar, waktu berlalu begitu cepat ya…."
"Iya.…. Padahal beberapa bulan yang lalu aku masih berada di negeri pasir untuk melakukan pekerjaan. Namun hari ini aku sudah berada ditempat antah berantah yang berisikan pulau kecil beserta lautan luas disekitarnya…"
"Kamu pernah berkunjung di negeri pasir….? Kota Yorokobi no Bunya bukan….?"
"Iya itu nama desanya… Bagaimana kamu bisa tahu hal tersebut……?"
"Oh iya.. Aku lupa bercerita padamu ya…. Sebenarnya aku ini adalah seorang pangeran di negeri tersebut…."
"Apa.… pangeran…..? Jangan-jangan kamu……. Anaknya paduka Sando Arashi ya…..?"
"Tepat sekali.…"
"Kenapa kamu baru memberitahukannya sekarang padaku….?"
"Maaf kau terlalu terbawa suasana saat itu…. Jadi aku lupa untuk memperkenalkan diriku secara benar…."
"Kau tidak perlu membungkuk seperti itu…. Aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu… Karena tidak memperlakukanmu seperti pangeran pada umunya….."
__ADS_1
"Kau tidak perlu khawatir…. Sebab aku lebih suka dengan orang yang memperhatikanku sebagai orang biasa bukan seorang pangeran….."
"Tapi tetap saja… Aku masih merasa malu karena tidak bisa menyadari itu…."
"Santai saja.… Ini bukanlah negeriku, maka kau pun tidak perlu memperlakukanku seperti itu….."
"Baiklah.… Ka..kalau begitu mohon bantuannya pangeran… Eh maksudku Suna…."
"Iya mohon bantuannya juga Sirlia….. Kembali ke topik sebelumnya…. Bagaimana kamu bisa berada di negeri pasir saat itu….?"
"Ceritanya cukup panjang… Aku tidak tahu harus memulai darimana…."
"Begitu ya.…. Kamu tidak perlu memaksa untuk bercerita suatu hal yang membuatmu sedih….."
"Ti...tidak apa-apa…. Lagian itu juga cuma masa laluku saja…."
"Tapi tetap saja kamu tidak perlu memaksakan dirimu ya….."
"Iya.…."
Setelah bercerita dengan panjang lebar, Suna mulai memahami keadaan yang pernah dirasakan oleh Sirlia sebelumnya. Dirinya merasa sedih ketika mendengar kekejaman yang pernah terjadi pada Sirlia. Sebab semuanya dilakukan tidak lain oleh orang kepercayaannya saat itu, yakni Sosok Misterius. Sehingga Suna tidak berani untuk mengucapkan nama itu karena takut dirinya akan menyakiti hati Sirlia. Trauma mendalam seperti ini nampaknya harus diatasi dengan perlahan dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Maka Sirlia memutuskan untuk merantau ke setiap negeri untuk menyembuhkan rasa takutnya ini.
"Ternyata rumit sekali ya…."
"Iya.…aku minta maaf…."
"Mengapa kamu meminta maaf padaku…???"
"Aku terlalu memaksakan diriku untuk bercerita hal seperti ini padamu…. Padahal orang yang aku ceritakan juga berbeda dengan apa yang kamu tahu…."
"Itu tidaklah benar sepenuhnya. Sebab dengan ceritamu itu… Aku jadi tau bahwa tidak setiap orang asing itu baik…."
"Apakah kamu akan membenciku karena cerita ini….?"
__ADS_1
"Tidak mungkin kau membencimu karena masalah ini…. Justru aku semakin ingin membantumu menghilangkan rasa takut terhadap sosok tersebut…."
"Benarkah.…? Terima kasih banyak Suna…"
"Kau tidak perlu khawatir… Selama kita dapat menyatukan kekuatan, maka sosok tersebut bisa saja kita kalahkan…."
"Iya kau benar…. Tidak ada yang abadi di dunia ini….."
"Ngomong-ngomong hari semakin gelap ya…."
"Lahhhh iya aku tidak menyadarinya…."
"Bagaimana kalau kamu istirahat terlebih dahulu….?"
"Kenapa aku harus istirahat duluan…? Alangkah baiknya kamu beristirahat juga…. Kamu pasti kecapean karena telah mengeluarkan sihir sebesar itu."
"Iya kau benar… Tetapi kita tidak tau apa yang akan terjadi bila kita berdua tidur di pulau antah berantah ini…. Bisa saja ada seekor monster mengerikan yang akan menerkam kita kapan saja…. (Belum lagi aku masih penasaran dengan aura sihir dibalik semak belukar dibelakang kita….)"
"Iya juga sih…. Baiklah kalau begitu aku akan istirahat duluan…. Selamat tidur….."
"Silahkan.…Selamat tidur juga….."
Sirlia segera beranjak dari tempat duduknya menuju rumah pantai buatan keduanya. Disana Sirlia berbaring di sebuah kasur empuk yang terbuat dari kayu yang telah dianyam khusus untuk tempat tidur. Ditambah diatas ranjang itu terdapat busa buatan yang dibuat sedemikian rupa dengan kasur pada umumnya. Ranjang ini ada dua buah yang akan digunakan oleh Suna dan Sirlia. Jarak yang memisahkan kedua benda itu sekitar lima meter jaraknya. Dikala Sirlia merapihkan pakaian dan rambutnya ia sedikit membenarkan posisi kasur itu agar enak untuk dipakai. Dan setelah itu ia pun tertidur dengan pulas secara perlahan mengikuti kantung matanya yang sudah kelelahan akibat aktifitas padat yang selama sehari penuh telah ia lakukan.
Di sisi lain Suna berjaga diluar rumah pantai yang terbuat dari kayu itu. Ia menghangatkan dirinya dengan perapian kecil yang sengaja ia buat persis didepan rumah tersebut. Percikan api ini melahap kayu dan dedaunan yang berada didekatnya. Pancaran sinar yang keluar tidak begitu terang. Dengan radius tiga sampai lima meter saja, sehingga Suna masih tidak dapat melihat suatu hal diluar jangkauan sinar tersebut. Namun beruntungnya mereka membuat rumah pantai ini dekat dengan laut. Yang mana sinar bulan dan matahari akan senantiasa memancar dengan jelas ke tempat mereka. Namun satu hal yang masih ia khawatirkan sampai saat ini, yakni keberadaan aura sihir aneh yang berada persis dibelakang punggungnya.
"Swooossshhhh.….. Fiuh…….." Suara angin laut yang terdengar sangat jelas.
"Byurrr.…...byurrrrr……." Hantaman ombak yang tidak banyak namun cukup besar bentuknya.
"Duhhhh.…. Ternyata daerah pantai ini dingin sekali….. Aku lupa membawa mantel hangat yang bisa melawan hawa dingin ini…."
"Srasakkkkkk.… Srasakkkk….." Suara aneh yang terdengar dibalik semak-semak.
__ADS_1
"Apa itu.….??? Perasaanku tidak enak….. Sebaiknya aku periksa tempat itu terlebih dahulu….."
Perlahan demi perlahan Suna beranjak dari api unggun nya menuju asal dari suara misterius itu. Ia tidak mau membangunkan Sirlia yang telah tertidur dengan pulas nya. Maka ia putuskan untuk memutari semak belukar itu melawan arah jarum jam. Dan ketika ia mendekati tempat itu, Tiba-tiba….