
Semenjak saat itu Irene jadi ketagihan mengikuti konser j-hope sekalipun dia bukan lagi bertugas sebagai pengawal keamanan.
Irene selalu mencuri pandang kearah j-hope saat pria itu di betstet.Kok bisa irene leluasa berada di sekeliling j-hope?maka jawabannya,kuasa Brayan yang sangat terkenal dikalangan para mafia di pergunakan Irene dengan sangat baik.
Brayan sendiri tidak keberatan karena yang ia tau Irene gadis yang baik tanpa merasa curiga sedikitpun.
*
*
Semakin lama rasa kagum Irene kepada j-hope berubah menjadi sebuah obsesi dimana Irene semakin menggilai dan ingin mendapatkan pria yang kini banyak di kagumi kaum hawa.
Seperti hari ini Irene sampai lupa kalau ia sedang ada tugas misi rahasia bersama zac dan gio anak buah Brayan.
"Ck, Kau masih disini?."Seru Zac,yang datang untuk kedua kalinya bersama gio ke kamar Irene.
Zac dan gio selalu kesal dibuat Irene akhir-akhir ini.Gadis itu nampak lebih fokus memandangi wallpaper ponselnya ketimbang menyusun rencana untuk misi mereka bertiga.
"Ini hanya misi kecil,gampang itu."Jawab Irene tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel miliknya.
"Kau ingin kehilangan ratusan juta dan juga gagal menonton konser pria tampan mu itu karena tidak sanggup membeli tiket konsernya?."
__ADS_1
Ucapan kedua rekannya itu sontak membuat Irene melompat dari tempat duduknya."Kita berangkat sekarang."Tegas Irene yang tidak ingin kehilangan uang yang nominalnya sangat menggiurkan.
Ya, sekarang Irene, Zac dan gio menerima pekerjaan diluar dari misi "Death blood" tanpa sepengetahuan Brayan dan juga Leo.
Ketiganya menerima pekerjaan ringan seperti,mengungkap perselingkuhan para suami atau istri dari para pejabat kelas atas atau memberi pelajaran pada para suami sosialita yang berjudi dan masih banyak lagi dan itu semua masalah rumah tangga para kalangan atas.
Irene yang berperan sebagai pemimpin misi selalu membawa hasil yang sangat memuaskan.Tentu saja imbalan yang mereka terima juga sangat fantastik.
"Dang,dut. kalian sudah mengerti."Tanya Irene pada kedua rekanya setelah menjelaskan tugas keduanya.
"Siap cat woman."Balas keduanya sembari meletakkan telapak tangan di atas kepala seperti memberi hormat pada Irene.
"Bagus,kita bergerak sekarang."Irene memasukkan senjata kedalam celah celananya.
"Irene,ikut aku sebentar."
"Hufpp..kenapa harus sekarang."Kesal Irene dalam hati memejamkan matanya.Lalu berbalik dengan mengukir senyum terpaksa."Brayan bisa tidak nanti saja,aku ada urusan sedikit."Ucap Irene menunjukkan jari telunjuk dan ibu jarinya yang sudah beradu ke arah Brayan sebagai alasan.
"Tidak bisa."
Irene menghela nafas dengan kasar dan mengikuti Brayan menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
"Dang,dut..tunggu aku diluar saja."Bentak Irene saat kedua rekan misinya itu dengan bodohnya ikut masuk kedalam ruangan Brayan.
"Kenapa kau mengganti nama mereka?."Tanya Brayan yang sudah duduk dengan menyilangkan kakinya.
"Nama itu bagus untuk mereka,apa yang kau inginkan?."Tanya Irene tidak sabar.
"Duduklah dulu."
Dengan kesal Irene menghempaskan bokongnya di atas sofa."Katakan."
"Akhir-akhir ini aku perhatikan kau,Zac dan gio sering pergi bersama,kau juga sering pergi ke konser artis papan atas itu.Apa kau tidak ingin mencari pekerjaan yang lebih baik?Kau gadis yang cerdas,setidaknya mulailah bekerja sesuai dengan jurusan kuliahmu."Tutur Brayan panjang lebar.
"Aku akan mencarinya nanti".Sahut Irene singkat padat dan jelas.
"Nanti kapan?aku tidak ingin kau hidup seperti ini."
Irene terdiam melihat tatapan sendu Brayan.Keinginan itu memang ada tapi entah mengapa?sejak ia bertemu j-hope obsesinya sekarang tertuju pada pria itu saja.Bahkan uang dari hasil yang dia dapat dari misi dibelakang Brayan hanya digunakan untuk mengikuti konser j-hope ke berbagai negara.
"Kau bisa memilih,bekerja di perusahan ku atau Hyung Namjoo."Seru Brayan memecahkan kesunyian,sejak tadi Irene hanya tertunduk tanpa menjawab ucapan Brayan.
"Aku akan mempertimbangkannya."Jawab Irene lirih sembari keluar dari ruangan Brayan.
__ADS_1
"Anak itu."Geram Brayan memandangi kepergian Irene dari ruangannya."Kepintarannya belajar tidak membuat otaknya bekerja dengan baik."Gumam Brayan menggelengkan kepalanya.