
Selama berada di Singapura Irene lebih menghabiskan waktunya dengan selalu berada di dekat Ghana.
Tanpa menaruh curiga sedikitpun Irene mengerjakan apa yang di perintahkan Ghana padanya.Mulai dari pekerjaan sampai memilihkan pakaian Ghana dilakukannya dengan telaten.
"Pilihkan juga baju yang ingin kau pakai saat menonton konser artis idolamu itu."Tawar Ghana pada irene yang tengah sibuk memilih kemeja meeting untuk Ghana besok.
Ghana dan Irene sedang berada di pusat perbelanjaan terbesar di Singapura.Ghana meminta Irene untuk memilih pakaian yang akan dikenakannya untuk besok,padahal baju yang ia bawa lebih dari cukup.Itu cuman alasan Ghana saja agar gadis yang sudah berani memberontak 15 tahun yang lalu bisa ia dapatkan.
"Tidak usah tuan,baju yang saya bawa sudah lebih dari cukup."Tolak Irene dengan halus.
Tapi bukan Ghana namanya jika tidak berhasil memaksakan kehendaknya.Terpaksa Irene memilih satu outfit karena Ghana menekannya dengan tidak memperbolehkan Irene menonton konser j-hope besok malam.Sudah pasti Irene lebih memilih keinginan Ghana ketimbang gagal menemui pria yang ia sukai yaitu j-hope.
*
*
*
Irene tampil menggunakan pakaian serba hitam.Malam ini ia akan duduk di kursi VVIP yang akan membuatnya lebih leluasa melihat aksi j-hope di atas panggung.
__ADS_1
"J-hope.I'm coming.."Sorak Irene penuh gembira pada pantulan dirinya di cermin.
Sepanjang jalan senyum Irene mengembang,hatinya seakan di penuhi bunga-bunga yang bermekaran.
Hingga konser berlangsung Irene nampak berteriak menyerukan nama J-hope.Aksi j-hope diatas panggung selalu memukau hingga membuat Irene melompat kegirangan sama seperti yang dilakukan para penggemar j-hope yang lainnya.
"Ahhkkk... J-hope... j-hope... j-hope."
Teriak para penonton penuh histeris ketika j-hope melepas baju dan memperlihatkan tubuh seksinya juga perutnya yang sispek terekspos sempurna.
"Ck.Dasar tukang pamer."Cibir Irene tidak suka melihat aksi gila j-hope diatas panggung.Irene juga tidak suka mendengar teriakan histeris para penonton yang menganggumi tubuh kekarnya.
"Apa memang harus seperti itu."Gumam Irene,mengipas wajahnya yang terasa panas menggunakan topi yang ia kenakan.
J-hope turun dari panggung menuju ruangan khusus untuk dirinya yang berada tepat di belakang panggung.Pengawasan malam ini sangat ketat,beberapa pihak kepolisian bekerja sama dengan para bodyguard Untuk berjaga di sekeliling tenda yang merupakan ruangan j-hope.
"Kenapa malam ini penjaganya begitu ketat!."Ucap Irene melihat beberapa pihak keaman dan para bodyguard yang selalu siap siaga."Bagaimana menerobosnya?."Irene mengigit kukunya sembari memikirkan cara untuk menerobos."Aaaa."Sebuah ide muncul di otaknya.
Ya. Itulah Irene,gadis yang tidak mengenal kata menyerah.Semua cara akan ia lakukan hingga apa yang ia inginkan tercapai.
__ADS_1
"Maaf pak,sepertinya ada wanita yang tampak mencurigakan berjalan kearah sana."Seru Irene yang kini sudah berganti kostum dengan kostum crew.
"Anda melihatnya?."Tanya petugas keaman tanpa curiga pada irene.
Irene mengangguk meyakinkan para petugas dan bodyguard dengan apa yang ucapkanya.
Pihak keaman dan para bodyguard langsung berpencar mengikuti arah yang di tunjuk Irene.
Irene tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil mengelabui kemanan dan bodyguard j-hope.Dengan langkah santai Irene berjalan menuju tenda j-hope.
J-hope yang tengah asik mengotak-atik ponselnya tiba-tiba tersentak begitu lampu di ruangan padam.
"Pengawal...Lian.."Panggil j-hope tapi tak satupun yang membalas panggilannya.J-hope beranjak dari tempat duduknya untuk melihat keadaan diluar namun baru tiga langkah tubuhnya sudah menabrak tubuh seseorang.
"Ini semua ulah mu?."Tanya j-hope yang sudah hapal dengan aroma bunga dari tubuh seseorang yang baru saja ditabraknya.
"Kau benar,aku datang untuk memberikan penawaran yang lebih tinggi padamu.Bagaimana?."Irene mendekatkan tubuhnya ketubuh j-hope.
"Aku tidak tertarik."Jawab j-hope penuh ketegasan.
__ADS_1
"Aku akan menyerahkan sesuatu yang sangat berharga dari tubuhku untuk mu,tanpa ikatan apapun."Walau j-hope sudah dengan jelas menolaknya namun Irene tetap menjelaskan penawaran yang ia maksud.